Mahar : 4,450,000 (TERMAHAR) Mr. DK Sukabumi
- Kode : GKO-105
- Dhapur : Sangkelat
- Pamor : Ilining Warih
- Tangguh : Pati?
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 76/MP.TMII/II/2016
- Asal-usul Pusaka : Grobogan, Jawa Tengah
- Keterangan lain : Kinatah Gajah Singo Primitif
Ulasan :
Pada Babad Demak halaman 42 dimulai legenda Kyai Sengkelat, lebih terperinci dan berbeda dari Pararaton, demikian juga tentang nama-nama keris dan empunya, singkatnya sebagai berikut:
Sunan Lepen meminta agar iparnya, Empu Supa (Istri Supa, Re,tna Rasa Wulan dan sang Sunan adalah putra Bupati Tuban dari putri raja Majapahit yang terakhir) membuat untuknya sebuah keris kemauannya dan memberi sepotong besi yang sangat berat meskipun hanya sebesar biji kemiri. Supa berpendapat bahwa bahan itu terlalu kecil untuk membuat keris. Sunan Lepen bertanya, apakah untuk membuat sebilah keris diperlukan besi sebesar gunung? Bila benar demikian ia tidak memiliki besi sebesar itu, hanya sebesar biji kemiri itulah yang dipunyainya. Kemudian Supa menempa sebuah keris dari besi itu, berwarna merah menyala sehingg dinamakan Sengkelat oleh sang Sunan. Tetapi menurut pendapatnya, sebagai seorang Santri ia tidak berhak menyandang sebuah keris dengan dhapur yang sedemikian, dan oleh karenanya akan dijadikan Pusaka Aji dan disimpan untuk salah seorang keturunannya yang kelak akan menjadi Raja. Lalu ia memberi sang ipar sepotong besi lagi, dan Supa membuat sebilah keris darinya hanya dengan tiga kali tempaan, yang cocok dipakai seorang Santri dan diberi nama Jrubu (Carubuk) oleh Sang Sunan.
Cerita tentang Kyai Sengkelat berlanjut kemudian. Keris itu dicuri oleh Adipati Blambangan dari kraton Majapahit pada waktu ia masih menjadi panakawan (abdi) disana. Supa diperintahkan untuk membawanya ke Majapahit (keris yang hilang disini lain dari yang diceritakan dalam Pararaton). Bersama dengan Kyai Singkir, seorang Empu dari Madura, Supa membuat 40 kodhokan (keris dalam bentuk kasar, belum selesai) dan membawanya lewat jalan laut ke Blambangan dengan mengubah namanya menjadi Kiyai Kasa dan mengaku berasal dari seberang lautan. Di Blambangan Kyai Kasa mengganti namanya dengan Kyai Pitrang, lalu magang pada Kiyai Sarap, yang menerimanya karena terkesan dengan kerajinan muridnya.
Patih Blambangan ingin membuatkan sebuah pisau untuk putranya dan memesannya pada Sarap. Sarap menugaskan muridnya menyelesaikan pesanan tersebut. Sesudah pisau selesai dan putra sang Patih meninggal hanya karena tergores olehnya dan juga sebatang pohon kemuning yang tergores langsung menjadi kering. Maka sang Patih sadar, bahwa si pembuat pisau ini pasti juga membuat senjata yang handal. Keesokan harinya ia kembali menemui Sarap dan memesan sebilah keris untuknya, dan salam waktu yang singkat diselesaikan oleh muridnya, Pitrang, dengan dhapur Tilam Upih serta sebuah wahos (tombak) dengan dhapur Biring, yang kemudian diserahkannya kepada Patih yang menerimanya dengan terpesona. Sang Patih lalu mengangkat Pitrang menjadi saudara dan menceritakan kehebatan Pitrang kepada atasannya Adipati Siyung Laut. Adipati ini memanggil Supa dan memerintahkannya mutrani/membuat sebilah keris yang sama dengan keris yang dimilikinya. Pitrang menyanggupi dan memohon disediakan sebuah besalen yang bersih dan gelap agar ia dapat bekerja dengan baik dan mendapat wahyu dari para Dewa. Ia pun meninta wesi budha (besi yang sangat tua) dan baja dan pamor, dan berjanji akan menyerahkannya segera setelah keris itu selesai, tanpa warangka.
Besalen yang gelap itu masih ditutup dengan tabir dari kain dan sang Patih menyerahkan Kyai Sengkelat kepada sang Empu, ia berjaga di luar kain penutup serta mengurus sajen dan dupa, lalu tertidur. Pitrang segera membuat 2 buah putran, menyelinap sebentar keluar dari besalen, untuk menyembunyikan Sengkelat yang asli dibawah batu di sungai, kemudian kembali dan menyelesaikan pekerjaannya.
Pada waktu ia menyerahkan kedua keris buatannya kepada sang Patih yang terbangun dari tidurnya, Patih bertanya yang mana dari keduanya yang asli. Pitrang menjawab Ia tidak tahu lagi. Pada saat ditanya oleh sang Adipati, jawabannyapun demikian dan mengusulkan agar keris-keris itu dicoba dimasukkan ke dalam sarungnya. Ternyata keduanya dapat masuk dengan tepat ke dalam sarung. Sang Adipati lalu memutuskan, bahwa keris yang berbuat demikian tidak boleh dibuat lagi dan meskipun bukan seorang Raja, tetapi karena rasa terima kasihnya ia mengangkat Pitrang menjadi Pangeran dengan nama Sendang serta menikahkannya dengan putrinya. Dengan membawa Sengkelat yang asli, Pangeran yang baru diangkat ini kemudian pulang ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil di Blambangan.
Pamor Ilining Warih
Pamor Ilining Warih dipercaya sebagian besar pecinta Keris adalah rejeki selalu mengalir secara lumintu (meskipun sedikit atau banyak namun selalu ada saja). Selain soal rejaki, pamor ini juga baik untuk pergaulan. Tidak memilih dan umumnya cocok untuk siapapun.
Motif Kinatah Jeningan
Untuk jenis kinatah ini logam yang dipakai untuk membuat tinatah adalah dari logam kuningan sari (jeningan). Tinatah Gajah Singo Jeningan artinya keris tinatah Gajah Singo pada gonjo yang dihias dengan logam kuningan. Biasanya jenis kinatah jeningan ini dipraktekkan oleh Empu-Empu luar keraton dan dikenakan oleh masarakat biasa.
Tentang Tangguh
Menengok baik material maupun cengkok (gaya) keris Sengkelat ini bisa masuk kepada langgam keris Tengahan Lor (Jawa Tengah bagian Utara) seperti tangguh Demak, Pati dan Kudus. Tengoklah pasikutan-nya yang tampak wingit. tarikan luk berasa semakin ke atas semakin rapat, bagian wuwungan ganjanya rata, gulu meled kecil serta sirah cecak seperti kuncup. Dipertegas lagi dengan bentuk gandik serta blumbangan khas (lebet ciyut), sekar kacang yang kaku, tikel alis yang ringkas sampai bentuk wadidang-nya yang kurang laras, terkesan agak “wagu” jika dibandingkan keris-keris Mataram pada umumnya. Dalam sepintas pandangan besinya tampak bias kekuningan, agak kotor dan berkesan mentah, namun apabila diperhatikan dengan seksama tampak liat, basah dan matang tempaan, pamornya pun tergolong kalem (samar-samar) dan terkesan mengambang. Ke-wagu-an itulah yang membuat penulis kesengsem dengan keris Sengkelat ini. Keris Tengahan Lor sangat dipercaya mempunyai tuah yang kuat hingga banyak diburu oleh kolektor. Cerita pada masa lalunya cukup menggetarkan, Demak Bintoro-lah kerajaan kecil yang sanggup mengalahkan kerajaan besar Majapahit dengan salah satu senopati pilih tandingnya adalah Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) , Pati pun tak mudah ditaklukkan Mataram, terutama pada saat Pati diperintah oleh Adipati Pragola I dan II.
Pada bagian kiri dan kanan ganja terdapat sisa-sisa motif lung-lungan yang nyaris sudah tidak bisa dikenal motif lung apakah itu, dan “lucunya” lagi pada bagian bawah ganja terdapat stilasi dua hewan yang menurut hemat Penulis adalah hewan gajah dan singa berbentuk primitif. Meskipun bukan kinatah “resmi” sebagai tanda penghargaan Sultan Agung kepada mereka-mereka yang telah berjasa menumpas pemberontakan di Pati, tetap saja unik menjadikan signature tersendiri. Warangka yang setia menyertainyapun hanya gandar iras dusun yang sengaja dipertahankan untuk mempertahankan sebuah perjalanan history apa adanya. Dengan tampilan yang sederhana keris Sengkelat ini sanggup menjadi dirinya sendiri dan menampilan Inner Beauty-nya yang tak lekang jaman.
Ditawarkan sesuai dengan foto, video dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————











