Keris Combong

Mahar : 5.000.000,-


1. Kode : GKO-485
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Pandhito Bolo Pandhito
4. Tangguh : Tuban  (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka : Surakarta
7. Dimensi : panjang bilah  31,7 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 38,7 cm
8. Keterangan Lain : combong


ULASAN :

KERIS COMBONG, adalah sebutan orang awam terhadap keris yang terdapat pola retakan/pecah di tengah bilahnya (mlethek, Jw). Keretakan itu menyebabkan pada bilah terdapat celah membujur. Keris-keris semacam ini di dunia perkerisan disebut sebagai keris pamengkang jagad. Biasanya yang disebut keris combong itu mempunyai pamor miring garis-garis, seperti pamor adeg, junjung derajad, ujung gunung, pandhita bala pandhita dan pamor sejenisnya.

Terdapat pro maupun kontra mengenai keris combong ini, dimana sebagian besar orang beranggapan keris combong atau pamengkang jagad adalah keris yang gagal/cacat tempa, karena secara teknis  disinyalir keretakan terjadi karena pada waktu penempaan dalam membuat saton suhunya kurang  tinggi, dengan begitu ada bagian-bagian antara besi dan lapisan pamor yang tidak bisa menyatu atau menempel dengan erat satu sama lain. Dan ketika keris tersebut disepuh, ikatan penempelan antara besi dan pamor terlepas, sehingga keris itu terbelah/retak.

Namun di sisi lain, seperti batu akik combong yang berlubang atau memiliki rongga di tengah batu yang diyakini sebagai batu bertuah yang mempunyai energi bawaan, diantaranya pengasihan dan lain sebagainya. Bagi penggemar berat keris aliran esoteri juga tersebar luas cerita tentang keampuhan keris combong sebagai jimat pengasihan yang membuat si pemilik mudah dicintai lawan jenisnya atau disayangi orang sekitarnya. Sementara menurut beberapa ahli tanjeg ada juga yang menyebutkan jika tuah keris pamengkang jagad memperkuat atau memperluas tuah bawaan yang dimilikinya. Misalnya, sebuah keris combong memiliki tuah untuk singkir baya, maka tuahnya tidak hanya berpengaruh terhadap pemilikmya semata, tetapi juga lingkungan/daerah tempat tinggalnya. Keris semacam ini juga dianggap pemilih, dimana tuahnya hanya akan bekerja jika cocok dengan pemiliknya. Terdapat pula praktek-praktek metafisika lainnya yang menggunakan keris combong sebagai media isian, yang bisa ‘diisi’ dengan berbagai energi spiritual, mulai dari energi pengasihan, penglarisan, kekayaan, energi kesembuhan dan sebagainya. Disinyalir karena adanya permintaan akan “kebutuhan khusus” tersebut di atas, banyak keris-keris yang dalam prakteknya normal justru sengaja dibuat cacat (combong).

Di Sumatra Timur dan Kepulauan Riau, terutama Pulau Bintan, keris ini juga disukai. Mereka menamakannya keris Tetarapan. Demikian pula pecinta keris di Sabah, Serawak, Brunei dan Semenanjung Malaya pada umumnya menyukai keris yang bilahnya retak ini. Mereka menyebutnya keris Pemangkang. Ada sesuatu hal yang unik mengenai keris Pemangkang ini yang mereka percayai diantaranya adalah adanya kepercayaan sebagai sarana untuk memikat hati wanita (pelet, Jw). Jika seorang laki-laki hendak memikat hati seorang gadis idamannya atau seorang gadis yang baru ditaksir, apa yang dilakukannya adalah ketika ia melihat gadis pujaannya lalu lelaki tersebut mengambil keris Pemangkang-nya, ia kemudian melihat wajah gadis tersebut melalui celah/retak yang tembus pandang itu. Dipercayai gadis tersebut akan jatuh cinta kepada lelaki itu, Wallahu A’lam.

FILOSOFI, Kata Pamengkang Jagad sering disalah tafsirkan sebagai egosentrisme penguasaan terhadap dunia (ngangkangi jagad). Terlebih bentuk retakan yang ada pada bilah diimajinasikan mirip dengan mulut vagina perempuan, yang secara tidak langsung turut serta berasosiasi kepada wanita itu sendiri sebagai obyek seksualitas (penaklukan).

Padahal jika secara spiritual ingin dikupas lebih dalam yang dimaksudkan hanya sederhana, yaitu lubang untuk melihat dunia (celah gua garba). ‘Gua’ artinya pintu yang ada di dalam, ‘Garba’ artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam berada pada perut ibu. Gua garba (mulut vagina) adalah celah kemaluan sang ibu pada posisi bayi masih berada di dalam kandungan melihat jagad (dunia). Makna yang terkandung di dalamnya bahwa setelah 9 bulan lebih 10 hari bayi bertumbuh-kembang di dalam kandungan sang ibu, pada waktunya terjadi proses kelahiran yang gaib dan ajaib. Dari sanalah titik perjalanan hidup manusia berawal, semenjak ruh ditiupkan, sampai pada saatnya pulang pada penciptanya, dengan kata lain, Gua Garba adalah simbol dari terciptanya manusia dan kemanusiaan.

Gua Garba ibarat rahim, secara etimologis dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kantung peranakan untuk mengandung janin bayi. Rahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu akar kata kerja “rahima” yang memiliki makna “mengasihi”, “memahami”, “menyayangi”, “mencintai”, “menghargai”, “menghormati”. Tuhan pun menggunakan kata rahim (yang merujuk kandungan ibu) untuk mengajarkan hubungan Tuhan dan ciptaan-Nya. Jadi Tuhan dalam hal ini memiliki sifat-sifat feminin. Tuhan adalah Ibu dari segala manusia. Salah satu sifat Tuhan pun menjadi “rahman” dan “rahiim“: maha penyayang semua ciptaanNya, seperti ibu menyayangi anak-anaknya. Rahmat adalah kasih sayang.

Dengan merenungi kembali simbol yang terdapat pada keris Pamengkang Jagad, kita mencoba menatap pada dimensi lain, berupaya memasuki asal usul bagaimana dulu kita berasal, menemukan kesadaran makna bahwa kasing sayang itu bahasa universal, tidak hanya soal seksualitas.

PAMOR PANDHITO BOLO PANDHITO, membahas pamor Pandhito Bolo Pandhito seolah otomatis membahas tiga (3) pamor lain, yakni pamor Ujung Gunung, Junjung Derajad dan Raja Abala Raja. Secara umum keempat pamor tersebut memiliki tampilan yang mirip berupa garis-garis yang menyudut. Bedanya untuk pamor Ujung Gunung, kaki garis-garis sudut itu menerjang tepian bilah. Pada pamor Raja Abala Raja, memang mirip Ujung Gunung, tapi bagian-bagian garis yang bertemu dan membuat sudut tersebut mengelompok/ada di beberapa tempat, seperti di bagian sor-soran, tengah-tengah, maupun ujung bilah (tidak sampai menerjang tepi bilah). Sedangkan untuk pamor Junjung Derajad, serupa benar dengan pamor Raja Abala Raja tetapi pamor tersebut berhenti sekitar pertengahan bilah, kemudian di atasnya terdapat pamor lain. Dan untuk Pandhito Bolo Pandhito sendiri ujung-ujung dari pertemuan garis menyudut itu semuanya bertemu pada ujung bilah keris.

Arti nama Pandhito Bolo Pandhito adalah pendeta berpasukan pendeta. Kata Pandhito berasal dari bahasa Sansekerta, dalam Bhagawadgita Bab IV. 19 dikatakan bahwa yang disebut dengan Pandhito adalah manusia yang tidak memiliki keterikatan terhadap benda keduniawian. “Yasya sarve samarambhah, kamasamkalpavarjitah, jnanagnidagdhakarmanam, tam ahuh panditham budhah”. Terjemahannya: “Ia yang segala perbuatannya tidak terikat oleh angan-angan akan hasilnya dan ia yang kepercayaannya dinyalakan oleh api pengetahuan, diberi gelar Pandita oleh orang-orang yang bijaksana”. Yang termasuk kelompok ini, antara lain Pedanda, Bujangga, Maharsi, Bhagavan, Empu, Kiai, Rohaniawan dan sebagainya, yang  merupakan golongan paling dihormati (kasta tertinggi).  Pandita biasanya tidak terlepas dari kehidupan Raja. Pandita pada umumnya bertugas sebagai penasehat Raja (Purohito). Bahkan dikatakan bahwa Raja tanpa Pandita lemah, Pandita tanpa Raja akan musnah. 

CATATAN GRIYOKULO, berbeda dengan keris pegat waja (saton yang lepas dari inti bajanya, cacat itu serupa dengan keadaan tripleks yang sering kehujanan dan kepanasan, sehingga lapisan-lapisannya  mleyot terangkat), yang oleh kebanyakan pecinta keris justru dinilai bertuah buruk, namun pada keris pamengkang jagad keris yang secara teknis dianggap gagal tempa, justru oleh sebagian orang banyak dicari karena mempunyai keistimewaan lain. Karena menyangkut kepercayaan ranahnya kemudian menjadi area abu-abu, akan selalu ada pro dan kontra. Anda pun bebas memilih sisi mana yang anda yakini.

Namun, terlepas dari perdebatan antar keyakinan yang ada, keris ini juga bukan lalu bisa dipandang sebelah mata. Tidak semua keris yang mletek (pamengkang jagad) adalah keris recekan. Seperti keris Tilam upih ini pada bagian ricikan yang menyertainya juga dikerjakan secara “normal” oleh sang Empu seperti keris-keris lainnya. Pada bagian tikel alis nampak pendek, lebar dan dangkal seperti tangkai buah sayur terong (nggagang terong), demikian pula pada bagian pejetan terlihat agak tinggi, lebar dan dangkal. Pada bagian gonjo menampilkan bentuk sirah cecak yang membulat dengan posisi pesi agak ke depan. Dan meski pamornya bukan termasuk jenis pamor yang byor, tetap saja masih terlihat guratan garis pamor pandhito bolo pandhito yang mengelilingi sepanjang sisi bilah dari bawah hingga naik ke atas. Tampil sederhana tanpa harus kehilangan wibawa.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *