Tombak Biring Lanang

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 750,000,- (TERMAHAR) Tn. W Ciputat, Tangerang Selatan


 
  1. Dhapur : Biring Lanang
  2. Pamor : Mrambut
  3. Tangguh : Kartasura
  4. Dimensi : Panjang pesi 14 cm, panjang wilah 31 cm, panjang total 45 cm
  5. Asal-usul Pusaka : Banyumas
  6. Keterangan Lain : landeyan lamen bawaan terbuat dari kayu jati tua (tunjung, sopal, karah terbuah dari kuningan), panjang 93 cm, tanpa tutup tombak (hanya kain)

 

Ulasan :

TOMBAK DHAPUR BIRING LANANG, nama lainnya dalah Biring Jaler dimana dhapur tombak ini mempunyai arti atau konotasi yang sadis. Nama sesungguhnya adalah Biring ing Palanangan, dari asal kata biri artinya kebiri (dikebiri), ing artinya untuk atau pada, sedangkan palanangan berarti kemaluan laki-laki. Jadi artinya adalah tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki. Orang barangkali tidak mau menyebutnya panjang-panjang kata sadis itu, hanya biasa menyebut Biring Lanang atau Biring Jaler, supaya tidak terasa vulgar, maka kata tersebut diperhalus.

Tombak Biring Lanang ini biasanya bilahnya berbadan kekar, kuat dan tajam. Bagian kepet pada sor-soran berbentuk lengkung ke atas, walaupun sederhana berbentuk indah, namun dibalik keluwesannya tombak ini sesungguhnya memang sebagai senjata yang diperuntukkan untuk berperang. Auranya biasanya bersifat panas, dipercaya apabila orang membawa tombak dhapur ini menjadi orang pemberani dan tidak takut untuk mati. Cocok bila dahulu dipakai untuk para Panglima Perang dan Senopati. Tombak ini dapat dipasang pada landheyan panjang seperti blandaran (panjang 3x badan pemiliknya), panurung (panjang 2x badan pemiliknya) , pegon (panjang 1x badan pemilik ditambah rentangan tangan ke atas) maupun landeyan pendek seperti, limpung (panjang ujung jari tengah dengan siku), atau landheyan sekilan.

Dari pengamatan fisik bilah tampaknya tombak ini adalah senjata tusuk fungsional. Fisiologi dari methuk mungkin bisa membantu menjelaskan. Seperti kita ketahui bagian “methuk” sama halnya dengan bagian “gonjo” pada keris, dimana salah satu fungsinya adalah menahan hentakan keras. Methuk tunggal pada tombak ini dibuat sederhana, berbeda dengan methuk biasanya, dimana seolah dibagi dua, bagian atas sengaja dibuat iras (menyatu) dengan bilahnya sedangkan sisa sebagian bawahnya dibuat terpisah seperti piringan kecil. Dengan bentuk yang lebih sederhana ini, kita hanya bisa menduga-duga ada tujuan khusus untuk memudahkan penggantian methuk, dimana bagian ini adalah bagian yang paling rentan terhadap kerusakan (pecah) dan akan sering mengalami pergantian karena menahan hentakan keras.

Jika menggenggam tombak ini pada landheyannya sangat terasa aura energizing-nya atau “penyemangatnya”. Tak salah jika dipersepsikan Tombak Biring identik dengan mengebiri ketakutan-ketakutan yang ada pada diri sendiri yang disembunyikan menjelma menjadi sosok pribadi lain yang lebih berani di medan laga. Besinya tampak menyimpan aura kewingitan meski bagian pamor hanya berupa lapisan lapisan mrambut, yang memang pada literatur-literatur dituliskan sebagai sarana tolak bala. Rasa penasaran yang lain adalah apabila mencermati lebih detail pada bilah seolah ada guratan-guratan yang agak susah dimengerti. Apakah hal tersebut korosi, atau memang ada “sesuatu” yang dulunya sengaja dienskripsikan disitu. Rajah kah?

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Tombak Biring Lanang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *