Mahar : 3,945,000,- (TERMAHAR) Mr. BP Jakarta Timur
- Kode : GKO-135
- Dhapur : Sangkelat
- Pamor : Kulit Semangka
- Tangguh : Mataram Abad XVII
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 204/MP.TMII/III/2016
- Asal-usul Pusaka : Kertosono, Jawa Timur
- Keterangan lain : Tindik (Emas?) Pesi dan Ganja
Ulasan :
Sangkelat – Keris biasanya dihubungkan dengan masalah politik khususnya mengenai kekuasaan dan tahta kerajaan. Dalam dunia perkerisan ada kisah kesaktian keris Sangkelat (saudara satu Empu dengan Keris Carubuk) yang mampu mengalahkan keris kebanggaan Majapahit, Condong Campur. Padahal keris Sabuk Inten buatan Empu Jigja tak kuasa menghadapinya. Keris Condong Campur terlalu perkasa bagi Sabuk Inten, tapi tak kuasa melawan kedigdayaan Sangkelat.
Beberapa orang yang waskita, memahami kisah “pertarungan keris pusaka” tersebut sebagai sebuah permisalan dari kondisi revolusi yang mengantarkan keruntuhan Majapahit. Dalam Tafsir Babad Demak, Sangkelat adalah kiasan dari gerakan rakyat yang menuntut dihapuskannya hak istimewa para bangsawan dan Carubuk adalah gerakan santri yang berjalan sendiri terpisah dari gerakan rakyat. Condong Campur kiasan untuk feodalisme konservatif Majapahit yang diantaranya masih mengenal kasta, sedangkan Sabuk Inten adalah gerakan para pemilik modal yang ingin mengambil untung dari carut marutnya kondisi tersebut.
Dari pemahaman di atas, keris tidak hanya dipandang sebagai sebuah “benda keramat” yang memiliki kekuatan, tetapi juga sebuah simbol dari suatu kekuatan yang ada di dunia nyata. Bagi mereka yang memandang keris secara mistik, pengkoleksian itu sebagai bentuk pencarian kekuatan di luar dirinya (tak kasat mata) dalam menghadapi tantangan di dunia nyata. Sementara mereka yang melihat dari sisi seni, kesejarahan maupun investasi, pengkoleksiannya merupakan bagian dari suatu penjagaan terhadap warisan nenek moyang (nguri-uri budaya), juga dapat sebagai sarana bernostalgia pada perjuangan generasi sebelumnya hingga sebuah benda antik yang memiliki nilai ekonomi.
Tangguh Madiun Era Mataram, kebanyakan keris tangguh madiun memang berluk tiga belas, dan tidak seindah keris Majapahit atau Surakarta. Tapi, sebagaimana lazimnya sejarah keris, perkembangan senjata yang satu ini pada suatu daerah akan sangat ditentukan berbagai hal, termasuk diantaranya karakter masyarakat, situasi politik, peta kekuasaan dan lain sebagainya. Di wilayah yang pada masa silam dikuasai oleh Adipati-adipati terkemuka atau daerah-daerah yang senantiasa bergolak, perkembangan perkerisan akan mengalami bentuk, sesuai situasi yang mendukung proses penciptaan keris-keris itu. Karena memang diciptakan sesuai zaman dan keadaan pada masa itu, keris Madiun tidak terlalu memikirkan keindahan, kesannya justru wagu, angker dan nggegirisi (menyeramkan). Bentuknya sederhana, tetapi sepintas saja sudah terlihat kalo kesannya sangat powerful (kuat) dan berwibawa. Dan memang sisi isoteri inilah yang lebih menonjol dari keris-keris Madiun. Tak heran sejarah Madiun sangat berkaitan erat dengan senjata-senjata pusakanya yang sangat bertuah. Bahkan sekaliber Mataramnya Panembahan Senopati pernah dipermalukan dengan mengalami dua kali kegagalan menundukkan Purubaya (Madiun), yakni pada tahun 1587 dan 1589, diyakini hal ini berkat keampuhan sebilah keris pusaka, yakni Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Hingga dengan taktik “pura-pura takluk” ekspansi Mataram berbuah kesuksesan. Kabarnya, sebagai peringatan atas peristiwa penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut, maka sejak tanggal 16 Nopember 1950 nama Purubaya diganti menjadi Mbediyun atau Mediun.
Bentuk kembang kacang “mangan gandik”, sogokan dan blumbangan selalu tak pernah imbang kanan dan kirinya, perut gonjo tampak tipis sedangkan sirah cecaknya lancip, bentuk luk dan pamor yang khas (agak abu-abu cenderung nggajih) adalah beberapa singnature (penanda) keris Mediunan. Untuk menangguh suatu keris Madiun, kecocokan dengan besi sezaman bisa dijadikan parameter penilaian. Jenis besi dan pamor keris ini memiliki kemiripan dengan besi Mataram awal. Keserupaan ini kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan bahan besi yang ada pada masa tersebut, dan unsur distribusi dalam wilayah-wilayah kerajaan yang berkuasa.
Tindik (Emas?) Ganja dan Pesi, pemberian Tindik pada sebilah keris Pusaka tentu bukanlah tidak sengaja dan tanpa maksud. Tentu adalah sesuatu yang penting hingga harus diabadikan. Tindik emas di bagian ganja atau pesi dipercaya agar pemilik bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif, ada juga kepercayaan untuk meredam “aura panas” pusaka itu sendiri. Ada cerita tutur jawa yang menarik dalam kisah pemberontakan Adipati Pragola di Pati, dikatakan bahwa orang-orang Pati kebal senjata. Kekebalan itu hanya dapat ditawarkan kalo senjata orang-orang Mataram diberi tindik atau susuk emas. Setelah rahasia itu diketahui, maka keris Mataram diberi tindik atau susuk untuk menawarkan kekebalan orang-orang Pati. Maka kadipaten Pati segera jatuh dan dikuasai Mataram. Dari pandangan kepercayaan spiritual dapat juga dipahami masuk sebagai tataran psikologis pemiliknya, dimaknai sebagai panutan, pengingat dan harapan. Misal tindik yang ada dianggap sebagai sebuah ikhktiar untuk menambal kekurangan yang ada dimana prinsipnya menjadikan yang kurang baik menjadi lebih baik dalam mencapai sebuah tujuan yang dicita-citakan.
Pamor kulit semangka, sepintas lalu memang tampak seperti kulit dari buah semangka, tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan si pemilik akan mudah bergaul dengan siapa saja dari golongan manapun.
Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————













