Keris Rajah Kala Cakra

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 8,500.000,- (TERMAHAR)Tn. NA  Jakarta Pusat



  1. Kode : GKO-229
  2. Dhapur : Brojol Kala Cakra
  3. Pamor : Keleng
  4. Tangguh : Tuban (Abad XVIII)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 373/MP.TMII/V/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Sragen, Jawa Tengah
  7. Keterangan Lain : Rajah Emas Kala Cakra, warangka gayaman banyumasan gandar iras trembalo aceh, pendok lawasan tebal

 

Ulasan :

YA MARAJA……….JARAMAYA
siapa yang menyerang,berbalik menjadi berbelas kasihan
YA MARANI………..NIRA MAYA
siapa datang bermaksud buruk, akan menjauh
YA SI LAPA…………PALA SIYA
siapa membuat lapar akan malah memberi makan
YA MIDORO……….RODOMIYA
siapa memaksa malah menjadi memberi keleluasaan/kebebasan
YA MIDOSA……….SADOMIYA
siapa membuat salah, berbalik membuat jasa
YA DA-YUDA………..DA-YUDA-YA
siapa memerangi berbalik mengajak damai
YA SIYACA……….CAYA SIYA
siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sejahtera
YA SIHAMA……….MAHA SIYA
siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun

RAJAH KALA CAKRA, secara definitif rajah merupakan guratan-guratan dari emas, perak, kuningan yang ditorehkan pada bilah keris, tombak atau pedang. Guratan tersebut membentuk gambar-gambar atau tulisan-tulisan yang dipercaya memiliki nilai spiritual atau daya magis tertentu. Bentuk rajah kala cakra berupa gambaran seekor binatang kalajengking dan sebuah roda atau lingkaran cakra. Dipercaya dapat menangkal segala serangan gaib, menolak gangguan makhluk halus (jin), menolak segala mala, hingga menjauhkan segala kesialan. Karena termasuk pamor titipan, biasanya rajah tersebut dibuat ketika pusaka selasai dibabar atau karena ‘kebutuhan’ atau ‘maksud’ tertentu mungkin saja rajah tersebut ditambahkan setelahnya (beda era/zaman). Jika Kalacakra ditorehkan pada bilah keris bisa dikatakan termasuk rajah yang langka dan tidak sembarangan. Dulu lambang tersebut adalah lambang pasukan Baladika Kala Cakra, merupakan lambang kesatuan pasukan elite dari jaman Majapahit yang sangat terhormat dan disegani. Sedangkan pada jaman Mataram, Kalacakra adalah sebagai pandêl (bendera kebesaran) prajurit jagasura (= sêtabêl), yakni prajurit kavaleri pembawa meriam. Catatan lain mengenai ‘kesakralan’ kalacakra ada dalam catatan Bauwarna, Padmasusastra (1898) dimana ditulis; setelah keberhasilan menumpas pemberontakan di Kabupaten Pati, Kanjeng Sultan Agung berkenan memberikan ganjaran (hadiah) dan lambang kepangkatan untuk putro sentono serta pepatih dalem diantaranya keris singo barong atau manglarmonga atau tombak serasah emas kalacakra dengan methuk limaran.

MISTERI DAN SEJARAH, Selain Rajah Bintang Sulaiman, Rajah Kalacakra adalah salah satu simbol sakral yang masih memiliki kharisma kuat terutama bagi aliran  kejawen. Binatang kalajengking konon adalah lambang binatang Kala (Kolo = Jw), melambangkan Bathara Kolo – Dewa Penghancur, dalam bahasa jawa diartikan sebagai sial atau sesuatu yang jahat, sedangkan Cakra adalah senjata sakti dari Bathara Wisnu yang digunakan untuk memusnahkan sial tersebut, jadi kalacakra diartikan sebagai senjata penghancur kesialan.

Banyak versi dari mana rajah kalacakra ini berasal. Di dalam Buddhisme dikenal “Kalachakra Vajra” yang konon sudah ada sejak zaman Arya Sakyamuni Buddha saat membabarkan Dharma atau Ajaran Kebenaran. Kalachakra Vajra merupakan satu dari lima Maha Vajrasatva atau pelindung Dharma Rahasia dan Para Penekunnya. Kalacakra secara filosofis bermakna roda raksasa simbol waktu. Roda raksasa di dalam waktu bisa melahirkan dan menumbuhkan segalanya; seluruh insan, seluruh makhluk dunia, semuanya dihasilkan di dalam roda raksasa dari waktu; tumbuh, kuat, lemah, kemudian mati, semuanya berjalan di dalam roda raksasa sang waktu. Kalacakra mengendalikan waktu (tiada awal), semuanya berada di dalam lingkup kendali-Nya, Semua pembentukan ruang juga dikendalikan oleh Kalacakra, seperti matahari, bulan, planet, seluruh bintang di alam semesta, tanah, air, api, angin, semuanya di dalam kendali Kalacakra.

Yang menarik, dalam sebuah kitab kuno di tibet yang berjudul “Sarvatathagatakayavakcitta Krsnayamaritantra” kita bisa menemukan sesuatu yang mirip dengan rajah kalacakra yang disebut mantra yamantaka, yaitu mantra pemujaan memohon perlindungan pada Bodhisattva Yamantaka untuk menghancurkan Yama. Alkisah pada jaman dahulu, konon Yama – Dewa diantara para Yaksa-Yaksa di alam kematian, sering mencabut nyawa orang karena kurang sesaji. Akhirnya Buddha Manhjuri mengambil bentuk ‘MURKA’ (Ngalih Rupa Ngalih Papan Ganti Aran) seperti Yama hanya lebih sempurna dan ampuh serta tak terbatas, menjadi Yamantaka Sang Pelindung Dharma.

Pada perkembangan selanjutnya Rajah Kalacakra diwujudkan menjadi mantra untuk menangkal berbagai kekuatan magis jahat yang dapat mengganggu keselamatan lahir dan batin. Selain digunakan untuk melindungi diri dari gangguan dan serangan gaib mahluk-mahluk halus, juga memberikan perisai pagar gaib kepada para pemakainya agar terhindar dari segala keburukan atau sengkala dalam kehidupan. Kalacakra adalah sebuah simbol yang menundukan terhadap energi-energi yang kiranya menyerang maka akan dijadikan melemah. Dalam aliran kejawen Rajah Kalacakra ditulis dalam aksara jawa terbalik. Oleh karena itu Rajah Kalacakra sering digunakan dalam ruwatan-ruwatan tradisi jawa dengan membacakan mantra-mantranya. Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa sangat mungkin sekali rajah kalacakra versi kejawen yang kita kenal saat ini adalah penggalan dari Mantra Yamantaka.

Cerita pitutur yang berbalut sejarah pada jaman peralihan kerajaan Demak ke Pajang, juga mencatat kehebatan ilmu Rajah Kalacakra. Suatu ketika, Sunan Kudus merajahkan kalacakra ke dampar (kursi) yang akan digunakan sebagai tempat pertemuan antara Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dan Pangeran Arya Penangsang atau Aryo Jipang. Namun ternyata berakhir dengan senjata makan tuan karena Sultan Hadiwijaya sudah diperingatkan oleh Sunan Kalijaga untuk menukar tempat duduk dengan Arya Penangsang karena kursi yang sudah dipersiapkan oleh Sunan Kudus untuk beliau telah dirajah dengan rajah kalacakra yang dapat mengakibatkan semua kesaktiannya hilang bahkan lumpuh total. Sultan Hadiwijaya meminta kepada Arya Penangsang untuk menukar tempat duduk. Karena tersinggung dengan permintaan tersebut, Pangeran Arya Penangsang pun menyanggupinya padahal dia paham bahwa Sunan Kudus sudah menorehkan Rajah Kalacakra yang bila diduduki akan fatal akibatnya. Akibatnya seketika itu juga semua ilmu kesaktian Arya Penangsang sirna. Sultan Hadiwijaya kemudian menyuruh Ki Ageng Pamanahan beserta anak angkatnya Raden Ngabehi Lor Ing Pasar atau Raden Sutawijaya mengadakan perang tanding kembali. Arya Penangsang tewas mengenaskan dengan perut robek terburai sampai ke usus akibat ditusuk tombak Kyai Plered. Sedangkan keris sakti milik Pangeran Arya Penangsang sendiri yaitu Kyai Setan Kober yang legendaris tersebut seperti tawar ketika menghadapi tombak Kyai Plered. Cerita-cerita mengenai kedahsyatan rajah kalacakra masih bisa didengar hingga kini, bahkan Rajah Kalacakra peninggalan Sunan Kudus sampai saat ini pun masing terpasang di pintu selatan atau lorong gapura pintu masuk menara kudus (Gapura Padureksan Kidul Menara), yang menjadi ‘momok’ sekaligus mitos bagi para pejabat yang tak ingin lengser kekuasannya jika berani melewatinya.

Keris brojol ini terdapat rajah sinerasah emas (berbeda dengan kinatah, maka sinerasah tempelan emasnya tipis) dengan perkiraan tangguh Tuban sejaman Amangkurat. Besinya berpori rapat dan halus rabaannya jika disentil nyaring bunyinya, beberapa kali dilakukan pewarangan mengalami kegagalan, cairan warangan susah menempel pada besi (kalis). Yang paling istimewa tentu saja pada rajah-nya, dimana di atas bilah terdapat sinerasah emas dengan motif binatang kala dan di bagian sor-soran terdapat sinerasah emas berbentuk cakra, orang-orang sangat mengenalnya dengan sebutan kalacakra, rajah ini terdapat di dua sisi (depan dan belakang), yang merupakan tanda bahwa sang empu membacakan mantra dari Kidung Sastra Pinandhati pada saat pembuatannya. Tujuannya agar pusaka memiliki kekuatan menangkal malapetaka halus (ilmu hitam) maupun rancana jahat manusia.

Banyak misteri yang tersimpan di balik inskripsi atau rajah pusaka, tentu karena beragamnya maksud dan tujuan dari pembuatan rajah itu. Terlebih rajah merupakan bentuk manifestasi masyarakat Nusantara yang mencoba memahami kegaiban alam semesta. Pengharapan, doa dan mantra kepada Hyang Dumadi, ditorehkan dalam bentuk goresan atau perlambang pada benda-benda tertentu yang dianggap memiliki nilai spiritual lebih, salah satunya pada pusaka. Ada sesuatu yang diagungkan, ditinggikan sehingga harus diabadikan. Namun yang pasti, semua misteri itu semakin memperkaya makna dan nilai kesejarahan sebuah pusaka, yang menantang kita untuk kian memahami, mencintai, sekaligus mempelajari benda pusaka warisan leluhur itu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *