Semar Tayuhan Mpu Ngadeni Gunungkidul

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555.555,- (TERMAHAR) Tn. ON, Jelambar Jakarta Barat


1. Kode : GKO-
2. Dhapur : Semar (Kiai Unggul Cahya Rahayu)
3. Pamor : Sekar Buwana
4. Tangguh : Mpu Ngadeni, Gunung Kidul
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : tulisan tangan asli Mpu Ngadeni
6. Asal-usul Pusaka :  Kolektor Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 12 cm, panjang pesi 5,5 cm, panjang total 17,5 cm
8. Keterangan Lain : sudah dijamas, landeyan (panjang 126 cm)  dan tutup baru (kayu kemuning)


ULASAN :

SEMAR, Bambang Harsrinuksmo (alm) dalam buku Ensiklopedi Keris (2004) menulis: “Semar adalah tokoh punakawan dalam pewayangan asli Indonesia. Sejak pertengahan abad ke-19 yang lampau mulai dimasukkan dalam budaya tosan aji, khususnya di Pulau Jawa. Dengan maksud atu tujuan yang “samar” (kurang jelas), bahkan ada yang menempa tombak-tombak berbilah lebar dan membentuknya menjadi serupa dengan penampilan wujud Semar dalam wayang kulit. Di kalangan para penggemar tosan aji, dhapur  Semar yang seringkali memiliki bentuk sederhana dan garapan yang asal/apa adanya ini digolongkan sebagai jimatan, bukan keris maupun tombak, walaupun begitu masih dianggap sebagai tosan aji”.

FILOSOFI, Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa. Dalam naskah Purwacarita tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu adalah Semar. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung). Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa. Rambut semar “kuncung” maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai pribadi yang melayani. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria.

Banyak motif (teori) yang bisa menjelaskan bagaimana sosok semar dijadikan sebuah piyandel (sipat kandel). Dalam lakon wayang Semar sang Pamomong, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya adalah sosok yang menjadi rebutan para Raja (Pancawati, Ayodya, Indraprasta dan Astina). Karena dapat dipastikan bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya, yang akan dapat mengatasi segala macam paceklik maupun pagebluk melanda negeri. Bisa saja cerita/lakon pewayangan di atas mengilhami mereka yang terjun dalam dunia politik untuk mendapatkan “sarana” pengantar kursi kepemimpinan. Boleh-boleh saja kita memiliki syahwat di dalam politik, tetapi kita diingatkan untuk tidak menjadi “Semar yang mendem” (mabok). Karena seorang aparatur negara, sejatinya adalah pamong praja (pelayan masyarakat), mengemban tugas untuk merawat, mengayomi dan memelihara wong cilik (rakyat kecil). Bukan pangreh (penguasa, yang suka memerintah). Dan dalam situasi seperti saat ini, memang dibutuhkan sosok yang bisa menjadi pamomong (guru bangsa). Bisa memberikan nasehat dan wejangan yang bermanfaat bagi semua pihak.

Selanjutnya sejarah juga mencatat, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Dalam perjalanannya tokoh Semar keberadaannya pun masih dipertahankan oleh para Wali di Tanah Jawa, khususnya oleh Sunan Kalijaga. Sosok Semar selalu beliau gunakan saat berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Kepada masyarakat beliau selalu mengingatkan bahwa sosok Semar berasal dari bahasa Arab yaitu “Samir” Kata Samir berarti ahli makrifat. Ada juga yang berpendapat “Semar”  berasal dari kata “haseming samar-samar“. Bahwa sebagaimana cinta, ia adalah sesuatu yang samar. Bisa dirasakan namun tidak bisa dilihat secara nyata. Semar bukan laki-laki, juga bukan perempuan. Maknanya, cinta bisa datang kepada siapapun. Tidak peduli pria ataupun wanita. Setiap manusia di bumi pastilah merasakan cinta dan kasih sayang. Baik dari sesama makhluk maupun cinta dari Sang Ilahi. Sebagaimana cinta ataupun kasih sayang, adalah perasaan yang sebenarnya berada di tingkat makrifat. Maksudnya, cinta dan kasih sayang adalah rahasia perasaan. Hanya yang bersangkutan dan Gusti Ilahi yang tahu. Semar sendiri adalah sosok panutan yang dapat dijadikan teladan. Kehidupan Semar dipenuhi cinta dan kasih sayang kepada sesama. Hal itu pula yang membuat tokoh ini sangat dekat dengan berbagai hal yang identik/berkaitan dengan “asmara”. Rasa cinta kasihnya yang besar kepada semua umat manusia, menjadikan sosok Semar banyak dikagumi di masyarakat. Kehadiran Semar dalam dunia pewayangan sangat dinanti dan ditunggu banyak kalangan masyarakat. Kehadiran sosok Semar dapat dikatakan mem-pelet (membius) semua orang yang menyaksikannya. Hitam putihnya hal di atas mungkin yang dijadikan bagi beberapa orang, yang menjadikan semar sebagai “media” untuk memikat lawan jenis (pengasihan).

TANGGUH MPU NGADENI, Mpu Ngadeni adalah salah satu Pendekar Besi Nusantara yang masih tertinggal. Lahir di tahun 1933 (85 tahun) tentunya layak disebut sebagai “Pendetanya para Empu”, karena untuk menempa sebuah pusaka, seseorang tak cukup hanya mempunyai keahlian kasar, tapi juga kehalusan batin agar mewujud sempurna. Keunikan Mpu Ngadeni dalam membabar sebuah pusaka adalah masih mempertahankan cara-cara lama, diantaranya; pemilihan material (besi) yang cocok, pemilihan waktu tempa dihitung berdasarkan weton dan nama, njenang besi, penyepuhan, lelaku/tirakat, hingga sajen sebagai salah satu Puji Syukur kepada Tuhan YME masih dilakoninya. Demikian juga alat-alat besalen yang dilestarikan masih menggunakan merupakan warisan ayah dan kakeknya, diantaranya tampak dari ububan yang tetap dipertahankan dan tidak adanya alat-alat modern yang menggunakan daya listrik untuk finishingnya menambah kesakralannya tersendiri.

surat kekancingan berupa tulisan tangan asli Mpu Ngadeni, biasanya hanya dicorat-coret di atas kertas biasa

Jika keris dan tombak buatan Mpu Ngadeni bisa dikatakan sifatnya pemilih (karena bersifat lebih personal terlebih jika dikaitkan dengan adanya “cara lama” perhitungan waktu tempa yang didasarkan weton dan nama pemesan pusaka), berbeda halnya dengan dhapur Semar, yang dibabar bukan karena adanya pesanan khusus orang lain, melainkan dalam keadaan yang tidak dapat diduga waktunya. Seringkali melibatkan kejadian-kejadian di luar nalar, seperti misal sang Empu mendapatkan wisik melalui mimpi untuk mengambil sesuatu di suatu tempat tertentu, dan ketika mimpi itu benar dijalaninya, ia mendapatkan sesuatu yang persis ada di dalam mimpinya semalam. Benda-benda yang didapatkannya sesuai petunjuk mimpi ini kemudian di tempa menjadi dhapur Semar, dengan harapan siapapun pemegang pusaka ini nantinya dapat selamat dunia maupun akhirat. Mengenai dhapur Semar ini bisa dikatakan adalah satu kelebihan (gift) tersendiri dari Mpu Ngadeni, sebab menurut penuturan dari Sang Empu sendiri, ayahnya Karyo Diwongso tidak mendapat “pertanda” untuk membuat dhapur Semar. Mpu Ngadeni juga menuturkan jika dalam membabar dhapur Semar juga melewati rangkaian lelaku yang sama dengan misalnya membuat keris atau tombak pesanan. Kadangkala justru lebih berat.

Dhapur Semar buatan Mpu Ngadeni terlihat sangat khas dan berbeda dengan jimatan semar lainnya yang banyak beredar. Salah satu yang kentara adalah bentuknya yang selalu membulat seperti butir telor (ismaya), mempunyai kuncung, lubang mata, dan hidung dan telinga. Kadang kala Empu Ngadeni juga menggarap bagian tangannya secara samar. Meskipun hal-hal yang menyangkut esoteri menjadi bahasan yang abu-abu, sebagai tosan aji golongan tayuhan aura semar ini memang berbeda. Mereka yang memiliki kejernihan pikir dan kebersihan batin (mata hati) mungkin akan bisa menangkap atau merasakan daya perbawa bawaannya. Dan untuk kejelasan silsilah nantinya, setiap tosan aji yang dibabar juga selalu akan mendapatkan nama dari sang Empu. Dhapur Semar ini diberikan sebutan : Kiai “Unggul Cahya Rahayu“. Unggul berarti luwih atau lebih, sedangkan Cahya Rahayu adalah selamat (hidupnya). Sedangkan pamor (tiban) atau yang disebut “kodrat” dari Yang Di Atas oleh Mpu Ngadeni adalah Sekar Buwono, artinya “senang atau bahagia hidupnya di dunia”. ….. Aamiin

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.