Pamor Udan Mas

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950.000,-   (TERMAHAR) Tn. RHK, Sukorambi – Jember


  1. Kode : GKO-301
  2. Dhapur : Tilam Upih
  3. Pamor : Udan Mas
  4. Tangguh :  Madura (Abad XIX)
  5. Sertifikasi No : 811/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah 36,5 cm panjang pesi 7,3 cm, panjang total 43,8 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Kalimantan
  8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, pendok perak kurang utuh, gonjo winih dan sumberan

 

Ulasan :

Hujan turun membasahi sawah di balik emas padu,  padi melambai melalai terkulai …. Naik suara seruling serunai, sejuk didengar mendamaikan kalbu

PAMOR UDAN MAS, adalah salah satu motif pamor yang amat terkenal dalam dunia perkerisan. Pamor ini oleh sebagian pecinta keris dianggap sebagai pamor yang tuahnya dapat membuat pemiliknya terus diguyur berkah/rezeki yang deras. Sebagian lagi beranggapan bahwa tuah pamor ini dapat membuat pemiliknya jadi “bakat kaya”. Orang jawa menyebutnya kuwat kebandan.  Anggapan seperti ini tidak hanya ada di Jawa, tetapi juga di daerah-daerah lain, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pamor udan mas tergolong pamor mlumah, dimana pamor yang lapisan-lapisan saton-nya mendatar atau sejajar dengan permukaan bilah dan pamor rekan atau direncanakan oleh sang Empu. Serta tergolong pamor yang tidak pemilih. Artinya, siapa saja dapat memilikinya, tanpa khawatir cocok atau tidak. Bentuk pamor udan mas berupa bulatan-bulatan kecil yang tersebar di permukaan bilah keris atau tombak. Bulatan-bulatan ini terdiri dari lingkaran bersusun. Paling tidak, satu bulatan terdiri atas 3 puseran, lebih banyak puseran semakin menunjukkan garap  dan biasanya dengan pola formasi beraturan 212.

FILOSOFI, secara simbolis pamor udan mas (hujan emas) mengandung arti ‘kemakmuran yang menyeluruh bagaikan titik-titik hujan yang jatuh di sawah yang menguning subur laksana hamparan permadani emas, diakhiri dengan sukacita para petani. masa menuai memijak sejuk lumpur, membawa padi tuai dan lumbung-lumbung padi penuh”

Hidup kita tak jauh beda dengan padi yang ditanam para petani. Kita dipilih Sang Petani Agung, ditanam-Nya di suatu tempat yang dikehendaki-Nya, dirawat-Nya sedemikian rupa dengan kasih. Dia memberi kita makanan cukup dan mencabut para pengganggu kehidupan kita. Harapannya hanya satu: kita menghasilkan bulir-bulir padi, yang akan dapat dimanfaatkan sesuai kehendak-Nya. Namun, yang kadang terjadi, bulir hidup kita hampa-hanya sekam tanpa isi. Dan itu sangat mendukakan-Nya. Karena itu, marilah kita hasilkan bulir-bulir padi yang kuning berisi, kehidupan yang menjadi berkat tak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga kepada sesama makhluk. Itulah yang sungguh-sungguh dirindukan-Nya! Mari berbuah baik!

GONJO SUMBERAN, adalah pamor yang terletak di bagian wuwungan gonjo (sisi yang terlihat dari luar ektika bilah dimasukkan ke dalam warangka). Bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis, paling sedikit tiga lapisan. Hampir serupa dengan pamor winih, pada pamor sumber jumlah bulatan-bulatan yang mirip mata kayu tersebut biasnya berjumlah empat hingga enam buah puseran. Pamor sumber tergolong sangat baik dan banyak sekali dicari orang, karena dipercaya dapat membantu mendatangkan rezeki bak sumber/mata air yang tidak pernah kering, terus mengalir.

GANJA PAMOR WINIH, kata winih berasal dari bahasa Jawa, yang berarti bibit atau benih. Adalah pamor yang terletak di kedua bagian sisi samping ganja. Bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis (semacam mata kayu paling sedikit tiga lapisan gelang) diantara garis-garis pamor lain. Pamor winih tergolong baik dan banyak dicari orang, karena konon menurut kepercayaan yang ada di masyarakat,  jika pemilik keris memulai suatu usaha/pekerjaan akan tumbuh/berkembang. Seperti benih yang ditanam di dekat aliran-aliran air, yang dedaunannya tidak menjadi layu, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Dan segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil.

Secara umum penampakan udan mas ini lumayan utuh, walau tampak korosi di sisi-sisi pinggir bilahnya. Wilah termasuk tipis dengan rabaan besi halus dan sepuhan baja keras. Pamor juga tampak kurang kontras (kelem). Pamor winih dan sumberan pada bagian gonjo-nya memberi pulung tersendiri. Tantingannya terasa sangat ringan dan nyaring jika disentil. Tampaknya dahulu  oleh sang pemilik dan sang empu diniatkan mutrani tangguh Tuban/Pajajaran. Untuk warangka terbuat dari kayu timoho adalah lawasan/asli bawaan sebelumnya. Hanya saja pendok perak yang disandang sudah tampak kerepotan digerogoti sang Kala, terutama ujung pendok yang tidak utuh. Semua kami biarkan apa adanya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.