Junjung Derajad + Pamengkang Jagad

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. BI, Sukun – Malang


1. Kode : GKO-311
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Junjung Derajad
4. Tangguh : Madura Sepuh (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 969/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Kediri, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 22,3 cm, panjang pesi 5,5 cm, panjang total 27,8 cm
8. Keterangan Lain : pamengkang jagad


ULASAN :

BROJOL,  adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Ada dua versi bentuknya; yang pertama, panjang bilahnya hanya sekitar 15 sampai 19 cm, bilahnya tipis, rata dan biasanya merupakan keris kuno. Pejetan yang ada hanya samar-samar saja. Gandhik-nya pun polos dan tipis. Kadang-kadang memakai gonjo iras (menyatu dengan bilah). Kadang-kadang pula pada bilahnya ada lekukan-lekukan dangkal, seolah lekukan itu bekas ‘pijitan‘ dari jari tangan. Keris brojol jenis pertama ini (pendek) sering disalah kaprahkan secara berjamaah dengan sebutan keris Sombro, padahal sombro adalah nama empu wanita dari Pajajaran yang hijrah ke Tuban. Sedangkan jenis brojol yang kedua, ukuran panjang bilahnya sama dengan keris biasa, sekitar 30-35 cm. Gandhik-nya polos dengan ricikan hanya pejetan (kentara) tanpa ricikan lain.

Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun jawa 1170. Pada jaman dahulu keris brojol/sombro banyak dimiliki sebagai sifat kandel oleh para dokter pribumi maupun dokter Belanda. Dhapur sederhana brojol menurut kepercayaan leluhur biasanya dimaksud agar pemiliknya dapat “mbrojol” (terlepas dengan mudah) dari segala kesulitan dalam hidup.

PAMENGKANG JAGAD, adalah keadaan bilah yang seperti retak terbelah alami (retak buatan = combong) di tengah atau di bagian bawah. Keretakan itu menyebabkan pada bilah terdapat celah membujur. Secara teknis, pamengkang jagad disinyalir terjadi karena pada waktu penempaan membuat saton, suhunya kurang sesuai (kurang tinggi), dengan begitu ada bagian-bagian antara besi dan lapisan pamor yang tidak bisa menyatu atau menempel dengan erat satu sama lain. Dan ketika keris tersebut disepuh (quenching), ikatan penempelan antara besi dan pamor terlepas, sehingga keris itu terbelah/retak.

Meski sebagian pecinta keris eksoteri (menyangkut garap luar) ada yang beranggapan bahwa keris Pamengkang Jagad merupakan keris yang bisa dianggap gagal atau cacat produk, tapi oleh pecinta keris si Sabah, Serawak, Brunai dan Semenanjung Malaya pada umumnya justru menyukai keris yang bilahnya retak ini. Mereka menyebutnya dengan keris Pemangkang. Demikian pula di Sumatera Timur, dan kepulauan Riau, terutama Pulau Bintan, keris ini juga tergolong disukai. Mereka menamakanya keris Tetarapan.

Ada sesuatu hal yang unik mengenai keris pamengkang jagad ini, diantaranya adalah adanya kepercayaan sebagai sarana untuk memikat hati wanita (pelet, jw). Jika seorang laki-laki hendak memikat hati seorang gadis idamannya atau seorang gadis yang baru ditaksir, apa yang dilakukannya adalah ketika ia melihat gadis pujaannya lalu lelaki tersebut mengambil keris pamengkang jagad-nya, ia kemudian melihat wajah gadis tersebut melalu celah/retak yang tembus pandang itu. Dipercayai gadis tersebut akan jatuh cinta kepada lelaki itu, Wallahu A’lam.

FILOSOFI, Konsep dasar dari ajaran kejawen adalah hasil penghayatan dan analisa (maguru alam) dari proses kelahiran bayi, kehidupan di alam madya dan proses kematian (pangracutan). Keris sombro pamengkang jagad adalah berupa keris dhapur brojol yang pada alur vertikalnya pecah alami dan tembus pandang. Kata Pamengkang Jagad sering disalah tafsirkan sebagai egosentrisme penguasaan terhadap dunia (ngangkangi jagad). Padahal yang dimaksudkan hanya sederhana, yaitu lubang untuk melihat dunia (celah gua garba). Gua garba (mulut vagina) adalah celah kemaluan sang ibu pada posisi bayi masih berada di dalam kandungan melihat jagad (dunia). Makna yang terkandung di dalamnya bahwa setelah sembilan bulan lebih 10 hari bayi bertumbuh-kembang di dalam kandungan sang ibu, pada waktunya terjadi proses kelahiran yang gaib dan ajaib. Kelahiran seorang bayi sebagai manusia baru untuk melihat jagad raya dibantu oleh air ketuban, ari-ari, puser serta darah. Dalam kepercayaan kejawen disebut sebagai “sadulur papat” (saudara empat).

Seperti dalam kepercayaan Sasto Jendro, antara lain : “Sadulurku papat, kalimo pancer kang lair bareng sa’dino Tunggal karo ragaku metu soko gua garbaning biyungku Kakang kawah adi ari-ari, puser lan getih pancer dumunung ono ing ragaku” yang artinya kurang lebih ; Saudaraku empat, kelima adalah pancer yang lahir bersama pada hari itu bersatu dengan ragaku keluar dari rahim ibuku kakak ketuban, adik ari-ari, tali pusar serta darah terpusat berkuasa dalam aku…..

Konsep di atas mengungkapkan manifestasi dari keyakinan adanya momongan (perlindungan). Momongan dari kata di-emong atau diasuh. Yaitu oleh saudara gaib berupa energi imajiner dari air ketuban,ari-ari, darah, dan tali puser yang sebenarnya secara fisik telah dikubur dalam tanah jauh hari setelah kita lahir. Momongan ini dapat dibangkitkan secara imajinatif menjadi kekuatan supranatural. Nalarnya adalah merupakan penyatuan antara gaib diluar diri kita yang diimajinasikan sebagai momongan (sedulur papat) dengan pusatnya diri kita (aku). Dimana aku secara Keillahian adalah Nur Cahyaning Urip (Nur Ilahi).

Terlepas dari pamengkang jagad-nya, pusaka ini masih dalam kondisi prima. Besinya tampak liat (lentur) dengan sepuhan yang keras seperti keris-keris kulonan (Pajajaran). Garis pamornya yang tebal tampak putih terang (memplak) khas-khas keris Madura Koso, beradu kontras dengan besi pada bilahnya menampilkan bintang kecantikannya sendiri. Untuk warangka sandang walikat merupakan produk buatan Griyokulo sendiri dengan mengambil sample warangka yang terdapat pada artefak dinding-dinding candi. Simple namun misterius, itulah kesan yang penulis rasakan. Dari beberapa koleksi pusaka yang ada di galeri, keris pamengkang jagad ini termasuk yang menjadi klangenan.

PAMOR JUNJUNG DERAJAD, secara harafiah junjung = mengangkat/menaikkan ; derajat = tingkatan/kemuliaan. Adalah salah satu motif pamor yang bentuknya menyerupai corak berupa garis dengan bentuk susunan anak panah/segitiga/gunung. Banyak pecinta keris menganggap keris berpamor junjung derajat membawa aura keberuntungan tersendiri bagi pemiliknya untuk menaikkan derajadnya (derajat ilmu, derajat harta benda bahkan derajat dunia sampai akhirat). Di Semenanjung Melayu pamor seperti ini dinamakan pucuk rebung, suatu simbol peningkatan derajat dalam kehidupan seseorang dan kelancaran berbicara. Pamor ini tidak hanya terkenal dalam dunia tosan aji, dalam dunia per-batu-an mulia (gems) juga memiliki kepercayaan yang sama akan tuahnya. Tidak mengherankan pamor ini termasuk pamor yang menjadi incaran para kolektor. Dan sesuai hukum ekonomi, kelangkaannya mempengaruhi nilai mas kawinnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.