Tilam Upih Kiai Tresno Utomo

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6,000,000,-(TERMAHAR) Tn. N Gambir, Jakarta Pusat


 keris-ron-genduru-sungsang-wengkon keris-ron-genduru
  1. Kode : GKO-190
  2. Dhapur : Tilam Upih (Kiai Tresno Utomo)
  3. Pamor : Ron Genduru Sungsang Winengku
  4. Tangguh : Madura Sepuh (Kartasura?) Abad XVIII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 614/MP.TMII/XI/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/Warisan Turun Temurun
  7. Keterangan Lain : Pendok lapis emas, Kolektor Item

 foto-ron-genduru sertifikasi-ron-genduru

Ulasan :

Untuk memahami dan menikmati hasil karya dari seseorang Empu, kita tidak hanya melihat bahan besi dan kualitas penempaan, material pamor yang digunakan dan penerapaannya, serta bukan pula hanya pada pasikutan dan garap bilah semata. Lebih jauh dari itu, untuk merasakan keindahan sebilah keris, kita perlu sejenak kembali ke masa lalu. Membayangkan bagaimana kondisi budaya masyarakat setempat waktu itu, tingkatan teknologi yang telah dicapainya serta bagaimana pola pikir serta simbol-simbol (sanepa dan sengkala) dengan berbagai makna filosofi mendalam yang dianut masyarakat pada waktu itu serta berbagai aspek intangible lain yang terkait dengan sebuah budaya masyarakat.

TILAM UPIH, tampaknya hampir semua buku literatur sepakat bahwa ricikan yang ada pada keris ini hanyalah tikel alis dan pejetan, bentuk  ricikannya yang relatif sederhana tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya di masa lalu dan hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat, dengan kata lain dhapur sangat populer atau terkenal.

ron-genduru ron-genduru-sungsang

KYAI TRESNO UTOMO, Orang Jawa itu tidak hanya menghormati orang, tetapi juga menghormati benda yang kemudian disebut Kyai. Kiai Kopek merupakan Keris, Kiai Plered adalah Tombak, Kiai Slamet itu kerbau. Intinya apa-apa yang dimuliakan masyarakat disebut Kyai.

Tresno berarti sebuah cinta tulus tanpa syarat, abadi dan semakin lama terasa semakin subur berkembang dari generasi ke generasi.  Setiap Hidup yang diberikan oleh Tuhan YME sama rasa namun berbeda jalan cerita. Setiap keluarga dan masing-masing kepala yang ada di dalamnya mempunyai kewajiban yang sama untuk membuat jalan cerita di dalamnya bermakna (Utomo).

Keris ini akan selalu menjadi pengingat di kemudian hari oleh ayah dan ibu, tentang bagaimana cinta kasih mereka berdua dan juga cinta kasih mereka kepada si anak. Cinta kasih inilah yang kemudian akan meresap ke dalam filosofi keris. Dengan doa, harapan, cita-cita, laku prihatin, dan cinta kasih mereka diharapkan semua hal yang baik akan berkumpul, yaitu rejeki, kerukunan rumah tangga, kebahagiaan, ketentraman hingga keturunan dan selalu mengingat keluarga besarnya (leluhurnya) kemanapun mereka pergi atau berada.

pamor-ron-genduru pamor-ron-genduru-sungsang

TENTANG TANGGUH, untuk masalah tangguh kali ini Penulis agak sedikit berbeda pandangan dengan yang tertulis pada surat keterangan. Mengamati secara visual style/bentuk mulai dari dimensi yang birawa, dengan panjang wilah keris lurus 37 cm tampak gagah, tikel alis ringkas, hingga cak-cak an (pengetrapan) pamor yang terkesan agal, mengambang dan warna pamornya agak keruh (luwu?), besinya mentah keputih-putihan dan pori-porinya kasar. Tantingan lebih berat (karena banyak mengandung baja) ketimbang keris pada umumnya. Gandiknya agak miring (amboto rubuh) dengan pejetan yang lebih lebar. Sedangkan pada bagian gonjo tampak rata, sirah cecak-nya tidak begitu meruncing di ujungnya (menter lancip), gulu meled dan wetengan berukuran sedang sehingga terkesan kurus. Menurut hemat penulis dapat juga digolongkan dalam keris tangguh Kartasura Abad XVIII. Tetapi masih bisa ditarik benang merah karena empu-empu pada masa Kartasura, beberapa adalah empu pindahan dari Madura, diantaranya Empu Lujuguna II dan Empu Brajaguna I. Keris-keris tangguh Kartasura relatif sedikit dan jarang dijumpai. Pada umumnya masyarakat perkerisan mempercayai keris-keris tanguh Kartasura memiliki tuah menjadikan pemberani. Dan dari segi garap sangatlah layak Keris dengan Pamor Ron Genduru Sungsang Winengku ini berkelas Kyahi bahkan Kanjeng Kyahi. Bahkan Penulis betah berlama-lama, tiada bosan hanya untuk sekedar menikmati keindahan wibawa pusaka ini. Cukup satu kata: ngayang batin!

