Makara

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-412
2. Dhapur : Makara
3. Pamor : Ngulit Semangka + Sada Sa’ler
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 117/MP.TMII/I/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Kediri, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang total 43 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka


ULASAN :

MAKARA, walau dalam dunia arkeologi Kala dan Makara merupakan dua hal yang berbeda baik dari bentuk oranamen maupun letaknya, namun dalam dunia tosan aji istilah “Makara” digunakan untuk menyebut hiasan yang terletak pada bagian gandik (muka) yang wujudnya berbentuk kepala Kala, yaitu raksasa yang memiliki wajah menyeramkan, bermata besar dan melotot, berhidung besar, serta bertaring.

FILOSOFI, Mitos diperlukan manusia dalam mencari kejelasan tentang alam lingkungannya dan sejarah masa lampaunya sebagai pelukisan atas kenyataan-kenyataan yang tidak terjangkau alam pikir dalam format yang disederhanakan dan mudah difahami. Sebab hanya melalui suatu keterangan yang terpahami itulah maka seseorang atau masyarakat dalam mempunyai gambaran tentang letak dirinya dalam susunan kosmis ini, kemudian berdasarkan gambaran tersebut iapun menjalani hidup dan melakukan kegiatan-kegiatan. Setiap mitos, betatapun itu kadang bertentangan dengan prinsip logika modern, tetap mempunyai faedah dan kegunaan sendiri. Dan dalam kepercayaan masyarakat Jawa terdapat pula dua sosok mitologi yang penting, yakni Dewi Kesuburan atau Dewi Padi yaitu Dewi Sri, yang memainkan peranan penting dalam berbagai ritual kesuburan/upacara pertanian dan Kala, dewa waktu (kata “Kala” berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya waktu).

Biasanya di atas pintu-pintu gerbang, istana, bangunan keraton, bahkan bangunan suci seperti candi terdapat ornamen kepala Kala, berupa Kepala raksasa bermata besar dan melotot, berhidung lebar dan bertaring besar. Merupakan simbol perwujudan dari Bathara Kala, dibuat untuk mengingatkan bahwa setiap orang terkena “belitan waktu” atau kekuasaan “waktu”. Waktu selalu menjadi acuan bagi manusia dalam mengarungi bahtera hidup dan kehidupannya. Manusia yang tidak dapat mengendalikan dan menguasai sang waktu akan terlindas, tergilas, dan dimangsa oleh sang waktu. Hal ini di maksudkan agar manusia senantiasa selalu takut akan berbuat kejahatan, mengingat sewaktu waktu (waktu=kala) maut akan datang menjemput. Dan agar manusia senantiasa legowo dengan apa yang telah di gariskan Tuhan kepadanya (karma). Oleh karena itu seyogyanya waktu diupayakan dapat dikelola, dikendalikan, dan dikuasai sebaik-baiknya agar manusia dalam menapaki hidup ini selalu “slamet“.

Simbol Bhatara Kala juga terdapat dalam Gunungan wayang kulit. Setiap babak pagelaran wayang selalu diawali dengan Gunungan, sehingga para pemirsa selalu diingatkan tentang “waktu”, Bhatara Kala yang selalu siap memangsa mereka yang lalai. Dalam pewayangan tokoh ini ditampilkan sebagai penguasa hutan rimba. Dia adalah Batara Kala, dewa yang berkuasa atas keadaan sakit dan mati. Hutan rimba adalah tempat menempa tokoh ksatria dalam mencapai tingkat kesempurnaan hidup.

Sehingga makna Kepala Kala yang disematkan di gandhik (muka keris, letaknya di bagian bawah/pangkal bilah) yang lebih sering disebut sebagai Makara, tidak lain adalah melambangkan kewaspadaan dalam menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup.

MAS KEMAMBANG, atau maskumambang adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, sangat cocok jika memiliki keris yang gonjo-nya berpamor mas kumambang ini.

PAMOR MLUMAH MIRING, pamor yang terdapat pada keris ini tergolong berbeda dari yang pernah ada, dimana merupakan kombinasi antara pamor mlumah (ngulit semangka). Ada yang menafsirkan bahwa motif garis-garis pada pamor Ngulit Semangka ibarat terbentang bermacam-macam jalan yang akan menuju ke satu arah tujuan. Merupakan pesan agar dalam kehidupan ini kita tidak boleh patah semangat untuk menggapai cita-cita dan harapan. Dan sodo sa’ler pada bagian tengahnya yang merupakan pamor miring. Oleh masyarakat perkerisan tuah pamor sada sa’ler dipercaya untuk menambah kewibawaan, menaikkan tingkat kepercayan diri, untuk ketenaran (popularitas), menambah keteguhan hati, dan kuat iman, serta sebagai pagar pertahanan diri dan untuk mengusir kekuatan jahat. Keris dengan kombinasi pamor mlumah miring ini biasanya banyak dicari oleh para penggemar keris, selain karena keunikan garapnya, dipercaya dulunya keris tersebut sengaja dibabar untuk maksud/tuah tertentu.

CATATAN GRIYOKULO, kesan angker akan dirasakan ketika melolos bilah Makara ini dari sarungnya. Besinya yang malela hitam ditambah geripis-geripis alami di sepanjang sisi tajam bilah namun masih tajam di ujung panitis semakin menambah aura nggegirisi keris tayuhan ini. Lamunan membayang jika keris ini dulunya sepertinya memang akan cocok jika dibawa serta di medan perwira, yang jika dihunus akan menciutkan nyali musuh laksana malaikat maut yang datang menjemput.

Bentuk Makara yang diukir di gandik juga tampak sederhana tanpa kinatah logam apapun, namun hidup seolah memiliki jiwa. Akan tetapi, tak ada gading yang tak retak pada bagian pamor khususnya sodo sa’ler-nya harus diakui sudah tidak tegas menyambung namun masih bisa terlihat garis-garis lipatannya. Keris sudah dijamas dan warangka masih dalam kondisi baik dan kuat, artinya memang sepertinya tidak perlu “extra cost” lagi. Dan terlepas dari tangguh-nya, Penulis juga sangat meyakini Pusaka ini lebih sepuh dari perkiraan yang tertulis di dalam Surat Keterangan/Sertifikasi.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *