Keris Tilam Upih Ron Genduru Sungsang Winengku

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4,250,000,- (TERMAHAR) Tn. HD Pejaten Timur, Jakarta Selatan


 keris pamor ron gendhuru sungsang keris ron gendhuru sungsang winengku
  1. Kode : GKO-142
  2. Dhapur : Tilam Upih
  3. Pamor : Ron Genduru Sungsang Winengku
  4. Tangguh : Madura Abad XIX (Mataram?)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 249/MP.TMII/V/2016
  6. Asal-Usul Pusaka : Surakarta
  7. Keterangan lain : Warangka timoho kendit, pendok lapis emas lamen

 timoho kenditsertifikasi ron gendhuru
 Ulasan :
 
Dalam adat Jawa, ada tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Ketiga tahap itu yaitu, Metu, Manten dan Mati (kelahiran, perkawinan, dan kematian). Untuk peristiwa penting seperti perkawinan, dikenal dengan adanya keris kancing gelung, dimana pada jaman dahulu orang tua pihak mempelai perempuan mempunyai kewajiban yang paling utama untuk memberikan keris pusaka kepada mempelai pria sebagai Kancing Gelung. Seandainya pihak mempelai wanita tidak mempunyai, maka keluarga dari mempelai pria yang dianggap punya kewajiban untuk memberikan pusaka sebagai Cundhuk Ukel. Bahkan menurut catatan sejarah Sunan PB X gemar memberikan Kancing Gelung kepada Putra Mantu. Budaya Kancing Gelung ini tidak hanya menjadi milik keluarga kraton tapi juga masyarakat luar kraton. Keris berdhapur Tilam Upih biasanya banyak digunakan untuk keperluan tersebut, maka tidak heran hingga kini keris dengan dhapur Tilam Upih populer dan paling banyak dijumpai. Bahkan dalam buku masterpiece History of Java (1817), prajurit Jawa pada umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus. Keris yang dikenakan di pinggang sebelah kiri, berasal dari pemberian mertua waktu pernikahan (dalam budaya Jawa disebut kancing gelung). Keris yang dikenakan di pinggang kanan berasal dari warisan leluhur atau pemberian orang tuanya sendiri, sedangkan keris pribadi diletakkan di bagian belakang.
 –
Morfologi Tilam Upih sendiri adalah sebuah alas (tilam) yang terbuat dari daun berpelepah (upih). Nyaman sebagai pembaringan, dimana saat dingin terasa hangat dan saat panas terasa dingin (Kearifan lokal orang Jawa dengan tirakat tidur di lantai adalah untuk menghadang rejeki atau menghalangi datangnya malapetaka). Apabila dimaknai lebih dalam adalah sebuah simbolisasi laku prihatin atau tirakat. Laku adalah usaha atau upaya. Prihatin adalah sikap menahan diri, menjauhi perilaku bersenang-senang Hakekat dan tujuan dari laku prihatin dan tirakat adalah usaha manusia untuk menjaga jalan kehidupannya supaya selalu selaras dengan ajaran budi pekerti dan kesusilaan, tidak terlena dalam kenikmatan keduniawian, dan untuk menjaga agar kehidupan manusia dalam kondisi ‘keberkahan’, selamat dan sejahtera dalam lindungan Tuhan, agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dan terkabul keinginan-keinginannya. Proses laku itu sendiri mendorong dan mengarahkan sikap dan perilaku orang agar selalu positif, menjauhi hal-hal yang bersifat negatif (fokus pada tujuan).
 –
PAMOR RON GENDURU SUNGSANG WINENGKU, nyaris sama dengan gambaran pamor ron genduru hanya saja arah daunnya terbalik. Pamor ron genduru sungsang arah hadap garis daun-daunnya ke bawah, menghadap ke arah sor-soran, kebalikan dari pamor ron genduru yang menghadap ke atas ke arah ujung wilah. Kata “sungsang” artinya terbalik. Pamor ini dikombinasikan dengan pamor wengkon sehingga menjadi pamor Ron Genduru Sungsang Winengku. Dalam dunia perkerisan, mas kawin Ron Genduru Sungsang yang memakai wengkon lebih tinggi daripada yang tidak karena kesulitan pembuatannya menjadi lebih kompleks. Tuah atau angsar menurut sebagian pecinta keris adalah untuk menunjang kewibawaan serta jiwa kepemimpinan namun ditambah lagi angsar pelindungan terhadap pemilik dan keluarganya.
 tilam upih rin gendhuru sunsgang tilam upih ron gendhuru
pamor ron gendhuru sungsang ron gendhuru sungsang winengku
TENTANG TANGGUH, untuk masalah tangguh kali ini Penulis agak sedikit berbeda dengan yang tertulis pada sertifikasi. Mengamati secara visual style/bentuk mulai dari bentuk ricikan pejetan masih terasa berbentuk persegi, tikel alis pendek landhung (memiliki bagian lengkung yang panjang tapi tidak terlalu menekuk, umumnya keris-keris dengan tikel alis seperti ini biasanya berbilah tebal dan agak tegak), penampang bagian gonjonya, sap-sapan tempaan besi hingga cak-cak an (pengetrapan) pamor, tak lupa juga dari kesan rabaan pada wilah menurut hemat penulis bisa digolongkan dalam keris Mataram abad XVII. Karena Tangguh sering menimbulkan perdebatan maka Ki Anom Mataram dalam Serat Centhini memberi nasehat sebagai berikut : … Poma wekasingsun, lamun ana ingkang nyulayani, atuten kemawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik, malah oleh bathi, tur ora kemruwuk … (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja lah, berdebat tidak ada gunanya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan tidak ramai. Itulah seni menangguh tosan aji, seni tangguh untuk periodisasi keris sepuh memang sangat kompleks dan bisa menjadi kesenangan tersendiri
 –
Menurut penulis sudah tidak ada Pekerjaan Rumah untuk kelengkapan pusaka ini. Pelet  Timoho jenis kendit klangenan masyarakat perkerisan jogja, dengan pendok lapis emas lamen sudah lebih dari cukup menunjukkan kelasnya. Pelet kendit adalah motif pelet yang melingkar pada kayu dengan warna lebih gelap dari kayu asalnya dan kelihatan mengkilap seperti ikat pinggang, dipercaya memiliki tuah membawa kebahagiaan, kemudahan, kekayaan dan mengikat segala sesuatu yang sifatnya baik.

 
Dialih-rawatkan   sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *