Keris Kalawijan Bima Rangsang Luk 17

Mahar : 7.171,717,-


1. Kode : GKO-427
2. Dhapur :  Bima Rangsang
3. Pamor :  Pedaringan Kebak
4. Tangguh : Mataram Madiun (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 542/MP.TMII/VII/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Trenggalek, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 37 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 44 cm
8. Keterangan Lain : keris jenis kalawijan langka


ULASAN :

KERIS KALAWIJAN, Jika pada umumnya jumlah luk keris sampai dengan luk tigabelas, maka keris kalawijan digunakan untuk menyebut suatu dhapur keris yang memiliki jumlah luk tidak baku, yakni lebih dari tiga belas. Dalam buku-buku perkerisan yang membahas soal dhapur, keris kalawijan ini biasanya berbentuk luk limabelas hingga duapuluh sembilan. Konon keris-keris Kalawijan adalah keris-keris yang dibabar secara khusus atau digunakan untuk peruntukan tertentu. Karna sifatnya yang khusus ini, menjadikan keris kalawijan baik yang buatan kamardikan maupun sepuh sudah sangat jarang dijumpai. Jika ada yang sepuh, maka mahar atau mas kawin-nya biasanya menyaingi keris-keris dhapur ganan (menyerupai makhluk).

Pada zaman dahulu bangsawan-bangsawan Mataram memelihara abdi dalem kalawija, yang terdiri dari orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik atau disabilitas, seperti bertubuh cebol, albino, berpunuk, pincang dan lain-lain. Raja Mataram melestarikan budaya leluhurnya lewat keberadaan abdi dalem Punokawan. Merunut sejarahnya, walau kondisi fisik tidak sempurna, para abdi dalem tersebut menjadi penasihat dan pelindung para ndoro. Abdi kalawija ini dalam upacara-upacara penting keraton difungsikan sebagai pengiring Sultan, juga sebagai penolak bala. Secara tradisi abdi dalem Kalawija membuat kerajaan lepas dari marabahaya, yang diistilahkan: “dhemit ora ndulit, setan ora doyan“. Oleh karenanya, mereka selalu ditempatkan dalam baris terdepan. Sementara dalam kesehariannya mereka memiliki tugas meracik obat, melawak, hingga penafsir ilapat (mimpi, tanda gaib).

Bagi Sultan dan para bangsawan memberi tempat kepada mereka yang secara lahir kurang beruntung tersebut adalah simbol pengayoman menyeluruh. Keberadaan abdi dalem Kalawija menunjukkan seorang raja yang tidak membeda-bedakan rakyatnya. Pada saat bersamaan, bentuk fisik abdi kalawija yang tidak biasa diyakini memiliki kekuatan magis yang akan memperkuat kedudukan pengayomnya. Sebab Tuhan itu Maha Adil, bila seseorang memiliki kekurangan, maka Ia akan memberikan suatu “kelebihan” lain yang tidak dimiliki orang biasa. Kehilangan abdi dalem kalawija merupakan tanda-tanda keruntuhan. Itu sebabnya abdi dalem yang satu ini sangat disayang tuannya, antara lain dihadiahi tanah lungguh seperti yang dulu berlaku di keraton Yogyakarta, terdapat kampung polowijan, yang dulunya merupakan tempat tinggal abdi dalem kalawija.

BIMA RANGSANG, menurut tabel “Nama Dhapur dan Ciri-ciri” yang terdapat dalam buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar karangan Alm. Haryono Haryoguritno Dhapur Bima Rangsang memiliki ciri-ciri ricikan : Luk 17, gandhik memakai kembang kacang dan lambe gajah (2). Selain itu dhapur Bima Rangsang memakai pejetan, tikel alis serta sogokan depan dan sogokan belakang. Selain luk 17, adapula yang luk 19, 21, 23, dst.

FILOSOFI, Dalam wayang terdapat 300-an tokoh dengan masing-masing karakter yang dapat mencerminkan  manusia dalam kehidupan nyata (tentu saja dalam segala kelebihan dan kekurangannya).  Karenanya, wayang dianggap sebagai bayang-bayang manusia. Bima misalnya, adalah salah satu tokoh pandhawa lima yang merupakan putra kedua dari Dewi Kunthi dan Pandudewanata. Bima mempunyai saudara kandung berjumlah dua yaitu Puntadewa dan Arjuna, serta dua saudara lain ibu (Dewi Madrim), yaitu Nakula dan Sahadewa, yang berparas kembar. Dibanding saudara-saudaranya Bima berwajah paling sangar, tubuhnya tinggi, lengannya panjang sehingga sangat kuat. Dari kelima kesatria Pandhawa, Bima lah yang paling dibenci oleh para Kurawa. Kurawa menganggap kekuatan Pandhawa terletak pada diri Bima. Sejak kanak-kanak Bima sering diberi makanan beracun oleh Kurawa. Makanan dimakan, tetapi Bima tidak mati. Dalam perang Bharatayudha, Bima adalah tokoh penutup perang yang berhasil membunuh Duryudana, pemimpin tertinggi Kurawa dengan gada Rujak Polo-nya. Sifat Bima yang paling menonjol yakni: gagah berani, lugas dan tegas, setia pada satu sikap, tidak suka bermanis-manis (basa-basi), teguh pendiriannya, serta pantang untuk menjilat ludahnya sendiri. Namun, di sisi lain Bima berhati lembut, bersih, dan selalu berpihak pada kebenaran. Dalang Ki Narto Sabdo dalam mendiskripsikan tokoh Bima dengan ungkapan semu nan indah: yèn atos kaya waja yèn lemes kinarya tali. Bima bisa sekeras baja namun bisa lentur dan lembut seperti tali.

Sedangkan kata Rangsang (bahasa Kawi) berarti menyerang. Dalam beberapa lakon yang melibatkan tokoh Pandhawa, Bima kerap kali diangkat sebagai tokoh pemusnah musuh yang menyerang negara Ngamarta, Dwarawati dan Wiratha. Dan dalam berbagai kisah pewayangan, Bima selalu ditampilkan sebagai tokoh yang tak pernah kompromi dengan keangkaramurkaan, kemunafikan, kelicikan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Ketika kebenaran tidak lagi menjadi pegangan dan panutan, serta manakala kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang layak untuk dikesampingkan, maka kita akan merasakan suatu kehidupan di padang sabana yang gersang penuh kemarau panjang dan dahaga yang mencekik kerongkongan. Dalam kondisi ketidakberdayaan tersebut kita pun lalu merindukan munculnya seorang ‘satria pembela kebenaran’. Kita berharap akan muncul seseorang yang dengan gagah berani, berjuang tanpa pamrih, membela dan menegakkan kembali kebenaran. Dan saat kebenaran ditegakkan, tokoh yang diharapkan akan datang untuk menyerang balik kebatilan itu adalah cerminan dari Bima.

PAMOR PEDARINGAN KEBAK, Pedaringan (dari kata daring yang berarti gabah kering) adalah tempat menyimpan beras, bentuknya bisa berupa apa saja seperti: peti, lemari, atau lumbung. Sedangkan Kebak berarti penuh. Maka secara harfiah Pedaringan Kebak adalah tempat penyimpanan beras yang sudah penuh. Dari segi bentuk gambaran pamornya, pamor pedaringan kebak tampak lebih kompleks dibandingkan bentuk gambaran pamor wos wutah. Pamor ini boleh dikatakan menempati seluruh permukaan bilah, tidak terpisah mengelompok menjadi beberapa bagian. Tuahnya dipercaya lebih kuat dibandingkan pamor wos wutah, rejeki mengalir deras memenuhi lumbung-lumbung yang ada.

Hal ini mengandung ajaran bahwa wanita sebagai istri harus mampu menjadi pedaringan, yaitu mampu menjadi tempat menyimpan segala macam rezeki yang diperoleh suami. Artinya istri harus mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan agar dapat mengelola penghasilan suami dengan baik (gemi dan nastiti). Perempuan yang baik adalah yang bisa mengelola rejeki suami, menjaga hartanya dan ikut menghasilkan rejeki dari harta suami yang dikelolanya.

Sebetulnya tidak hanya itu, seorang istri juga harus bisa menyimpan rapat rahasia (baca: kekurangan) suami. Sebab, istri yang pandai menjaga rahasia suami adalah penopang ketentraman langkah suami. Jika tidak, rumah yang dibangun dan ditinggali akan goyah dan tidak kuat menahan beban. Yang akan terjadi kemudian adalah nikmat sesaat sesal kemudian.

Maka dalam mencari istri harus berhati-hati dan jangan terbawa perasaan sesaat. Ingat, cinta juga bisa memudar. Sebab, bila pedaringan (baca: istri) bocor (dengan berselingkuh atau berbuat asusila serta sejenisnya), maka rumah tangga akan sulit menemukan kebahagiaan, susah mendapatkan kedamaian, dan cenderung sial.

CATATAN GRIYOKULO, Sangat jarang memang Penulis mengupload keris jenis Kalawijan. Penampilan keris ini tampak prasaja, dengan luk tujuhbelasnya yang semakin ke atas sedikit demi sedikit semakin rapat. Pamor pedaringan kebak dengan style yang kalem memenuhi permukaan bilah. Selain sudah diwarangi, keris Kalawijan ini juga sudah disandhangi warangka baru yang cukup miyayeni. Demikian pula, sudah dijamas dan diwarangi sehingga tinggal menyimpannya dan merawatanya kemudian.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *