Sada Lanang Gonjo Iras

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.111,111,- (TERMAHAR) Tn. H, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur


1. Kode : GKO-417
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Sada Lanang/ Sada Saeler/ Adeg Siji
4. Tangguh : Mataram Madiun (Abad XVIII)/ Cirebon Era Demak?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 268/MP.TMII/II/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Eks Kolektor Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 34,3 cm, panjang pesi 6,2 cm, panjang total 40,3 cm
8. Keterangan Lain : TUS, kolektor item


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Selain gandik-nya polos juga hanya mempunyai dua ricikan saja, yakni tikel alis dan pejetan. Karena model ricikan-nya tidak neko-neko, menjadikannya banyak orang yang bersedia memakainya tak heran cukup populer dijumpai pada setiap tangguh/era, mulai dari tangguh sepuh sanget hingga era kamardikan sekarang ini. Di dalam gedong pusaka keraton Yogyakarta sedikitnya ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu Kanjeng Kiyahi Pulanggeni, Kanjeng Kiyahi Sirap, dan Kanjeng Kiyahi Sri Sadono.

Menurut kitab sejarah Narendra Ing Tanah Jawi (1928) dhapur Tilam Upih (diberi nama Jaka Piturun) bersama dengan dhapur Balebang (diberi nama Pamunah) dibabar pertama kali oleh Empu Brama Kadhali pada tahun 261 Saka pada era pemerintahan Nata Prabu Dewa Budhawaka.

Tilam-upih kang rumuhun | makna pasêmonnira | murat jalma wadon dene rahsanipun | pamikire marang katga | dikaya mikir padêmi ||

FILOSOFI, Menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari cinta dan kelembutan wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mencintai  seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya. Pada sisi lain, ada sebuah komitmen atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik.

Dhapur Tilam Upih dianggap baik dimiliki bagi mereka yang sudah berumah tangga, akan cocok bagi siapapun, setia mendampingi berjuang dari awal, dalam suka maupun duka. Yang diumpamakan mempunyai karakter sebagai pendamping/estri, yang penuh cinta dan kasih sayang (ngademke). Seperti layaknya seorang wanita, cantik, anggun, luwes, penuh kasih sayang mampu meredam keangkeran, ego, emosi/kekerasan namun tetap kuat dan landhep

GONJO IRAS, merupakan sebutan bagi gonjo keris yang menyatu dengan bilahnya, atau berasal/terbuat dari satu bahan yang tidak bersambung. Pada keris dengan gonjo iras, batas antara bagian sor-soran bilah keris dengan gonjo hanya berupa guratan/goresan dangkal. Keris dengan gonjo iras umumnya juga disukai oleh para pemburu esoteri, karena dipercaya mempunyai daya gaib/spiritual tertentu, salah satunya sebagai keris tindhih.

TIKEL ALIS NJUGAG, adalah bentuk tikel alis yang pada bagian pangkal bawahnya terlalu menekuk keluar gandhik seperti membentuk huruf L atau tikel alis patah.

Tikel alis dengan bentuk L patah atau njugag ini banyak disukai dan dicari oleh para kolektor dan pemerhati garap. Mungkin salah satu hal yang mendasari – tentu saja selain soal selera masing-masing,  termaktub dalam Serat Panangguhing  Duwung (buku yang oleh para pecinta keris dijadikan pedoman utama dalam menangguh pusaka). Biasanya keris dengan tikel alis njugag dibuat oleh Empu-Empu tersohor di setiap zamannya, antara lain : di zaman Pajajaran (Empu Ki Keleng, Empu Ki Loning), Tuban (Ki Panekti, Ki Suratman, Empu Ki Modin, Empu Ki Galaita, Empu Ki Bekel Jati, Empu Jirak), Era Madura (Empu Ki Kacang, Empu Ki Luju), Blambangan (Empu Ki Tembarok), Tangguh Jenu/Jipang (Jaka Sura), Tangguh Tirisdayu (Empu Ki Siki), Tangguh Setrabanyu/Tesih (Empu Ki Setra). Berlanjut ke zaman Kasultanan Demak (tidak diketahui nama empunya), Pajang (Ki Umyang dan Para Sahabat), Pajang Mataram (Empu Ki Arya Japan), era Mataram (Empu Ki Umaji, Empu Ki Guling), Kartasura (Empu Ki Lujuguna, Empu Ki Macan), Hingga era lebih muda Tangguh Mangkubumen (Empu Ki Tirtadangsa) dituturkan selalu membuat bentuk tikel alis yang patah (njugag) dalam keris-keris yang dibabarnya.

PAMOR SADA LANANG, Mungkin di setiap daerah berbeda penyebutannya, seperti ada yang menyebut adeg siji, atau sodo saeler. Sada dalam bahasa jawa adalah lidi (tulang daun blarak/kelapa), dan Sada Lanang merupakan istilah yang dipakai untuk menjelaskan sebatang lidi yang mempunyai suatu khasiat. Sesuai namanya gambaran motif pamornya berupa garis lurus membujur sepanjang tengah bilah dari sor-soran hingga ujung panitis. Kadang bentuk garis pamornya tidak hanya satu garis, tetapi terdiri dari beberapa garis yang mengelompok menjadi satu.

Menurut Serat kuno berjudul Pakem Pusaka (Duwung, Sabet, Tombak) yang ditulis oleh oleh R.Ng Hartokretarto (1964) berdasarkan babon asli peninggalan R, Ng Ronggowarsito dituliskan bahwa : pamor sodo sa’ler merupakan ageman priyayi (bukan untuk orang sembarangan) agar supaya lurus hati dan pikirannya, menjadi lebih baik dan besar keberuntungannya.

TENTANG TANGGUH, tangguh (berasal dari kata tak sengguh) sendiri sebetulnya  lebih bersifat perkiraan dan sering menimbulkan perdebatan. Maka jauh sebelum Indonesia Merdeka para leluhur kita sudah memberikan pesan, diantaranya Ki Anom Mataram dalam Serat Centhini memberi nasehat sebagai berikut : … Poma wekasingsun, lamun ana ingkang nyulayani, atuten kemawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik, malah oleh bathi, tur ora kemruwuk … (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja lah, berdebat tidak ada gunanya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan tidak ramai).

Seperti pusaka ini meski sudah dilengkapi dengan Surat Keterangan dari Museum Pusaka TMII, tapi Penulis ingin memberikan second opinion (pandangan lain) menyangkut tangguh yang terdapat pada pusaka ini. Meskipun tangguh sifatnya juga merupakan seni perkiraan (bukan ilmiah), namun setidaknya ada kawruh-kawruh lama yang ditulis sebagai referensi penangguhan, salah satunya adalah Serat Panangguhing Duwung yang ditulis oleh salah seorang yang capable dalam bidangnya, yakni Mas Ngabehi Wirasoekadga (1893-1939), mantri pande keraton Surakarta yang hidup pada jaman Pakubuwono X.

Untuk menangguh suatu tosan aji biasanya digunakan beberapa indikator/ciri-ciri. Pada keris tilam upih yang mempunyai dua macam ricikan saja, yakni blumbangan dan tikel alis menjadi petunjuk yang bisa dijadikan indikator permulaan dalam penangguhan. Selain itu tentu saja bisa pula dengan melihat bagian proporsi gandhik, condong leleh bilah, penampang gonjo, dan yang tak boleh terlewat adalah materialnya, yakni besi, baja dan pamor-nya.

Dari pengamatan visual pada bagian pejetan/blumbangan diperoleh kesan dalam dan sempit, yang diistilahkan “lebet ciyut”. Sedangkan pada bagian tikel alis tampak pendek dan patah seperti huruf L, diistilahkan “tikel alis njugag”. Ciri khas pejetan yang diistilahkan lebet ciyut tadi serta tikel alis njugag masuk dalam ciri duwung tangguh Demak (nama Empu tidak diketahui). Selanjutnya, melihat proporsi gandhik terhadap bilahnya diperoleh kesan sedang tidak terlalu pendek maupun tinggi, yang diistilahkan gandhikipun sedhengan, juga masuk dalam ciri tangguh Demak. Beranjak ke bagian condong leleh terlihat menunduk (seperti menunduknya kepala), yang diistilahkan “tumungkul” (yang paling miring/menunduk diistilahkan mayat), sesuai pula dengan keterangan yang terdapat di Serat Panangguhing Dhuwung : ….. “menawi medal leres lenggahipun tumungkul” atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya :..”jika keluar dalam bentuk lurus posisinya (kedudukan pesi dan bilah) menunduk.

Menitik ke bagian gonjo terlihat bentuk gonjo iras dengan penampang yang rata, diistilahkan ganja waradin iras. Menurut Serat Panangguhing Duwung keris dengan ganja iras rata banyak dibuat di era Cirebon (Nama Empu tidak diketahui). Tidak lupa untuk melihat bagian wuwungan (bagian gonjo yang terlihat dari luar ketika bilah disarungkan ke dalam warangka). Dan secara style, paling terlihat adalah bentuk sirah cecak yang berbeda lazimnya dengan keris-keris umumnya, yakni terlihat seperti kuncup bunga, yang diistilahkan sirah cecak ngluncup. Sirah Cecak yang ngluncup ini bisa menjadi salah satu pembeda tangguh Demak dengan tangguh-tangguh lain yang umumnya hanya buweng (bulat) maupun lancip saja. Sedangkan ekor gonjo yang kurus lancip, diistilahkan buntut urang methit lazim pula ditemui pada keris Cirebon dibandingkan era Demak yang buntut urang-nya papak (rata).

Lepas dari menangguh dari bagian ricikan, kita beranjak pada bahan materialnya. Dengan mengandalkan visual besinya terasa padat, berserat lembut, yang jika diraba terasa halus, dan jika dipandang lama-lama besi terlihat berwarna hitam tetapi semu kebiru-biruan. Demikian pula pada bagian pamor miring sada saeler-nya jika diamati lebih detail terutama dengan kaca pembesar, garis sada saeler-nya terdiri dari lipatan-lipatan pamor yang ngawat/berserat panjang menarik hati. Tidak salah jika orang mungkin akan mengira ini adalah tipikal keris-keris Majapahit. Namun jika kita membuka lagi Serat Panangguhing Duwung ternyata dituliskan jika Empu-Empu di zaman Majapahit, mulai dari Empu ki Supadriya hingga Empu Pakelun jika membuat tikel alis selalu nratas (nerjang gandhik). Demak sebagai suksesor Majapahit, sangat masuk akal rasanya jika besi-besi dalam tosan aji-nya masi terbawa pengaruh Majapahit ke dalamnya.

Namun di sisi lain sebenarnya Tangguh Madiun Era Mataram yang tertulis pada Surat Keterangan Museum juga bukannya tanpa dasar. Bentuk ricikan blumbangan dan tikel alis pada Tilam Upih ini dirasa kurang balance (imbang) antara sisi depan dan belakang. Biasanya ciri-ciri seperti ini umum pada keris-keris buatan Mediunan. Sedangkan bentuk blumbangan sendiri yang lebih condong ke persegi lebih banyak diadopsi di era Mataram.

CATATAN GRIYOKULO, Jika umumnya gonjo iras ditemukan pada dhapur keris sederhana seperti bethok atau brojol (sombro), namun ternyata kita bisa menemukan gonjo iras dalam sebuah dhapur tilam upih. Langka, bukan berarti tidak ada. Dan secara tidak langsung jika ada “mazhab” yang menyatakan jika keris-keris dengan gonjo iras hanya merupakan produk njobo benteng atau kelas pinggiran dapat mulai dimentahkan.

Secara keseluruhan mungkin keris ini masih terlihat cukup utuh hingga 95%, Pamor sada lanang dengan garis terputus yang menjadi “momok” sebagian besar keris sada lanang sepuh tidak berlaku pada keris ini, karena masih menyambung dengan tegas dan kontras. Secara visual dengan mata telanjang akan tampak lebih cantik dan menarik dibanding tampilan yang ada melalui layar kaca. Dimana serat-serat besinya lebih nyata tampak halus (mrambut) diikuti tatanan pamor sada lanang-nya yang ngawat, mempertontonkan sebuah seni keindahan tempa-lipat yang elok. Satu persen kekurangannya barangkali terlihat di ujung panitis, dimana terlihat sedikit rata, bukan karna patah, melainkan jika kita lihat melalui kaca pembesar tampak ujung bilah sedikit “kedengkek” ke dalam, itupun seperti sudah lama sekali. Meskipun dengan sedikit sentuhan “tangan kreatif” bagian panitis dapat di-make over namun biarlah semua tampil apa adanya.

Mereka yang pernah berkesempatan menanting pusaka ini juga saling sepakat memberikan apresiasi positif atas kekagumannya pada material serta garapnya. Maka untuk pusaka yang satu ini setujukah Panjenengan berkata dalam hati? (seperti kepada istri): …”Banyak wanita menjadi istri yang baik, namun engkaulah yang terbaik diantara semuanya!”. “Banyak keris yang digarap dengan sangat bagus, namun engkulah yang paling cocok di hati!”.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *