Mahar : 1,650,000,-(TERMAHAR) Tn. SC Gresik
- Kode : GKO-176
- Dhapur : Tilam Upih
- Pamor : Kulit Semangka
- Tangguh : Tuban
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 533/MP.TMII/X/2016
- Asal-usul Pusaka : Surakarta
- Keterangan Lain : gonjo sebit ron
Ulasan :
DHAPUR TILAM UPIH, adalah nama dhapur keris lurus yang sederhana. Gandik-nya polos, ricikannya hanya tikel alis dan pejetan. Di daerah lain ada yang menyebutnya Tilam Petak atau Tilam Putih. Di keraton Yogyakarta paling sedikit ada tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono.
Terdapat suatu kecenderungan umum yang kuat, bahwa keris-keris dhapur tilam upih dan brojol merupakan keris lurus yang hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat dengan kata lain dhapur cukup populer atau terkenal, karena model ricikannya relatif sederhana tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya. Di samping itu model keris demikian tampak lebih cepat dan lebih mudah untuk diproduksi, jika dibandingkan dengan pembuatan bentuk (dhapur) keris yang lainnya.
FILOSOFI, menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mecintai seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya.
Ibarat seorang tentara yang menganggap senjata api sebagai istri kedua, bagi lelaki Jawa keris adalah istri kedua yang juga harus selalu mendapat perhatian. Artinya, ada aktivitas atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik. Dalam perkembangan budaya masyarakat Jawa, keris dipercaya sebagai salah satu tolok ukur serta perlambang laki-laki sejati. Terlebih dengan munculnya pandangan bahwa kesempurnaan hidup seorang laki-laki harus memenuhi lima unsur, yakni curigo (keris/senjata), turonggo (kuda/kendaraan), wismo (rumah), wanito (istri), dan kukilo (burung/hiburan). Bentuk keris lurus mengandung sikap istikomah dan tawajjuh, yakni konsisten dalam melakukan kebaikan, teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan jalan lurus menuju ridho Allah.
TANGGUH TUBAN, Sebagian besar keris yang diperkirakan tangguh Tuban didominasi oleh keris dhapur lurus dengan ricikan sederhana (biasanya jarang menggunakan greneng) dan pamor-pamor dasar. Kesederhanaan inilah yang justru menyiratkan bahwa keris-keris Tuban pada zaman dahulu adalah senjata fungsional yang digunakan untuk mempertahankan diri dan berperang. Faktor-faktor lain juga mendukung, seperti disebutkan dalam Babad Tuban, bahwa armada laut Tuban di masa kejayaan Majapahit sangat kuat dengan persenjataan bermutu. Ini diperkuat lagi karakter masyarakat pesisir yang lugas, dinamis dan pemberani. Wajar saja bila karakter ini terwujud dalam bentuk kerisnya. Selain itu sangatlah langka kota di luar keraton, yang memiliki Empu sebanyak kota Tuban. Sebut saja ada nama Empu Kuwung, Empu Ni Mbok Sombro dan Empu Anjani disitu, yang ketiganya adalah hijrah dari Pajajaran. Kemudian nama-nama lain yang tak kalah populer seperti Empu Paneti, Empu Suratman, Empu Supadriya dan lain-lain.
Sebagian pecinta keris beranggapan: menilai sebuah keris dengan pamor miring yang tampak luwes, cantik dan menarik hati adalah hal biasa, tapi menemukan keris lurus dengan pamor mlumah yang tampak luwes dan menarik hati adalah “sesuatu”. Seperti keris Tilam Upih ini, dari bentuk dhapur boleh dibilang hanya berbekal ricikan dhapur paling sederhana setelah brojol. Karakter Tuban Era Mataram kental terlihat. Pamor yang menghias bilah adalah pamor dasar ngulit semangka, kesannya memang kurang menyala karena memang bukan segi pamor yang banyak ditonjolkan dari keris Tuban. Dari penglihatan visual tampak besi yang rapat, padat dan liat dapat dirasakan juga melalui rabaan, sangat halus dan lembut. Tempaannya nyaris sempurna sehingga mewujudkan bilah keris yang nyaris tidak berpori-pori. Secara fisik keris tampak kuat dan mantap dalam genggaman, seolah dapat diandalkan karena banyak mengandung baja. Tikel alis jugag menghias ringkas sederhana, pejetan lebih sempit daripada umumnya, gandik-nya agak tegak, serta bentuk bilah yang agak tebal tampak mengikuti keris model Mataram. Bentuk sirah cecak yang agak bulat (tidak lancip) serta bagian perut ganja yang rata dan ekor ganja rata (tidak lancip) adalah khas Tuban.
Apabila kita tengok pada bagian bawah ganja akan tampak sebuah penampang ganja yang nyebit rontal (digunakan untuk menilai sisi samping ganja, dimana bentuk ganja itu melengkung landai pada sisi yang menghadap ke bawah) cantik, dimana pada bagian ekor ganja melengkung dan kembali merekah datar atau disebut ganja sebit ron (digunakan untuk menilai sisi bawah ganja, dimana permukaan kedua sisinya yang terletak antara gendokan dan buntut cecak melandai, atau tidak berupa garis lurus). Bentuk ekor ganja semacam ini tampaknya banyak digemari oleh para pecinta Tosan aji. Mencoba untuk menelisik, kenapa? ternyata apabila kita membaca buku literatur masa lampau semisal Serat Panangguhing Dhuwung, catatan Mas Ngabehi Wirasoekadgo, seorang abdi dalem mantri pande di Kasunanan Surakarta, beliau mencatat hampir rata-rata (80%) keris yang diperkirakan dibuat oleh para Empu Ternama sejak jaman Pajajaran hingga Nom-noman, ternyata bagian ekor ganja dibuat tidak meruncing (nguceng mati). Dari sudut pandang seni, tentunya tingkat kesulitan pembuatannya akan lebih susah dibandingkan keris dengan bentuk ekor ganjanya meruncing, perlu daya imajinasi seni/kreasi serta skill lebih untuk membuat lengkungan yang balance tersebut.
Sementara pada bagian atas bilah keris dihiasi pamor Ngulit Semangka. Pamor Ngulit Semangka, termasuk pamor yang merakyat, jenis pamor ini sebagaimana motifnya mirip seperti kulit semangka. Tuahnya : memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun.
Dilengkapi dengan warangka ladrang kayu timoho dengan hulu wanda longok. “Longok” artinya mendongakkan kepala biasanya dipakai untuk acara pertemuan biasa.
Kesederhanaan, sebagai ciri khas keris Tuban, seperti menyembunyikan sesuatu yang luar biasa, karena di balik kesederhanaan itu seolah selalu ada kekuatan lain. Sangat cocok bagi Panjenengan yang ingin mengkoleksi keris pertamanya, yang biasanya memang dimulai dari dhapur keris lurus dengan ricikan sederhana. Dan tentu saja dengan mahar sangat terjangkau serta memenuhi syarat TUS.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————












I would buy this kris. A gift for my nephew. Possible to have a certificate to export power in Europe without any problems? Thank you
I’m so sorry Sir, already sold on griyokulo. If you need any further assistance, please do not hesitate to contact me (email: admin@griyokulo.com).
Thank you,
griyokulo