Kujang Badak

Mahar : 2.950.000,-


xx
  1. Kode : GKO-302
  2. Dhapur : Kujang Naga (Badak?)
  3. Pamor : Salungkar
  4. Tangguh :  Cirebon/Pajajaran Akhir? (Abad XVI)
  5. Sertifikasi No : 812/MP.TMII/VII/2018
  6. Dimensi : panjang bilah 22,7 cm panjang pesi 4,3 cm, panjang total 27 cm
  7. Asal-usul Pusaka : Kediri, Jawa Timur
  8. Keterangan Lain : sudah diwarangi, mata/lubang tiga (3), sarangka dusun bawaan

Ulasan :

KUJANG MENURUT BERITA PANTUN BOGOR, berbicara tentang kujang, identik dengan berbicara Sunda masa Pajajaran silam.  Sebab, alat/senjata yang satu ini menjadi salah satu aspek identitas atau produk dari budaya Sunda kala itu. Namun begitu, dari jejak penelusuran kisah keberadaannya, sampai sekarang belum ditemukan sumber sejarah yang mampu memberitakan secara jelas dan rinci. Jika jujur harus dikatakan tidak ada sumber berita sejarah yang akurat, 90% sumber berita yang dapat dijadikan referensi/pegangan (sementara) mengenai kujang yaitu lakon-lakon pantun (berupa cerita atau wawacan yang dibawakan oleh seorang pemantun diiringi dengan petikan alat musik kacapi, biasanya hingga semalam suntuk). Sebab pemberitaan tentang kujang selalu terselip hampir dalam setiap lakon dan setiap episode kisah serial Pantun, baik fungsi, jenis, bentuk, dan para figur pemakainya serta bagaimana cara memakainya.

Pantun dalam bahasa Sunda = Carita Pararaton = Cerita Raja-Raja. Pantun Bogor = Cerita Raja-Raja khas Bogor. Pantun Bogor asal mulanya adalah Pantun Pajajaran, karena hampir seluruh episode ceritanya bermuatan kisah-kisah terakhir dari Keluarga Besar Kerajaan Pajajaran yang syarat dengan kepahlawanan, dan senandung derita karena intervensi dan intimidasi, bahkan embargo ekonomi Banten yang didukung Cirebon dan Demak. Pemantun Bogor awal abad 21 yang terkenal dengan sebutan Pa Cilong, menggantinya dengan nama Pantun Bogor, kemungkinan alasannya agar mudah diterima, sebab pada masa-masa itu Islamisme sedang gencar dilakukan masyarakat, mendengar kata Pajajaran bisa identik dengan Hinduis, kafir, syirik, musyrik dan sebagainya.

Di antara kisah-kisah pantun yang terhitung masih lengkap memberitakan kujang, yaitu pantun (khas) Bogor sumber Gunung Kendeng sebaran Aki Uyut Baju Rambeng. Pantun Bogor ini sampai akhir abad ke-19 hanya dikenal oleh masyarakat Bogor marjinal (pinggiran atau pedesaan). Mulai dikenal secara intelektual, setelah tahun 1906 C.M Pleyte (seorang warga negara Belanda yang besar perhatiannya kepada sejarah Pajajaran) melahirkan buku berjudul “Moending Laja Di Koesoemah”, berupa catatan pribadinya hasil mendengar langsung dari tuturan juru pantun di daerah Bogor sebelah barat dan sekitarnya. Menurut penelitiannya Pantun Bogor termasuk yang paling utuh jika dibandingkan dengan pantun-pantun daerah Jawa Barat sebelah Timur, baik dalam cara memainkan pantunnya, bahasa Sundanya, juga termasuk cerita sejarah yang dikisahkannya.

Tersebut pulalah Raden Mohtar Kala salah seorang sesepuh Bogor, menyalin naskah-naskah kuno Pantun Bogor dalam tulisan tangan, yang kemudian oleh 2 (dua) orang muridnya yaitu Anis Djatisunda (alm) dan R. Saleh Danasasmita (alm) diketik dan dibukukan.

ENAM (6) JENIS KUJANG DAN KELOMPOK PEMAKAI MENURUT PANTUN BOGOR :

  1. Kujang Ciung, ujungnya menyerupai kepala burung ciung (beo). Ciung/beo adalah burung yang rupanya elok. Penampilannya gagah ketika burung tersebut bertengger di atas ranting. Burung itupun lincah, serta nyaring jika berkicau. Sifat-sifat burung ciung merupakan cerminan kecerdasan, kepandaian berdiplomasi dan tampang rupawan. Burung Ciung menjadi simbol pencitraan yang positif bagi masyarakat Sunda. Pada jaman dahulu kujang ciung ditentukan oleh banyaknya lubang/mata dipakai oleh bangsawan yang berkedudukan tinggi yaitu raja, prabu anom (putra mahkota) dan brahmesta (pendeta agung kerajaan). Pada jaman sekarang kujang ciung cocok dimiliki oleh elite politik, pejabat pemerintahan, pemuka agama yang harus menarik, cerdas, pandai, terampil dan mampu menyerap/belajar ilmu pengetahuan dari siapapun dengan cepat.
  2. Kujang Jago, ujungnya menyerupai kepala ayam jago. Jago adalah ayam (simbol kejantanan) yang selalu ingin betarung melawan pesaingnya. Bentuk kujang ini memang sangat menyerupai bentuk ayam jago yang sedang kongkorongok dengan paruh menukik dan jawer menghiasi kepala. Pada jaman dahulu kujang jago dipakai sebagai jimat atau simbol balapati, dan dipakai oleh para lulugu dan sambilan. Pada jaman sekarang kujang jago cocok djadikan ageman para perwira TNI/POLRI dan para elite politik yang harus kuat, berani, dan selalu waspada terhadap pihak lain yang akan mengancamnya.
  3. Kujang Kuntul, ujungnya menyerupai kepala burung kuntul. Kuntul adalah unggas yang daya jelajahnya jauh, dan pandai mencari mangsa. Perawakan yang kurus dan tinggi mengilhami bentuk kujang yang meruncing dan memanjang, tidak pendek seperti kujang ciung dan kujang jago. Kujang kuntul pada masa lalu dimiliki oleh Patih dan Para Mantri. Pada jaman sekarang kujang kuntul dianggap cocok sebagai ageman pengusaha yang harus bekerja keras dan meningkatkan kemampuan untuk bersaing dalam dunia usaha.
  4. Kujang Naga, Ujungnya menyerupa kepala naga. Naga adalah makhluk mitologi dunia atas yang kuat, besar dan sakral. Naga sering dijadikan simbol superioritas. Kujang naga memiliki ukuran yang besar dengan siih (luk) yang menyebar di bagian tonggong (punggung). Jaman dahulu kujang naga dipakai oleh para kanduru dan para jago. Pada jaman sekarang kujang naga cocok sebagai ageman para pemimpin, elite politik atau wakil rakyat.
  5. Kujang Bangkong, ujungnya menyerupai kepala bangkong (kodok). Bangkong/kodok adalah binatang yang kerap hidup lubang yang datar dan perairan dangkal, senantiasa menanti mangsa yang lewat, seperti serangga, lalat dan nyamuk. Kujang Bangkong dipakai oleh para Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas dan Guru Cucuk yang memahami kearifan budi pekerti. Pada jaman sekarang kujang bangkong cocok sebagai ageman bagi para Pakar/Pengajar/Guru/Dosen yang senantiasa menetap mencari ilmu alamiah, beramal alamiah. Karna zaman dahulu guru ilmunya didapat dari alam sekitar, dan sedikit bertanya kepda orang lain karena membatasi pengaruh.
  6. Kujang Badak, Seperti kepala badak. Badak adalah binatang besar, keras dan berani menyeruduk apa saja yang menghalanginya karena kemampuan menengoknya yang amat terbatas. Pada jaman dahulu kujak badak banyak dimiliki oleh para Pangwereg, para Pamatang, para Palongok, para Palayang, para Pangwelah, para Bareusan, Parajurit, Paratulup, Sarawarsa, dan para Kokolot. Pada jaman sekarang kujang badak dianggap cocok sebagi ageman bagi mereka yang bekerja dalam dunia hukum yang berani dan harus teguh pendiriannya atau para anggota/militer yang harus kuat, berani, membidik, menerjang dan mengalahkan musuh namun patuh terhadap perintah atasan.

MATA KUJANG, menurut Pantun Bogor, Kujang dijadikan ageman dan simbol status pemegangnya. Atau dengan kata lain, dalam pemakaian kujang, orang yang memakai kujang tersebut harus sesuai/jodoh dengan jenis kujang dan matanya, disebutkan :

  1. Kujang Ciung mata 9 :  Prabu (Raja) dan Brahmesta (Pandita Agung Kerajaaan)
  2. Kujang Ciung mata 7 :  Prabu Anom (Putra Mahkota) dan Para Pandita.
  3. Kujang Ciung mata 5 : Para Bopati/Adipati (Raja Bawahan),  Geurang Seurat (Wakil Bopati), Para Mayang ( Wanita Keluarga Kerajaan ).
  4. Kujang Ciung mata 3 :  Para Puun (Kepala Adat),  Para Kania  (Gadis Keluarga Kerajaan)
  5. Kujang Kuntul : Patih ( Perdana Menteri ), Para Mantri  (Pembantu Kerajaan)
  6. Kujang Jago :  Balapati  (Panglima Perang),  Para Lulugu (Kepala Pasukan)
  7. Kujang Naga :  Kanduru (Utusan/Kepercayan Raja),  Para Jaro  (Tetua Masyarakat)
  8. Kujang Badak : Para Sarawarsa, Para Jurit, Para Tulup, dll.
  9. Kujang Bangkong : Para Guru  (Ahli /Tukang).

Jika hendak menyebut nama dhapur keris dengan mudah kita bisa melihat melalui jumlah luk serta ricikan-ricikan yang menyertainya, seperti kembang kacang, sogokan, greneng, dan lain sebagainya. Namun tidak sama halnya dengan  kujang. Dalam kujang tidak mengenal pakem ricikan seperti yang ada pada keris. Meski memiliki struktur dasar atau pola yang terdiri atas bagian-bagian yang tidak dimiliki oleh senjata lain, seperti papatuk, siih, mata, tadah dan sebagainya. Penamaan jenis-jenis Kujang (dhapur, jw) lebih berdasarkan kemiripan bentuk suatu makhluk hidup, sehingga dalam penamaannya juga menggunakan nama-nama binatang.

Untuk dapat menyebut nama sebuah kujang, diakui maupun tidak diakui kita akan diajak berimajinasi atau mengintepretasikan secara visual sehingga sering menimbulkan perbedaan persepsi. Seperti bentuk kujang yang ada kali ini, jika orang jawa wetanan menamakannya ‘kujang naga’, orang jawa kulonan justru menyebutnya dengan ‘kujang badak’. Meski sudah mulai tergerus sang waktu, namun eksotismenya seolah belum pudar. Besinya sangat halus, ringan sekali dengan pamor garis-garis sulangkar (mrambut, jw). Ukuran kujang ini termasuk paro (gede 31-32 cm, duatilu 25-27 cm, paro 23-24 cm, leutik 10-11 cm) dan memiliki jumlah mata 3 (tiga). Dulunya bagian lubang/mata biasanya ditutup dengan emas/perak/batu mulia dan penanda status sosial. Semakin menarik lagi, bagian belakang tadah seolah terdapat bekas pijitan ibu jari.

PAMOR KUJANG , kujang-kujang sepuh buatan jaman kerajaan dahulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis (sulangkar) dan bintik-bintik (tutul) yang tidak beraturan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.