Panimbal

Mahar : 5.000.000,- (TERMAHAR)


 
  1. Kode : GKO-205
  2. Dhapur : Panimbal
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram  Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 125/MP.TMII/II/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan lain : sogokan depan tembus
 

 

Ulasan :

dhapur Panimbal puniku | ngawruhana carita | ingkang uwus tumimbal mring liyanipun | Serat Centhini

PANIMBAL, adalah salah satu bentuk dhapur luk sembilan. Ukuran panjang bilahnya sedang, memakai ada-ada, sehingga pemukaannya nggigir lembu. Ricikan lainnya adalah kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Keris dhapur Panimbal tergolong populer, banyak dijumpai. Pada zaman dahulu keris dhapur ini populer di kalangan para abdi dalem karena dipercaya memiliki tuah yang menyebabkan pemiliknya dipercaya oleh atasannya (termasuk raja) untuk melaksanaka berbagai tugas

FILOSOFI, Panimbal merupakan Palu berbentuk kecil dengan ujung pemukulnya panjang, sekitar 45 cm yang terbuat dari kayu atau bambu, dan selalu digunakan oleh para Empu jika sedang bekerja bersama panjaknya.  Panimbal terbagi dalam tiga jenis, yaitu :
  1. Panimbal Kemlaku, beratnya 2 kati (1 kg) untuk mengimbal (mewasuh) besi  dengan cara dipukulkan dengan keras. Palu ini dipergunakan oleh para panjak untuk menempa, melipat, mengulur besi menurut petunjuk sang Empu.
  2. Panimbal Panuding, beratnya 1 1/2 kati (0,75 kg), dipergunakan oleh sang Empu untuk memberi arahan kepada panjak
  3. Panimbal Pepehan, beratnya 1 kati (0,5 kg) fungsinya hampir sama dengan no. 2
Dengan palu panimbal ini seorang Empu memberi aba-aba melalui kode pukulan, bagaimana panjaknya harus menempa: di bagian mana? apakah harus kuat, atau memukul dengan lemah dan sebagainya. Dalam proses menempa tersebut sang Empu adalah penunjuk saja dan dilakukan dengan mbisu (tidak berbicara).
 –
Setidaknya ketika kita belajar tentang palu panimbal dalam lintasan sejarah, maka yang terpenting bagi kita adalah melihat kearifan, bahwa palu panimbal kini bukan sekedar perkakas besalen semata, namun dapat dipahami sebagai sarana penunjuk kebenaran dan keadilan, tetapi palu tetaplah palu, siapa orang yang berada dibalik palu itulah yang memiliki tanggung-jawab penuh dalam mendefinisikan kebenaran serta  keadilan kepada orang lain.
 
TANGGUH MATARAM, Jarang kita menjumpai keris Mataram dengan wadidang yang mbangkek yang menjadi ke-khas-an keris tangguh Surakarta. Bentuk kembang kacang yang ngecambah aking kurus panjang, dengan jalen dan lambe gajah-nya yang tampak lancip sama besarnya menambah keunikannya tersendiri. Bentuk pejetan persegi menampakkan ke-khas-an garap Mataram. Sogokan dibuat lebar juga dalam, berimbang depan dan belakang oleh sang Empu. Janur yang tipis dan tajam memisahkan sogokan bagian depan dan sogokan belakang. Keris-keris yang dibuat dengan bentuk sogokan lebar dan dalam seringkali saat ini diketemukan dalam kondisi tembus karena saking tipisnya. Luknya tidak terlalu rengkol juga tidak kemba (sedeng). pada bagian sirah cecak gonjo tampak maju ke depan mengimbangi tarikan sekar kacang-nya. Pamor tampak menghias pada ketiga sisi gonjo; depan, belakang dan bawah (gonjo sekar). Bagian belakang gonjo sedikit melambai ke bawah dan menungkak di atasnya menambah dominasi pengaruh Mataram.
 –
PAMOR BERAS WUTAH, Dalam konteks sejarah peradaban Nusantara, beras bukan hanya sekadar urusan perut, kuliner dan gaya hidup. Beras lengkap dengan segala proses pengolahannya dari awal hingga akhir, telah melahirkan banyak petuah bijak yang menjelma menjadi rambu pengingat atau lonceng kesadaran bagi masyarakat di tlahah Jawa selama berabad-abad. Memang beras bagi masyarakat Agraris laksana daging dan kulit ari, sulit diceraikan. Salah satunya ada ungkapan jawa yang mengatakan : beras wutah arang mulih marang takare (beras tumpah tidak pernah kembali ke wadahnya). Seuntai kalimat ini mengandung arti mendalam bahwa sesuatu yang sudah berubah dari aslinya, jarang yang bisa kembali seperti sedia kala. Pamor ini bisa sebagai pameling dalam hidup berumah tangga antara suami-istri, jika kepercayaan yang sudah lama dibangun rusak, akan sulit kembali ke sedia kala. Peribahasa ini juga memuat nasihat dalam hubungannya dalam kehidupan bermasyarakat, intinya jangan terlampau berharap balas budi dari orang yang telah menerima kebaikan dan pertolongan kita. Sebab jika kita sampai terlalu mengharapkannya, kenyataannya jarang yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebagaimana beras tumpah, sulit kembali sesuai takaran semula.
 
Warangka pusaka ini menggunakan kayu awar-awar mati ngurak (alami karena usia). Memang jenis kayu ini kurang populer dibandingkan jenis kayu lain seperti timoho bagi masyarakat perkerisan di daerah Yogyakarta atau cendana bagi masyarakat perkerisan Surakarta. Pada saat pohon ini berusia tua, maka akan terdapat motif kayu seperti bentuk pelet kayu timaha. Untuk penggunaan sebagai warangka keris atau gagang tombak, biasanya dipilih terasnya. Hal ini beralasan karena bagian ini adalah bagian terkeras dari batang, dan mempunyai bentuk yang lebih bermotif. Bobotnya yang sangat ringan menjadikannya flexible untuk dibawa kemana-mana, juga sifat kayunya yang sangat lunak bisa menjadi “teman baik” dari bilah itu sendiri. Selain itu oleh para spiritualis, apabila kayu awar-awar ini dipakai sebagai warangka keris atau gagang tombak, maka dipercaya akan dapat meredam aura negatif yang muncul dari keris atau ujung tombak tersebut.
 –
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *