Kujang Badak TUS

Mahar : 4.950.000,-


    1. Kode : GKO-416
    2. Dhapur : Kujang Badak
    3. Pamor : Sulangkar
    4. Tangguh :  Cirebon (Abad XVIII) /Pajajaran Akhir?
    5. Sertifikasi No : 262/MP.TMII/II/2020
    6. Dimensi : panjang bilah 24,3 cm panjang pesi 7,8 cm, panjang total 32.1 cm
    7. Asal-usul Pusaka : Rawatan/warisan turun temurun
    8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, mata/lubang tiga (3), kowak/sarangka baru, gagang kayu cendana

Ulasan :

KUJANG BADAK, Bentuknya menyerupai badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Badak adalah binatang besar, keras dan berani menyeruduk apa saja yang menghalanginya karena kemampuan menengoknya yang amat terbatas. Kata badak dalam penamaan Kujang Badak mengarahkan kepada seorang tokoh dalam babak Pajajaran Nagara atau Dwipantara yang bergelar Prabu Badak Singa/ Sri Jaya Bupati/ Prabu Detya Maharaja/ Prabu Gajah Agung, yang mengemban misi Kartanagara–Kartagama. Kata Badak dalam penamaan Kujang ini merupakan bentuk siloka dari Bagawat Kara Sunda. Bagawat adalah seorang Pandita ratu, yang menunjukan posisi guru resi.

Pada jaman dahulu kujak badak banyak dimiliki oleh para Pangwereg, para Pamatang, para Palongok, para Palayang, para Pangwelah, para Bareusan, Parajurit, Paratulup, Sarawarsa, dan para Kokolot. Pada jaman sekarang kujang badak dianggap cocok sebagi ageman bagi mereka yang bekerja dalam dunia hukum yang berani dan harus teguh pendiriannya atau para anggota/militer yang harus kuat, berani, membidik, menerjang dan mengalahkan musuh namun patuh terhadap perintah atasan.

FILOSOFI, ada pepatah yang menyebutkan bahwa “belajarlah dari alam”. Banyak rahasia alam yang sebenarnya jika digali dan dipelajari lebih lanjut dengan arif oleh manusia, maka akan banyak memberikan nilai-nilai positif bagi kehidupan ini.  Seperti halnya seekor badak. Badak adalah bukti satwa yang tersisa dari zaman dinosaurus. Saat kehidupan dinosaurus dan yang lainnya punah akibat perubahan iklim yang sangat drastis, badak dan beberapa satwa lainnya seperti komodo masih sanggup survive. Mereka berevolusi sesuai dengan zamannya dengan tidak meninggalkan bentuk dan ciri dari nenek moyang mereka. Badak juga terkenal dengan dengan tubuhnya yang tegap dan kuat dengan cula yang ada di kepalanya. Dengan kekuatan dan ketegapan yang dia miliki. Badak dapat berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk mencari makan. Makanan yang dicari adalah pucuk-pucuk daun muda.

Mereka berjalan mengitari hutan menunduk dengan tenang, terkesan merendah tidak ada kesombongan. Tidak pernah terdengar jika badak menyerang satwa lain walaupun lebih kecil darinya. Badak yang sangat gemar berkubang menjadi agen penyebar benih dan membawa biji-biji hutan yang melekat ditubuhnya. Kemampuannya untuk berjalan sampai berkilo-kilo jauhnya sangat berarti dalam menyemaikan benih-benih di permukaan hutan sebagai media tumbuh bagi sang benih. Benih pun mendapatkan singgasana untuk membuktikan kefertilannya, segera memecahkan masa dormansi sehingga bisa mengalami fermination (perkecambahan). Yang akhirnya tumbuh menjadi pohon besar, gagah, dengan akar mencengkeram bumi, siap mencegah segala bentuk bencana banjir atau longsor di muka bumi, sekaligus sebagai nature wind break (pemecah angin alami).

Sebagai manusia, betapa indah dan membanggakan, jika kita tidak pernah congkak dengan segala apa yang kita miliki, tapi merasa sangat bahagia ketika hidup ternyata banyak bermanfaat bagi orang lain. Andai sosok manusia juga bisa diibaratkan sang badak tadi, bekerja tanpa mengharap suatu yang lebih daripada haknya dan tidak berpikir untuk mendapatkan keuntungan pribadi. “Kuat, tenang, tulus, rendah hati dan bermanfaat”. Maka cukup Tuhan saja yang mencatat sebagai amal ibadah kita di dunia.

PAMOR SULANGKAR, kujang umumnya berbentuk Sulangkar, yaitu berupa garis-garis meliuk atau biasa disebut Rambut Sadana. Satu lagi berbentuk Tutul, yaitu berupa bintik-bintik atau bulatan-bulatan kecil yang bertebaran.

CATATAN GRIYOKULO, harus diakui lebih sulit menemukan sebilah kujang dibandingkan keris, apalagi kujang yang utuh. Pasca Pajajaran tidak berdaulat lagi (runtuh), seolah ikut “mengubur” kejayaan kujang. Orang-orang terdahulu pun akhirnya menyimpan dan menyembunyikan kujang. Bahkan, sejak saat itu pula kujang tidak pernah muncul dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial.

Tidak diragukan, secara keseluruhan kujang badak ini tampilannya masih sangat cantik dan eksotik, terlebih karena memang didukung oleh kondisi bilah itu sendiri yang masih utuh dan prima dalam menghadirkan tranformasi dari seekor badak melalui bentuk/lekuk-lekuk  yang artistik. Kujang badak ini oleh sebagian orang justru dianggap memiliki pamor yang membawa DNA Siliwangi, sehingga lebih banyak orang akan menangguhnya sebagai kujang Pajajaran. Pamornya cenderung memenuhi bilah, warnanya putih krital tidak terlalu byor (terang). Warna besinya hitam kebiruan yang jika diraba terasa begitu halus, liat, serta sangat ringan menunjukkan dibuat dengan material pilihan serta ditempa sangat baik oleh seorang guru teupa atau empu yang mumpuni.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *