Ron Genduru Malela Kendaga

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.000,000,- (TERMAHAR) Tn. ON, Jelambar Jakarta Barat


1. Kode : GKO-306
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Ron Genduru
4. Tangguh : Cirebon/Demak? (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 863/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Cirebon
7. Dimensi : panjang bilah 29,5 cm, panjang pesi 7 cm cm, panjang total 36,5 cm
8. Keterangan Lain : warangka cirebon + pendok perak lamen, besi malela kendaga


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah  salah satu bentuk keris lurus yang sangat populer. Meskipun ricikan-nya sederhana ; gandik polos (hanya pejetan dan tikel alis) dan buntut polos (tanpa tingil, ri pandan atau greneng) tidak membuatnya kalah pamor dibandingkan keris-keris lainnya.

FILOSOFI, Banyak yang meyakini bahwa “pusaka’ (ampuh) yang berwujud keris memiliki bentuk-bentuk sederhana, seperi halnya Tilam Upih. Pusaka dalam Kamus Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang berharga dan memberi manfaat. Namun demikian, manfaat itu hanya diperoleh bagi yang mengetahui makna atau pesan yang tersirat dalam wujud keris itu. Keris sebagai hasil karya kebudayaan di masa lampau memiliki wujud dan pesan simbolik, perlambang dari doa atau pesan budi luhur yang disampaikan secara turun temurun antar generasi.

Dalam arti harfiah Tilam Upih adalah tikar yang terbuat dari anyaman daun upih (sejenis pinang) sebagai tempat pembaringan atau tempat berisitirahat. Dalam makna yang lebih luas ‘Tilam Upih’ dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau keluarga. Maka makna sesungguhnya dari keris Tilam Upih adalah membawa keteduhan dan keselamatan. Konsep doa yang diharapkan dalam keris Tilam Upih adalah agar pemilik atau penghuni rumah yang merawat keris Tilam Upih akan selalu mendapatkan ketentraman berumah tangga dan keluarganya akan selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan YME. Menurut pitutur orang tua jaman dahulu, salah satu wali songo, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin di bawah dan ketika jaya di atas.

TANGGUH CIREBON, Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda di bawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten dan pada tahun yang sama pula Orang Belanda yang datang ke Cirebon itu pula melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai. Sebagai kota pelabuhan yang cukup ramai, tentunya Cirebon adalah kota yang penduduknya cukup banyak berinteraksi dengan penduduk luar. Beragam etnis ada di Cirebon. Pedagang-pedagang Tionghoa, India, Arab dan dari seluruh Nusantara, bersandar di Cirebon. Akulturasi budaya ini dapat kita lihat juga dalam budaya kerisnya. Melihat keris Cirebon termasuk paling kaya baik style bilahnya maupun keanekaragaman warangka serta hulunya. Secara bentuk, keris Cirebon banyak mendapat pengaruh inspirasi dari unsur luar. Keris Cirebon sepuh, terpengaruh oleh keris Pasundan. Dalam perkembangannya keris Cirebon dipengaruhi juga oleh keris Mataram, bahkan ada pula keris Cirebon yang terinspirasi dari keris luar Jawa (Bugis misalnya). Keris Cirebon banyak yang berbilah panjang atau corok (lebih dari 38 cm) dan banyak dari keris Cirebon ini berluk 5.

Meski pamor miringnya hanya menyisakan sedikit cerita kejayaan di masa lalu namun bintangnya seolah belum meredup.

Ada sebagian orang berpendapat bahwa keris Cirebon kurang bagus dalam bahan dan teknik tempa. Pendapat ini bisa disanggah, sebab dalam kenyataannya keris Cirebon yang keluar pada era Mataram menggunakan bahan yang cukup bagus. Begitu pula dengan bahan pamornya, ada sebagian orang yang menyatakan bahwa pamor keris Cirebon hanyalah pamor sanak, jarang sekali menggunakan pamor yang bagus (nikel alloy atau meteorit). Pendapat cirebon inipun bisa memunculkan sanggahan mengingat Cirebon sebagai kota Pelabuhan (internasional), tentunya perdagangan besi, baja , dan bahan pamor pada waktu itu cukup ramai di Cirebon.

warangka perahu labuh, pendok perak, dan garan kepompongan semuanya lawasan

Srangka dan Garan yang ada pada pusaka ini terbilang cukup menarik karena masih menyertakan orisinal bawaan sebelumnya dalam kondisi masih cukup baik. Srangka perahu labuh dilengkapi pendok perak, simbol perahu yang tengah berlabuh di bandar, berpadu manis dengan Garan kepompongan, sebuah refleksi kehidupan; ulat harus berubah menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu, sedangkan manusia lahir sebagai bayi yang kemudian menjadi anak-anak terus berkembang menginjak remaja berubah sebagai manusia dewasa untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tua-nya.

Menilik geografi atau lokasi terakhir kali pusaka ini didapatkan berasal dari daerah Cirebon kota, berikut sandangan yang menyertai juga kental dengan gagrag kulonan, dan material besi malela khas pesisiran, kecenderungan   untuk menangguh Cirebon pun mendasar. Namun jika melihat tantingan yang sangat ringan, bilah ramping seperti membawa pengaruh Majapahit, dan besi yang semburat kekuning-kuningan, beberapa orang lebih condong ke tangguh Demak.

RT Waluyodipuro dalam tulisannya “Seserepan bab Dhuwung tuwin ubarampe saha lalajenganipun” menulis lebih detail lagi, dimana pada jaman kerajaan kraton Bintoro/Demak terdapat tiga Empu :

  1. Empu Purwasari (putra Rara Semboga)  yasan dhapur : brojol, tilam upih dengan ciri pamor bantat arusoh (keras kaku agak kotor), beliau juga yasan pedang Lameng dengan ciri besi berwarna biru, pamor jelas, dan bagian pesi mempunya ciri belang dua.
  2. Empu Purwatanu (putra Empu Purwasari), jaman peralihan Demak – Pajang, yasan dhapur : brojol dengan ciri gonjo nguceng mati semu kidhung (mirip ikan kecil mati agak malu-malu), bilah tipis sekali, pamor beras wutah dengan sepuh dilat. Selain itu beliau juga yasan dhapur lain seperti jalak ngore, tilam upih, jalak sangu tumpeng dengan ciri yang sama.
  3. Empu Subur (putra Empu Gedhe dari Banyumas), hingga pindah ke Pajang tidak pernah membuat keris, tombak ataupun pedang. Hanya membuat pangot, arit, pacul, gobang, wadung. *(kemungkinan dari sini adanya pitutur lisan maupun tulisan yang menyatakan budaya keris kerajaan Demak Bintoro kurang mendapat perhatian  dari pusat kekuasaan digantikan  oleh Wedung, yang sebenarnya masi debatable karena menurut sejarah Demak Bintoro lebih memilih  teknologi mesiu untuk mengimbangi Portugis ).

MALELA KENDAGA,  Yang terasa istimewa apabila dibandingkan dengan pusaka-pusaka lain, jika pasir malela biasa kristal-kristal yang berkerlip akan membiaskan warna putih keperakan, sedangkan material pada bilah ini jika diamati di bawah sinar matahari tampak semburat emas yang kekuning-kuningan. Orang menyebutnya dengan malela kendaga. Besi jenis ini pada jaman dahulu sangat disukai oleh para Raja sehubungan dengan daya keampuhannya. Dan saat ini menjadi target utama mereka yang mendalami dunia esoteri. Pada buku Serat Cariyosipun Para Empu ing Tanah Jawi 1919; ada cuplikan dalam bentuk tembang asmardana yang berkesan sakral : ‘pamore ngelamat kuning/ semu garing ingkang tosan/ kuning ingkang semu ijo/ milane tan kena kelar/ ingkang ngaku kedhotan/ wong desa kang ngaku teguh/ dicuwik nyawane minggat‘ yang artinya kurang lebih : ‘pamornya semburat kuning/ besinya agak kering/ kuning kehijau-hijauan/ maka tidak ada yang menandingi/ baik yang mengaku kebal senjata/ rakyat jelata yang mengaku kuat/ disentuh nyawanya melayang.

besi malela kendaga, jika diamati di bawah sinar matahari besinya akan membiaskan kerlip/semburat keemasan

PAMOR RON GENDURU, tergolong jenis pamor miring. Ron genduru termasuk pamor yang populer dan diminati banyak orang, terutama karena keindahan penampilannya. Pamor yang tergolong pamor rekan ini termasuk sulit pembuatannya. Dinamai ron genduru karena bentuk gambaran pamor ini memang mirip dengan bentuk daun genduru. Tuah atau angsar motif pamor ron genduru menurut pecinta keris adalah untuk menunjang kewibawan serta jiwa kepemimpinan. Namun karena pamor ini tergolong pamor pemilih, tidak setiap orang akan merasa cocok bila memilikinya.

Ada kepercayaan menarik di kalangan orang tua jaman dahulu ; “Punya keris berdhapur Jalak, baurêksånya (penunggunya) diberi minyak rambut dan wewangian bunga-bunga. Punya keris berdhapur Caritå Keprabon, baurêksånya keris itu harus ditemani binatang peliharaan kesenangannya (kelangenan) yaitu burung Gelatik (Java sparrow). Punya keris berdhapur Brojol binatang peliharaan kesenangannya burung Perkutut (Geopelia striata). Keris dengan motif pamor Udanmas harus dikalungi benggol atau uang keping emas, dan lain sebagainya…

Khusus untuk pamor ada satu motif yang cukup menggoda untuk dituruti, khususnya bagi kaum adam, yakni keris dengan pamor Ron Genduru. Pemiliknya harus memiliki istri muda, sebab bila tidak ada keluarganya yang akan menderita sakit menahun yang sangat sulit disembuhkan. Apakah ini wujud budaya patriarki jaman dahulu dalam upaya pelegalan urusan “bawah pusar” untuk memuluskan praktek berpoligami dengan menebar dalih dalam bentuk ketakutan di kalangan anggota keluarga yang lain? Wallahu A’lam

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.