Mahar : 3,250,000,- (TERMAHAR) Mr HK Jakarta
- Kode : GKO-106
- Dhapur : Sangkelat
- Pamor : Beras Wutah Winengku
- Tangguh : Madura Sepuh Abad XVIII
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 77/MP.TMII/II/2016
- Asal-usul Pusaka : Purbalingga, Jawa Tengah
- Keterangan lain : Warangka Baru (terbuat dari kayu cendana jawa)
Ulasan :
Bicara tentang keris dan perkerisan, tidaklah mungkin tanpa menyebut Madura. Sejak zaman raja-raja di masa lampau, Madura sudah menjadi bagian dari perkembangan keris di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Boleh jadi karena sejumlah empu yang cukup mumpuni juga berasal dari Madura. Sebutlah beberapa nama seperti; Empu Koso, Empu Ki Macan, Empu Ki Kacang, Empu Sumolo dan Empu Brojoguno yang legendaris itu. Kehidupan yang keras telah “menggarami” penduduk pulau ini, letak geografis dan kondisi alam yang dkelilingi laut dan sebagian tanahnya gersang agaknya telah membentuk karakter penduduknya yang khas. Atau mungkin pula karena arena perang tanding bukan hal asing bagi para Adipati, Punggawa dan Kstariy-ksatriya asal Madura. Kita tahu Trunojo-lah yang berhasil membedah Mataram (Plered), sehingga Amangkurat Agung harus melarikan diri dari istananya. Beberapa pelaku sejarah asal madura mengingatkan kita akan perang tanding yang dahsyat, sekaligus meninggalkan jejak dan ragam pusaka yang menjadi mitos dari sebuah tradisi keperwiraan sekaligus kehebatan pusaka piandel yang dimilikinya.
Tidak banyak daerah yang perkerisannya masih tetap eksis, dan hingga kini Madura berada di lini terdepan. Sebagai salah satu bagian penting dari sejarah perkerisan, Madura tentu punya gaya khas, yang membedakannya dengan keris-keris daerah lain. Apa beda keris Madura Sepuh dengan keris-keris daerah lain? Apa keistimewaannya?
Kesan keris madura yang “galak” langsung bisa dirasakan ketika melirik sepintas keris ini, mata kita tidak sepenuhnya salah, karakter besi (terkesan kering berwarna hitam keabu-abuan) dan pamor wos wutah yang ada (nggajih, nyekrak/kasar rabaannya) dapat menjadi pembeda dengan tangguh lain. Keris yang cenderung tebal, penampang ganjanya yang datar dan lurus, serta luk yang semakin ke atas semakin rapat meneguhkan ke-Madura-annya. Walau begitu dari segi garap tidak bisa dipandang sebelah mata, dari bentuk sekar kacang yang ada, kemungkinan ini dulunya adalah sengkelat dengan ricikan sekar kacang berjenggot (sudah terkorosi) yang boleh dibilang sangat jarang ditemui, karena orang jaman dahulu sangat menjaga paugeran, dimana hanya menyandang keris sesuai dengan “kelas”nya.
Jenggot
Jenggot mencerminkan kasepuhan (sepuh = tua, senior, penuh pengalaman), wibawa dan kemapanan mental atas adanya kebijaksanaan. Wibawa akan tumbuh sendiri menyertai kebijaksanaan bukan wibawa (karena pangkat atau kesaktian) yang disalahgunakan untuk mencitrakan kebijaksanaan. Orang sakti belum tentu bijaksana dan orang bijaksana juga belum tentu sakti. Tapi dalam konteks ricikan jenggot ini wibawa kasepuhan yang muncul oleh kebijaksanaan. Jenggot selalu berada disertai kembang kacang artinya seorang yang punya wibawa kasepuhan sudah tentu bersopan santun dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya belum tentu kembang kacang disertai jenggot, artinya meski memiliki sopan santun yang halus belum tentu memiliki wibawa kasepuhan.
Membuat pamor beras wutah yang rapi, tidak njelebret kemana-mana (nerjang landep), seperti kita ketahui banyak keris Madura yang diketemukan dengan pamor seadanya, tidak rapi dan sering terpotong keluar dari bilah, sehingga sering dianggap keris kelas II. Ditambah pula dengan sisipan pamor wengkon yang melingkar rapi mengikuti lekak-lekuk bilah yang ada membungkus pamor beras wutah didalamnya menjadi tantangan sendiri bagi sang Empu untuk membabarnya.
Pamor Beras Wutah Winengku
Adalah motif pamor beras wutah yang dibungkus dengan garis wengkon (garis di sepanjang sisi pinggir bilah). Tentu ada maksud lebih dan tersembunyi kenapa dibuat pamor yang berbeda dengan beras wutah biasa. Tuahnya dipercaya untuk melancarkan rejeki untuk keluarga, memperbesar rasa hemat dan menjauhkan godaan-godaan dalam ber-rumah tangga.
Pamor Telaga Membleng
Bentuknya menyerupai gelang-gelang lingkaran, paling sedikit tiga lapisan gelang-gelang. Letaknya pada bagian pejetan, di belakang gandik Tuahnya, penumpukan harta dan rejeki. Harta dan rejeki yang telah kita terima, akan sulit keluar lagi, kecuali untuk hal-hal yang bermanfaat. Mereka yang memiliki sifat boros, baik sekali jika memiliki keris dengan pamor telaga membleng ini.
Keris Madura takkan pernah mati. Seperti juga cerita tentang pusaka-pusaka Madura Sepuh yang tetap hidup sebagai warisan nilai-nilai lama yang mendasari jiwa dan kepribadian orang madura dalam menjawab berbagai persoalan dan tantangan hidup
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————










