Mahar : 7,500,000,-(TERMAHAR) Tn. N Gambir, Jakarta Pusat
- Kode : GKO-187
- Dhapur : Sengkelat
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : MataramAbad XVI
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 610/MP.TMII/XI/2016
- Asal-usul Pusaka : Jakarta
- Keterangan Lain : warangka kayu cendana iras, pendok silih asih (lapis emas dan perak)
Ulasan :
Sunan Kalijaga angadika aris / sun arani keris dapur sangkelat / dene kris abang warnane / nanging iki tan patut / dipun enggo wonglaku santri / iki pantes kagema / mring patingginipun / negara ing pulo Jawa / wus pinasti besuk dadi pusaka ji / kang mengku nusa jawa // – Babad Demak
SENGKELAT, Nama keris Sengkelat begitu melegenda di akhir keruntuhan imperium Majapahit. Jejak besar yang ditinggalkan dalam menelusuri keris Sengkelat dapat ditemukan melalui Babad Demak. Babad adalah cerita rekaan (fiksi) yang didasarkan pada peristiwa sejarah, dimana penulisannya biasanya dalam bentuk macapat (tembang/puisi/syair). Penulisannya yang imajinatif menjadikan semua nama dan peristiwa itu hanyalah sanepa/lambang-lambang. Babad cenderung menjadi percampuran dari fakta dan mitologi.
FILOSOFI, Penggalan teks di awal menceritakan, Sunan Kalijaga bersabda menamakan keris tersebut Keris Dhapur Sengkelat, karena berwarna kemerahan. Akan tetapi bila dipergunakan oleh santri tidaklah pantas. Keris ini lebih pantas menjadi pusaka pegangan Raja yang menguasai Nusantara. Babad Demak seolah menginspirasi bahwa keris Sengkelat adalah identik dengan sebuah piyandel dan wahyu kepemimpinan.
Dalam pemahaman lain keris Sengkelat yang artinya kemerahan, dalam sudut pandang yang berbeda juga bisa mewakili gerakan “kaum abangan” yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Kelompok abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim yang mempratekkan islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks (muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam) dan cenderung masih mengikuti kepercayaan adat yang di dalamnya mengandung unsur tradisi dan budaya lama (Hindu, Budha, dan Animisme).
Dari sembilan wali, hanya Sunan Kalijaga yang pakaiannya berbeda. Beliau tidak menggunakan jubah dan sorban. Akan tetapi, merancang bajunya sendiri yang disebut “Baju Takwa” dari baju Surjan, ikat kepalanya hanya berupa udeng . Di hadapan Allah tidak ada yang istimewa. Hanya kadar taqwa yang jadi ukuran derajat. Beliaulah satu-satunya Wali yang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kubu putihan dan abangan, ndoro, priyayi, santri hingga rakyat jelata.
Media dakwahpun dilakukan dengan melalui pendekatan budaya lokal. Syariat, tarekat, dan hakikat dirajut menjadi satu. Membuahkan makrifat dalam bentuk mistik Jawa. Sehingga agama tidak sekadar menjadi formalitas kehidupan. Tapi menjadi bagian kehidupan itu sendiri. Mistik dan makrifat yang umumnya dipandang sebagai klenik [dalam pengertian negatif], oleh Sunan Kalijaga diolah menjadi ajaran yang bermakna bagi kehidupan.
TENTANG TANGGUH, Kesan satrio yang merbawani terpancar dari keris ini, bentuknya yang masih bisa dikatakan sesempurna awal menambah kegagahannya tersendiri. Bentuk kembang kacang nguku bimo, dengan jalen dan lambe gajah yang lurus meruncing, sogokan depan belakang yang dalam, janur tipis dan runcing, ada-ada yang masih terdefinisi jelas, puyuhan dan bebel yang mengembang, tarikan luk serasi, bentuk gonjo sebit rontal dan bentuk greneng yang wangun sungguh melukiskan kejayaan Mataram. Dengan condong leleh yang sedikit lebih tegak dan karakter jenis besi kemungkinan berasal dari era Mataram yang lebih Muda (Akhir) Abad XVIII. Sandangan gayaman solo kayu cendana iras ditambah pendok silih asih lapis emas dan perak yang melengkapinya sangat cocok menjadikan kesan lebih miyayeni.
PAMOR BERAS WUTAH, Beras dan biji-bijian merupakan bibit dari tanaman, yakni bibit dari kebaikan. Bibit atau wiwit juga bisa dimaknai dengan memulai hal baru (permulaan). Dalam budaya Jawa, beras dan biji-bijian merupakan simbol dari kemakmuran dan juga kesuburan. Tidak heran jika beras dan biji-bijian kerap ditumpahkan (ditebar) ketika menyambut pengantin atau dalam upacara anak turun tanah (tedak siti), dengan harapan mereka yang ditaburi beras dan biji-bijian ini akan dilimpahi kemakmuran dan juga kesuburan. Singkat kata, pamor beras wutah merupakan rangkuman dari suatu makna yang luas dan mendalam bagaimana masyarakat agraris memahami kehidupan ini.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————











