Sabuk Inten

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 6,000,000,- (TERMAHAR) Tn. YG Tambun, Bekasi


 sabuk-inten-mojopait sabuk-inten-majapahit
  1. Kode : GKO-186
  2. Dhapur : Sabuk Inten
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Majapahit Abad XIV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 609/MP.TMII/XI/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : ada bagian yang pegat waja di daerah ujung bilah

  foto-sabuk-inten sertifikasi-sabuk-inten-joit

Ulasan :

Ugemana pepelinge Gusti

Yen budaya iku ora beda,

Lan pusaka Kedhatone

Manawa dipun rengkuh,

Dipun pepundhi hamberkahi,

Lamun siniya-siya,

Tuwuh haladipun,

Marma pra setyeng budaya,

Pepetrinen uwohing pangolahing budi,

Hing salami-laminya.

Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maknanya sebagai berikut :

Peganglah peringatan Tuhan, kalau budaya itu tidak berbeda, dengan pusaka keraton, apabila diakui, dihormati memberi berkah, apabila disia-siakan, timbul pengaruh jeleknya. Oleh karena itu, para pecinta budaya, Jagalah hasil pengolahan budi, selama-lamanya.

Penduduk Nusantara mempunyai keyakinan bahwa pusaka, terutama keris, memiliki berbagai macam fungsi dalam kehidupan. Awalnya keris dimaksudkan sebagai wujud senjata tikam untuk pertahanan diri dan mencari makanan atau berburu. Tetapi seiring perkembangan zaman, keris mempunyai makna yang semakin meluas perspekifnya. Dalam perkembangan sejarah manusia, khususnya Jawa, keris menjadi “senjata” untuk menempuh kehidupan. Dengan kata lain keris menjadi perlengkapan hidup. Baru kemudian keris mengemban berbagai lambang kehidupan. Oleh karena itu, di dalamnya dibebankan sebuah wahana komunikasi dari leluhur ke generasi berikutnya. Pernyataan di dalam tembang tersebut di atas mengisyaratkan adanya kewajiban bagi kerabat keraton untuk menghormati pusaka keraton. Dengan adanya kirab pusaka pada tata cara Murwa Warsa = awal tahun Jawa 1 Sura, merupaka bukti adanya bentuk penghormatan kepada pusaka keraton.

Sederhananya, keris tak jauh dari kebiasaan masyarakat Jawa yang gemar mendoakan anak keturunannya supaya bahagia. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa keris merupakan sebuah wujud untaian doa, baik dari si pemesan maupun dari laku sang empu yang membuat. Doa itulah yang sebetulnya perlu dilestarikan, karena doa yang paling ampuh sekalipun tidak akan jatuh dari langit.

Keris Ibarat sebuah tuntunan hidup, selalu mengingat bahwa hidup adalah anugerah Sang Pencipta dan buah cinta kasih Orang Tua kita, maka selayaknyalah untuk berbuat welas asih (peduli) kepada sesamanya.  Berdasarkan pemahaman ilmu tanda (semiotik) manusia yang mampu menjadikan belas kasih sebagai sabuk kehidupan, maka ia akan berhasil menempuh kehidupan. Itulah gambaran sesungguhnya dari luk sebelas Sabuk Inten.

SABUK INTEN, mendengar kata tersebut, kita akan langsung terngiang dengan pusaka KK Bontit kebesaran kadipaten pakualaman, pasangan “sejiwa” KK Kopek berdhapur Jalak Sangu Tumpeng milik Sultan HB yang bertahta. Sepanjang sejarah Kadipaten Pakualaman, bertahtanya Adipati Paku Alam yang baru selalu ditandai dengan penyematan Kangjeng Kiai Bonthit. Keris Kangjeng Kyai Bontit ini memang bukan keris sembarangan, keris ini selalu menjadi simbol penguasa Kadipaten Pakualaman.

Kisahnya bisa dirunut jauh hingga masa berkuasanya Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengku Buwono I. Menjelang akhir masa kepemimpinannya, HB I mewariskan dua keris pusaka pada dua anaknya. Keris Kiai Kopek diserahkan kepada HB II (Sultan Sepuh) sementara keris pendamping Kiai Kopek, Kiai Bontit diserahkan kepada pangeran Notokusumo yang kemudian menjadi Adipati Paku Alam I. Saat itu HB I berpesan kepada kedua anak kesayangannya untuk saling mendukung. Kasultanan Yogyakarta tak akan bisa berdaulat tanpa dukungan Pakualaman. Begitu pula sebaliknya, kadipaten Pakualaman tak akan ada tanpa Kasultanan Yogyakarta. “Karena itulah namanya Kiai Bontit, karena berarti menjadi pendukung dari belakang.

TENTANG TANGGUH, menatap sekilas keris Sabuk Inten ini akan meninggalkan kesan spesial pada bahan materialnya khususnya besi, dimana besi tampak halus, berserat padat, berkesan agak basah, berwarna hitam agak kebiruan, bila dithinting suaranya… “gur”. Menurut kitab Jitapsara besi dengan ciri tersebut mendekati kepada jenis besi Pulasani, dimana angsar-nya adalah untuk keselamatan, dihormati orang banyak, kerejekian, mendapat kedudukan, dan menolak hal-hal buruk. Sedangkan makanannya adalah paruh burung platuk bawang, tulang burung perkutut, semua dihaluskan dijadikan satu dan ditaburkan.

gandik-sabuk-inten-joit sor-soran-tangguh-majapahit

Bagian Pamor sebagai sekaring braja (bunganya senjata) pun tak kalah menarik hati, tampak kontras menghias bilah. Namun seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak” pada bagian luk mendekati ujung terdapat satu bagian yang pegat waja (retak pada sisi bilah tajamnya). Apabila diperkenankan untuk secara pribadi memberi penilaian, dengan memperbandingkan teknik garap tempa yang ada, kemungkinan pegat waja yang terjadi adalah dahulunya keris ini sempat menjadi senjata fungsional (tusuk, bentur), bukan karena penempaan suhunya kurang tinggi. sehingga antara saton dan lapisan baja yang menjadi inti keris (slorok) tidak menempel dengan sempurna. Juga bentuk Dha pada daerah greneng sudah dipertegas. Wallahu a’lam

wos-wutah pegat-waja

PAMOR BERAS WUTAH, Berarti “beras tumpah”, oleh kebanyakan penggemar keris dianggap memiliki tuah yang dapat membuat pemiliknya mudah mencari rejeki, berkelimpahan. Oleh sebagian ahli tanjeg dikatakan bahwa di dalam pamor ini tersembunyi tuah lain yang baik. Bagi lelaki Jawa yang telah menikah, pamor ini juga mengingatkan akan tanggung jawab lelaki sebagai kepala keluarga untuk bertanggungjawab menghidupi / menafkahi keluarganya, sebagaimana tercermin dari ritual kacar-kucur pengantin Jawa, dimana pihak lelaki menumpahkan beras ke tempat yang telah disediakan pihak perempuan. Arti simbolis ritual ini juga berarti bahwa rejeki yang didapat sang suami tidak lari kemana-mana selain ke istri sendiri – yang sekaligus menjadi pengelolanya.

Sebuah mahakarya yang masih indah untuk dinikmati, menyimpan banyak cerita tenang perjalanan seorang anak manusia dalam lakon mengejar derajad kemuliaannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *