Mahar : 3,950,000,- (TERMAHAR) Tn. MR, Malaysia
- Kode : GKO-210
- Dhapur : Sengkelat
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : Mataram Abad XVI
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 164/MP.TMII/II/2017
- Asal-usul Pusaka : Jakarta
- Keterangan Lain : warangka gandar iras, deder unyeng pikul, sogokan depan tembus (bertuwa)
Ulasan :
CERITA SENGKELAT, dalam kisah perjalanan Empu Supa guna mencari Keris Kiai Ageng Sengkelat yang hilang dari gedong pusaka Majapahit terekam dalam manuskrip Babad Tanah Jawi dan dalam manuskrip Wiryodiningratan (tanpa nama, dibuat sezaman denan Kitab Centini jaman PB IV). Dalam manuskrip Wiryodiningratan dikisahkan perjalanan Empu Supa mencari keris yang hilang dimulai ke wilayah barat, melalui Pelabuhan Banten kemudian menyeberang ke pulau Suwarnadwipa (Sumatera) hingga ke Palembang, Jambi dan ke Minangkabau. Dikisahkan juga bahwa untuk bekal perjalanannya Empu Supo banyak membuat bakalan keris dari bahan-bahan yang ia peroleh dalam setiap persinggahan di berbagai daerah ketika melakukan perjalanannya. Dalam manuskrip itu juga diceritakan bahwa Empu Supo akhirnya mendapatkan petunjuk dari Raja Palembang (tidak didebutkan namanya) mengenai keberadaan keris Sengkelat (Kanjeng Kyai Purworo) yang dicarinya. Raja Palembang tersebut juga memberika petunjuk bahwa Empu Supo harus kembali ke Tanah Jawa dan menyisir pantai utara Pulau Jawa menuju ke Timur karena keris Sengkelat yang dicarinya berada di tangan Raja Siung Laut di Blambangan (sekarang Banyuwangi dan sekitarnya).
Kisah yang lain bersama dengan Kyai Singkir, seorang Empu dari Madura, Supa membuat 40 kodhokan (keris dalam bentuk kasar, belum selesai) dan membawanya lewat jalan laut ke Blambangan dengan mengubah namanya menjadi Kiyai Kasa dan mengaku berasal dari seberang lautan. Di Blambangan Kyai Kasa mengganti namanya dengan Kyai Pitrang, lalu magang pada Kiyai Sarap, yang menerimanya karena terkesan dengan kerajinan muridnya.
Patih Blambangan ingin membuatkan sebuah pisau untuk putranya dan memesannya pada Sarap. Sarap menugaskan muridnya menyelesaikan pesanan tersebut. Sesudah pisau selesai dan putra sang Patih meninggal hanya karena tergores olehnya dan juga sebatang pohon kemuning yang tergores langsung menjadi kering. Maka sang Patih sadar, bahwa si pembuat pisau ini pasti juga membuat senjata yang handal. Keesokan harinya ia kembali menemui Sarap dan memesan sebilah keris untuknya, dan salam waktu yang singkat diselesaikan oleh muridnya, Pitrang, dengan dhapur Tilam Upih serta sebuah wahos (tombak) dengan dhapur Biring, yang kemudian diserahkannya kepada Patih yang menerimanya dengan terpesona. Sang Patih lalu mengangkat Pitrang menjadi saudara dan menceritakan kehebatan Pitrang kepada atasannya Adipati Siyung Laut. Adipati ini memanggil Supa dan memerintahkannya mutrani/membuat sebilah keris yang sama dengan keris yang dimilikinya. Pitrang menyanggupi dan memohon disediakan sebuah besalen yang bersih dan gelap agar ia dapat bekerja dengan baik dan mendapat wahyu dari para Dewa. Ia pun meninta wesi budha (besi yang sangat tua) dan baja dan pamor, dan berjanji akan menyerahkannya segera setelah keris itu selesai, tanpa warangka.
Besalen yang gelap itu masih ditutup dengan tabir dari kain dan sang Patih menyerahkan Kyai Sengkelat kepada sang Empu, ia berjaga di luar kain penutup serta mengurus sajen dan dupa, lalu tertidur. Pitrang segera membuat 2 buah putran, menyelinap sebentar keluar dari besalen, untuk menyembunyikan Sengkelat yang asli dibawah batu di sungai, kemudian kembali dan menyelesaikan pekerjaannya.
Pada waktu ia menyerahkan kedua keris buatannya kepada sang Patih yang terbangun dari tidurnya, Patih bertanya yang mana dari keduanya yang asli. Pitrang menjawab Ia tidak tahu lagi. Pada saat ditanya oleh sang Adipati, jawabannyapun demikian dan mengusulkan agar keris-keris itu dicoba dimasukkan ke dalam sarungnya. Ternyata keduanya dapat masuk dengan tepat ke dalam sarung. Sang Adipati lalu memutuskan, bahwa keris yang berbuat demikian tidak boleh dibuat lagi dan meskipun bukan seorang Raja, tetapi karena rasa terima kasihnya ia mengangkat Pitrang menjadi Pangeran dengan nama Sendang serta menikahkannya dengan putrinya.
TANGGUH MATARAM, Meski pamor tampak dominan “menguasai” seluruh permukaan bilah besi dengan diselingi titik-titik atau garis-garis akhodiyat tetapi masih bisa menampilkan pakem “sederhana tetapi berisi” dari keris sengkelat. Barangkali jika dilakukan pewarangan (jamas) ulang titik-titik akhodiyatnya akan semakin terbaca. Kembang kacang nguku bimo, dengan bentuk pejetan persegi khas keris bertangguh Mataram pada umumnya. Jika kita raba pada bagian tengah wilah, bagian ada-ada-nya mesih terasa dan kentara menambah kesan ketegasan dari seorang pemimpin. Pada ricikan sogokan depan maupun sogokan belakang tampak dibuat lebar dan dalam oleh sang Empu, kadangkala harga yang harus dibayar biasanya adalah pada saat ini banyak diketemukan dalam kondisi sogokan telah tembus. Meski begitu sengaja kami biarkan apa adanya, karena merupakan bagian dari perjalanan kisahnya tersendiri. Tidak dilakukan penambalan atau sentuhan kreatif lainnya yang justru akan menghilangkan nilai ontentiknya. Sogokan yang combong seperti ini, oleh orang-orang tua jaman dahulu dinamakan “bertuwa“, simbol keberuntungan, dimana dipercaya dengan melihat melalui celah yang ada bisa digunakan untuk menerawang masa depan atau sebagai sarana untuk mengikat hati lawan jenis. Pesi masih tampak masih bisa diandalkan wutuh menunjang bilah, berbentuk agak pipih (persegi), beberapa banyak ditemui pada era Mataram Sultan Agung. Sedangkan gonjo wulung tanpa pamor yang berwarna hitam kehijauan selain menambah nilai artistiknya tersendiri juga sebagai pasangan setia yang mendampingi dengan penuh kehalusan dan kelembutan. Lubang pesi dengan gonjo yang rapat dan sindik atau pangselan pesi yang mengunci juga masih rapat menambah orisinilitasnya.
(warangka gandar iras memerlukan jumlah kayu 3 hingga 4x lebih banyak dari yang biasa)
(unyeng pikul)
Untuk sandangan atau perabot dalam rasa sudah pantas cukup pantas mendampingi. Pemilihan warangka gandar iras tentu saja memerlukan pengorbanan (cost) yang lebih besar karena akan menghabiskan bahan yang lebih. Pola cecekan pada hulu atau jejeran digarap dengan lumayan halus, dengan “bonus” mistik unyeng pikul (unyeng-unyeng kayu yang terletak di bahu belakang hulu keris, tuahnya diyakini akan membuat pemiliknya mempunyai kemampuan memikul tugas-tugas berat dan misi-misi penting yang diamanatkan kepadanya serta dapat dipercaya oleh atasannya. Dijaman dulu hulu keris jenis ini banyak dicari oleh abdi dalem keraton dan pegawai pemerintahan, kalau saat ini mungkin para PNS dan TNI/POLRI agar kariernya cepat menanjak). Pasangan mendak tumbaran-nya juga berbahan lawasan dari kuningan sari.
PAMOR BERAS WUTAH, Jika kita renungkan bersama, sebutir beras akan memiliki sebuah cerita tersendiri yang bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran hidup. Semua dimulai dari tanaman padi. Yang dipanen oleh para petani setelah menguning, dan dipukuli ke sebuah papan agar bulir-bulir padi itu bisa jatuh (rontok) dan dikumpulkan. Bulir-bulir padi yang rontok tersebut, akan dibawa dan ditaruh kedalam sebuah lesung untuk sekali lagi, dipukuli oleh alu-alu. Bulir-bulir padi ini akan lepas dari kulitnya dan akan berubah menjadi butir-butir beras. Setelah itu, semua itu akan dikumpulkan, dikarungi dan dijual sebagai beras siap masak.
Mari kita bayangkan jika beras itu adalah jati diri kita masing-masing. Dimulai dari awal pertumbuhan. Pada saatnya akan ‘menguning’-matang dengan seiiringnya waktu. Pematangan ini pun tergantung dari kondisi tanah, yang bisa kita artikan kondisi lingkungan di mana kita tumbuh. Namun satu hal yang pasti, jika memang bibit padi itu adalah bibit unggul, maka ia pun akan tumbuh dengan baik.
Setelah ‘matang’ maka kepribadian beras itu diuji. Dibanting dari batang utamanya, seperti saat sebagai taruna atau sebagai seorang individu, ‘dilepas’ untuk merantau di dunia nyata. Setelah kita semua ‘lepas’ dari batang utama kita, yaitu orang tua kita, maka kita dihentak, di’alu’ oleh kenyataan dunia. Setelah bulir-bulir padi itu lepas dari sekamnya, semua karakter sesungguhnya dan apapun yang menutupi jati diri kita yang sebenarnya akan ‘terkupas’ dan menunjukkan apa buah atau inti sebenarnya.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com
————————————













Mantap
putihnya banyak hitamnya sedikit hehe…
Keris yang benar benar hebat dari segi garap semoga keris ini bisa cepat mendapat ruan barunya hehehehe……salam budaya
Matur sembah nuwun apresiasinya bpk Wicaksono.. Amiin… amiin… semoga secepatnya mendapatkan tuan barunya