Parungsari

Mahar : 6,000,000,-


 keris-parungsari keris-parungsari-mataram
  1. Kode : GKO-186
  2. Dhapur : Parungsari
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Mataram Senopaten (SultanAgung Abad XVI?) Abad XV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 608/MP.TMII/XI/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : kolektor item

 

foto-sertifikasi sertifikasi-parung-sari

Ulasan :

Parungsari, sekilas memang mirip dengan keris dhapur Sengkelat. Lantas apa yang membedakan antara keris Parungsari dan keris Sengkelat? Banyak rujukan mengenai nama dhapur keris dan ricikannya. Salah satu yang cukup popular untuk dijadikan bahan referensi adalah Buku Dhapur. Buku ini adalah hasil sumbangsih KGPH Hadiwidjojo pada Kawruh Padhuwungan. Mengadopsi karya sastra berbentuk tulisan (bukan gambar) berjudul “Kagungan Dalem Buku Gambar Dhapuripun Dhuwung Saha Waos” karangan Raden Tumenggung Sastradiningrat, digambar arsir pensil oleh Abdi Dalem Sunarya bagian Reksapanjuta di kantor Kridhawahana. Ada sebanyak 160 jenis dhapur keris dan 49 jenis dhapur tombak. Dalam buku Dhapur disebutkan perbedaannya adalah sebagai berikut:

  • dhapur sangkelat mempunyai ricikan : luk 13, sekar kacang, jalen, lambe gajah, sogokan, tikel alis, sraweyan, greneng.
  • dhapur parung sari tipe (A) mempunyai ricikan sama dengan sangkelat, dengan tambahan ron dha tiga (rondha nunut).
  • dhapur parung sari tipe (B) mempunyai ricikan sama dengan sangkelat, dengan tambahan ricikan lambe gajahnya dua dan jenggot.
  • dhapur parung sari tipe (B) mempunyai ricikan sama dengan sangkelat, dengan tambahan ricikan lambe gajahnya dua dan ron dha dua.

FILOSOFI, Parung = lembah ; Sari = bunga – Ada sebuah idiom yang menyatakan ‘Walaupun bunga hidup di lembah yang terjal dan tak ada orang yang menghampirinya, bukan berarti ia menjadi tak harum dan indah’. Demikian juga orang budiman akan senantiasa menegakkan kebajikan dan kebenaran, biarpun dalam kondisi sulit ia tak akan kehilangan jati diri. Tak peduli dia tumbuh di mana saja, yang jauh dari jangkauan orang, dia tetap tumbuh dengan karakter wanginya yang semerbak. Tak peduli ada yang menilai atau tidak, ia tetap menunjukkan keindahan dan kecantikannya. Bunga pada dasarnya tak dapat berbicara, tapi dia menyampaikan kebenaran tanpa kata dengan tindakan nyata. Inilah pribadi sejati yang indah yang mengikuti apa kata hati nurani.

Kesejatian, adalah suatu sikap dimana manusia mampu menjadi dirinya yang asli, serta mampu mengenali dirinya dan kehidupanya. Sang bunga akan terus berkembang dalam hidupnya, tak ada motif apapun juga, tak ada kekhawatiran apapun, semua dijalani dengan ibadah, ikhlas dan semangat tanpa pamrih.

Kebajikan, bunga selalu mengikuti angin melambai-lambai, senantiasa menundukkan kepala. Senantiasa memancarkan keharumannya, tak peduli siapa saja yang mendekati sang bunga. Kepada yang tua, muda, kaya, miskin, sang bunga tetap memberikan penampilan yang sama, dia tak memiliki hati untuk mendiskriminasi atau menghakimi. Hatinya penuh dengan permakluman dan kelapangan dada.

Keindahan, bunga menampilkan bagian dari dirinya yang paling indah untuk orang lain. Pribadinya yang bajik dan mulia, tidak membedakan maupun menghakimi, inilah keindahan hakiki sang bunga. Inilah pribadi yang penuh dengan cinta kasih. Manusia sebagai makhluk yang paling mulia, harus lebih lagi dalam mengembangkan pribadi Illahi yang indah untuk kedamaian semua makhluk. Jika hidup ini dikendaliakan oleh hati nurani maka pada saat itu juga kita menjadi pribadi sejati, indah, dan bajik. Walaupun badan raga ini telah meninggalkan dunia ini, tetapi kesejatian, keindahan, dan kebajikan tetap kekal adanya. Nama akan harum semerbak di dunia.

TANGGUH MATARAM, menatap keris Sabuk Inten ini kita seolah diajak bernostalgia dalam kejayaan masa lalu, pamor meteorit yang byor (terang menyala), seolah royal menutupi besi yang merupakan salah satu pertanda status kemapanan sang pemilik di masa lalu. Tantingannya jika diayunkan naik turun begitu ringan, besi diwasuh (dimurnikan dengan cara ditempa) secara sempurna. Dimungkinkan juga banyak mengandung logam Ti (titanium), yaitu salah satu unsur dari bahan meteorit, dan kemungkinan pada zaman dahulu sebelum digunakan Ni (nikel) sebagai bahan pamor, unsur Ti inilah yang digunakan sebagai bahan pamor. Unsur Ti ini juga yang menjadikan semua masuk akal jika tosan aji zaman dahulu terasa lebih ringan dibandingkan buatan sekarang. Titik lebur Titanium yang jauh di atas titik lebur Besi, Baja atau Nikel adalah sebuah pengetahuan metalurgi tersendiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dalam usianya yang berabad-abad, sang pusaka masih sangguh menahan gempuran sang waktu. Tarikan luk semakin merapat di ujung perlu “kepekaan hati” sendiri dalam membabarnya; dimbangi wadidang yang luwes;  kembang kacang yang nyunthi, sederhana tapi wangun. Sogokan depan belakang masih sangat utuh. Bentuk gonjo nyebit rontal dengan buntut papak (datar) menambah ke-khasan darah mataram.

