Sempana

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4,500,000,- (TERMAHAR) Tn. YG Tambun, Bekasi


 pamor-gajah-gelar-tangguh-kulonan pamor-gajah-gelar-cirebon
  1. Kode : GKO-195
  2. Dhapur : Sempana Luk 9
  3. Pamor : Gajah Gelar
  4. Tangguh : Madura Abad XIX (Cirebon/Kulonan?)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 626/MP.TMII/XI/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : Warangka gambilan jati gembol, bagian ujung sedikit terkorosi

 foto-gajah-gelar sertifikasi-sempana

Ulasan :

SEMPANA, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajah-nya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun penampilannya sederhana, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai, karena pada jaman dahulu sering dimiliki oleh abdi dalem keraton dan para priyayi yang mendapat kedudukan atau jabatan khusus pemerintahan.

Dhapur Sumpana winasna | makna ngimpi dene muradirèki | nahan têrang ingkang kawruh | rahsa manungsa kêdah | darbe kira-kira prayoga ywa kantun | watara ringa sujana | siyang dalu dènkaèsthi ||…. Serat Centhini

FILOSOFI, berasal dari kata sumpana yang menurut simbol ilmu perkerisan dari Sunan Kalijaga diceritakan bentuk sumpana artinya adalah mimpi yang dicita-citakan. Untuk mewujudkannya perlu menjadi pribadi yang mempunyai kehati-hatian. Kehati-hatian orang Jawa dalam mengambil keputusan tercermin dalam empat kata berjenjang ini “Deduga, prayoga, watara dan reringa”. Hal ini supaya tidak menjadi sesal di kemudian hari.

Empat Langkah Mengambil Keputusan :

“Deduga” boleh diartikan sebelum melangkah harus dipertimbangkan. Sebuah contoh sederhana adalah kita mempunyai seorang pegawai yang bodoh di kantor. Setiap hari membuat kita marah karena ketidak-cakapannya dalam pekerjaannya. Lalu mau kita apakan dia? Dipecatkah? Atau? Setidaknya perlu dipertimbangkan dulu baik-baik.

“Prayoga” sebaiknya bagaimana? Apa untungnya memecat dan mengganti? Demikian pula apa ruginya? Mengganti orang baru sebenarnya sama saja dengan membeli kucing dalam karung. Kita tetap tidak tahu baik buruknya. Orang yang mau kita ganti ini bodoh tapi jujur dan loyal, atau jangan-jangan nanti saat kita mendapat orang baru, dapat yang pandai tapi tidak disiplin dan suka mencuri? “Dados prayoganipun kadospundi? Ya kita rembug sama-sama.

“Watara” tetap kita harus mengira-ira lagi dengan mempertimbangkan berbagai hal secara seimbang. Konsultasi atau meminta pendapat orang lain yang lebih tua dan mampu juga diperlukan, akan tetapi semua keputusan tetap di tangan kita.

“Reringa” mengingatkan lagi bahwa kita harus berhati-hati dan benar-benar yakin sebelum mengetok palu atau mengambil keputusan akhir.

Pertimbangan bukan berarti lamban, hal ini yang menyebabkan stigma seolah-olah orang Jawa lambat mengambil keputusan. Pada jaman sekarang, jaman yang serba cepat dimana perubahan bisa terjadi dalam hitungan detik, kelambatan mengambil keputusan bisa sama jeleknya dengan salah mengambil keputusan. “Deduga, prayoga, watara dan reringa” adalah pelajaran jaman dulu. Intisarinya amat bagus, “jangan gegabah!”. Yang diperlukan adalah ketepatan. Guna memperbaiki kecepatan pada jaman sekarang sudah banyak sekali “toolkit” manajemen yang bisa kita pelajari. Pada hakekatnya analisis DPWR (Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa) adalah mirip  analisis SWOT yang mempelajari Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (Ancaman) yang sudah dibuat lebih modern, sistematis dan terstruktur. Jadi, cara mengambil keputusan melalui “deduga, prayoga, watara dan reringa” bukan penyebab kelambanan. Kalau ada yang lamban maka yang lamban adalah “manusianya” yang terlalu mangu-mangu (ragu-ragu). Ungkapan Jawa yang lain terkait dengan hal ini adalah “Kurang duga prayoga” dan Kaduk wani kurang deduga”. Maknanya hampir sama, hanya yang pertama menekankan pada lemahnya pertimbangan sedang yang kedua menitikberatkan pada kegegabahan dalam bertindak. Dapat disimpulkan bahwa keempat hal tersebut: Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa tidak boleh ditinggalkan oleh siapa saja sepanjang masih bernapas.

gajah-gelar keris-gajah-gelar
TENTANG TANGGUH, gandiknya miring mbata rubuh, jalen besar agak berjarak dari kembang kacang-nya yang mirip telale gajah (belalai), pamornya tampak nggajih namun menetapnya pandes pada besi, tarikan luknya agak hambar atau kurang rapat (kemba), besinya tampak padat dan keras, rabaan terkesan agak kering mungkin karena saat penyepuhannya menggunakan air asin yang banyak mengandung garam. Bilahnya tampak besar dan gagah (panjang 38,75 cm) dengan tantingan berat. Sekilas sangat mirip dengan langgam atau gaya keris Tangguh Blambangan, boleh dikata sang Empu sudah cukup sukses menhadirkan sebuah pusaka mutrani tangguh Blambangan, hanya saja tantingan yang jauhlebih berat tentu saja bukan berasal dari tangguh atau jaman Blambangan se-era Majapahit. Ditambah ganjanya yang melandai ke bawah di bagian ekornya lebih banyak ditemui pada era Tanguh Mataram dan setelahnya. Menurut pendapat pribadi penulis Keris Sempana dengan Pamor Gajah Gelar ini adalah keris Tangguh Kulonan (Cirebon) Abad XVIII.

WARANGKA GAMBILAN JATI GEMBOL, hampir serupa dengan warangka gandar iras yakni warangka yang menyatu dengan gandar, jadi seluruhnya dibuat dari satu bongkah kayu tanpa sambungan apapun. Yang membedakan memang sengaja dibuat tanpa dibungkus menggunakan pendok jenis apapun agar keindahan urat kayunya dapat terlihat secara optimal. Warangka yang demikian disebut warangka gampilan (dari kata Jawa gampil = mudah)

warangka-gambilan

Istilah gembol mungkin terasa asing dan aneh di telinga kita. Gembol adalah sebutan untuk akar kayu pohon (umumnya pohon jati) yang tersisa dari proses penebangan, biasanya limbah penebangan pohon ini menyisakan batang dasar pangkal pohon setinggi 30 – 50 cm dari permukaan tanah hingga ke bagian akar yang berada di dalam tanah. Bagi kebanyakan masyarakat di daerah Jawa Tengah menyebutnya dengan istilah bonggol atau tunggak. Dan Bonggol ini ternyata menyimpan motif-motif lukisan dari alam yang unik dan menarik.

pamor-gajah-gelar keris-pamor-miring

PAMOR GAJAH GELAR, adalah salah satu jenis motif pamor yang gambarannya berupa lima buah garis lurus yang membujur berjajar dari sor-soran hingga pucuk bilah. Masing masing garis tebalnya 3 sampai 5 mm. Sebagian pecinta keris ada yang menyebutnya dengan pamor Adeg Tiga Wengkon. Tuahnya sangat dipercaya yang dapat membuat pemiliknya menjadi bertambah kekuasannya. Pamor Gajag Gelar hampir mirip dengan Pamor Janur Sinebit tetapi gambaran garis pamornya lebih mengumpul di tengah. Dari segi pembuatannya termasuk pamor miring dan langka yang tidak sembarang orang akan cocok bila memilikinya. Mereka yang berprofesi sebagai wakil rakyat atau mereka yang duduk di tampuk pemerintahan hingga perwira polisi atau militer serta para cukong yang lebih cocok memiliknya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *