Sabuk Tampar Bungkem Majapahit

Mahar : 7.000,000,-


1. Kode : GKO-428
2. Dhapur : Sabuk Tampar
3. Pamor : Banyu Tetes
4. Tangguh : Majapahit Peralihan (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : Opsional
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 33,3 cm, panjang pesi 7,2  cm, panjang total 40,5 cm
8. Keterangan Lain : sudah nyandang


ULASAN :

SABUK TAMPAR, merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan. Ukuran panjang bilah keris ini normal, dan permukaan  bilahnya nglimpa. Dhapur Sabuk Tampar memakai ricikan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan-nya juga hanya satu, yakni sogokan depan saja. Selain itu keris ini memakai sraweyan dan eri pandan. Menurut cerita yang berkembang, dhapur Sabuk Tampar banyak dicari dan dimiliki oleh para pedagang, konon tuahnya dipercaya dapat memudahkan pemiliknya mempertahankan dan mencari pelanggan/relasi baru.

Selain Sabuk Tampar luk 9, adapula sabuk tampar yang memakai luk sebelas (11). Sabuk Tampar dengan luk 11 biasanya cirinya luk-nya rengkol (lekukannya dalam), tanpa sekar kacang (gandhik lugas) dan sogokan-nya hanya satu sisi saja di depan. Ricikan lainnya adalah sraweyan dan tingil. Di dalam masyarakat perkerisan dhapur Sabuk Tampar luk 11 justru lazim disebut Sabuk Tali. Dhapur Sabuk Tampar/Tali tergolong agak langka.

FILOSOFI, Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Ajaran atau lambang yang tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa manusia harus bersedia untuk berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk.

Tampar atau tambang atau dadung, merupakan sejenis tali yang terbuat dari serat nabati. Pada zaman dahulu tali tampar dibuat dari bahan-bahan natural, seperti sabut kelapa,  rami, mendong, akar tanaman, rerumputan, kulit atau bulu-bulu binatang. Cara membuatnya pun tergolong sederhana dengan cara bahan-bahan tersebut dikeringkan sebelum dipilin dan dikepang dalam bentuk yang lebih besar dan lebih kuat.

Sebagai sebuah tools (alat) sehari-hari yang dulunya lebih banyak digunakan sebagai tali perahu, tampaknya tampar sangat merakyat dan melekat pada berbagai simbol. NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di NKRI menggunakan tali tampar yang mengelilingi bola dunia sebagai lambang kebesarannya. Kemudian adapula Lambang Daerah Kabupaten Grobogan yang menggunakan perisai dalam bentuk tali bersimpul delapan.

Tampar yang kokoh itu terdiri dari dua helai tali pokok yang saling melilit. Ia memilin, menggumpal, mengikal dari untaian benang-benang kecil dan menjelma menjadi satu kekuatan baru yang lebih kuat dan lentur, tidak mudah putus. Dua helai tali pokok itu adalah kebahagiaan dan kesedihan yang terangkai menjadi satu mewarnai kehidupan manusia di dunia. Kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan, namun sebaliknya kebahagiaan juga tidak akan berlangsung terus-menerus karena akan ada kesedihan di depan sana. Hidup memang tidak bisa menawarkan kepastian pada manusia. Sekokoh apapun kita membangun hidup, semua itu fana. Maka satu-satunya harapan paling kokoh yang kita miliki hanyalah pada Tuhan. Karna Tuhan lah satu-satunya yang bisa kita percaya di tengah ketidakpastian dunia.

Dalam seni pewayangan jawa kita juga mengenal tokoh Semar yang menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi punakawan. Punakawan ini meskipun berderajat abdi dalem, namun kedudukannya dalam spiritual Jawa sangat tinggi. Sabuk Tampar yang dikenakan oleh Semar ibarat agama sebagai tali kendali diri dalam akal dan hati manusia, yang dipakai dengan cara diikatkan di pinggang (perut) diibaratkan seperti mencencang pikiran dan hawa nafsunya sendiri. Akal dan hati harus bisa menguasai hawa nafsu, jangan sampai terbalik dimana hawa nafsu yang menguasai akal dan hati manusia. Sama seperti kehidupan, bila hawa nafsu sudah tidak bisa dikendalikan, maka akal dan hati harus tetap berpegang teguh pada tali agama.

Maka dhapur Sabuk Tampar akan selalu menyiratkan sebuah makna mengenai keistiqomahan dan konsistensi manusia dalam menjaga iman dan taqwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ragam Bentuk Kembang Kacang, dari atas ke bawah : kembang kacang yang nguku bima, pugut, gatra, bungkem, dan nggelung wayang (sumber : Ensiklopedi Keris hal 228)

KEMBANG KACANG BUNGKEM, Bagi mereka yang menggemari dunia esoteri kembang kacang bungkem telah lama menjadi favorit sehubungan dengan kepercayaan akan tuahnya, seperti misalnya mempengaruhi lawan bicara. Di kalangan masyarakat perkerisan sendiri setidaknya terdapat dua (2) macam versi mengenai apa yang dinamakan kembang kacang “bungkem“. Versi pertama menurut buku-buku keris yang ada seperti misalnya Ensiklopedi Keris, kembang kacang bungkem adalah bentuk kembang kacang yang ujungnya rapat/menempel pada gandhik. Sedangkan versi keduanya, ada yang menganggap jika kembang kacang seperti yang ditulis dalam buku-buku itu belumlah bungkem. Bungkem yang sesusungguhnya adalah dimana ujung sekar kacang tempuk menyatu dengan gandhik.

TENTANG SURAT KETERANGAN/SERTIFIKASI MUSEUM, Sehubungan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di Jakarta (pada saat artikel ini ditulis merupakan PSBB tahap III yang berlaku hingga 4 Juni 2020) maka semua tempat pariwisata dan tempat hiburan di DKI Jakarta ditutup untuk menghindari masyarakat beraktivitas di luar rumah maupun menciptakan kerumunan yang ditakutkan membuat penyebaran virus Covid-19 semakin tak terkendali. Karena Instruksi dari Gubernur itu otomatis tempat hiburan/pariwisata seperti Taman Mini Indonesia Indah juga wajib menaati peraturan tersebut untuk tidak beroperasional/tutup selama masa PSBB (berlaku hingga waktu yang belum bisa ditentukan). Karena hal tersebut customer yang akan memahari pusaka akan diberikan pilihan, jika menghendaki pusaka yang ada disertifikasi dapat dilakukan setelah Museum Pusaka beroperasi kembali. Dan karena sifatnya “tangguh” hanya berupa perkiraan, bisa saja nantinya akan memunculkan perbedaan tangguh antara versi Griyokulo dan Museum Pusaka (meski bisa beda tangguhnya tapi tetap sepakat keris sepuh). Terlebih kami tidak pernah mencampuri urusan tangguh dan lain-lain. Penerbitan Surat Keterangan dari Museum Pusaka adalah kewenangan penuh dari pihak kurator.

PAMOR BANYU TETES, atau sering juga disebut tetesing warih. Secara harfiah berarti tetesan air atau menetesnya air. Adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan air yang tidak teratur letaknya. Pamor tetesing warih tergolong bukan pamor pemilih alias siapapun cocok memilikinya. Oleh sebagian pecinta keris tuahnya dipercaya membantu pemiliknya menemukan peluang, kesempatan dan rezeki.

Pamor banyu tetes juga menjadi pameling (pengingat) dalam belajar memaknai kehidupan, dimana tetesan air sanggup melubangi kerasnya batu karang. Mengajarkan kegigihan agar tidak mudah menyerah, dan selalu tekun dan ulet dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan. Karena perbedaan antara pemenang dan pecundang adalah terletak pada kegigihan. Juga mengajari diri kita bahwa segala sesuatu mungkin, asal kita istiqomah.

CATATAN GRIYOKULO, keris-keris tangguh Majapahit memang memiliki kharismanya tersendiri dan seringkali menjadi kebanggaaan pribadi para kolektor/pemiliknya. Ada yang dibuat mabuk kepayang oleh keindahan garap-nya, namun tak sedikit pula yang memburu berkah esoteri-nya. Seperti keris Majapahit umumnya, ketika pusaka dilolos dari warangkanya terasa ringan seperti kapas. Besinya hitam sulak biru menampakkan serat yang sangat halus padat, namun lembut jika diraba berpadu dengan pamor nyeprit di beberapa tempat.

Gandhik-nya pendek dan miring dengan posisi lambe gajah yang agak ke tengah. Bagi para pemburu faktor x, kembang kacang bungkem menambah bobot esoteri-nya tersendiri. Demikian pula dengan bentuk sogokan depan, tampak luwes dan original. Bukan sogokan depan yang terlihat kaku karna bentuknya disusulkan baru – untuk merubah nama dhapur seperti yang kebanyakan beredar.

Tidak ada pekerjaan rumah menanti karena pusaka ini sudah disandangi dengan warangka ladrang surakarta yang miyayeni. Monggo kami persilahkan bagi Panjenengan yang berminat untuk meneruskan merawatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *