Tindih Brojol Pajajaran

Mahar : 5.555,555,-


1. Kode : GKO-427
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Nunggak Semi (Rojo Gundolo?)
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : opsional
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 22,1 cm, panjang pesi 6,1 cm, panjang total 28,2 cm
8. Keterangan Lain : hulu hanung sardula


ULASAN :

BROJOL, bentuknya ada dua versi; yang pertama (seperti pada keris ini), panjang bilahnya hanya sekitar satu jengkal jari atau +/- 20 cm, bilahnya tipis, rata dan biasanya merupakan keris yang berasal dari tangguh sepuh (sebelum Mataram Islam). Pejetan yang ada hanya samar-samar saja. Gandhik-nya pun polos dan tipis. Kadang-kadang memakai gonjo iras (menyatu dengan bilah). Kadang-kadang pula pada bilahnya ada lekukan-lekukan dangkal, seolah lekukan itu bekas ‘pijitan‘ dari jari tangan. Di antara masyarakat perkerisan sering pula disalahkaprahkan secara berjamaah dengan sebutan keris Sombro, padahal sombro adalah nama empu wanita dari Pajajaran yang hijrah ke Tuban. Sebagian pecinta keris juga mempercayai bahwa keris dhapur brojol varian pertama ini memiliki tuah sebagai pusaka “tindih” hingga memperlancar proses kelahiran.

Sedangkan jenis brojol yang kedua, ukuran panjang bilahnya sama dengan keris biasa, sekitar 30-35 cm. Gandhik-nya polos dengan ricikan hanya pejetan (kentara) tanpa ricikan lain. Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok pertama kali dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun Jawa 1170.

FILOSOFI, Bahasa Jawa adalah bahasa yang kompleks dan rumit, banyak sekali kata atau sebutan istilah yang sulit sekali untuk diterjemahkan, termasuk salah satunya istilah “brojol”. (m)Brojol adalah suatu istilah atau terminologi jawa sering dipergunakan untuk mengungkapkan peristiwa lahirnya jabang bayi ke dunia (dari alam rahim ke alam dunia). Bayi yang baru saja dilahirkan tentunya sangatlah polos dan bersih, belum memiliki apapun kecuali berpasrah diri terhadap ibunya. Begitu pula kita wajib berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesungguhnya dengan kelahiran itu, kita kembali diingatkan akan asal muasal kita. Pesan yang ingin dititipkan oleh sang empu melalui keris dapur brojol adalah agar manusia dapat dilahirkan kembali secara spiritual – kembali ke fitrah (lahir dan hidup baru menjauhi dosa-dosa lama) atau hijrah (berpindah menuju kehidupan lebih baik, bermakna, dan indah).

Ketika kita sudah mbrojol (lahir) berarti kita siap untuk tahap berikutnya, yakni hidup. Maka “Hidup sekali harus berarti”. Berarti tidak lain adalah mempunyai makna bahwa orang lain akan merasakan adanya kita, lingkungan merasakan kehadiran kita. Ketika kita diberikan kesempatan untuk hidup maka dharma kita adalah memberi apapun yang bisa diberikan, bantu apapun yang bisa  dilakukan dan lindungi apapun yang mampu kita dekap. Ketika hidup kita sudah mempunyai arti maka tahap selanjutnya tidak akan berbuah penyesalan. Tahap yang dimaksud adalah kematian, sebab kematian merupakan takdir yang akan kita terima diujung waktu sebagai penggenapan akan kelahiran.

KERIS TINDIH, Sesuai dengan namanya, keris ini dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat “menindih” segala pengaruh negatif dari keris lain yang ditakutkan bisa saja ber-efek kurang baik, tidak hanya bagi pemiliknya namun bisa saja keluarga sekitarnya. Terdapat beragam kepercayaan yang berkembang di dalam masyarakat perkerisan mengenai keris tindih ini :

Pertama, Jika “tindih” dianggap sebagai lurah/panuntun/pengasuh/pengayom dan dalam budaya patriarki Jawa yang kesehariannya selalu diajarkan untuk menghormati mereka yang lebih tua, maka apapun nama dhapur-nya adalah mutlak keris tindhih harus berasal dari tangguh sepuh sanget, seperti Singosari atau Kabudhan. Kearifan lokal ini tampaknya terserap dalam budaya tosan aji. Dimana secara esoteri alami diyakini sifat gaib bawaan keris-keris yang lebih muda usia pembuatannya akan selalu menghormati keris-keris yang lebih tua tangguh-nya.

Kedua, mereka yang memahami keris tindih sebagai konsep spiritual (yang tentu saja diyakini secara personal), maka kesemuanya akan menjadi flexible (subyektif). Sehingga mereka meyakini pula jika keris tindih tidak harus berasal dari tangguh sebelum era majapahit. Filosofi yang tertanam dalam tosan aji justru lebih menentukan karena menyangkut doa awal ketika pusaka tersebut dibabar. Jika melihatnya dari sisi pamor, maka pamor seperti wengkon, satriya pinayungan, dan raja sulaiman bisa menjadi pilihan. Bahkan tidak semata hanya keris bethok maupun jalak budha, tombak seperti banyak angrem, kuntul nglangak dan semar tinandhu pun bisa dijadikan pusaka tindih sehubungan dengan filosofinya meskipun tangguh atau usia-nya lebih muda.

Dan yang ketiga, ada yang beranggapan jika keris tindih lebih diperlukan bagi orang-orang yang memiliki banyak pusaka yang lebih bersifat koleksi saja (menjadi barang simpanan saja), yaitu orang-orang yang merasa tidak ada kedekatan batin dengan pusaka-pusakanya. Namun selama perjalanan jika pusaka-pusaka tersebut telah terawat baik dengan kesungguhan hati (sudah ada kedekatan batin dengan pemiliknya), barangkali keris tindih tidak lagi diperlukan.

TENTANG SURAT KETERANGAN/SERTIFIKASI MUSEUM, Sehubungan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di Jakarta (pada saat artikel ini ditulis merupakan PSBB tahap II yang berlaku hingga 22 Mei 2020) maka semua tempat pariwisata dan tempat hiburan di DKI Jakarta ditutup untuk menghindari masyarakat beraktivitas di luar rumah maupun menciptakan kerumunan yang ditakutkan membuat penyebaran virus Covid-19 semakin tak terkendali. Karena Instruksi dari Gubernur itu otomatis tempat hiburan/pariwisata seperti Taman Mini Indonesia Indah juga wajib menaati peraturan tersebut untuk tidak beroperasional/tutup selama masa PSBB (berlaku hingga waktu yang belum bisa ditentukan). Karena hal tersebut customer yang akan memahari pusaka akan diberikan pilihan, jika menghendaki pusaka yang ada disertifikasi dapat dilakukan setelah Museum Pusaka beroperasi kembali. Dan karena sifatnya “tangguh” hanya berupa perkiraan, bisa saja nantinya akan memunculkan perbedaan tangguh antara versi Griyokulo dan Museum Pusaka (meski bisa beda tangguhnya tapi tetap sepakat keris sepuh). Terlebih kami tidak pernah mencampuri urusan tangguh dan lain-lain. Penerbitan Surat Keterangan dari Museum Pusaka adalah kewenangan penuh dari pihak kurator.

PAMOR NUNGGAK SEMI, Tunggak (akar atau batang pohon yang sudah ditebang yang masih mengakar ke tanah dan berpeluang untuk hidup kembali), Semi (bersemi atau tumbuh kembali), artinya sesuatu yang dianggap sebagian orang sudah tidak ada (mati), dengan campur tangan Yang Maha Kuasa bisa kembali bersemi hijau (hidup) serta mulai bertumbuh seperti sediakala, atau dengan kata lain menggambarkan sebuah pengharapan yang datang dari Yang Maha Kuasa, pasti dan tidak mengecewakan.

Penyebutannya dalam lafal jawa biasanya Nunggak Semi bukan Tunggak Semi, karena mendapat awalan “Nu” berarti memiliki makna menyerupai, sebab gambaran pamor pada sebilah keris/tombak/pedang dan tosan aji lainnya bukanlah tunas dalam bentuk realis sebenarnya. Dengan demikian penyebutan Nunggak Semi mempunyai makna seolah-olah menyerupai tunggak yang sedang bertunas/bersemi kembali.

“Di gembleng, hampir hancur lebur – Bangkit kembali”

Motif pamor nunggak semi selalu terletak di bagian sor-soran suatu keris, tombak atau senjata pusaka lainnya dan tergolong pamor tiban, sehingga sering dianggap berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Bagi sebagian masyarakat pekerisan meyakini pamor nunggak semi mempunyai  tuah yang baik; berwatak selalu berkecukupan, meskipun dipotong/ditebas/ditebang walau dalam keadaan sesulit apapun akan selalu tumbuh kembali.

CATATAN GRIYOKULO, rasanya saat ini sudah tidak mudah lagi untuk bisa menemukan keris brojol dengan varian tipis namun lebar dan pendek yang membawa kualitas besi dan pamor dari asalnya, yakni Pajajaran. Tantingannya terasa sangat ringan karena bilahnya seringkali tipis dan ukurannya tidak terlalu panjang, pamornya putih berkesan ngambang, rabaan besinya sangat halus, hitam berserat dan keras sekali sebab sepuhannya benar-benar tua. Pesinya juga tampak centre, berada di tengah dengan condong leleh bilah yang cenderung tegak. Meskipun warangan lama, namun terbukti masih bisa menampilkan kekontrasan antara hitamnya besi dan terangnya pamor. Dalam fantasi bentuk pamor nunggak semi di bagian sor-soran mendekati suatu pamor rojo gundolo. Dimana pada sisi muka tampak makhluk berambut geni (api) sedang menunggangi suatu makhluk mitologis, dan pada bagian belakang tampak seperti bayangan wayang punakawan bawor.

Keris ini dibuatkan pula warangka sandang walikat dengan model primitifan seperti yang terpahat di dinding-dinding candi dipadukan ukiran prajurit hanung sardula. Sederhana, tidak kurang tidak juga berlebihan. Namun dari kesemuanya, ada hal yang cukup menarik dari keris ini dimana terdapat semacam “tanda” menyerupai guratan kuku bolak-balik pada bilah. Apakah ini merupakan kesengajaan dari sang Empu untuk menandai pusaka dengan “taksu khusus” yang dibabarnya?  Wallahu a’lam.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *