Kalamisani Slewah Bonang Rinenteng & Udan Mas

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000,000,- (TERMAHAR) Tn AS, Kanigoro Blitar


1. Kode : GKO-422
2. Dhapur : Kalamisani
3. Pamor : Slewah (Bonang Rinenteng dan Udan Mas)
4. Tangguh : Mataram Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 390/MP.TMII/III/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 36,3 cm, panjang pesi  6,7 cm, panjang total 43 cm
8. Keterangan Lain : warangka cendana, hulu stigi


ULASAN :

KALAMISANI, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Keris ini memakai ricikan: sekar kacang jalen, lambe gajah dua, sogokan, tikel alis, sraweyan greneng, gusen. Menurut mitos atau dongeng, dhapur Kala Misani pertama kali dibabar oleh Mpu Suqsengkadi atas pemrakarsa Nata Raja Berawa dari kerajaan Mêdhangkamulan pada tahun Jawa 230. Sekilas dhapur Kalamisani mirip dengan dhapur Sinom, perbedaannya adalah dhapur Kalamisani memiliki lambe gajah 2 (dua), sedangkan dhapur Sinom memiliki lambe gajah 1 (satu) saja.

Selain mewariskan keris Sengkelat Prabu Salya juga memberikan sebuah keris kepada adiknya (Dewi Madrim). Keris itu bernama Kiai Kala Misani dan diberikan sebagai kancing gelung atau lambang amanat kepada pria, suami Madrim. Dewi Madrim kemudian bersuami Pandu Dewanata dan memperoleh keturunan dua orang ksatria kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa. Kelak keris Kiai Kala Misani diwarisi oleh Raden Sadewa. Namun saat Gatotkaca menjadi Senapati pada perang Bharatayudha pada hari ke lima belas keris tersebut dipinjamkan kepada Gatotkaca. Dalam cerita pewayangan, keris Kyai Kalamisani berasal dari wisa (bisa/racun) Batara Kala. Wisa Bathara Kala sangat ampuh dan dapat menjadi senjata pembunuh yang luar biasa, namun dapat pula merupakan obat bagi penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan.

Diceritakan keris Kolo Hamisani sangat ampuh dan juga sangat beracun sehingga bagi mereka yang tergores saja akan mengalami kematian apalagi jika sampai tertusuk tak ayal akan tewas seketika. Seperti dalam cerita Panji di zaman kerajaan Kediri, dimana Prabu Tunjung Seta harus meregang nyawa tertikam keris Kalamisani yang dimiliki Raden Panji saat perang tanding.

TANGGUH MATARAM ERA PANEMBAHAN SENOPATI,| ing Mataram Senapati winarni | sikutan prigêl srêng bagus | wêsi biru sêmunya | garing alus pamor pandhês tancêpipun | angawat kêncêng tur kêras | tan ana kang nguciwani  || Serat Centhini

Dalam Serat Centhini ditulis Tangguh Mataram Senopaten mempunyai bentuk pasikutan yang prigel sereng bagus, besi semu biru, kering halus, pamornya menancap pandes, ngawat kencang, keras, tidak ada yang mengecewakan. Pada umumnya keris-keris Senopaten masih membawa karakter bentuk dan bahan dari keris-keris Majapahit, hal ini dikarenakan empu-empu pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit dan atau keturunannya.

PAMOR SLEWAH, merupakan istilah di dunia perkerisan untuk menyebut di kedua sisi bilah keris memiliki pamor yang sengaja dibuat berbeda. Misalnya keris kalamisani ini, pada bagian muka berpamor beras wutah, dan bagian belakang memiliki pamor udan mas.

PAMOR BONANG RINENTENG, atau orang sering juga menyebut dengan Bonang Sarenteng yang berarti: “bonang (salah satu alat gamelan jawa) satu renteng (serangkai)”. Sekilas bentuknya mirip dengan pamor udan mas dan sekar kopi, namun bentuk gambaran pamor bonang rinenteng memiliki garis lurus di tengah bilah dan pola bulatan di sisi kanan dan kiri yang lebih simetris dibandingkan pola bulatan pada pamor udan mas yang lebih acak. Secara teknis pamor bonang rinenteng juga lebih sulit dibandingkan pamor udan mas, karena jika ditinjau dari cara pembuatannya pamor ini memiliki kombinasi dua jenis pamor yakni pamor miring berupa garis yang ada di tengah bilahnya, dan bulatan-bulatannya sebagai pamor mlumah.

Sedangkan untuk pamor sekar kopi, pola bulatan yang ada bergerombol dari 2 hingga 4 puseran serta tidak sejajar di kanan kiri bilah, mirip dengan buah kopi yang bergerombol pada ranting pohon. Berbeda dengan pamor bonang rinenteng yang pola bulatannya sejajar dan hanya 1 puseran di kanan dan kiri, mirip satu set perangkat gamelan bonang yang tertata.

Oleh para pecinta tosan aji pamor bonang rinenteng dipercaya mempunyai tuah yang kurang lebih serupa dengan pamor udan mas, yakni agar pemiliknya dimudahkan dalam menemukan jalan/lubang rejekinya (bakat sugih). Selain itu diyakini tuah pamor bonang rinenteng dapat membuat pemiliknya memenangkan segala persoalan duniawi. Itulah sebabnya bersama pamor udan mas pamor ini banyak diburu dan sering dimiliki oleh para pengusaha.

FILOSOFI, Bonang dalam gamelan Jawa berupa satu set sepuluh sampai empat-belas gong- gong kecil berposisi horisontal yang disusun dalam dua deretan (Renteng). Diletakkan di atas tali yang direntangkan pada bingkai kayu.

Bonang, dalam jarwo dosok berarti babon dan menang. Yang mengandung arti bahwa kemangan sejati adalah melawan hawa nafsu pada diri kita. Kendalikanlah diri kita, jangan mudah terpancing dan gampang menuruti hawa nafsu. Karena sejatinya pemenang adalah orang yang mampu mengontrol hawa nafsu.

Kata “nang“ bagi orang jawa diartikan wenang/sadar. Dan ini memiliki makna filosofis “setelah manusia terlahir, ia harus bisa berfikir dengan hati yang jernih agar bisa mengambil keputusan dengan penuh kesadaran”. Disini seseorang berusaha untuk sadar diri dengan rutin melakukan tirakat, semedhi, maladi hening, atau mesu raga, jiwa dan akal budi. Dalam tahapan ini, ia berkonsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin dan mematikan kesadaran jasadnya sebagai upaya dalam menangkap dan menyelaraskan diri dengan frekuensi Illahi.

PAMOR UDAN MAS, salah satu pamor legendaris yang menjadi impian para kolektor dan pecinta keris. Inilah pamor yang paling banyak dicari hingga saat ini. Sebagian besar diburu karena kepercayaan akan tuahnya (ngalap berkah) yang (konon) bisa membuat pemiliknya terus diguyur dengan rezeki dan segala kebaikan-kebaikan lainnya. Apabila kita membuka buku semisal De Kris 2, Magic Relic of Old Indonesia yang ditulis oleh G.J.F.J. Tammens (1993) pada hal 149 mengenai pamor udan mas (golden rain) tertulis:

The pamor Udan Mas is a magnificent pamor, but difficult to describe. Basically it consists of round shapes, made up of circles (at least three). The way they are made an their position on the blade are subject of dispute. Some example are : rings in the middle of the blade, with or without rows of smaller rings; only small rings on either side of the blade; rings appearing in groups of five, as on a dice; rings spread out at random on the blade, large and small ones mixed; flat rings or with a dip, caused by hammer-blows or another such method. Plenty of possibilities to choose from. It’s positive character has made it especially favoured by merchant. It brings wealth. This is why krisses with this pamor motif are expensive and frequently appear as forgeries

Pamor udan mas merupakan salah satu pamor yang mengagumkan, namun agak susah untuk digambarkan. Pada dasarnya tersusun oleh bulatan-bulatan (puseran),  yang masing-masing puseran tersebut terdiri dari lingkaran penyusun lebih kecil (paling sedikit tiga). Cara pamor ini dibuat dan posisi/pola pada bilah seringkali menjadi perdebatan. Beberapa contoh diantaranya :

    1. Letak puseran (besar) berada tepat di tengah bilah, bisa dikelilingi barisan puseran yang lebih kecil, bisa pula tidak.
    2. Hanya berbentuk puseran-puseran kecil pada sepanjang pinggir bilah.
    3. Puseran yang ada membentuk pola group lima-lima, seperti pada dadu.
    4. Puseran menyebar secara acak di permukaan bilah, besar dan kecil bercampur.

Puseran rata dari atas hingga bawah disebabkan oleh tempaan palu atau motode lainnya. Banyak variasi yang bisa dipilih. Karakter positifnya telah membuatnya digemari oleh banyak orang. Dipercaya dapat mendatangkan kekayaan/kemakmuran. Itulah mengapa keris-keris dengan pamor udan mas umumnya mahal dan seringkali menjadi obyek pemalsuan.

Selain Tammens yang mendeskripsikan tak kurang dari 4 varian pamor udan mas, salah satu pendekar besi dari Yogyakarta, Empu Djeno juga pernah menggambar 60 dari 300 model pamor yang dikenalnya, termasuk bentuk pamor udan mas.

PAMOR RAJA TEMENANG, Pamor ini berupa gambaran lingkaran bersusun, seperti lingkaran pamor udan mas, dan terletak tepat di tengah gonjo keris bolak-balik, sejajar dengan lubang pesi. Menurut kepercayaan pamor raja temenang mempunyai tuah yang baik, yakni untuk “memenangkan” segala permasalahan hidup.

CATATAN GRIYOKULO, serupa dengan pamor udan mas sepuh, keris-keris dengan pamor bonang rinenteng yang sepuh pun sudah dapat mulai dihitung dengan jari penampakannya, baik di event pameran, buku-buku katalog hingga pasar tosan aji. Keris Kalamisani ini cukup unik karena  tergolong slewah, tentu dulunya ada maksud dan tujuan tertentu jika pada sisi depan bermotif bonang rinenteng, sedang pada sisi belakang bermotif udan mas plus berkah pamor raja temenang bolak balik pada bagian gonjo. Perawakannya ramping, besinya halus dan tantingan sangat ringan masih membawa pengaruh Majapahit. Meski begitu evolusi sebagai keris Mataram sudah sangat kentara, salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah apabila gandhik dihadapkan ke muka bagian bebel (di atas sogokan) akan tampak lebih cembung.

Warangka yang ada menggunakan gayaman terbuat dari kayu cendana dan hulu stigi (tenggelam dalam air) tampak sudah miyayeni. Hanya saja meski cukup tebal pendok lung budha bawaan yang ada pada bagian ujungnya (antup-antupan) penyok, serta bagian atas/pangkalnya cara penyetingannya dengan warangka dipotong melebihi garis plisiran. Beberapa orang kemungkinan kurang menyukai cara seperti ini. Keris Kalamisani ini sudah dijamas dan diwarangi. Monggo yang berminat untuk meneruskan merawatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *