Patrem Naga Siluman

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : Rp. ?,-(TERMAHAR) Tn DS Jakarta Selatan


 patrem keris-patrem
  1. Kode : GKO-156
  2. Dhapur : Nogo Siluman Lurus (Patrem)
  3. Pamor : Banyu Tetes
  4. Tangguh : Madura (Sumatera?) Abad XIX
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 266/MP.TMII/V/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Palembang, Sumatera Selatan
  7. Keterangan Lain : Warangka Sandang Walikat Cendana wangi, Hulu dari kayu kokka, Kolektor Item 

foto-sertifikasi-pusaka sertifikasi-patrem

Ulasan :

KERIS PATREM,  dalam bahasa jawa yang baku dipakai untuk menyebutkan keris dengan bilah versi kecil, dapat berbentuk lurus atau luk (kebanyakan hanya sampai luk 5). Ada yang memakai gandhik naga, singa atau kikik. Untuk mengenalinya secara mudah dapat diukur dengan menggunakan rentangan jari tangan. Bila ada keris ukuran panjangnya selebar rentangan ujung ibu jari dan ujung jari kelingking, maka bisa dipastikan bahwa itu adalah “patrem“. Atau dengan ukuran jaman sekarang, sekitar 20 cm.

Kadang kala disalah-kaprahkan dengan keris cundrik. Adapun cundrik sebenarnya dalah nama dhapur keris. Bentuknya jusru tidak menyerupai keris, tetapi malah lebih dekat ke bentuk pedang pendek. Cundrik memiliki gandhik dengan panjang hampir separuh bilahnya, namun berada di sisi belakang. Buntut cecak ganja pendek terbalik menghadap ke depan, terkadang malah tanpa ganja atau ganja menyatu dengan bilah (iras). Selain itu masih ada pusaka yang disebut dengan cengkrong. Secara garis besar, cengkrong mirip dengan cundrik, namun bilahnya lebih panjang dan melengkung, dengan ganja seukuran keris pada umumnya, namun terbalik.

Silang pendapat seputar bentuk pusaka kecil (patrem) ini seperti tidak ada titik temunya. Ada yang berkeyakinan, bilah pusaka kecil itu sengaja dibuat untuk kebutuhan wanita yang memang posturnya lebih kecil dari laki-laki. Hal ini diperkuat oleh tulisan Thomas Raffles dalam bukunya The History of Java, diceritakan ketika Ia berkunjung ke Keraton Yogyakarta Ia banyak melihat para prajurit wanita menyandang keris kecil di pinggangnya. Selain membawa tombak, pandai berkuda juga mempunyai ketrampilan memanah. Ketika Malam tiba biasanya semua laki-laki diwajibkan keluar dari dalam keraton, prajurit-prajurit wanita inilah yang bertugas menjaga lingkungan dalam keraton. Bahkan saat menonton acara-acara besar seperti rampogan macan (gladiator ala jawa) Raja Jawa selalu dikelilingi prajarit wanita.

Pendapat selanjutnya meyakini keris patrem biasanya merupakan keris pertama anak laki-laki, hal ini diperkuat oleh catatan perjalanan Ma Huan (Ying-Yai Sheng Lan). Ma Huan adalah penerjemah dalam perjalanan ekspedisi laksamana Cheng-Ho. Dia mengikuti 3 dari 7 ekspedisi Cheng Ho, dimana dia mencatat ;” dari anak-anak berumur tiga tahun hingga orang tua berumur seratus tahun, mereka semua, menyelipkan di pinggangnya satu atau dua bilah pisau pendek yang dinamai pu-la-t’ou (belati, mungkin yang dimaksud adalah keris), yang dibuat dari Pin t’ieh (sejenis besi impor dari Persia, atau maksudnya adalah besi berkualitas bagus), dengan pola garis-garis rumit yang sangat indah (mungkin pamor). Gagang (hulu keris) biasanya [dibuat] dari emas atau cula badak atau gading gajah, yang diukir bentuk-bentuk manusia (maksudnya kepala manusia) atau wajah setan (mungkin raksasa). bentuk [senjata] ini sangatlah halus [menunjukkan] karya seni yang tinggi.

