Tombak Kuntul Nglangak Rojo Gundolo?

Mahar : 3.250,000,-


1. Kode : GKO-404
2. Dhapur : Tombak Kuntul Nglangak
3. Pamor : Wengkon Isen
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1519/MP.TMII/XI/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 25,7 cm, panjang pesi  14,7 cm, panjang total 40,4 cm
8. Keterangan Lain : tombak tindih, rojo gundolo puthut?


ULASAN :

KUNTUL NGLANGAK, adalah salah satu tombak yang tergolong artistik. Gambaran kontur tombak ini menyerupai burung kuntul yang sedang terbang dimana lehernya seperti membentuk huruf “S” dan tidak diluruskan. Bilah tombak ini juga agak melebar di bagian bawah, permukaan bilahnya datar, hanya ada-ada tipis di bagian tengah, melenggok mengikuti bentuk konturnya. Pada umumnya, tombak kuntul nglangak juka ditempa bukan sebagai senjata secara fisik/fungsional (berperang), tetapi lebih ditujukan sebagai tombak pusaka/tindih dengan taksu “adem ayem tentrem“.

FILOSOFI, Kuntul Nglangak secara harfiah berarti (burung) kuntul yang (kepalanya) mendongak ke atas. Kuntul adalah burung berkaki, berleher dan berparuh panjang yang (dulu) banyak ditemui di area persawahan. Burung Kuntul sejak lama dikenal sebagai sahabat para petani, karena serangga-serangga hingga tikus yang menjadi ancaman tanaman padi menjadi rantai makanannya. Di masa lalu, banyaknya kawanan burung kuntul merupakan indikator ketersedian pangan dan kualitas air yang baik di suatu wilayah tersebut (gemah ripah loh jinawi). Dan hijrahnya kawanan burung ini juga sering menjadi pertanda awal pancaroba.

Bila dilihat sekilas, burung kuntul memang menakjubkan. Dia begitu anggun, kakinya yang panjang menambah wibawanya, bulunya yang putih bersih memperlihatkan kharismanya, dan sikapnya yang tenang seolah menunjukan kedalaman ilmunya. Bagi masyarakat Jawa, burung Kuntul melambangkan jiwa gotong royong, kekompakan, keselarasan, kesetiaan dan keindahan budi pekerti.

Sedangkan Nglangak/nglongok, artinya mendongak ke atas, menandakan bahwa manusia harus selalu ingat Tuhan-nya (eling lan waspodo). Karna hidup laksana mampir ngombe, sesaat dan tak lama. Namun sebagian dari kita lupa, sering terlena oleh haru biru dunia, kita lupa hekekat hidup sebenarnya. Bahwa kita tak tahu kapan mendapat giliran untuk dipanggil-Nya. Kematian adalah sebuah kepastian yang bisa datang menjemput kapan saja.

Seperti kebiasaan burung kuntul yang tidur dengan satu  kaki terangkat, menjaga kewaspadaannya. Manusia harus eling lan waspodo. Kita perlu ingat akan Pencipta hidup kita, dan kita pun perlu ingat akan kemana tujuan akhir hidup ini? Eling atau sadar dan ingat terhadap hal-hal yang bersifat inti dan sejati. Dan mempunyai sikap waspada terhadap barang-barang yang hanya indah dan gemerlap di permukaannya saja, namun keropos di dalam.

PAMOR WENGKON ISEN, wengkon adalah pamor yang bentuknya  menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Pola pamor ini melambangkan perisai, perlindungan, atau penangkal terhadap suatu malapetaka, penyakit, nasib buruk dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya.

CATATAN GRIYOKULO, Tombak ini didapatkan pada salah satu kios antikan di daerah Jakarta Selatan. Pada awalnya penulis tertarik untuk meminang dan membawa pulang tombak ini setelah melihat bentuk tutup tombak iras model Surakarta yang saat ini sudah relatif jarang dibuat. Para mranggi sekarang lebih banyak mengadopsi tutup tombak model Yogyakarta dengan alasan lebih simple untuk diproduksi. Sayang pada landeyan yang berukuran 65 cm ini pada bagian atas, sudah tidak terdapat blongsong, demikian pula pada bagian bawah sudah tidak terdapat kelengkapan tunjung atau jinjit.

Namun tombak ini masih terlihat utuh dengan kontur bilah yang cantik. Meski sadar diri pamor yang ditampilkan tidaklah segebyar pamor tombak-tombak mataraman, namun ada satu pertanyaan: Apakah panjenengan mempunyai imajinasi yang sama dengan saya, jika pada salah satu sisi tombak (bagian depan) mempunyai  bentuk rojo gundolo berupa seseorang yang terlihat dari samping sedang duduk bersila dengan posisi tangan menengadah ke atas mirip visualisasi dari dhapur puthut?

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Griyokulo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *