Panimbal TUS Warangka Cendana Wangi

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ? (TERMAHAR) Tn. A, Pamulang Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-310
2. Dhapur : Panimbal
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 921/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 37,5 cm, panjang pesi  7,2 cm, panjang total 44,7 cm
8. Keterangan Lain : sogokan kandas waja, warangka cendana wangi, pendok lapis emas


ULASAN :

dhapur Panimbal puniku | ngawruhana carita | ingkang uwus tumimbal mring liyanipun |.. Serat Centhini

PANIMBAL, adalah salah satu bentuk dhapur luk sembilan. Ukuran panjang bilahnya sedang, memakai ada-ada, sehingga pemukaannya nggigir lembu. Ricikan lainnya adalah kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Keris dhapur Panimbal tergolong populer. Pada zaman dulu keris dhapur Panimbal banyak dimiliki kalangan abdi dalem karena dipercaya memiliki tuah yang menyebabkan pemiliknya dipercaya oleh atasannya (termasuk raja) untuk melaksanakan berbagai tugas. Menurut Serat Centhini Dhapur Panimbal pertama kali dibabar (diciptakan) oleh 800 empu yang disebut Empu Dhomas, sekitar tahun jawa 1381 pada jaman Raja Brawijaya akhir.

FILOSOFI, Bentuk Panimbal, maksudnya supaya mengetahui cerita yang sudah berpindah kepada orang lain. Panimbal dalam bahasa Indonesia berarti Pemanggil (= kata benda atau nomina, orang yang memanggil). Pada Jaman dahulu adalah suatu kehormatan besar jika seorang Abdi Dalem di-timbali (dipanggil menghadap) Ngarsa Dalem (Raja). Biasanya ada sesuatu yang dianggap sangat penting atau sifatnya urgent (mendadak) sehingga titah atau dhawuh-nya (perintah) harus disampaikan langsung. Hanya orang-orang terdekat atau kepercayaan sang Raja atau istilah sekarang ini adalah “Ring Satu Istana”, yang akan mendapat kehormatan dan kepercayaan itu.

Untuk mendapatkan kepercayaan dari Raja tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka yang dianggap  setia pada Rajanya serta telah berjasa kepada Kerajaannya lah biasanya yang berhak mendapat kalungguhan (kedudukan). Untuk menjadi kepercayaan Raja, orang tersebut harus “memanggil” semua hal terbaik yang ada pada dirinya. Mereka harus mampu menjadi jiwa petarung. Jiwa petarung bukan kuat secara fisik bagai banteng yang kalap dan tak terkendali. Melainkan sikap yang tegar berani dan pantang mundur dalam segala medan yang dilaluinya. Jiwa petarung adalah wujud seni; sinergi antara kekuatan dan kebijaksanan.

Ada kepercayaan unik di kalangan pecinta keris. Mereka yang mendalami dunia esoteri tosan aji percaya bahwa keris panimbal merupakan salah satu magnet pemanggil keris-keris lain yang ingin atau belum dimilki, juga sebagai sarana pemanggil rejeki yang seret/mampet.

sogokan kandas waja

TENTANG GARAP, Secara kesuluruhan keris Panimbal ini masi bisa dikatakan utuh mulai dari pesi, sekar kacang juga ricikan greneng-nya. Bagian sor-soran-nya seolah sedikit lebih lebar dibandingkan keris Mataram umumnya, demikian juga dengan bagian pangkal kembang kacang yang lebih masuk ke dalam membuat jarak/spasi dengan jalen, serta mengesankan kembang kacang yang lencir memanjang (gula milir).

Bentuk sogokan pada keris panimbal ini juga berbeda dari keris mataram biasanya. Keris dengan sogokan kandas waja seolah ingin menampilkan superioritas dimana garap dan material besi baja menjadi lebih utama dari sekedar tampilan pamor. Sogokan kandas waja menjadi media atau ruang kreativitas dari Sang Empu untuk menampilkan skillnyaBerbeda dengan keris Mataram Senopaten dan Mataram Sultan Agung yang dalam pembuatan pada bagian sor-soran digapit pamor sehingga walau dalam digerus untuk membuat pejetan dan sogokan, besi bajanya tidak akan terlihat. Bentuk sogokan kandas waja yang ada tampak natural tidak tampak terlalu dalam, pertanda sang empu sudah memperhitungkan peletakan posisi saton pada dua sisi. Resiko kegagalannya karna dibuat dalam dan tipis akan menjadi lebih rawan aus/tembus/bolong. Keris-keris dengan bentuk sogokan kandas waja bisa menjadi salah satu penanda/ciri suatu Empu/Tangguh, biasanya banyak terdapat pada keris Mangkubumen. Membuat bentuk janur yang tipis dan tajam diantara sogokan depan dan belakang juga merupakan sebuah tantangan sendiri. Kecermatan dan ketelitian sang Empu diperlukan saat menatah bagian ini supaya tidak meleset/merusak.

Besi pada pusaka ini sepertinya telah mengalami proses “sangling”, sebuah tradisi merawat pusaka yang umum di masyarakat Bali dan Lombok. Mereka mempercayai untuk “memelihara” keris secara fisik dan non fisik (tetap memancarkan getaran kekuatan daya magis), sebuah keris pusaka haruslah bersih dari karat, pamor tampak cemerlang, dan besinya mencapai tingkat warna yang pas (tidak gosong atau masak muda). Untuk itu dilakukan berbagai tindakan untuk “membersihkan” keris, termasuk pula menggosok dan mengasah, bahkan bila perlu mengamplas, sebuah proses yang tidak dilakukan dalam tradisi “mencuci” keris di Jawa (Surakarta dan Yogyakarta). Namun begitu proses “sangling” pada keris sepuh juga banyak ditemukan di daerah Jawa Barat (Sumedang). Umumnya keris hingga golok Sumedang Larang disangling juga.

PAMOR BERAS WUTAH, Jika dalam motif batik disebutnya Beras Kecer adalah motif  bentuknya berupa butiran-butiran menyerupai beras yang tersebar. Maknanya pun sama, Beras Kecer/Wutah bermakna pengharapan untuk kemakmuran dan rejeki yang melimpah. Bagi lelaki Jawa yang telah menikah, pamor ini juga mengingatkan akan tanggung jawab lelaki sebagai kepala keluarga untuk bertanggungjawab menghidupi / menafkahi keluarganya yang berupa sandang pangan, sebagaimana tercermin dari ritual “kacar-kucur” pengantin Jawa, dimana pihak lelaki “menumpahkan beras” ke tempat yang telah disediakan pihak perempuan. Arti simbolis ritual ini juga berarti bahwa rejeki yang didapat sang suami “tidak lari kemana-mana“ selain ke istri sendiri – yang sekaligus menjadi pengelolanya. Pamor ini juga sebagai pengingat simbol kesetiaan seorang pria yang sudah berumah tangga (baca = suami). Istri-lah tempat kita kacar-kucur. Istri tempat menampung/menyebarkan benih dan lahirlah anak-anak kita. Berat-susahnya beban hidup dipikul bersama.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *