Tombak Sultan Agung Methuk Srasah Emas

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.959,000,-(TERMAHAR) Tn. J, Bandung


1. Kode : GKO-304
2. Dhapur : Tombak Panggang Welut (Kiai Bandotan)
3. Pamor : Tetesing Warih + Tunggak Semi
4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 837/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 29,5 cm, panjang pesi 16  cm, panjang total 45,5 cm
8. Keterangan Lain : methuk limaran srasah emas, tutup cendana wangi + alpaka, kolektor item


ULASAN :

PANGGANG WELUT,  adalah salah satu bentuk dhapur tombak luk lima (5) dan luk tujuh (7). Karena ada dua versi mengenai dhapur tombak panggang welut, sebaiknya jika menyebut nama dhapur tombak yang satu ini disebutkan pula jumlah luk-nya.

Bentuknya hampir mirip dengan tombak dhapur Panggang Lele, hanya saja bagian sor-soran tombak panggang welut tidak selebar  tombak panggang lele. Di sisi bilah yang menghadap ke bawah biasanya terdapat semacam bentuk yang menyerupai jenggot (walau tidak semuanya, banyak juga yang tidak). Di atas bagian methuk terdapat bungkul yang dilanjutkan dengan ada-ada sampai hampir tiga perempat bilah atau bisa lebih panjang lagi. Permukaan bilah bagian bawah biasanya ngadal meteng, sedangkan di atasnya secara perlahan berubah menjadi nggigir sapi.

Tombak Panggang Welut bukan tergolong tombak yang digunakan sebagai senjata fungsional dalam peperangan, melainkan sebagai senjata spiritual atau pusaka bagi pemiliknya. Oleh karena itu pada umumnya tombak dhapur Panggang Welut lebar, tebal dan berat. Sebagian penggemar tosan aji menyebut tombak dhapur Panggang Welut dengan sebutan dhapur Ula atau Ulan-ulan yang artinya menyerupai ular.

FILOSOFI YANG DITITIPKAN; Cucuku, kelak di masa depan kalian dapat hidup licin, pandai dan piawai sebagaimana welut (belut). Dan kemudian berkumpulah bersama welut-welut lain atau orang-orang pintar lainnya. Sebagaimana diajarkan Sunan Kalijaga lewat syairnya – Wong kang sholeh kumpulana – maka bangsa ini akan kuat dan cepat mencapai kemerdekaan serta kemakmuran,

TOMBAK DALAM SEJARAH, sebagai bagian dari tosan aji, tombak memiliki daya tarik dan kharisma (perbawa) tersendiri. Dengan wujud seperti yang banyak kita kenal, tombak memberikan kesan gagah, garang, tangkas dan perlindungan bagi seorang ksatriya, tatkala ia harus menghadapi musuh dari atas kuda perang, misalnya. Dalam aras budaya jawa, pusaka berupa tombak sebenarnya pernah ditasbihkan dalam kasta yang sangat istimewa. Jika keris sering dikaitkan dengan pergantian tahta, sejumlah tombak legendaris justru dijadikan simbol perebutan kekuasaan bahkan berdirinya sebuah keraton (perpindahan dinasti) .

Tombak Kiai Plered, misalnya, yang saat ini menjadi pusaka kebesaran Keraton Kesultanan Yogyakarta konon dalam legendanya berasal dari kemaluan Syekh Maulana Maghribi, mempunyai peran penting dalam gugurnya Aryo Penangsang, Adipati Jipang Panolan kala itu di tangan Danang Sutawijaya. Pada akhirnya tombak pusaka inilah yang menjadi simbol perpindahan kerajaan Demak ke Pajang. Bila Kiai Plered turut mengisahkan berdirinya tahta Pajang, maka tombak Kiai Baru Klinthing juga menjadi simbol perebutan kekuasaan pada era Pengging. Babad Mangir mengisahkan, tombak ini dimiliki oleh Ki Ageng Wanabaya, penguasa mangir saat itu, dipercaya sangat ampuh sehingga membuat gentar Panembahan Senopati. Kendati akhirnya Wanabaya tewas di tangan Senopati dengan jalan tipu muslihat, namun tombak yang menurut mitos berasal dari lidah seekor naga ini turut menandai berakhirnya kekuasaan Wanabaya – wilayah sebelah barat daya Yogyakarta.

Setali tiga uang dengan tombak Kiai Plered dan Kiai Baru Klinthing, tombak Kiai Slamet juga diyakini sebagai legitimator berdirinya kerajaan Mataram sebagai penerus yang sah dari kerajaan Majapahit. Setelah adanya perjanjian Giyanti pada akhir abad ke-18 (sigar nagari), dua (2) tombak Kiai Slamet dibagi rata untuk Kasunanan Solo dan Kesultanan Yogya. Di Surakarta tombak Kiai Slamet berbentuk seperti luku (bajak pembalik tanah) dirawat satu kesatuan dengan pusaka berupa kerbau Kiai Slamet, namun keberadaan tombak ini sangat tertutup sehingga jarang orang tahu tentang tombak ini. Sementara di Yogyakarta, tombak Kiai Slamet berbentuk laiknya garu (bajak perata tanah). Tombak ini digabungkan dengan kain kiswah ka’bah yang bergambar pedang Zulfikar dan dikenal dengan nama Kiai Tunggul Wulung – sebuah pusaka penolak bala dari serangan penyakit yang mewabah.

Nama-nama besar seperti tombak Kiai Plered, Kiai Baru, Kiai Slamet, dan nama-nama lain, sangat hidup dalam ingatan masyarakat akar rumput. Semua itu merupakan nama tombak pusaka yang dianggap memiliki mitos kelebihan tertentu. Lewat catatan sejarah atau kisah-kisah yang beredar, baik lewat panggung (kethoprak) atau penuturan orang tua, masyarakat awam semakin tahu banyak mengenai tombak-tombak “top’ pada masanya.

 

KISAH PEPERANGAN PATI DAN MATARAM, Dalam versi babad, sejarah Pati beriringan erat dengan Mataram Islam, bahkan lahir dari rahim yang sama. Sejarah kekuasaan Pati bermula dari ketika Kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya sebagai kelanjutan dari Kerajaan Demak Bintara menghadapi tuntutan hak Harya Penangsang (Jipang) yang merasa paling legal sebagai pewaris tahta. Untuk memadamkan “pemberontakan” ini Sultan Hadiwijaya membuat sayembara bahwa siapa yang bisa membunuh Harya Penangsang akan diberi hadiah. Dan, majulah para tamtama Pajang yang berasal dari Selo Grobogan, yakni Kyai Penjawi dan Kyai Pemanahan serta Ki Juru Martani  sebagai pengatur strategi dengan menggunakan seorang bocah bernama Danang Sutawijaya. Atas keberhasilan itu mereka berdua diberi hadiah alas (hutan) mentaok (mataram) dan bumi Pati. Pemanahan memilih alas mentaok plus harta kekayaan dari nadzar Ratu Kalinyamat karena terbalasnya kematian suaminya oleh Harya Penangsang dan menjadi Kadipaten Mataram di bawah Kerajaan Pajang. Sementara, Penjawi mendapatkan bumi Pati yang saat itu sudah merupakan kota dengan jumlah penduduk 10.000 jiwa, menjadi Kadipaten Pati juga di bawah Kerajaan Pajang (meskipun kenyataannya Mataram pada akhirnya justru mencaplok Pajang sebagai Bapak kandungnya). Karena dari rahim kelahiran yang sama inilah pihak Pati selalu berpendirian bahwa antara Mataram dan Pati secara politik sederajad, sehingga dipertahankannya hingga titik darah penghabisan. Berseberangan dengan logika Mataram, karena Pati merupakan bawahan Pajang dan semenjak Pajang takluk oleh Mataram, maka otomatis Pati menjadi bawahan Mataram.

Ketika pertama kali Mataram dan Pati harus berhadapan sebagai lawan, maka Tombak Kiai Plered yang menjadi simbol kekuatan Mataram di bawah Panembahan Senopati berhadapan langsung dengan tombak Kiai Bedru yang menjadi pusaka utama pertahanan Bumi Pati di bawah Jayakusuma (Pragola I). Diceritakan dalam Babad Pati, perang tanding antara Raja Mataram dan Penguasa Pati berlangsung berhari-hari tanpa melibatkan para prajuritnya. Walau akhirnya sang Adipati Pati  tewas di tangan Raja Mataram. Dan sekali lagi ketika Mataram di bawah tahta Sultan Agung harus berhadapan kembali dengan Pati di bawah pimpinan Pragola II, tombak Kiai Baru yang dipegang Lurah Kapedak, Naya Derma turut andil dalam kematian Adipati Pragola II.

Menurut catatan, setelah berakhirnya pemberontakan Pati, untuk mengenang sekaligus memberikan tanda jasa/penghargaan kepada semua orang yang dianggap andil dan turut serta menumpas pemberontakan Adipati Pragola II, Sultan Agung berkenan memberikan ganjaran baik kepada putra sentana dalem maupun abdi dalem mulai dari patih hingga prajurit biasa. Adapun penghargaan tersebut berupa keris berkinatah emas dan tombak serasah emas. Seperti untuk abdi dalem wadana kaliwon (bupati dan bupati anom) diberikan kinatah lung kamarogan, putra sentana hingga abdi panewu mantri  mendapatkan keris kinatah gajah singo. Sedangkan untuk ganjaran tombak berupa srasah kalacakra, atau ada yang bagian methuk-nya diberikan srasah sada saler atau limaran (tidak disebutkan peruntukkannya).

methuk limaran, emas ngunir bosok

LIMARAN, merupakan salah satu pola hias pada methuk (bagian dari tombak yang melingkari pesi, bentuknya menyerupai cincin yang tebal) tombak dan karah pedang. Wujud pola hias itu mirip dengan pola batik limaran, yang merupakan deretan pola segitiga diukirkan satu lingkaran penuh di sekeliling methuk atau karah dengan posisi saling menyilang (tepung gelang, Jw). Ada yang berpendapat bahwa limaran berasal dari kata limar, yaitu sejenis motif sutra yang melambangkan kemewahan.

KIAI BANDOTAN, bandotan (viper, luar negeri) adalah ular yang ahli menyamar,  patukannya paling cepat dibandingkan ular lain, hanya menyerang jika terancam dan meski kecil terkenal mematikan. Sebagai pusaka rawatan turun temurun, tombak ini terbilang masih sangat wutuh. Tingkat keutuhan ini tentu saja selain karena melalui perawatan yang benar juga didapat dari bahan material besi, baja dan pamor pilihan, yang tidak sembarangan. Besinya pulen, hitam, halus berserat berpadu kontras dengan pamor meteorit akhodiyat. Pada bagian pesi-nya masih tampak gilig utuh, sebuah keberuntungan tersendiri mengingat jarang ditemukan tombak dengan  kondisi pesi gilig utuh.  Methuk limaran srasah emas menjadi pengingat sisa-sisa kejayaan Panji Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung. Warna emasnya yang ngunir bosok menjadi salah satu penanda otentikasi emas tua yang sulit ditiru. Seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, beberapa area memang sudah kehilangan emasnya, hanya menampilkan guratan kalenan. Demikian juga tutup warangka yang terbuat dari cendana wangi dan menggunakan eksyen perak/alpaka sudah tidak dalam kondisi terbaiknya, namun wanginya tetap semerbak. Sebelumnya tombak ini dipasangkan dengan landeyan panurung (landeyan tombak yang biasanya digunakan oleh para prajurit pasukan kehormatan pada upacara penghormatan tamu agung, panjangnya dua kali dedeg/badan).

landeyan panjang panurung

PAMOR TUNGGAK SEMI, adalah salah satu motif pamor yang selalu terletak di bagian sor-soran suatu keris, tombak atau senjata pusaka lainnya. Bentuknya merupakan garis yang tidak beraturan, berlapis dan pada bagian puncak bentuknya seolah-olah sedang “tumbuh” seperti tunas yang sedang bersemi.

Tunggak (akar atau batang pohon yang sudah ditebang yang masih mengakar ke tanah dan berpeluang untuk hidup subur kembali), Semi (bersemi atau tumbuh kembali), artinya sesuatu yang dianggap sebagian orang sudah tidak ada (mati), dengan campur tangan Yang Maha Kuasa bisa kembali bersemi (hidup) serta tumbuh besar seperti sediakala, atau dengan kata lain menggambarkan dari sesuatu dari yang kecil nantinya akan menjadi sesuatu yang besar. Pamor ini sangat disukai oleh para pedagang atau para pemutar modal, karena percaya bahwa tuah pamor ini dapat membantu membalikkan usaha dari yang selama ini merugi menjadi memperoleh keuntungan, mengawal perjalanan usaha mereka, dari yang akan atau sedang memulai suatu usaha baru (diversifikasi) hingga membesarkan usaha yang telah ada sampai berhasil mendapatkan hasil yang dicita-citakan. Pamor Tunggak Semi tergolong pamor tiban, tidak dirancang lebih dahulu oleh sang Empu, sering dianggap berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Benar adanya bahwa suatu keberhasilan atau kesuksesan adalah di tangan Tuhan sedangkan manusia hanya bisa berusaha secara fisik maupun non fisik.

PAMOR TETESING WARIH, atau tirta tumetes atau juga disebut banyu setetes adalah salah satu bentuk gambaran pamor yang menyerupai tetesan-tetesan air yang tidak teratur. Secara umum ada dua bentuk pamor tetesing warih; yang pertama yang bulatan tidak teraturnya banyak di antara pamor wos wutah, dimana sampai kira-kira tahun 1920-an, yang disebut pamor udan mas adalah pamor tetesing warih bentuk pertama ini. Sebab pada zaman dahulu, yang disebut pamor udan mas haruslah pamor tiban. Yang kedua adalah pamor yang bulatan-bulatan kecilnya sangat sedikit sekali atau terkesan irit, terkadang tidak bulat benar, ada yang agak gepeng, ada yang mencong. Sebagian orang perkerisan lebih familiar menyebutnya dengan pamor nyeprit. Pamor Tetesing Warih dipercaya mempunyai tuah yang baik untuk membantu pemiliknya mencari rejeki. Pamor Tetesing Warih tergolong pamor mlumah yang tidak pemilih, siapa saja dapat memilikinya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.