Tombak Patrem Karawelang

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AHP, BSD City


1. Kode : GKO-424
2. Dhapur : Karawelang
3. Pamor : Wengkon Isen
4. Tangguh : Madura Sepuh (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 407/MP.TMII/III/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 17,7 cm, panjang pesi 7,7 cm, panjang total 25,4 cm
8. Keterangan Lain : sertifikat masih dalam proses, kolektor item


ULASAN :

KARAWELANG, Di kalangan masyarakat perkerisan setidaknya dikenal ada 2 (dua) macam tipe/bentuk dari dhapur tombak Kara Welang. Tombak Kara Welang model pertama, pada bagian bawah lebar dengan tonjolan semacam ada-ada (tidak sampe sepertiga bilah, mirip sapu abon), semakin ke atas semakin mengecil sama seperti keris/tombak pada umumnya. Sedangkan pada tombak Kara Welang model kedua (seperti pada tombak patrem ini), bagian bawahnya lebih sempit dan lebih tebal dari versi pertama sehingga terkesan lebih gilig. Selain itu pada bagian tengah bilah seringkali lebih lebar daripada sor-soran maupun pucuknya. Kesemuanya itu dijumpai dalam bentuk luk 13, namun ada juga yang dibuat luk 11 maupun 15 dan rata-rata berasal dari tangguh Mataram (Sultan Agung).

Dhapur tombak Kara Welang menjadi salah satu dhapur klangenan para penggemar tombak dan termasuk populer sehingga banyak dicari, diyakini mempunyai tuah yang dapat menambah kewibawaan pemiliknya. Bila orang tersebut memiliki banyak anak buah, maka anak buahnya akan loyal dan patuh kepadanya. Tidaklah mengherankan jika tombak karawelang ini banyak diburu oleh mereka yang aktif dalam kedinasan militer dan pemerintahan.

FILOSOFI, Dalam kisah pewayangan Tombak Kara Welang merupakan tombak pusaka milik Prabu Pandu Dewanata yang kemudian diwariskan kepada  anak sulungnya atau saudara tertua Pandhawa, yakni Puntadewa. Selain tombak Kara Welang, Puntadewa juga mempunyai pusaka lain yakni berupa Jimat Kalimasada dan Songsong Tunggul Naga.

Dikisahkan pula bagaimana terciptanya ketiga pusaka mustikaning satriya ini yang dikehendaki untuk “dipinjam” Semar dalam hajadnya membangun kahyangan kembali. Pada saat itu Kahyangan Suralaya sedang diserang musuh dari Kerajaan Nusarukmi, dipimpin Prabu Kalimantara akibat lamarannya kepada Batari Gagarmayang sebagai permaisuri ditolak oleh Batara Indra. Merasa tersinggung, Prabu Kalimantara dan saudara-saudaranya lalu mengamuk menyerang para dewa. Menurut petunjuk dari Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka, Prabu Kalimantara hanya bisa dikalahkan oleh Resi Manumanasa dengan menggunakan bayi berbungkus yang baru saja dilahirkan dan ditinggal mati oleh ibunya, Dewi Retnawati. Setelah dalam pertempuran sebelumnya, Batara Indra dan para dewa tidak mampu mengalahkan Prabu Kalimantara yang dibantu saudara-saudaranya, Patih Ardadedali, Arya Karawelang, dan Garuda Banatara. Karena setiap kali ada yang terluka atau terbunuh, akan segera bangkit kembali setelah mendapatkan kibasan sayap Garuda Banatara.

Resi Manumanasa yang baru saja berduka karena kehilangan istrinya Dewi Retnawati  akibat persalinan yang tak wajar,  bayi yang dilahirkannya berukuran sangat besar dan terbungkus oleh semacam selaput keras. Pada saat itulah Batara Narada turun dari kahyangan menemui Resi Manumanasa. Ia menjelaskan mengapa ukuran bayi berbungkus yang dilahirkan Dewi Retnawati itu sangat besar, dikarenakan di dalamnya berisi tiga orang bayi laki-laki. Bungkus tersebut hanya dapat dibuka jika Resi Manumanasa membantu Kahyangan Suralaya yang saat ini sedang diserang. Resi Manumanasa pun menyanggupi hal itu. Ia pun berangkat bersama Batara Narada menuju Kahyangan Suralaya.

Resi Manumanasa yang telah mendapatkan petunjuk dari Batara Narada secepat kilat melemparkan bayi berbungkusnya tepat membentur kepala Prabu Kalimantara, dan berturut-turut mengenai Patih Ardadedali, Arya Karawelang, dan Garuda Banatara. Mereka semua pun roboh kehilangan nyawa, dan secara ajaib jasad masing-masing berubah wujud menjadi pusaka. Prabu Kalimantara berubah menjadi sebuah kitab; Patih Ardadedali menjadi sebatang anak panah; Arya Karawelang menjadi sebilah tombak; dan Garuda Banatara menjadi sebuah payung.

Batara Narada lalu memberi nama kepada pusaka-pusaka yang berasal dari jasad para musuh kahyangan tadi. Prabu Kalimantara yang telah berubah menjadi kitab, diberi nama Serat Kalimasada. Namun, lembaran-lembaran kitab tersebut masih kosong tanpa tulisan. Batara Narada meramalkan kelak akan ada keturunan Resi Manumanasa bernama Resi Abyasa yang mampu menulisi kitab kosong tersebut dengan ajaran-ajaran kesempurnaan hidup. Sementara itu, anak panah yang berasal dari jasad Patih Ardadedali diberi nama Panah Ardadedali, sedangkan tombak yang tercipta dari jasad Arya Karawelang diberi nama Tombak Karawelang. Adapun Garuda Banatara yang berubah menjadi payung pusaka, diberi nama Payung Tunggulnaga. Batara Narada lalu menitipkan keempat pusaka itu kepada Batara Indra supaya disimpan dan kelak hendaknya diberikan kepada anak keturunan Resi Manumanasa. Batara Indra pun menerima dan menyanggupi permintaan tersebut.

Lalu apa maksud Semar Mbangun Kahyangan? Sesungguhnya, niat Semar adalah membangun jiwa para Pandawa. Kahyangan yang dimaksudkan oleh Semar adalah jiwa, rasa dan rohani para Pandawa. Terlebih disertai permintaan untuk membawa serta tiga buah pusaka: Jamus Kalimasada, Tombak Karawelang dan Payung Tunggulnaga.

Simbolisme dari ketiga pusaka tersebut cukup menjelaskan niat baik Semar dalam membangun jiwa kesatriya yang diasuhnya :

  1. Jimat Kalimasada, siji kudu dirumat atau satu yang harus dijaga, banyak dimaknakan sebagai kalimat syahadat. Dengan pusaka syahadat inilah Semar bermaksud membangun rohani.
  2. Tumbak Kalawelang adalah simbol ketajaman yang dengan personifikasi tersebut Semar bermaksud membangun ketajaman hati, ketajaman visi dan indera para Pandawa.
  3. Payung Tunggulnaga adalah ungkapan bahwa Pandawa sebagai pemimpin harus memiliki karakter mengayomi sebagaimana fungsi payung.

Intisari dari lakon ini menjadi sebuah pesan yang relevan sepanjang masa, dimana pada akhirnya penguasa/rezim yang lalim akan terkoreksi dengan sendirinya oleh rakyatnya. Kekuasaan selalu memabukkan, menjadikan penguasa seringkali lalai pada amanat yang dititipkan kepadanya. Untuk itu sebagai seorang pemimpin harus mau mendengarkan suara rakyat, yang kendati lirih, terkadang memuat niat kebaikan dan nilai kebenaran.

PATREM, dalam dunia tosan aji umumnya terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk menggolongkan suatu keris/tombak berdasarkan ukuran panjangnya, yakni :

  1. Jimatan, biasanya ukurannya  kecil, kurang dari 1 tala  (jarak antara ujung ibu jari tangan sampai ujung jari tengah yang dibantangkan)
  2. Patrem,  biasanya ukurannya sekitar 1 kilan (20-25 cm)
  3. Corok, jika panjang umum keris (tanpa pesi) sekitar 30-38 cm, maka yang ukurannya di atas 40 cm digolongkan sebagai corok.

Dalam jarwo dosok berarti Panggange ingkang damel tentrem atau sesuatu yang dapat membuat tentram hati orang yang membawanya (patrêm: sesuatu yang membuat tentram). Menentramkan jiwa dari kekhawatiran akan ancaman bahaya, baik fisik maupun non fisik. Sesuai dengan fisik ukurannya yang kurang cocok digunakan sebagai senjata fungsional, namun lebih berorientasi pada sisi esoterisnya.

PAMOR WENGKON ISEN, wengkon adalah pamor yang bentuknya  menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Pola pamor ini melambangkan perisai, perlindungan, atau penangkal terhadap suatu malapetaka, penyakit, nasib buruk dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya. Tuahnya kira-kira hampir sama.

CATATAN GRIYOKULO, Dalam ingatan Penulis, baru kesempatan sekali ini memasukkan “tombak patrem” dalam jajaran katalog web Griyokulo. Sangatlah jarang kita bisa menemukan sebuah patrem dalam wujud tombak (yang biasanya lebih banyak dijumpai dalam bentuk keris), terlebih merupakan dhapur pilihan tombak (ibarat keris, korowelang adalah sengkelatnya) dan material besi serta garap yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Membuat lelukan khas karawelang dalam dimensi yang lebih mungil tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi sang Empu untuk bisa mewujudkannya. Bagian methuk (menyerupai cincin yang terdapat di antara pesi dan bilah) juga berbentuk unik, cenderung berbentuk mengotak, mirip yoni dalam situs kuno.

Sebagai tambahan, tombak Patrem Korowelang ini oleh pemilik sebelumnya sengaja dimasukkan  dalam sebuah tongkat sejenis tongkat komando dengan ukiran sepasang rusa bergaya Cirebonan dengan eksen pola awan mega mendungnya yang khas. Sejak zaman kuno, hewan-hewan mulia yang anggun ini dipuja dan dicintai oleh manusia. Dalam mitos dan dongeng dari berbagai bangsa, rusa adalah pembawa pesan para dewa. Budaya Cina menganggap rusa jantan dewasa sebagai simbol keberuntungan, kekayaan dan kesuksesan dalam segala upaya. Rusa juga melambangkan umur panjang. Adapula analogi antara rusa yang merindukan aliran sungai (haus air) dan jiwa manusia yang haus akan cahaya kebenaran (pencerahan).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *