Jalak Sangu Tumpeng Pamor Tambal

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,-(TERMAHAR) Tn. SI – Jagakarsa, Jakarta Selatan


1. Kode : GKO-403
2. Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng
3. Pamor : Tambal
4. Tangguh : Mataram (Abad XVI) / Tuban Majapahit?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1518/MP.TMII/XI/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Nganjuk, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi 7  cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

JALAK SANGU TUMPENG, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus, ukurannya sedang. Gandik-nya polos, memakai pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan thingil. Ricikan lainnya tidak ada. Menurut mitos/dongeng, dhapur Jalak Sangu Tumpeng pertama kali dibabar oleh Empu Hanggareksa, di desa Tapan Pajajaran pada tahun Jawa 1303.

Di antara keluarga keris dhapur Jalak, adalah Jalak Sangu Tumpeng yang tergolong paling banyak diminati dan dianggap sakral, khususnya bagi masyarakat perkerisan di pulau Jawa bagian tengah (Yogyakarta). Dan apakah hanya suatu kebetulan belaka atau ternyata secara langsung maupun tidak langsung turut terinspirasi junjungan-nya, jika ternyata pusaka utama keraton Yogyakarta yang bergelar Kangjeng Kiyahi Ageng Kopek ber-dhapur Jalak Sangu Tumpeng dan berpamor lar gangsir. Dhuwung agung itu selalu menyertai Ngarso Dalem Sri Sultan sejak Pangeran Mangkubumi naik tahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, setelah perjanjian Giyanti yang membelah Mataram menjadi Surakarta dan Jogjakarta pada 1755 hingga hingga Sultan ke sepuluh saat ini. Sebab, keris ini memang hanya boleh diturunkan kepada raja.

Kangjeng Kiyahi Ageng Kopek, Konon menurut cerita tutur yang beredar KKA Kopek pertama kali dimiliki oleh Prabu Darmokusumo atau Puntodewo yang ketika di masa senjanya tidak bisa mati karena berdarah putih, lalu bertemu dengan Sunan Kalijaga di Kudus. Prabu Darmokusumo bisa meninggal dan masuk surga jika mampu menebak isi jimat kalimasada (kalimat sahadat). Dan benarlah setelah membaca isi jimat kalimasada sang Prabu Darmokusumo meninggal. Namun sebelum meninggal mewariskan KKA Kopek dan berwasiat kepada Sunan Kalijaga bahwa yang memegang keris ini akan menjadi Raja di Tanah Jawa. Keris KKA Kopek lalu menjadi milik Sultan Agung Hanyakrakusuma setelah mampu menebak sayembara yang diberikan oleh Sunan Kalijaga ketika Sultan Agung mampu menebak tentang udheng yang dipakai oleh Sunan. Bahwa ketika orang sudah mudheng atau memahami kitab sucilah maka manusia bisa hidup dengan baik dan tenteram hidupnya.

FILOSOFI, Jalak Sangu Tumpeng secara harfiah berarti (burung) Jalak membawa (bekal) tumpeng.

Kukila Tumraping tiyang Jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaning penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Candrapasemonanipun : pindha keblaking swiwi kukila, ingkang tansah ngawe ngawe ngupaya boga, kinarya anyekapi ing bab kabetahanipun. Dhumateng tuk sumberipun, asal usulipun, inggih punika wangsul dhateng susuhipum ambekta kabetahaning gesangipun.

Bagi Orang Jawa, burung merupakan simbol penghiburan, memberikan sensasi/kenikmatan batin, yang akhirnya menghilangkan rasa susah, kejengkelan hati. Dalam lambang kiasan : dimana kepakan sayapnya yang selalu melambai-lambai  merupakan usaha dalam mencari pangan untuk memenuhi kebutuhannya. Burung yang telah mendapatkan pangan itu kemudian pulang kembali ke sarangnya.

Dan salah satu kukila yang lekat dalam budaya agraris adalah burung Jalak. Jalak merupakan burung yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Burung yang pandai dan rajin mencari makan, mempunyai kepekaan tinggi terhadap lingkungannya tidak merugikan yang lain dalam berhubungan atau sering disebut bersimbiosis mutualisme (saling menguntungkan), dan setia kepada pasangannya.

Sangu Tumpeng, Suatu perayaan yang dianggap suci tentu memerlukan simbol-simbol suci yang dapat mewakili makna dari apa yang tengah dirayakan. Dan salah satunya adalah melalui Tumpeng. Tumpeng sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya ketika memperingati momen dan peristiwa penting dalam hidup. Tumpeng sendiri merupakan sajian nasi berbentuk kerucut dengan aneka lauk-pauk mengelilinginya, yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu).

Kerucut nasi yang menjulang tinggi melambangkan keagungan Tuhan Yang Maha Pencipta alam beserta isinya, sedangkan aneka lauk pauk dan sayuran merupakan simbol dari isi alam ini. Oleh karena itu pemilihan lauk-pauk di dalam tumpeng biasanya mewakili semua yang tersedia di alam ini. Penempatan nasi dan lauk-pauk seperti ini disimbolkan sebagai gunung dan tanah yang subur di sekelilingnya. Tanah di sekeliling gunung dipenuhi dengan berbagai macam lauk-pauk yang menandakan lauk-pauk tersebut semuanya berasal dari alam, hasil tanah. Tanah menjadi simbol kesejahteraan yang hakiki. Tumpeng merupakan simbol ekosistem kehidupan.

Falsafah tumpeng juga berkaitan erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Bagi orang-orang zaman dahulu gunung adalah abstraksi dari sesuatu yang jauh lebih tinggi dan melampaui kekuasaan manusia, gunung juga dianggap lebih dekat dengan ‘langit’. Dalam kepercayaan Hindu, gunung adalah awal kehidupan, karenanya amat dihormati. Dalam Mahabarata dikisahkan tentang Gunung Mandara, yang dibawahnya mengalir amerta atau air kehidupan. Siapapun yang meminum air itu akan mendapat keselamatan. 

Bentuk tumpeng bermakna menempatkan Tuhan pada posisi puncak yang menguasai alam. Bentuk kerucut gunungan (méru) ini juga melambangkan sifat awal dan akhir, simbolisasi dari sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan akan kembali lagi (berakhir) pada Tuhan. Maka tidaklah mengherankan jika nasi tumpeng memiliki bentuk kerucut yang merepresentasi konsep Ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, dan berada di puncak. Selain itu, bentuk yang menjulang ke atas juga menyimbolkan harapan agar derajadnya (dunia akhirat) semakin terangkat.

Maka pantaslah jika Jalak Sangu Tumpeng disandang seorang Raja, yang juga sebagai manusia biasa diingatkan kembali akan kekuasaan Sang Pencipta Alam (sangkan paraning dumadi), pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam dan segala makhluk hidup (memayu hayuning bawana), serta teguh dalam memegang prinsip “tumapaking panguripan (tumindak lempeng) tumuju Pangeran” adalah kepanjangan dari kata tumpeng yang mengartikan bahwa “Manusia itu harus hidup menuju dan di jalan Tuhan”.

PAMOR TAMBAL, sesuai dengan namanya dibuat dengan cara ditambal di bilah, bentuknya mirip dengan goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Walau seringkali posisi/jaraknya tidak merata/sama namun tetap indah dipandang. Pamor tambal tergolong pamor rekan yang sengaja dirancang oleh sang Empu. Sebagian pamor tambal termasuk pamor miring, sebagian lagi termasuk pamor mlumah.

Bagi sebagian pecinta keris, pamor tambal dipercaya sebagai pamor pemilih, artinya tidak semua orang cocok untuk memilikinya. Namun bagi mereka yang cocok, pamor ini mempunyai tuah yang konon baik untuk kemajuan karir, serta memudahkan pemiliknya mencapai derajad dan kedudukan sosial yang tinggi di dalam masyarakat (junjung derajad).

Pamor tambal dibuat sebagai doa/harapan agar setiap kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal dan ditutupi-Nya. Pamor Tambal dapat juga mengandung arti akan adanya sebuah ikhtiar untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Sebuah perlambang bahwa kita manusia sadar sebagai hamba yang penuh ketidaksempurnaan. Dalam kerendahan hati memohon agar setiap celah kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal oleh Sang Penata Kehidupan dan berharap segala sesuatunya ditutup sesuai rancangan-Nya.

CATATAN GRIYOKULO, Ketika pertama kali didapatkan harus diakui keris ini memang kurang terawat dengan baik oleh ahli waris sebelumnya. Bilah yang sebelumnya kotor, warangka sederhana/apa adanya,  bau yang lembab, seakan melegitimasi ke-khas-an keris-keris yang didapatkan dari dusun-dusun yang oleh pemiliknya hanya disimpan namun jarang sekali/hampir tidak pernah dibuka dari warangkanya untuk sekedar meminyakinya. Maka tidaklah heran jika mulai muncul korosi-korosi alami (ngrekes).

Menilik lebih lanjut keris Jalak Sangu Tumpeng ini, justru seperti ada pengaruh Empu dari Pajajaran yang hijrah ke Tuban, terutama pada bentuk gonjo yang ambatok mengkurep (sebutan model gonjo keris yang bentuknya melengkung, yang jika dilihat dari samping seperti gonjo sebit ron tal, bedanya pada gonjo mbatok mengkurep garis di bawah sirah cecak dan gulu meled juga cekung) dan gandhik/pejetan yang terkesan amboto rubuh daripada gonjo mataram yang lebih kental dengan nuansa nyebit rontal dan pejetan yang berbentuk persegi/kotak. Besinya tampak kebiruan, halus dalam perabaan, tantingan ringan mirip keris-keris era Majapahit akhir. Secara keseluruhan keris dengan pamor tambal ini masih mampu memancarkan perbawa, sebagai keris yang pernah dipusakakan oleh pemilik terdahulunya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *