Kujang Geni Pajajaran

Mahar : 3.450,000,-


1. Kode : GKO-399
2. Dhapur : Kujang Geni
3. Pamor : Mrambut/Sulangkar
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1315/MP.TMII/X/2019
6. Asal-usul Pusaka :  kolektor
7. Dimensi : panjang bilah 25 cm, panjang pesi 7,7 cm, panjang total 32,7 cm
8. Keterangan Lain : mata enam (6), termasuk kujang langka


ULASAN :

Kujang merupakan produk artefak asli masyarakat Sunda. Bentuk, fungsi dan makna simbolisnya terkait erat dengan kebudayaan Sunda. Kujang merupakan ganggaman yang dipergunakan oleh semua masyarakat Sunda, karena merupakan produk simbolis yang menandakan identitas urang Sunda atau penduduk yang mendiami Tatar Sunda. Hal ini terbukti dari bentuk dan fungsi kujang yang diselaraskan dengan karakter tradisi masyarakat Sunda dan filosofi hidupnya secara utuh.

Terdapat beberapa teori yang memaparkan asal muasal kujang, yang keberadaannya di masyarakat Sunda sangat melekat yaitu:

1. Kujang Kudihyang
Bahwa kujang secara morfologis terbentuk dari kata Kudi dan Hyang. Kudi adalah pakarang (senjata) genggam untuk bertarung dan berperang, sedangkan ‘Hyang’ adalah identitas dewata atau kemuliaan Tuhan. Sehingga pengertian Kudi Hyang adalah senjata yang suci atau senjata pusaka. Secara berangsur Kudi Hyang berubah menjadi Kudhyang atau Kujang.

2. Ku Urang Jang Urang
Kujang berasal dari kata Ku urang Jang urang artinya dari kita untuk kita. Konsep ini menerangkan bahwa kujang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan produk khas untuk keperluan masyarakat Sunda.

3. Kujangji rek neruskeun Amanat Karuhun Urang
Kujang berasal dari kata Kujangji rek neruskeun amanat karuhun urang, yang artinya janji untuk meneruskan amanat leluhur. Kujang merupakan alat untuk meneruskan amanat nenek moyang Sunda, dalam melakukan visi mulasara buana dan misi ngertakeun bumi lamba, sehingga masyarakat Sunda memperoleh kesejahteraan yang hakiki.

4. Kukuh Kana Jangji
Kujang berasal dari kata Kukuh kana jangji yang artinya kukuh pendirian untuk melaksanakan janji leluhur yang menjadikan masyarakat Sunda sebagai bangsa utama yang mengusung visi mulasara buana dan misi ngertakeun bumil amba.

5. Ku Jawa Hyang
Kujang berasal dari istilah Ku Jawa Hyang, yaitu konsep yang mengungkapkan Jawa Dwipa (Pulau Jawa) sebagai pusat kanagaraan (negara) dan pusat karatuan (keraton, tempat penguasa). Sehingga Jawa Dwipa sebagai pusat ibu pertiwi. Kujang dirancang berdasarkan ideologi untuk melindung Jawa Dwipa karena merupakan titipan dari karuhun (Hyang).

6. Ku Kidang Hyang
Kujang berasal dari istilah Ku kidang Hyang, yaitu konsep yang menjelaskan bahwa sosok desain kujang berasal dari perilaku dan karakter tanduk kidang (kijang atau menjangan). Terdapat legenda yang mencontoh penggunaan kujang mirip dengan fungsi tanduk kijang.

7. Kujang adalah Kujang
Ada pula yang meyakini jika “kujang adalah kujang” tanpa perlu jarwo dosok (pemendekan kata) atau memberikan pengertian.

KUJANG GENI, bentuknya seperti lidah/nyala api, yang dalam veda sebagai simbol agni (api/geni). Sepintas bentuknya mirip dengan kujang lanang, namun apabila dicermati pada bagian bawah tadah lebih panjang, selain itu kujang geni memiliki lubang/mata. Dahulu merupakan pusaka ageman para istri raja atau prameswari atau permaisuri.

Karakter bentuk kujang geni adalah merupakan aplikasi dari konsep elemen api, yaitu suatu kekuatan dahsyat yang dikenal masyarakat Sunda padukuhan mandala yang berdomisili di kawasan gunung berapi. Api adalah lambang semangat yang menggelora yang dapat memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Api adalah obor penerang bagi yang berada dalam kegelapan. Api berada di atas atau naik ke atas menuju Mandala Agung.

“Agnimile purohitam yajnasya devam rtvijam hotaram ratnadhatamam”
(Rg Veda Mandala I Sukta 1 Mantra 1)

“Hamba mengagungkan Hyang Agni, Sang Purohita Pendeta Penasihat, yang Maha Agung, pemimpin upacara suci, Sang Ritvik Pendeta Utama Rg Veda, dan yang terbaik yang melimpahkan kekayaan”

Dalam kitab suci Veda, api disebut dengan kata “Agni” karena penguasa api adalah Dewa Agni. Dewa Agni biasa sering disebut dalam kitab suci Veda disamping Dewa Indra dan Dewa Surya. Dalam veda, agni disebut dengan Purohita para Devata yang menganugerahkan kemakmuran dan kebahagiaan.

Sinar cahayanya memancar ke segala penjuru menyebabkan api dipakai sebagai penerangan disetiap kegelapan. Demikian pula asapnya dapat terangkat sendiri ke angkasa. Sifat-sifat demikian menyebabkan api dipakai sebagai perantara antara bumi dan langit, manusia dengan Tuhan, sesama ciptaan Tuhan dan sebagai pembawa persembahan. Nyalanya yang berkobar-kobar akan membakar apapun yang dilemparkan kepadanya sehingga dianggap sebagai pembasmi noda, malapetaka dan penderitaan. Api dengan sebutan sebagai Dewa Agni adalah Dewa atau sinar suci Tuhan yang selalu dekat, dapat dilihat dengan nyata oleh manusia menyebabkan api dianggap sebagai saksi dalam kehidupan. Api selalu dinyalakan dalam rumah tangga sehingga disebut Grhapati yang artinya pimpinan atau raja dalam rumah tangga. Selain itu api berfungsi sebagai penjaga rumah sehingga agni atau geni ini begitu dimuliakan.

Pendamping api yang sangat dekat dan saling memberikan manfaat adalah air (kujang naga). Karakter air lebih bersifat tenang yang dapat mengalir tertib dari hulu ke hilir, sebagai perantara membawa rahmat dari Kahyangan di puncak gunung menuju ke hilir tempat pemukiman penduduk. Air juga adalah sumber kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpa air, dan manusia tidak bisa beradab tanpa api. Pada konsep ini masyarakat Jawa yang bersaudara dengan masyarakat Sunda, cenderung memiliki karakter air, yang memilih tinggal di kawasan dataran rendah dan kawasan berair seperti tepi sungai, danau, rawa dan pesisir. Konsep karakter api – air ini pun sering dikomparasikan dengan konsep gunung – lembah, hulu – hilir, sakral – profan atau huma – sawah.

PAMOR SULANGKAR, kujang-kujang sepuh buatan jaman kerajaan dahulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis (sulangkar) dan bintik-bintik (tutul) yang tidak beraturan. Pamor sulangkar mengacu pada sejenis pamor yang bentuknya seperti alur sejajar dari bagian bawah sampai ke bagian atas. Bentuk pamor seperti ini banyak sekali ditemukan, bentuknya seperti pamor nyerat atau ngarambut.

CATATAN GRIYOKULO, Kujang geni ini memiliki pamor yang mencerminkan khas tangguh Sunda Pajajaran. Pamornya memenuhi bilah, warnanya cenderung putih dan tidak terlalu terang, matang tempaan dan proporsi bilahnya serasi. Memiliki mata berjumlah 6. Jenis kujang geni seperti ini tergolong jenis kujang yang relatif jarang dijumpai, bahkan dapat digolongkan dalam jenis kujang yang langka.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *