Mahar : 12.121.212,- (TERMAHAR) Tn. H, Pulomas, Jakarta Timur
1. Kode : GKO-366
2. Dhapur : Carangsoka
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Singosari (Abad XI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 724/MP.TMII/V/2019
6. Asal-usul Pusaka : Temuan Sungai Musi
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 39,5 cm
8. Keterangan Lain : tangguh langka, keris tindhih
ULASAN :
CARANGSOKA, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan. Ukuran panjang bilah keris ini sedang, memakai kembang kacang, jalen, lambe gajah-nya satu. Selain itu memakai pejetan, tikel alis sraweyan dan greneng. Konon menurut dongeng/mitos pancer dhapur Carang Soka pertama kali dibabar oleh Mpu Windudibya yang bermukim di Bali atas pemrakarsa Nata Prabu Lembuamiluhur (=Prabu Jayengrana) dari kerajaan Jenggala pada tahun Jawa/Saka 1119.
FILOSOFI, Carangsoka secara harfiah/literal berarti ranting-ranting yang rimbun dari pohon Asoka (saraca asoca). Tanaman yang daun dan bunganya sangat indah ini ibarat pohon cemara kecil (dapat tumbuh hingga 10 m). Soka berasal dari kata Asoka (diambil dari nama sebuah taman bunga bernama “Ashoka” yang sering dikaitkan dalam kisah Ramayanan), yang dalam bahasa Sansekerta berarti ‘tidak ada duka’. Seperti dalam salah satu relief utama yang terdapat di Candi Panataran yang menceritakan Hanoman sebagai utusan dari Prabu Sri Rama bertemu dengan Dewi Sinta di bawah pohon Asoka. Pada relief ini asoka menjadi salah satu tanaman yang ditanam di lingkungan istana yang digambarkan sebagai pohon peneduh.
relief asoka pada cerita Ramayanan di Candi Panataran
Pada jaman dahulu pohon Asoka banyak ditanam di lingkungan/halaman keraton. Halaman kerajaan juga dijadikan tempat pertemuan antara orang-orang terhormat dengan Raja. Mereka saling bertemu di bawah pohon asoka, yang letaknya berdekatan dengan istana utama. Dalam kitab Nāgarakṛtāgama (Pupuh 10:3) tergambar bagaimana situasi keraton Majapahit sebagai berikut:
Ndan sang ksatriya len bhujangga rsi wipra yapwan umarek
Ngkane heb ning asoka munggwi hiring ing witana mangadeg
Dharmadhyaksa kalih lawan sang upapatti saptadulur
Sang tuhwaryya lekas niran pangaran aryya yukti satirun.
artinya : Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.
Bahkan kepercayaan yang melekat hingga kini tanaman berbunga seperti soka dianggap baik secara feng shui untuk ditanam di sekitar rumah. Mengapa? karena keberadaan tanaman bunga itu secara feng shui merupakan simbol perkembangan dan pertumbuhan.
Oleh karenanya dhapur Carangsoka dipercaya dibabar dengan sugesti untuk dapat memberikan keteduhan/ketenangan/penghiburan di hati pemiliknya serta dimaksudkan sebagai sebuah permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk dapat dibebaskan dari hal-hal yang sifatnya dapat mendatangkan kedukaan, atau diharapkan jauh dari kesedihan dan derita, sehingga yang tertinggal hanya kedamaian jiwa.
TANGGUH SINGOSARI, “belum kolektor sejati jika belum memiliki keris Singosari”. Sebuah pemeo yang sering terdengar di antara para pecinta keris di Nusantara. Bagi orang perkerisan rasanya seperti belum lengkap bila belum memiliki keris bertangguh singosari. Bukan hanya kisah mengenai keris lebih banyak bermula disini (keris Mpu Gandring), namun keris-keris tangguh Singosari dianggap sebagai sebuah pencapaian kesempurnaan dari prototipe awal sebuah keris. Memiliki material logam pilihan (fungsional) tetapi tetap tidak mengesampingkan kedetailannya. Sangat langka dan jumlahnya tidak banyak dan seringkali ditemukan dalam kondisi kurang utuh lagi, karena sebagian besar merupakan “keris temuan” yang tertimbun dalam tanah, pasir atau endapan lumpur sungai.
kondisi keris carangsoka temuan (masih kotor)
Dalam Buku Ensiklopedi Keris (2004) Karangan Bambang Harsrinuksmo, Tangguh Singasari disebutkan; pasikutan-nya kaku. Bilahnya berukuran sedang; ujungnya tidak begitu runcing. Warna besinya abu-abu kehitaman, nyabak (bagaikan batu tulis). Menancapnya pamor pada bilah lumer dan pandes. Penampilan pamor itu biasanya lembut dan suram (kelem). Gandhik-nya berukuran sedang, agak miring. Sirah cecak pada gonjo bentuknya lonjong memanjang.
Keris-keris asli temuan yang sering ditandai dengan banyaknya endapan yang menempel seperti pasir dan kerikil-kerikil di pasar tosan aji sering langsung ‘ditembak’ atau digebyah-uyah dengan tangguh singosari (walau sebetulnya tidak semua keris temuan harus tangguh singosari). Untuk membersihkannya pun tidak hanya memerlukan waktu yang lama, namun juga bermodalkan tingkat kesabaran yang tinggi dan tentu saja ekstra kehati-hatian. Setelah endapan dibersihkan, akan terlihat patina yang berwarna kehitam-hitaman. Pada tahap ini, kadang kita akan dihadapkan pada situasi yang dilema, apakah akan mengupas patina yang ada untuk bisa melihat besi aslinya atau membiarkan patina menutupi agar tetap tampak utuh? Karena memang suatu kebetulan yang langka setelah proses pengupasan patina selesai dapat menjumpai keris yang masih tampak utuh.
KERIS TINDHIH, berasal dari kata ‘tetindhih’ yang menurut kitab Bausastra Jawa versi Poerwadarminta Tahun 1939 berarti lelurah atau pangarêp (penuntun), sedangkan secara arti atau makna harfiah adalah ‘menindih’. Keris tindih merupakan konsep spiritual bagi keris yang bisa menjadi pamomong (pengasuh) bagi keris lainnya. Di kalangan para masyarakat tosan aji, sering ada anggapan bahwa diantara keris koleksinya mungkin ada yang tidak cocok (kurang/tidak bisa menyatu) dengan dirinya atau ditakutkan mempunyai pengaruh (energi/tuah) kurang baik. Walau demikian, ia merasa sayang untuk melarung atau melepasnya. Untuk menetralkan atau meredam pengaruh negatif atau kurang baik dari keris-keris tersebut, biasanya para kolektor memiliki apa yang dinamakan keris tindhih. Sesuai dengan namanya, keris ini dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat “menindih” segala pengaruh negatif dari keris lain yang ditakutkan bisa saja ber-efek kurang baik, tidak hanya bagi pemiliknya namun bisa saja keluarga sekitarnya. Dengan memiliki satu saja atau beberapa buah keris tindih, dipercaya akan memberikan ruang nyaman, lepas dari rasa khawatir dan sisi piskologis yang lebih secure bagi sang pemilik. Terlebih bagi para pengkoleksi pusaka yang benda-benda koleksinya hanya disimpan saja di ruang pusakanya atau orangnya hanya sekedar memiliki saja, atau bendanya hanya menjadi benda pajangan saja. Tidak menutup kemungkinan juga para kolektor oleh karena kesibukannya atau keterbatasan waktu yang dimilikinya semua koleksi-koleksi pusakanya menjadi kurang tesentuh.
Terdapat beragam kepercayaan yang berkembang di dalam masyarakat perkerisan mengenai keris tindhih ini :
Pertama, Jika “tindhih” dianggap sebagai lurah/panuntun/pengasuh dan dalam budaya patriarki Jawa yang kesehariannya selalu diajarkan untuk menghormati mereka yang lebih tua, maka apapun nama dhapur-nya adalah mutlak keris tindhih harus berasal dari tangguh sepuh sanget, seperti Singosari atau Kabudhan. Kearifan lokal ini tampaknya terserap dalam budaya tosan aji. Dimana secara esoteri alami diyakini sifat gaib bawaan keris-keris yang lebih muda usia pembuatannya akan selalu menghormati keris-keris yang lebih tua tangguh-nya. Dhapur Jalak Budha dan Bethok biasanya yang dicari sebagai keris tindhih. Namun jika kita misal membuka Kitab Sedjarah Keris, diceritakan bahwa dhapur Bethok pertama kali dibabar oleh Empu Windusarpa atas pemrakarsa Nata Prabu Kudalaleyan pada tahun Jawa 1170. Artinya, menurut mitos/dongeng justru lebih tua dhapur Carangsoka dibandingkan dengan Bethok.
Kedua, mereka yang memahami keris tindhih sebagai konsep spiritual yang tentu saja diyakini secara personal, maka kesemuanya akan menjadi flexible (subyektif). Sehingga mereka meyakini pula jika keris tindhih tidak harus berasal dari tangguh sebelum era majapahit. Filosofi yang tertanam dalam tosan aji justru lebih menentukan karena menyangkut doa awal ketika pusaka tersebut dibabar. Jika melihatnya dari sisi pamor, maka pamor seperti wengkon, satriya pinayungan, dan raja sulaiman bisa menjadi pilihan. Bahkan tidak semata hanya keris bethok maupun jalak budha, tombak seperti banyak angrem, kuntul nglangak dan semar tinandhu pun bisa dijadikan pusaka tindhih sehubungan dengan filosofinya meskipun tangguh atau usia-nya lebih muda.
Dan yang ketiga, ada yang beranggapan jika keris tindhih lebih diperlukan bagi orang-orang yang memiliki banyak pusaka yang lebih bersifat koleksi saja (menjadi barang simpanan saja), yaitu orang-orang yang merasa tidak ada kedekatan batin dengan pusaka-pusakanya. Namun selama perjalanan jika pusaka-pusaka tersebut telah terawat baik dengan kesungguhan hati (sudah ada kedekatan batin dengan pemiliknya), mungkin keris tindhih tidak lagi diperlukan.
PAMOR BERAS WUTAH , ditemukannya prasasti Canggal di Magelang Jawa Tengah berangka tahun 723 M yang ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta menunjukkan sejak Jaman Mataram Sanjaya, Jawadwipa adalah sebuah negeri yang kaya akan padi atau beras. Pada masa tradisional, beras merupakan sebuah indikator stabilitas ekonomi dan politik serta kemakmuran sebuah kerajaan. Melimpahnya beras dalam sebuah kerajaan menjadi indikator bahwa kerajaan tersebut mengalami kemakmuran, sehingga stabilitas politik kerajaan pun terjamin.
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (2008: 70) menyatakan bahwasanya pulau Jawa sangat subur untuk pertanian. Sektor pertanian merupakan sumber mata pencaharian yang sangat utama. Ia mengatakan bahwa bangsa Jawa adalah bangsa petani yang memiliki struktur masyarakat yang khas.
“Pulau Jawa sangat bagus untuk pertanian; tanahnya sangat subur. Para petani tidak hanya menanam sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti membeli barang-barang kebutuhan yang sedikit mewah. Bangsa Jawa adalah bangsa petani, dan akhirnya membentuk struktur masyarakat yang khas. Petani mendapat uang dari tanamannya, prajurit dari upahnya, pegawai dari gajinya, para ulama dari sumbangan (zakat), dan pemerintah dari hasil pajak. Kekayaan suatu desa atau satu propinsi tergantung dari luas dan kesuburan tanahnya, sistem pengairannya, serta jumlah kerbau yang dimiliki.”
Apabila penguasa zaman sekarang menggunakan berbagai indikator ekonomi, maka para Raja zaman dulu menggunakan beras sebagai indikator stabilitas ekonomi dan politik serta pencapaian kemakmuran. Dengan demikian beras wutah atau beras yang (sampai) tumpah, adalah manifestasi dari doa, permohonan dan harapan akan mendapatkan segala hasil dari semua jerih payah dalam setiap tetesan keringat, air mata dan darah yang telah diupayakan selama ini tidak menjadi hal sia-sia.
CATATAN GRIYOKULO, Untuk ukuran keris temuan utamanya tangguh Singosari, keris Carangsoka ini masih bisa dibilang cukup utuh, hal ini dapat dilihat dari ujung panitis hingga ke bagian pangkal pesi-nya. Tingkat keutuhan tersebut dapat dilihat salah satunya melalui keseimbangan luk, karena banyak sekali keris-keris temuan yang sudah tidak utuh lagi di salah satu atau beberapa bagian luk nya. Apalagi keris ini sudah bersih dari segala sedimen sehingga terlihat karakter besi sesungguhnya yang sudah membatu tanpa patina yang menyelimuti.
Sandangan yang adapun sudah miyayeni. Pilihan kayu gaharu wangi bukan tanpa alasan, kayu yang disebut-sebut berasal dari surga ini tidak hanya efek dari wanginya saja yang menentramkan jiwa, namun diyakini dapat pula menjaga “isi” pusaka serta dapat digunakan untuk menangkal serangan jin hingga menetralisir serangan ilmu hitam atau santet.
Keris tangguh Singosari dari masa ke masa selalu memiliki penggemar fanatiknya tersendiri. Selain karena faktor kelangkaannya, adanya unsur kepercayaan seputar pusaka tindhih bisa jadi ikut mempengaruhi. Sebagaimana hukum pasar karna ketersediannya yang sudah mulai jarang ditemukan (sudah banyak masuk lemari kolektor), survey kecil-kecilan baik via pemaharan online atau bursa pameran didapati rata-rata nilai mahar tangguh Singosari sedemikian fantastis, mencapai lebih dari dua digit, itupun tanpa sertifikasi.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————









