Keris Tindhih Bethok

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?- (TERMAHAR) Tn WP, Pasar Minggu Jakarta Selatan


 
  1. Kode : GKO-235
  2. Dhapur : Bethok
  3. Pamor : Keleng
  4. Tangguh : Majapahit Abad XIII (Peralihan Singosari -Majapahit)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 411/MP.TMII/VI/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Temuan Sungai Musi
  7. Keterangan lain : sarung kulit domba, keris tindih
 

 

Ulasan :

KERIS TEMUAN, dalam konteks ini adalah bukan berasal dari keris ‘prosesan’ (biasanya di buang ke sungai) pada masa-masa akhir ini. Namun benar-benar merupakan penemuan yang memiliki bentuk dan ciri-ciri yang khas. Keris-keris temuan ini adalah keris-keris yang secara tidak sengaja’ ditemukan oleh para penambang pasir tradisional, pembuat bata dan petani, yang kemudian dikoleksi oleh para pecinta keris melalui para hunter atau pengepul keris dari daerah-daerah. Namun sudah menjadi stereotip bahwa keris hasil penemuan-penemuan (sungai, area makam kuno, candi, persawahan dll) yang memiliki bentuk dan ciri yang khas ini oleh penggemar tosan aji digolongkan keris kabudhan untuk yang bentuknya lebar pendek berbadan lebar seperti kadga dan untuk yang bentuknya lebih ramping walaupun masih tampak dempak dan sangkuk (lebih miring) masuk era setelahnya (singosari). Keris-keris yang sudah ditemukan ada yang berpamor, akan tetapi banyak yang keleng (tanpa pamor), besinya berserat berwarna kelabu kehijauan. Yang bentuknya pendek dengan condong leleh (derajad kemiringan) tidak terlalu miring dan memakai sogokan rangkap biasa disebut Jalak Budha, sedangkan yang tanpa sogokan biasa disebut Bethok Budha.

Meski demikian terdapat dua kubu berbeda pandangan mengenai keris kabudhan ini, salah satunya apakah memang dibuat pada era tersebut? Inilah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Jagad perkerisan selama ini memang masih jauh dari sentuhan penelitian ilmiah – baik dari tinjauan arkeologi, sejarah ataupun metalurgi. Terlebih lagi kawruh padhuwungan yang ada lebih banyak berupa warisan pitutur. Menurut pandangan pertama, istilah atau sebutan kabudhan adalah istilah yang merujuk untuk mendeferensiasi bentuk-bentuk keris dengan ciri fisik seperti itu – dan belum tentu berkaitan langsung dengan zamannya terlebih karena belum ada data pengidentifikasian secara ilmiah. Orang jawa akrab menyebut zaman budho sebagai zaman baulah yang tidak terjangkau dengan perkiraan. Pandangan sebaliknya mereka meyakini isitilah kabudhan berkaitan dengan prototype awal keris dan tentu saja berkaitan dengan agama Hindhu-Budha itu sendiri serta sejarahnya di Nusantara yang kala itu menjadi agama mayoritas. Terlebih misalnya dengan mengkaitkan dengan adanya prasasti Karang Tengah (824 M), prasasti Poh (904 M) menyebut “keris” sebagai bagian dari sesaji atau alat persembahan. Walaupun demikian juga masih bisa menimbulkan pertanyaan karena tidak diketahui apakah bentuk “keris” yang disebut mengacu pada keris seperti yang dikenal sekarang. Kemudian secara kasat mata keris budha memiliki kemiripan bentuk dengan berbagai gambaran belati atau kadga yang terlihat pada relief  candi-candi di Jawa  diantaranya candi panataran dan candi borobudur. Belati atau kadga pada candi-candi ini masih memperlihatkan ciri-ciri senjata India, belum mengalami “pemribumian” (indigenisasi). Meskipun demikian, tidak ada bukti autentik mengenai evolusi perubahan dari belati gaya India menuju keris budha ini. Juga bila dikaitkan misalnya dengan literatur atau manuskrip lawas, semisal Pustaka Raja Purwa yang ditulis sekitar Abad XII, dan Pratelan Dhuwung Saha Waos yang ditulis Singawijaya pada akhir abad XIX menyebutkan bahwa keris di Jawa pertama kali dibuat pada tahun anembah-warastraning-rat, yakni 230 M, di kerajaan Medang Kamulan oleh Mpu Ramadi pada masa pemerintahan raja Mahadewa Budha berupa dhapur lar ngatap, pasopati dan cundrik. Apapun itu dengan melihat kesederhanaan garap dan keunikan besinya, diyakini keris kabudhan adalah jenis tosan aji yang berasal dari tangguh sepuh sanget.

relief senjata mirip prototype awal keris di berbagai candi di Indonesia

KERIS KABUDHAN SEBAGAI KERIS TINDHIH, berasal dari kata ‘tetindhih’ yang menurut kitab Bausastra Jawa versi Poerwadarminta Tahun 1939 berarti lelurah atau pangarêp (penuntun), sedangkan secara arti atau makna harafiah adalah ‘menindih’. Keris tindih dipercaya mempunyai tuah yang baik bagi penggemar tosan aji selain tuah pokok keris juga memberikan tuah untuk menindih atau meredam pengaruh negatif dari benda-benda gaib lain. Tosan aji yang dipercaya masuk dalam kategori tindih kebanyakan keris dhapur lurus seperti; jalak budho, bethok, sombro, semar tinandu, semar betak, tombak banyak angrem dan lain-lain. Keris tindih biasanya adalah keris-keris yang dibuat pada tangguh (jaman) sepuh sanget, seperti jaman kabudhan, singosari, majapahit dan pajajaran. Sedangkan untuk pamor yang masuk kategori tindih antara lain pamor wengkon, rojo gundolo, rojo sulaiman, tambal, dan keleng dan lain sebagainya. Secara mata batin (spiritual) bakat, watak, karakter dan perbawa dari keris-keris tindhih dapat menjadi lelurah atau pamomong bagi tosan aji lainnya.

kondisi bilah saat kotor tampak endapan pasir dan kerikil menempel

TENTANG TANGGUH, dengan ‘label’ keris temuan kurang afdol rasanya jika tidak disertakan foto-foto menganai kondisi awal  saat masih kotor. Keris bethok ini merupakan hasil temuan pada dasar sungai. Bukan hanya di dasarnya melainkan masih tertimbun sekitar 1,5 – 2 m lagi di bawahnya. Tampak pada kondisi kotor, pasir dan pecahan batu-batu kecil menempel pada bilah lengkap dengan bagian hulunya yang terbuat dari kayu telah mulai memfosil. Bentuk hulu atau handle keris tampak sederhana, tidak aneh-aneh tapi nyaman untuk digenggam. Kemungkinan pada jamannya secara tektomik dan ergonomik kegunaannya lebih kepada senjata fungsional. Setelah dibersihkan dengan hati-hati dan kesabaran ekstra, besinya terlihat mulai kembali teroksidasi, membatu (magnetite) dengan rabaan halus. Bebeda dengan jalak atau bethok yang di ‘treatment” sedemikian rupa melalui ‘kamalan’ jika diraba akan terasa kasar dan nracap (tajam) rabaannya. Keris-keris tangguh sepuh sanget (Jenggala, Kediri, Singosari, Majapahit) mulai menemukan bentuknya secara sempurna di masa ini. Bilah keris mulai memanjang, bentuk gonjo mulai melebar, memperjelas asimetri bilah dan berangsur-angsur menggantikan bentuk-bentuk bilah jalak budha dan bethok budha yang lebih sederhana. Walaupun umumnya memiliki tampilan bilah yang relatif tebal, namun bentuknya mulai meramping dan memanjang. Pilihan warangka dari bahan kulit domba asli terbilang cerdas dan masuk akal, untuk melindungi bilah dari ‘gesekan’ saat dikeluarkan atau dimasukkan daripada warangka kayu yang sifatnya lebih keras.

Menanting sendiri bethok ini, sejenak kita terhenyak… pikiran-pikiran mulai menerawang dan berimajinasi membayangkan jaman para kstaria-ksatria menjalani dharma-nya. Jaman dimana lelaki sejati berusaha menemukan takdirnya. Segalanya tidak mudah karena harus diperjuangkan dengan tetesan darah dan keringat hingga air mata.

Bagi para pecinta tosan aji rasanya belum lengkap bila belum memiliki keris kabudhan. Alasannya, keris model ini adalah pusaka ‘klangenan‘ wajib yang mesti terpajang di gedong pusaka baik secara kelangkaan (nilai ekonomis dan investasi) juga kepercayaan dari sisi isoteri atau fungsi (keris tindih). Bentuknya yang sederhana, dan besinya yang korosif, sebenarnya bisa dikatakan keris jenis ini tak lagi utuh. Namun peminatnya seperti tak lekang generasi, hingga kini terus ada dari waktu ke waktu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *