Pasopati

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 3,500,000,- (TERMAHAR) Mr. D Surabaya


 pasopati tangguh mataram keris pasopati

keris pasopati pilih tanding pasopati

  1. Kode : GKO-110
  2. Dhapur : Pasopati
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh : Mataram Abad XVI
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 81/MP.TMII/II/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Cilacap, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : Warangka Lamen

 gayaman solo kayu tomoho sertifikasi keris pasopati

Ulasan :

Aku adalah Pasopati, pusaka seorang ksatriya pilih tanding lelananging jagad, jagoning dewa. pemberian Sang Hyang Manikmaya – Sang Kuasa Guru Sejati.  Aku adalah simbol kemenangan Dharma (kebenaran) dalam melawan Adharma (keburukan) dalam diri, dunia dan alam semesta.

Kakawin Arjuna Wiwaha, pada awal abad ke 11, Mpu Kanwa menulis Kakawin Arjuna Wiwaha diperuntukkan bagi Sri Baginda Prabu Airlangga. Tulisan yang sangat halus dan penuh makna ini layaknya seperti ketika Sri Krishna memberi pelajaran kepada Arjuna dalam Bhagavad Gita. Pemahaman Kakawin Arjunawiwaha itu sangat penting sebagai persiapan Sang Prabu Airlangga yang berusaha mempersatukan Jawadwipa. Karena itu di dalam karya agung ini, pemeran utamanya bukan Dewa, tetapi Ksatria Arjuna sebagai gambaran Sang Prabu Airlangga sendiri.

Dikisahkan bahwa Arjuna bertapa karena kesadarannya sebagai ksatriya, dia ingin melakukan dharma kewajibannya di tengah masyarakat. Dia merupakan lambang pemimpin yang sanggup mengorbankan jiwa, raga dan harta bendanya demi negaranya. Dalam tapanya Arjuna diuji apakah tapanya demi ambisi pribadi atau benar-benar demi pengabdian murni. Tujuh bidadari utusan Bathara Indra dengan kecantikan tak tertandingi menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun demikian oleh karena Arjuna telah berhasil mencapai keteguhan hati, maka ia tidak terganggu oleh godaan para bidadari jelita tersebut.

Selanjutnya Bathara Indra sendiri yang menguji apakah Arjuna benar-benar seorang ksatria yang penuh keyakinan, ataukah seseorang ‘resi’ yang melarikan diri dari keduniawian. Bathara Indra menyamar sebagai seorang resi tua yang memperolok dan menggugah rasa kesatriaan Arjuna. Ia muncul dalam bentuk seorang resi yg menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya Arjuna belum mencapai kesempurnaan, karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri, ‘ego-spiritualis’. Dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan diri, juga bukan untuk kepentingan keluarga Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran dalam peperangan akhir antara dharma melawan adharma. Demi dharmanya itu Arjuna berani menghadapi apa saja, bahkan kematian sekalipun akan dihadapinya. Resi tua tersebut kembali wujudnya sebagai Bathara Indra. Bathara Indra berbahagia, karena telah menemukan seorang ksatria berbudi luhur yang akan mampu menghadapi Niwatakawaca, Raksasa Angkara Murka yang mengancam Kahyangan, Istana para Dewa.

Ujian berikutnya adalah Mamang Murka, raksasa utusan Prabu Niwatakawaca yang berwujud babi hutan raksasa yang menyerangnya dengan ganas. Akhirnya babi hutan tersebut mati dipanah oleh Arjuna. Persoalan timbul, karena babi hutan tersebut mati karena dua buah anak panah. Ternyata ada seorang ksatriya yang juga membidikkan anak panah ke babi hutan tersebut. Sudah selayaknya, Arjuna yang bertarung keras, berperang tanding penuh luka dengan babi hutan, dan akhirnya berhasil membunuh mati hewan tersebut, merasa lebih berjasa dari pada seorang ksatriya asing tanpa perkelahian sebelumnya yang langsung memanah babi hutan tersebut. Sang Ksatriya mengajak berperang tanding, mengadu kesaktian. Akan tetapi, bagi Arjuna, nama bukan menjadi masalah, siapapun yang mendapatkan nama dan berhak mendapat karunia bukan menjadi pertimbangan Arjuna. “Wahai Ksatria, kalau kamu merasa berhak sebagai pembunuh Mamang Murka, dan mau melaporkan ke Kahyangan silakan. Bagiku, ada adharma yang mati sudah memadai, itu bentuk kasihku terhadap kebenaran”. Arjuna ingat nasehat Sang Guru Sejati: “Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan kasih”. Sang Ksatriya merasa dipermalukan dengan pernyataan Arjuna yang menohok kecongkakannya, dan menyerang Arjuna sehingga terjadilah perang tanding yang luar biasa. Akhirnya baju perang Arjuna hancur, akan tetapi Arjuna berhasil mendekap kedua kaki musuhnya, sehingga musuhnya terjatuh dan perkelahian terhenti. Tiba-tiba ksatriya tersebut berubah wujudnya menjadi Bathara Guru.

Bathara Guru sangat terkesan atas kerendahan hati Sang Arjuna. Arjuna telah lulus ujian akhir dan oleh Bathara Guru, Kuasa Pengajar Sejati, diberi hadiah seperangkat senjata panah bernama Pasopati. Pashu, Pasu adalah hewan, sehingga Pasopati adalah Raja Hewan, julukan bagi Bathara Guru. Pasopati adalah senjata andalan untuk menaklukkan sifat kehewanan dalam diri. Senjata bagi mereka yang sudah ‘sadar’ akan adanya hewan di dalam diri dan mampu menaklukkannya.

Pamor Kulit semangka, sepintas lalu memang tampak seperti kulit dari buah semangka, tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan si pemilik akan mudah bergaul dengan siapa saja dari golongan manapun.

 sekar kacang pogog gandik pasopati

Tangguh Mataram, meski sudah tidak bisa dibilang utuh, keris Pasopati tetaplah sebuah “Pusaka Sakral” simbol pusaka kepemimpinan, yang memang dulunya bukan “keris rakyat” tetapi hanya untuk mereka yang berhak atau pantas nyandang (memakai) hingga banyak dimiliki oleh para Senopati Perang. Konon hingga jaman ini untuk menambah keyakinan diri, mereka-mereka yang duduk dalam lingkaran kekuasaan merasa wajib memiliki pasangan pusaka Pasopati dan Sengkelat. Kesan keris mataram langsung bisa dirasakan kerika menatap gandik keris ini, bentuk pejetan berbentuk kotak adalah salah satu ciri menonjol dari tangguh Mataram. Bagian ada-ada baik melalui pengamatan visual maupun grayangan (rabaan) masih terpahat dengan jelas. Bentuk sekar kacang pogog sebagai salah satu ricikan wajib atau penanda dhapur Pasopati masih sangat utuh dan tampak luwes. Dalam korosinya, apabila kita raba besi dan pamornya dengan jari terasa sangat halus, tidak neracap (kesan rabaan yang nyekrak kasar dan tajam, seringkali terasa sakit karena tersangkut) pertanda korosi alami bukan dari hasil buatan atau kamalan (dituakan) dengan cairan tertentu.

besi bungkalanSalah satu yang menarik dalam keris ini adalah terlihat dua besi dengan jenis berbeda tampak menyambung, sebagian percaya memang disengaja, disebut “besi bungkalan”, dimana Bilah Keris Terbuat dari dua atau lebih material besi yang berbeda , penyatuan dengan cara tempa disambung yang diharapkan kekuatan yoni keris menjadi berlipat atau bertambah kuat. Karena dalam literatur kuno ditulis bahwa tiap-tiap jenis besi membawa tuahnya sendiri, dan segala macam pencampurannya tidak boleh sembarangan karena akan memberikan dampak yang berbeda-beda pula. Tetapi hal demikian bisa juga terjadi karena faktor usia dan korosi, dimana itu merupakan slorok (adalah besi yang kemudian dikarburasi menjadi baja. Ia digunakan sebagai tulang penguat bilah dan ditempatkan diantara saton atau diapit) yang terlihat karena besi dan pamor di atasnya telah terkikis. Kami kembalikan sepenuhnya kepada Anda.

Ditawarkan sesuai dengan foto, video dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *