Pamor Tiban Unik ‘BOS’

Mahar : 8.055.000,-


 
  1. Kode : GKO-267
  2. Dhapur : Pulanggeni Lurus
  3. Pamor : Bendo Segodo (Tiban BOS)
  4. Tangguh : Tuban Mataram (Abad XVIII)
  5. Sertifikasi No : 202/MP.TMII/III/2018
  6. Asal-usul Pusaka : kolektor
  7. Keterangan Lain : pamor tiban BOS sangat langka

 

Ulasan :

Pulanggêni iku | pusakaning tanah Jawa | sapa ingkang kuwasa nganggoa pasthi | dadya wijining praja || —– Sêrat Parta Krama

PULANG GENI, Banyak rujukan mengenai nama dhapur keris dan ricikannya. Salah satu yang cukup popular untuk dijadikan bahan referensi adalah Buku Dhapur. Buku ini adalah hasil sumbangsih KGPH Hadiwidjojo pada Kawruh Padhuwungan. Mengadopsi karya sastra berbentuk tulisan (bukan gambar) berjudul “Kagungan Dalem Buku Gambar Dhapuripun Dhuwung Saha Waos” karangan Raden Tumenggung Sastradiningrat, digambar arsir pensil oleh Abdi Dalem Sunarya bagian Reksapanjuta di kantor Kridhawahana. Ada sebanyak 160 jenis dhapur keris dan 49 jenis dhapur tombak. Diantaranya adalah dhapur Pulanggeni yang setidaknya memiliki 2 bentuk, yakni:

  1. PULANG GENI (A), ricikan ; gandhik lugas, pejetan, tikel alis, ri pandan sungsun, pawakan anglimpa.
  2. PULANG GENI (B), ricikan ; luk lima,gandhik lugas, pejetan, ri pandhan sungsun.

 

FILOSOFI, Pulanggeni berarti ratus. Ratus adalah suatu bahan aromatik yang terbuat dari getah pepohonan tertentu. Seperti kemenyan atau dupa, apabila dibakar di atas bara arang, ratus menghasilkan aroma yang wangi (harum). Asal muasalnya konon dari budaya atau kebiasaan umat Hindu/Budha di India dan Cina. Seiring dengan migrasi ke Asia Tenggara, terutama Nusantara, terlebih pengaruh kerajaan Hindu Majapahit yang lama berkuasa mewariskan pengaruh pada budaya atau agama di Jawa dan Bali.

Ratus berasal dari “wisma” yaitu alam semesta menyala dan asapnya bergerak keatas, pelan-pelan menyatu dengan angkasa. Ini dapat dikatakan sebagai lambang penuntun umat, bagi yang melakukan sembahyang agar menghidupkan api dalam dirinya (bhuana alit) dan menggerakkannya menuju persatuan dengan Yang Kuasa. Seperti yang diibaratkan dengan ratus yang asapnya menuju keatas dan menyatu dengan angkasa. Dengan demikian, dapat dikutip bahwa Ratus adalah lambang pertemuan antara umat dengan Tuhannya.

Ratus menyebarkan bau wangi, keharuman yang religius. Seorang Kesatriya hanya ingin mati bersama dharmanya. Yang saat menghadap Ilahi,  digugurkan bersama kecantikan budi dan keharuman jati diri di dalam setiap amal atau kebaikan yang tumbuh di hati manusia yang lain. Tak salah dalam serat Parta Krama dituliskan; bahwa Keris Pulanggeni adalah pusakanya Jawa, siapa yang mampu memilikinya pasti menjadi suatu pimpinan negara/pemerintahan.

TENTANG PAMOR, untuk keris dengan pamor beras wutah bilah ini termasuk anomali, karena bulatan-bulatan yang ada dalam rasa cenderung lebih besar dan terpisah mengelompok. Cukup mendasar ataupun masuk akal jika sebagian orang menyebutnya bisa masuk pamor benda segada. Dimana tuahnya dipercaya membuat pemiliknya lebih mudah mendapat rejeki yang tak berkesudahan. Namun jika kita membuka buku referensi pamor benda segada tergolong pamor rekan yang bentuk gambarannya dirancang oleh sang Empu, tentu saja ‘rasa’ akan mempertanyakan karna dalam pola dasar bulatannya adalah beras wutah yang terpencar acak.

PAMOR TIBAN, adalah pamor yang tidak dirancang pembuatannya oleh sang Empu. Disebut tiban karena terjadi dengan sendiri, dipercaya sebagai ‘pemberian khusus’ dari Yang Di Atas (kodrat yang ditetapkan) atas permohonan atau doa-doa yang diijabkan. Jika pamor Raja Gundala yang sering tersembunyi di dalam pamor lain, semisal pamor wos wutah atau ngulit semangka berbentuk stilasi manusia atau binatang maka keris pulanggeni ini justru tampil seribu satu dalam sela pamornya terselip bentuk tulisan yang unik, yakni BOS. Tulisan ‘BOS’ nya pun cukup kentara, jika dalam pamor Raja Gundala yang kadang cenderung subyektif sehingga perlu ‘pembacaan’ dari orang lain, maka pamor tulisan ‘BOS’ ini pun sudah terbukti jika 8 dari 10 orang akan mengamini pamor tiban dengan tulisan BOS yang dimaksud.

terselip pamor unik, dengan tulisan BOS

Seperti batu gambar, Raja Gundala gambar atau tulisan yang muncul dari dalam sebuah keris-hasil proses metalurgi tempa lipat- merupakan garis keberuntungan tersendiri. Energi positif dan sugesti yang dihasilkannya kepada pemilik diyakini sangat besar. Keberuntungan itu pula yang membuat ‘pamor kodrat’ memiliki nilai tersendiri, karna bisa saja itu hanya satu- satunya, tak akan pernah ada duanya lagi.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *