Liman

Mahar : 7.000,000,-


1. Kode : GKO-307
2. Dhapur : Liman Luk 5
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Madura Sepuh/Pesisiran Cirebon? (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 864/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Temuan Sungai Brantas
7. Dimensi : panjang bilah 34 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 41,5 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka, warangka batang-batang atau Kong-Bukongan motif singa eropa + hulu capel kumpeni


 

ULASAN :

LIMAN, yang menjadi ciri dhapur liman adalah bagian sor-soran-nya. Gandik-nya diukir dengan bentuk gajah yang direliefkan secara lengkap dengan kepala, belalai, gading, kaki dan ekornya. Ukuran bilahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa jika tanpa ada-ada, atau ngadal meteng bila memakai ada-ada.  Selain itu ricikan lainnya adalah tikel alis dan ri pandan atau tingil. Sama halnya dengan dhapur Singo dan Naga, Dhapur Liman tergolong langka karena memang hanya berhak disandang pribadi-pribadi spesial yang memiliki tataran spiritual tertentu, atau mereka yang memiliki status/jabatan khusus.

FILOSOFI, Pada jaman dahulu, Liman/Gajah merupakan salah satu tunggangan kebesaran seorang Raja. Berita Cina yang ditulis oleh Ma Huan sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Jawa memberikan penjelasan mengenai keadaan masyarakat Majapahit pada abad XV. Antara lain; “bahwa kota Majapahit terletak di pedalaman Jawa. Istana raja dikelilingi tembok tinggi lebih dari 3 zhang, pada salah satu sisinya terdapat pintu gerbang yang berat (mungkin terbuat dari logam). Tinggi atap bangunan antara 4-5 zhang, gentengnya terbuat dari papan kayu yang bercelah-celah (sirap). Raja Majapahit tinggal di istana, kadang-kadang tanpa mahkota, tetapi sering kali memakai mahkota yang terbuat dari emas dan berhias kembang emas. Raja memakai kain dan selendang tanpa alas kaki, dan ke mana pun pergi selalu memakai satu atau dua bilah keris. Apabila raja keluar istana, biasanya menaiki gajah atau kereta yang ditarik lembu. Penduduk Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Penduduk memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan terurai, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap anak laki-laki selalu membawa keris yang terbuat dari emas, cula badak, atau gading”.

Secara simbolis, Liman dianggap sebagai salah satu binatang darat yang mewakili adanya sistem kosmos alam tengah atau dunia tengah. Pengaruh motif Gajah/Liman ini sedkit banyak dipengaruhi oleh seni hias Hindu Budha yang dibawa oleh India. Simbol liman dianggap sebagai sosok ganesha. Sifat ganesha digambarkan dalam produk-produk artefak yang ada di lingkungan keraton, memiliki konten lebih mengacu pada dewa penolak bala, dewa keselamatan, sekaligus penghalau rintangan (Vighneswara). Sosoknya ini sering dikaitkan dengan tokoh yang bersifat wira, gagah berani, seperti “tank” yang mampu mematahkan barisan sehingga layak disebut sebagai pemimpin para gana atau raksasa (Ganapati).

Dalam konsep kepemimpinan, motif liman ini cenderung menekankan pada kategori sosok pemimpin/ raja/punggawa. Berbagai macam atribut yang ada pada Liman memiliki makna-makna yang sangat mendalam, yang merupakan simbol dari kekuatan-kekuatan spiritual. Gajah merupakan hewan mamalia yang memiliki daya ingat yang sangat tinggi, kepala gajah disimbolkan dengan ukuran yang besar, ini mengajarkan pada kita bahwa sebagai manusia kita hendaknya lebih banyak menggunakan akal kita daripada fisik, ini berarti bahwa bila ingin meraih kesuksesan dalam bidang apapun, harus berani berpikir besar. Satu hal yang perlu kita ingat selalu adalah bahwa berpikir besar (visioner) itu tidak sama dengan pandai berkata-kata. Berpikir besar tidak termanifestasikan dalam bentuk orasi hebat atau gaya bicara yang memukau. Pada kenyataannya, setiap orang tidak berpikir dalam kata-kata melainkan dalam bentuk citra/visual. Oleh karena itu, letak sesungguhnya dari jiwa yang selalu berpikir bukan pada apa yang dia bicarakan melainkan apa yang ada dalam imaji atau pikirannya.

Walaupun matanya kecil, gajah memiliki daun telinga yang lebar sehingga sensitif terhadap pendengaran.  Jumlah telinga yang dua buah itu melebihi jumlah mulut yang hanya satu yang dipahatkan secara tersembunyi dibelakang belalai yang besar, ini melambangkan sebagai manusia hendaknya kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, dengan mendengar kita dapat memahami sesuatu lebih jelas, dengan mendengar kita mendapatkan banyak informasi, dan pengambilan keputusan yang baik juga berawal dari mendengar. Seperti halnya jika kita ingin melihat sesuatu lebih jelas/fokus akan cenderung menyipitkan mata dari pada membelalakkan mata. Pun juga jumlah mata yang dua buah yang diartikan dengan konsentrasi tinggi, lebih banyak dari jumlah mulut yang hanya satu, yang berarti kita juga harus lebih banyak memperhatikan daripada berbicara. Hal ini berlaku bagi siapa saja, bukan hanya bagi penguasa, namun setiap pribadi  juga penting untuk mendengar dan memperhatikan. Dhapur Liman mengajarkan agar kita menjadi pendengar dan pemerhati yang baik seumur hidup kita. Lebih jauh lagi dalam tataran kesadaran spiritual, “pendengaran dan penglihatan batin” berperan dalam kesuksesan seseorang dalam mencari kesejatian dari hidup.

Liman juga merujuk pada lima (5). Sunan Ampel pernah diminta oleh Raja Majapahit untuk memperbaiki moral masyarakat Majapahit yg telah rusak. Akhirnya singkat cerita Sunan Ampel dapat memperbaiki akhlaq masyarakat dengan prinsip Moh Limo yaitu: moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, dan moh madon, yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan candu, dan tidak berzina”. Sebuah Nasehat yang disampaikan dengan cara yang bijak dan lembut hingga mereka yang melakukan larangan inipun tidak merasa sakit hati dan tentu saja akan lebih mengena.

Juga ketika kita membuka lima jari tangan, dapat terlihat guratan atau beraneka garis yang terlukis pada telapak tangan kita. Konon itu merupakan garis yang merupakan perjalanan hidup manusia. Banyak yang orang-orang bijak yang mengkaitkan segala peristiwa yang terjadi dalam hidup masing-masing sudah merupakan suratan tangan (sudah tersurat ditangan–kah artinya?) Jika perhatikan lebih detail garis-garis dominan yang ada di telapak membentuk suatu huruf “M”. Menurut simbol otak-atik gathuk huruh M ditangan yang berjari lima, adalah suatu peringatan bagi siapa saja untuk tidak melanggar ke lima M itu (moh limo).

TENTANG TANGGUH, keris Dhapur Liman ini Penulis peroleh langsung dari penyelam tradisional di sungai Brantas. Peran sungai pada masa kerajaan-kerajaan terbukti sangat penting, dimana sangat bergantung kepada sungai sebagai penunjang baik dalam irigasi maupun sebagai sarana transportasi. Sungai Brantas sebagai sungai terpanjang kedua di Jawa setelah sungai Bengawan Solo bermata air di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Berasal dari simpanan air di Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, dan Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto, sungai ini bercabang dua menjadi Kali Mas (Ke arah Surabaya) dan Kali Porong (Ke Arah Porong Sidoarjo).

Sungai Brantas merupakan sungai besar yang sejak zaman dahulu disebut Bengawan Sigarada. Secara geografis, wilayah Sungai Brantas memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga dari segi politik tidak mengherankan daerah ini menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur. Pada masa kerajaan Kediri maupun Majapahit, hingga masa akhir Hindia Belanda, Sungai Brantas ibarat menjadi jalan tol. Yang ramai dengan lalu-lalang perahu. Dari hulu ke hilir, atau sebaliknya.

Karena peranannya sebagai urat nadi perekonomian di masa lalu, tidak hanya sebagai jalur perdagangan  tetapi juga jalur peperangan, Sungai Brantas seolah menyimpan ‘harta karun’ di setiap masa. Disinyalir dalam perjalanan perahu-perahu itu tak jarang mengalami kecelakaan. Hingga banyak yang karam beserta bawaannya lalu terkubur. Sungai Brantas juga menjadi lokasi serangan pasukan Mongol dengan Majapahit saat menggempur Kota Daha yang saat itu dipimpin oleh Jayakatwang. Peristiwa ini terjadi di 1215 saka atau 1293 masehi. Saat pertempuran itu banyak kapal-kapal kerajaan Glang-glang di dermaga Daha Hancur. Juga beberapa perahu pasukan Mongol-Majapahit juga hancur di sungai ini. Terdapat juga kisah Mataram dan VOC yang menyerbu markas Trunojoyo di Kediri juga karam di Sungai Brantas ini.

‘Harta karun’ di Sungai Brantas ini dari masa ke masa memang sering diketemukan. Mulai dari cerita saudagar yang hartanya terjatuh, adanya larung sesaji, hingga kecelakaan perahu, menjadi alasan sungai ini penuh barang-barang berharga. Kejadian di masa lampau itu kini jadi berkah tersendiri bagi penyelam-penyelam tradisional. Saat “slulup” mencari harta karun itu mereka tak hanya mendapatkan kepingan emas dan koin kuno. Tak jarang pula mereka mendapatkan keris kuno.

keris-keris temuan sungai Brantas dalam kondisi kotor dan setengah bersih

PAMOR NGULIT SEMANGKA, Alam tetaplah menyimpan berjuta kearifan yang dapat menuntun kita pada suatu jalan. Layaknya batik alam, motif unik yang terdapat pada kulit buah semangka menyiratkan bahwa jalan hidup yang tak selamanya lurus bahkan mungkin akan penuh liku dan tikungan tajam. Jalan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, tidak perlu merasa khawatir karena segala sesuatunya sudah ada yang Maha Mengatur.

Sebagai salah satu motif dasar pamor tiban. Pamor Ngulit Semangka juga memiliki makna yang menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga. Dalam konteks tersebut motif ngulit semangka mengandung petuah dari orang tua agar melanjutkan perjuangan yang telah dirintis. Garis diagonal yang bertemu pada suatu titik juga melambangkan penghormatan, keteladanan, cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran. Aura dinamis pada pamor ini juga menganjurkan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Artinya, tidak ada kata berhenti atau menyerah dalam menggapai suatu kesuksesan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.