Lawi Ayam

Mahar : 2.500.000,-


 
  1. Kode : GKO-269
  2. Dhapur : Lawi Ayam/Taji Ayam/Beladau/Skin/Jembio
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh : Sumatera (Abad XVIII)
  5. Sertifikasi No : 204/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : kolektor
  7. Keterangan Lain : kolektor item

 

Ulasan :

LAWI/TAJI AYAM, Keunikan Indonesia memang tidak ada habis-habisnya, termasuk pada jenis persenjataannya. Salah satu senjata unik yang dimiliki Indonesia adalah Skin Lawi Ayam atau taji ayam, sejenis senjata tikam tradisional dari Tanah Sumatera. Lawi ayam sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti (ujung) bulu ekor ayam (burung) yang panjang melengkung. Ketika bagian pesisir Sumatera menjadi Kesultanan maka pengaruh budaya Arab menjadi sangat kuat. Salah satunya adalah penggunaan senjata ini dimana akar visualnya menyerupai senjata Jambia yang berasal dari Timur Tengah, dengan bagian tajam pada dua sisi mata atau tunggal; dari gagang hingga ke ujungnya semakin runcing dan melengkung ke suatu titik, sisi pemotongan adalah sisi cekung bilah. Bentuk ergonominya membuatnya dikenal sebagai senjata pembunuh yang paling ditakuti karena efek tikamannya mungkin tidak dapat  diselamatkan, merobek perut hingga bagian tulang belakang, membawa kematian. Senjata ini terbuat dari besi berlapis baja, dan kadang-kadang berpamor. Panjangnya sekitar sejengkal, biasanya diberi sarung terbuat dari kayu dihias dengan logam. Cara memakainya diselipkan di antara lipatan kain sarung, di bagian perut si pemakai dan mempunyai kedudukan yang penting bagi seseorang, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai senjata, melainkan juga sebagai benda keramat yang memiliki unsur kimpalan mekam atau kimpalan sawah (mempunyai kekuatan magis). Kini Lawi/Taji Ayam lebih banyak digunakan sebagai pelengkap pakaian adat.

Jika diperhatikan bilah ini hampir mirip dengan Karambit yang berasal dari Sumatera Barat dalam dimensi yang lebih besar. Watak keras pemberani dapat dirasakan ketika mencabut bilah ini dari sarungnya, meskipun lengkungnya tampak cantik namun besinya tampak nggegirisi diselingi pamor yang tampak seperlunya, karena tujuannya bukanlah memamerkan keindahan pamor, tapi menjatuhkan mental lawan dari keangkeran besinya. Besinya tampak keras, seratnya tampak nyekrak (tajam) dan berongga kecil-kecil (besi bari semut?). Besi seperti ini biasanya terkenal sangat beracun, karena dari tektur besinya yang cenderung berongga kecil-kecil tampak lebih cocok jika ‘di-cacap‘ (proses perendaman bilah dengan cairan beracun, misal bisa ular, kalajengking dll), menyerap racun lebih cepat dan banyak daripada besi yang bertekstur rapat (pulen, Jw), namun dengan suara sentilan yang nyaring pertanda matang tempa. Untungnya ‘keangkeran’ bilah ini seperti dapat teredam ketika bilah dimasukkan ke dalam warangkanya. Warangka asli bawaan yang ada menampilkan motif kayu trembalu aceh yang unik, dimana seperti air laut yang disinari cahaya purnama, meliuk mengikuti kurva bilahnya. Sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *