Mahar : 5,000,000,-(TERMAHAR) Tn. AV Samarinda
- Kode : GKO-157
- Dhapur : Sengkelat
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : Mataram Sultan Agung Abad XVI
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 273/MP.TMII/V/2016
- Asal-Usul Pusaka : Jawa Tengah
- Keterangan lain : Warangka terbuat dari tulang, hulu terbuat dari tanduk rusa
Ulasan :
Barangkali fase yang dianggap paling mewakili kejayaan pembuatan keris di Jawa adalah semasa Kerajaan Mataram Islam. Ketika itu, perkembangan keris dan tombak berlangsung dengan pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Konon pada masa pemerintahan Sampean Dalem Ingkang Sunuhun Kangjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma Senapati Ing Ngalaga Abdurahman Sayidin Panata Dinan berkenan mengeluarkan pengumuman, ialah mulai saat itu rakyat diperkenankan mempunyai pusaka-pusaka wesi aji seperti keris, tombak, pedang luwuk dan sebagainya, dan janganlah mempunyai rasa takut, bila sewaktu-waktu pusaka tersebut akan diminta oleh Raja atau keluarga keraton. Semua manusia berhak mempunyai rasa kepercayaan yang mantap terhadap apa yang dimiliki, dan diharapkan mempunyai rasa kepercayaan terhadap pimpinannya, bahwa beliau dan kerabat keraton akan selalu melindungi semua hak milik rakyatnya. Mulai saat itu Mataram berwajah baru, rakyat secara gotong royong mulai berbenah diri dan membangun mulai dari desa-desa hingga dalam kota. Keadaan Mataram bertambah cerah, dan di sana-sini bila ada hari-hari pertemuan atau pisowanan, rakyat tidak takut-takut lagi memakai pakaian adatnya lengkap dengan kerisnya, mulai dari keris yang tergolong ageman maupun yang disebut pusaka tayuhan.
–
Kanjeng Sultan juga berkenan memberi ganjaran bagi mereka yang berjasa kepada bangsa dan negeri Mataram. Selain mengingat besar kecilnya jasa pun disesuaikan dengan kedudukannya. Menurut literatur yang ada para lelurah prajurit sampai prajurit biasa menerima ganjaran tombak atau keris yang diserasah emas bergambar sada sakler, juga bergambar sapit landak dan trisula. Sebagai pimpinan pasukan dan wadana kliwon mendapat ganjaran pusaka yang diserasah emas berupa lunglungan atau ron-ronan. Para perwira prajurit dan Panewu Mantri mendapat ganjaran pusaka-pusaka yang diserasah emas bergambar gajah dan singa. Para putra kerabat atau patih dalem mendapat ganjaran pusaka yang diserasah emas bergambar bunga anggrek.
–
TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG, zaman ini banyak beragam karena banyak reformasi dibidang seni, budaya dan penanggalan, masyarakat umum diberi kebebasan untuk memiliki keris dan para empu diberi kebebasan untuk membuat kreasi karya terbaik, sehingga pasikutan sangat beragam sejak awal pemerintahannya para empu juga melestarikan dengan membuat pula model keris sebelumnya dengan memadukan ciri khas era mataram Sultan Agung. Maka bisa dikatakan Jaman Mataram Sultan Agung memang menjadi surga para Empu.
–
Pasikutannya demes (serasi, tampan dan enak dilihat), besinya mentah, pamornya mubyar. Secara keseluruhan keris Tangguh Mataram Sultan Agung tidak beda jauh dengan tangguh Mataram Senopaten, perbedaan hanya pada bahan besinya yang sedikit mentah agak pucat tetapi sangat kaya akan pamor.
PAMOR BERAS WUTAH, kemakmuran pada zaman dahulu salah satunya ditandai dengan hasil panen yang berlebih, mengilhami para empu untuk memberi nama Beras Wutah pada pamor keris hasil karyanya. Pamor ini adalah salah satu jenis yang paling banyak dibuat sehingga saat ini adalah jenis pamor yang paling banyak diketemukan. Secara fisik pamor Beras Wutah memperlihatkan motif butiran beras tumpah, adalah pamor tiban dihasilkan oleh penempaan Empu yang dalam proses pembuatannya Ia bekerja sambil berdoa, sabar dan menyerahkan hasil dari tempaannya kepada kehendak Tuhan (ikhlas). Secara filosofis, Beras Wutah menggambarkan kondisi, harapan dan keinginan sang pembuat keris, sehingga Beras Wutah kerap dihubungkan dengan keinginan untuk mendapat hasil panen melimpah, atau kehidupan yang lebih makmur. Di masa sekarang berarti rejeki dan penghasilan yang melimpah.
Melihat secara seksama langgam atau cengkok keris pusaka sengkelat ini tidak bisa dipungkiri masih banyak terbawa pengaruh era Mataram sebelumnya yakni Senopaten, terutama jika dikaitkan dengan ganja wulungnya serta dalam rasa tarikan luk-nya. Tapi jika diamati secara seksama pola penerapan pamor dan karakter besinya akan tampak berbeda, juga wilah lebih nglimpa (cembung) dibandingkan keris-keris mataram Senopaten. Pada bagian pesi tampak sedikit berbeda dengan pesi keris lainnya yakni agak persegi (kotak). Pamor meteorit yang menghias permukaan bilah pusaka ini menjadi sebuah kelebihan dan menjadi daya tariknya sendiri. Sebuah konsep kemanunggalan dalam ruang bapa angkasa dan ibu bumi.
KERIS SEBAGAI PERPADUAN MATERIAL IBU BUMI BAPA ANGKASA, Ketika sang empu mewasuh besi (ditempa untuk membersihkan besi) sekian ribu kali pukulan sebagai perlambangan ”tapisan gebagan” membersihkan diri. Manusia senantiasa harus eling dan selalu membersihkan diri dari dosa maupun kesalahan. Apa yang disebut hasil kodokan (bakal keris ) adalah sebuah pemahaman bahwa manusia diberi wadah dan manusia diberi kesempatan karena memiliki akal pikiran untuk dapat digunakan menuju kepada kesucian dengan perilaku berbudi luhur.
–
Maka empu yang menganut ilmu maguru alam (berguru kepada alam) melakukan sebuah penyatuan atau dalam bahasa Jawa ’diwor’ – ’dimor’ yang kemudian disebut ’pamor’. Penyatuan dirinya terhadap api, sang empu seolah ikut beresonansi sebagai api, disinilah terjadi sebuah kekuatan ”Illahi” dimana tangan sang empu dipinjam sebagai kodrat atau menjadi sebuah media Tuhan Yang maha Esa. Penyatuan besi (pasir bumi) dengan benda angkasa (iron meteorite) telah dilakukan oleh mereka (para empu) sebagai sebuah perlambangan penyatuan Ibu Bumi dan Bapa Akasa. Dari langit dan dari bumi disatukan dalam tungku api yang dikendalikan oleh resonansi penyatuan empu bersama api (kemanunggalan dalam keadaan berKetuhanan). Maka keris sebagai karya adalah merupakan ciptaan Tuhan melalui tangan manusia. Tak heran jika akhirnya diagungkan dan disakralkan. (Dang dahana bagni niraweh sara sudarma).
–
Prosesi pembuatannya yang selalu menyebut mantera berulang dan kemudian menanamkan segala sesuatu menjadi sebuah energi atau kekuatan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan “spiritualitas tanpa batas”. Maka dari itu ada sebutan ”Empu adalah pancer atau titik temu kemanunggalan antara yang tinemu ing nalar dan yang tan tinemu ing nalar” artinya bahwa dipercaya atau tidak dunia perkerisan memasuki keadaan penelaahan transcendental antara nalar dan tidak ketemu nalar. Maka jika keris dianggap sakti, secara turun temurun baik itu melewati periode megalitik hingga periode agama-agama, jelas sekali bahwa keris tetap universal dari jaman ke jaman. Hakekat dari apa yang terkandung merupakan makna penyempurnaan dalam perjalanan olah spiritual manusia menuju kesempurnaan hidupnya yang tercermin dari kekuatan prosesi pembuatan keris tersebut.
–
Dialih-rawatkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Contact Person :
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————