pakem-petung-keris-mataram

Apabila kita tarik dengan menggunakan dari bagian pesi naik ke ujung tengah sogokan (puyuhan/bebel) dan diteruskan ke ujung wilah (panitis) masih tampak presisi bertemu dalam satu garis lurus. Panjang ganja bawah 8,1 cm juga begitu presisi menghasilkan panjang wilah 4,5 kalinya yakni 36,45 cm. Dari perhatian lain, pengukuran dari sudut kemiringan sisi dalam gandik (garis pejetan), apabila ditarik garis lurus akan berpotongan dengan pucuk sogokan, pertemuan itu terdapat pada posisi puyuhan (yang jika dilihat dari sisi samping akan tampak lebih cembung). Demikian juga dari sudut kemiringan luar gandik, akan sejajar dengan wadidang depan dan memotong pertengahan lekukan antara luk ke 2 (dua) dan luk ke 3 (tiga) atau menemukan titik singgung luk 2 dan 3. Artinya rancang bangunnya memang telah secara sengaja menggunakan standar pakem pethung rumit untuk memenuhi estetika secara teknis. Dari karakter besi, trep pamor dan diperkuat dengan kepresisian yang bisa ditentukan secara matematis, seakan sudah menemukan karakte gayanya tersendiri. Penulis lebih condong memasukkannya dalam tangguh Mataram Sultan Agung. Jika warangka di-gebeg (diservis) ulang, akan lebih menampilkan kesan dhuwung prayogi (Prayogi berarti ‘disarankan karena bagus’, maksudnya adalah keris tersebut memenuhi persyaratan estetis dan simbolis bagi yang melihat atau yang menyandangnya.

warangka-ladrang-surakarta

PAMOR AKHODIYAT, Bila pada permukaan bilah keris ada bagian yang kecemerlangan pamornya menonjol dibandingkan dengan kecemerlangan pamor di sekitarnya, bagian yang lebih cemerlang itulah yang disebut pamor akhodiyat. Sepintas lalu pemor akhodiyat tampak seperti lelehan logam-keperak-perakan yang putih mengkilat.Menurut keterangan beberapa ahli, pamor akhodiyat dapat terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan, sedangkan menurut pengamat seni keris lainnya, pamor akhodiyat dapat terjadi jika suhu pengikiran pada tahap akhir pembuatan keris itu tepat. Karena pamor akhodiyat tidak dapat dirancang sebelumnya, pamor ini tergolong tiban, terjadi karena kehendak Tuhan YME, bukan rekayasa sang Empu. Pamor akhodiyat kadang-kadang disebut pamor akordiat atau angkawiyat atau pamor kodiat, tergolong pamor yang disukai orang dan dianggap mempunyai tuah yang baik.

soro-soran-keris-parungsari pamor-beras-wutah

sor-soran-parungsaripamor-wos-wutah-mataram-sultan-agung

PAMOR BERAS WUTAH, Jika kita renungkan bersama, sebutir beras akan memiliki sebuah cerita tersendiri yang bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran hidup. Semua dimulai dari tanaman padi. Yang dipanen oleh para petani setelah menguning, dan dipukuli ke sebuah papan agar bulir-bulir padi itu bisa jatuh (rontok) dan dikumpulkan. Bulir-bulir padi yang rontok tersebut, akan dibawa dan ditaruh kedalam sebuah lesung untuk sekali lagi, dipukuli oleh alu-alu. Bulir-bulir padi ini akan lepas dari kulitnya dan akan berubah menjadi butir-butir beras. Setelah itu, semua itu akan dikumpulkan, dikarungi dan dijual sebagai beras siap masak.

Mari kita bayangkan jika beras itu adalah jati diri kita masing-masing. Dimulai dari awal pertumbuhan. Pada saatnya akan ‘menguning’-matang dengan seiiringnya waktu. Pematangan ini pun tergantung dari kondisi tanah, yang bisa kita artikan kondisi lingkungan di mana kita tumbuh. Namun satu hal yang pasti, jika memang bibit padi itu adalah bibit unggul, maka ia pun akan tumbuh dengan baik.

Setelah ‘matang’ maka kepribadian beras itu diuji. Dibanting dari batang utamanya, seperti saat sebagai taruna atau sebagai seorang individu, ‘dilepas’ untuk merantau di dunia nyata. Setelah kita semua ‘lepas’ dari batang utama kita, yaitu orang tua kita, maka kita dihentak, di’alu’ oleh kenyataan dunia. Setelah bulir-bulir padi itu lepas dari sekamnya, semua karakter sesungguhnya dan apapun yang menutupi jati diri kita yang sebenarnya akan ‘terkupas’ dan menunjukkan apa buah atau inti sebenarnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.