Mahar : 6.660.000,-(TERMAHAR) Tn.H, Jakarta Timur
- Kode : GKO-286
- Dhapur : Naga Siluman
- Pamor : Nggajih
- Tangguh : Tuban Pajajaran (Abad XIV)
- Sertifikasi No : 722/MP.TMII/VI/2018
- Dimensi : panjang bilah 34,3 cm panjang pesi 7,6 cm, panjang total 41,9 cm
- Asal-usul Pusaka : Cilacap, Jawa Tengah
- Keterangan Lain : warangka baru
Ulasan :
NAGA SELUMAN,Bagian gandik diukir dengan bentuk kepala naga tanpa badan. Biasanya dhapur naga siluman memakai ricikan tambahan lain seperti sraweyan dan ri pandan, tetapi ada juga yang memakai sraweyan dan greneng lengkap. Selain dalam bentuk keris lurus, ada pula dhapur naga siluman luk 5, 7, 9, 11.
Dhapur yang pada jaman dahulu banyak dimiliki oleh tokoh agama atau orang yang suka mendalami dunia spiritual ini pernah menjadi saksi bisu akhir sebuah kisah perjuangan seorang Pangeran Jawa dan rakyat pribumi bersatu dan berjihad, dalam perjuangannya “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati” (sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati) melawan penjajah. Keris Kiai Nogo Siluman bersama dengan tombak Kiai Rondhan dan pelana kuda, diserahkan pada Raja Willem I yang bertahta 1813-1840 sebagai sebagai bukti sekaligus simbol bahwa sang pangeran Diponegoro telah ditaklukkan dan ditangkap.
FILOSOFI, Membicarakan Naga bagaikan berbicara mengenai sesuatu yang ada namun tiada. Sejak dulu kita hanya mengenalnya dalam dongeng, lukisan, atau gambar. Terlebih lagi sejak zaman purba sampai sekarang tidak pernah ditemukan bukti-bukti scientific (ilmiah) dari keberadaan makhluk itu seperti bukti keberadaan dinosaurus misalnya. Naga bisa jadi memang tidak pernah nyata. Sebagai makhluk mitologis, Naga bisa digambarkan berbeda-beda dalam tiap budaya. Dalam budaya timur yang berbeda dengan budaya barat Naga tidak dianggap sebagai binatang ganas dan penuh ancaman, karenanya harus ditaklukkan. Naga lebih merupakan binatang paling unggul di antara binatang yang bersisik, seperti ikan, ular, atau buaya. Naga dianggap sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan. Bagi kebudayaan Cina, Naga adalah sari dari prinsip “Yang”, simbol maskulinitas. Bagi budaya Nusantara dipandang sebagai lambang kebesaran dimana Naga identik dengan Raja dan kekuasaan. Secara mitologis Naga dianggap sebagai makhluk pemilik kekuatan supranatural yang membawa empat anugerah, yaitu kemakmuran, kehormatan, penjagaan, dan keseimbangan. Tak heran banyak yang meyakini keris berdhapur naga memiliki tuah bisa melindungi harta dan kekayaan, serta menolak unsur-unsur jahat yang akan mengganggu pemiliknya.
- Kitab Garing (yaitu kitab yang tersurat diantaranya kitab suci, sastra, syair, puisi mistik dll). Apabila manusia mampu membedah dan memahami apa-apa yang termaktup dalam kitab garing ini, hasilnya menjadi manusia yang winasis, mengerti rahasia yang terdapat dalam diri maupun alam ini.
- Kitab berjalan (Manusia itu sendiri). Ada hadist yang mashyur di kalangan sufi” Barang siapa kenal dirinya akan mengenal Tuhannya”.
- Kitab yang tersirat yaitu alam yang sangat luas yang bisa kita saksikan dengan mata telanjang (ngaji alam). Baginya semua suasana, peristiwa, anugerah, cobaan hidup adalah sarana untuk mengaji alam, sebagai medium untuk menangkap hikmah dan bersyukur.
Motif hiasan bilah keris Naga Siluman umumnya sederhana tetapi tidak menghilangkan keagungannya. Selayaknya seorang ksatria kepala Naga memakai mahkota, sumping dan kalung yang membedakan dengan kawula alit. Walau begitu ada beberapa yang mengenakan ikat kepala (sorban). Meski biasanya bentuk Naga digarap secara tersamar namun tetap terkesan hidup. Bagian gandik-nya dipahat dan diukir dengan bentuk kepala naga dengan moncong menganga, lalu setelah bagian lehernya, badan naga itu seolah-olah menghilang, menyatu ke dalam bilah keris. Makna simbolisnya bahwa sebagai seorang pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, karena apa yang ia miliki adalah sampiraning urip (titipan sementara tidak dibawa mati). Mulut naga terbuka cukup lebar disumpal butiran emas atau batu mulia selain dipercaya dapat meredam hawa panas, makna dibaliknya adalah manusia harus mampu mengendalikan kata-katanya. Masyarakat Jawa mengenal ungkapan yang berbunyi: ajining diri soko kedaling lati “artinya kehormatan diri seseorang berasal dari ucapan atau kata-katanya.” Apabila dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan merupakan sabda yang tidak boleh berubah (sabda pandita ratu tan keno wola-wali). Dengan demikian kemulian seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk menyelaraskan antara perkataan dengan perbuatan.
TANGGUH TUBAN PAJAJARAN, Julukan kota empu agaknya layak disematkan untuk Tuban. Hampir sepanjang sejarah mulai zaman Kediri hingga zaman Mataram terlahir empu-empu mumpuni yang pilih tanding. Terlebih pada zaman Tuban awal, dikenal Empu Kuwung, Empu Sombro dan Empu Anjani – yang ketiganya adalah hijrah dari Pajajaran. Sebutan tangguh Tuban Pajajaran tidak bisa dikatakan mutlak keris atau tombak itu berciri Tuban atau mutlak berciri Pajajaran. Karena kemungkinannya, bahan-bahan besi dan pamor turut dibawa dalam hijrahnya oleh sang Empu dan keturunannya yang kemudian berkarya di Tuban. Karenanya masih mengandung unsur kekhasan sifat besi-besi Pajajaran, namun sudah sedikit banyak dibentuk dalam balutan style Tuban. Jadi besinya Pajajaran namun bentuknya Tuban, oleh karenanya sering disebut Tuban Pajajaran.
Menanting pusaka ini secara langsung, kita akan dapat merasakan “perbawa” tersendiri yang memancar pada saat pusaka dilolos dari warangkanya. Bagian sorsoran yang lebar dengan bilah yang tebal membawa darah Pajajaran menambahkan kegagahannya. Dalam bayangan imajinasi stilasi Naga berwujud laki-laki paruh baya, mengenakan mahkota dan sumping hiasan telinga, dalam posisi bersedekap (Jw, sedakep) dengan sorot mata yang tenang menunjukkan wibawanya. Karakter naga diwujudkan dalam bentuk mahkota lengkap, kepala, leher dan dada kemudian bagian badannya menghilang ke atas. Semakin istimewa dengan karakter besi yang keras namun halus, seperti membatu, dengan perabaan halus berurat/bertekstur mencerminkan karakter jiwa kasepuhannya. Untuk kelengkapan sandangan, sudah kami ganti dengan yang baru, seperti tidak ingin tampil berlebihan kami pasangkan dengan warangka kayu kemuning nginden yang tampak prasojo.
PAMOR BERAS WUTAH NGGAJIH, adalah penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan. Nggajih artinya serupa dengan lemak. Pamor yang tampak di permukaan bilah seperti berlemak disebut pamor nggajih. Jadi, apapun jenis dan nama pola gambaran pamor itu, kalau penampakannya seperti lemak kering, disebut nggajih. Misalnya, pamor wos wutah nggajih, ngulit semangka nggajih. Sebagian ahli perkerisan menduga, keris berpamor nggajih lebih banyak dikarenakan berasal bahan material yang simple atau mudah ditemukan (pasir besi dari pantai) dan diolah (smelting) dengan cara lebih sederhana atau tradisional.
Koesni dalam bukunya : Pakem Pengetahuan Tentang Keris mendeskripsikan dengan jelas jenis pamor nggajih, dimana pamor yang pengetrapannya hanya diluluhkan di atas wilahan. Pengetrapan pamor seperti tersebut di atas, penggarapannya kelihatannya mudah, tetapi empu yang menangani harus teliti dan cekatan, selain itu harus mempunyai keahlian dalam membuat gambar yang bermutu. Cara-cara pembuatannya adalah sebagai berikut :
Lempengan pamor atau bubukan pamor disediakan lebih dulu (biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi). Setelah wilahan dibakar dan terasa sudah panas membara, besi pamor segera dituangkan mulai dari pangkal wilahan langsung mengarah ke bagian pucuk. Jatuhnya pamor di wilah ditunggu sampai kelihatan leleh, keris digerak-gerakkan menurut inspirasi batin sang Empu, tanpa putus mengalir ke arah ujung wilah. Bila sudah sampai pada bagian ujung ada dua macam tindakan sang Empu. Apakah pamor yang dituangkan itu kembali diluluhkan ke arah pangkal, ataukah sudah cukup sekali tuang saja. Inilah cara pengetrapan pamor yang seperti disebutkan di atas disebut pamor luluhan yang tidak perlu memakai tekanan-tekanan jari dan alat-alat lain. Pengetrapan pamor seperti ini jika sudah jadi dinamakan ‘pamor nggajih’.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com