Sebagai tambahan keris pusaka ini merupakan keris rawatan turun temurun milik sebuah keluarga di Jakarta. Dan terakhir sampai pertengahan 2016 seluruhnya masih dirawat dengan baik oleh Ayahandanya, dan ketika beliau sudah swargi (alm), baik istri maupun putra-putrinya merasa tidak sanggup untuk merawatnya, hanya lima buah pusaka yang disimpan itupun setelah disarankan panjang dan lebar. Sebuah ironi tersendiri, tapi suatu potret  nyata di tengah masyarakat modern, dimana teknologi elektronik telah memenangkan segala lini pertempuran. Untuk pekerjaan rumah selanjutnya barangkali hanya sedikit menambal lobang warangka supaya wilah lebih trep dengan warangka.

gayaman-yogya

PAMOR RON GENDURU SUNGSANG WINENGKU, Pamor ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi antara pamor Ron Genduru (terbalik) dengan pamor Wengkon atau Tepen. Dari segi tingkat kesulitan pembuatan dan mas kawinnya tentu lebih tinggi daripada yang tidak menggunakan wengkon. Kata “sungsang” artinya terbalik. Bentuknya nyaris sama dengan gambaran pamor Ron Genduru biasa hanya saja arah daunnya terbalik. Pada pamor Ron Genduru Sungsang arah hadap garis daun-daunnya ke bawah, menghadap ke arah sor-soran, kebalikan dari pamor ron genduru biasa yang menghadap ke atas ke arah ujung wilah. Dari teknik pembuatan Pamor Ron Genduru Sungsang termasuk salah satu pamor yang relatif susah dibuat dengan tingkat kegagalan yang tinggi, hanya bisa dibuat oleh mereka yang sudah ahli. Pamor yang tampak adalah hasil saton tegak lurus terhadap inti baja – setengah melintang bilah (saton miring- Ngeres Wilah/Setengah Diagonal). Motif pamor ini digambarkan dengan corak garis-garis yang menjulur seperti karakter kobaran agni atau unsur api (Dasamuka). Melambangkan semangat yang berkobar-kobar, pantang menyerah.

ron-genduru-sungsang-winengku

Dinamakan Ron Genduru karena bentuk gambaran pamor itu memang mirip dengan bentuk daun genduru, sejenis tanaman palem, berbeda dengan mayoritas jenis palem yang memiliki anak daun berbentuk pita yang meruncing ke ujung seperti janur kelapa, gendhuru mempunyai anak daun yang bentuknya kecil di pangkal, melebar ke ujung, hampir seperti segitiga. Pamor ini tergolong pamor pemilih, karena dipercaya tidak semua orang akan cocok memilikinya. Sebagian pecinta keris di daerah Jawa Timur dan Pulau Madura menggolongkannya sebagai pamor bulu ayam (pamor-pamor yang pola bentuk gambarannya memang seperti bulu ayam atau ungas lainnya). Yang dianggap sebaga pamor Bulu Ayam antara lain adalah pamor Blarak Sinered, Ri Wader, Ron Genduru dan sejenis yang itu. Sejak dekade 1990-an sebutan pamor Bulu Ayam sudah semakin jarang digunakan, dengan semakin banyaknya buku tentang budaya keris, orang mulai menyebutkan nama pamor secara lebih spesifik.  Ron Genduru Sungsang termasuk pamor miring yang eksentrik yang banyak diburu sebagai koleksi karena keindahan estetikanya maupun isoteri-nya.

Menurut buku-buku keris kuno, keris yang berpamor Ron Genduru (daun sejenis tanaman palem yang terlindungi) akan membuat pemiliknya menjadi terpandang di masyarakat, besar wibawanya, dan pandai dan luwes memimpin orang. Sangat cocok bagi pemimpin yang memiliki banyak massa, atau seorang Boss dengan banyak anak buah. Dalam pandangan kearifan Jawa, daun palem adalah simbol bahwa kepemimpinan bertugas menghidupkan dan mensejahterakan apa yang dipimpinnya. Patut disadari, kepemimpinan juga banyak mengandung godaan serta hanya bersifat sementara yang akan berganti seiring berjalannya sang waktu. Kepemimpinan harus dipandang sebagai amanah bukan anugerah sehingga harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Dengan cara tersebut, kelak ketika lengser keprabon akan tetap terjaga nama baiknya dan kelak terus dihargai serta dihormati masyarakat. Dan sampai akhir perjalanannya akan selalu terlindungi Sang Maha Kuasa.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.