Pendapat lain menyebutkan, bahwa bilah tersebut tidak hanya menjadi monopoli kaum hawa dan taruna, akan tetapi bisa saja menjadi senjata fungsional khusus untuk mempersenjatai para Wira Tamtama (prajurit pilihan) untuk menunjang kepraktisan tugas mata-mata, hingga mudah disembunyikan ketika dibawa, dan mudah dicabut ketika hendak dipakai.

Tetapi ada juga pendapat lain lagi mengatakan bahwa kecilnya bilah itu untuk keperluan spiritual, agar pusaka itu mudah disematkan di tubuh sebagai piandel yang bisa dibawa kemana-mana.

FILOSOFI, patrem adalah sesuatu yang dapat membuat tentram hati orang yang membawanya (patrêm: sesuatu yang membuat tentram). Menentramkan jiwa dari kekhawatiran akan ancaman bahaya, baik fisik maupun non fisik. Mereka dapat merasa tentram batinnya, taklala menyanding patrem yang berasal dari orang tua atau leluhurnya sendiri. Mereka merasa yakin, piandelnya ini cukup ampuh, karena dibabar oleh para Empu keris dengan berbagai ritual dan persyaratan ketat.

keris-patrem-naga patrem-naga-tapa

Sosok Naga atau dragon (Inggris), draken (Skandinavia), di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai tokoh antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Pendek kata, naga adalah ancaman bagi manusia. Namun tidak demikian halnya dengan citra naga di peradaban timur. Di Tiongkok, naga dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan agung layaknya dewa. Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio. Hiasan berbentuk naga juga sangat lekat dengan budaya Jawa, umumnya terdapat di gamelan, pintu candi dan gapura, sebagai “lambang penjaga”. Naga di peradaban timur mendapat tempat terhormat, karena meskipun mempunyai kekuatan dahsyat yang bisa menghancurkan, namun tidak semena-mena dan bahkan bisa mengayomi. Istilah naga sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuno yang bermakna “ular”.

Dalam budaya Jawa dikenal juga dengan bangsa Siluman, yakni sebuah dunia yang dihuni oleh makhluk halus/gaib yang tidak tampak oleh mata orang biasa (gaib). Pemujaan kepada danyang, pambaureksa, lelembut penguasa suatu teritorial sebenarnya adalah kepercayaan Jawa asli, yang ada sebelum Hindu-Budha masuk ke Indonesia. Tampaknya hal itu bertahan sampai sekarang. Pertemuan antara manusia dengan siluman seringkali menjadi bagian dari cerita-cerita misteri yang digemari. Seperti halnya dikisahkan dalam Serat Wedatama bahwa Nyai Ratu Kidul dikatakan kalah perbawa dengan wong agung (Sutawijaya) dan tunduk kepadanya.
 
Maka inti dari arti gaib adalah: hal yang tidak ditangkap panca indera (sekarang) tetapi ada dalam kenyataan. Untuk menjadi pemimpin yang  waskita, harus bisa melihat apa yang orang tidak bisa lihat. Pada suatu saat, kata gaib bisa diartikan sebagai “pengetahuan yang sekarang belum diketahui”. Sekaligus menjadi sebuah pandangan yang dapat memunculkan kesadaran akal pikiran bahwa sesungguhnya manusia itu tidak bisa dikuasai oleh makhluk lain sebangsa lelembut jika manusia menemukan jati dirinya sebagai Pangeran Ngejawantah (representasi Tuhan) di muka bumi. Sebab dengan jalan itulah manusia bisa terbebas dari gangguan untuk memperoleh wahyu Tuhan. Hal Gaib bukan lagi menjadi sesuatu yang angker, tapi menjadi sahabat manusia. Menjadi peringatan bagi manusia atas kekuasaan dan kekuatan Illahi untuk diubah menjadi kemanfaatan.
 
Sebuah perenungan bersama: Pada saat ini, mampukah kita membedakan sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat siluman? Bukankah di dalam diri manusia juga memiliki karakter dan sifat-sifat siluman. Bukankah manusia sudah pandai berkamuflase dan bermetamorfosa menjadi siluman?
TENTANG TANGGUH, Dalam rasa pandang stilasi naga, lipatan besi serta pamor, penulis mempunyai penilaian yang agak berbeda mengenai tangguh dengan yang terdapat dalam sertifikasi. Menurut pandangan pribadi penulis akan lebih masuk di keris tangguh Sumatera. Hal-hal menarik perhatian adalah bentuk mulut naga yang tidak membuka, seolah mempunyai jumlah bibir tiga (3), seperti bentuk semar dalam wayang keling khas pekalongan dimana pengaruh Hindu-Budhanya Majapahit masih kentara. Bentuk mahkota naga tanpa jamang (perhiasan kepala, dipasang di atas dahi), yang jika pada pakem wayang kulit menunjukkan wayang putro. Hal ini juga didukung dengan model warangka sandang walikat (bukan model jawa) dan tangguh berdasarkan geografis keris terakhir berada yakni di daerah Palembang. Sedangkan untuk perkiraan Abad atau tahun pembuatan menurut hemat Penulis adalah keris nom-noman atau usia sekitar 150 tahun (abad XIX). Keris Naga sulit ditemui karena menurut kepercayaan tidak boleh sembarangan dibuat, hanya diperuntukkan untuk mereka yang memiliki darah bangsawan kerajaan (ningrat) dan mereka yang mempunyai gelar jabatan (penguasa). Terlebih lagi dengan model patrem asli, bukan yang sengaja di-owahi dari keris biasa yang sudah tidak utuh. Dengan ukuran dimensi yang diperkecil tentu saja akan lebih susah dan detail bagi sang Empu dalam pengerjaannya.
gandik-patrem-naga-tapa banyu-tetes
gandik-patrem-naga-siluman pamor-banyu-tetes
PAMOR BANYU TETES, ata sering disebut tetesing warih, jenis pamor ini tergolong pamor mlumah dan merupakan pamor tiban, yakni bentuk gambarannya tidak dirancang lebih dahulu oleh sang Empu. Bentuk gambarannya serupa dengan wos wutah, namun diantara sele-sela garis pamor terdapat banyak bulatan bulatan kecil. Bulatan atau lingkaran itu tidak rata ukurannya, ada yang besar dan ada pula yang kecil, ada yang bersusun tiga lapis namun ada juga yang tidak merupakan susunan lingkaran. Bulatan-bulatan pada pamor Tetesin Warih terkadang juga tidak bulat benar. Ada yang agak gepeng ada yang mencong. Tuahnya adalah untuk ketentraman rumah tangga serta rejeki.
 pamor-bungkus
PAMOR BUNGKUS, adalah salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya agak mirip kepompong ulat. Letaknya di tengah sor-soran di pangkal bilah. Biasanya pamor ini terselip diantara gambaran pamor lain. Sebagian penggemar keris menganggap pola pamor bungkus dapat mempermudah orang mencari jalan rejeki dan mencegah sifat boros. Tergolong pamor yang tidak pemilih, siapa saja akan cocok memiliki.

MENDAK KAYU KOKKA, Kaoka/Kokka/Fuqaha/Kuk sangat terkenal dan populer, khususnya di daratan Melayu termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura dan negara Muslim lainya. Para ulama dan sejarawan mengatakan bahwa Kaoka/Kokka adalah jenis nilai kayu yang paling tinggi kwalitasnya. Kayu yang juga tenggelam di dalam air ini dianggap Kayu yang memilik “derajad” paling tinggi diantara kayu-kayu lainnya. Dipercaya membawa “khasiat & manfaat” bagi si pemakai juga disekitarnya, diantara dapat menyerap aura negatif, dijaga atau dihindarkan selalu dari godaan nafsu, menghindari pemilik dari gangguan non fisik dan lain-lain.

 
Patrem yang sudah ada sejak berbilang abad lalu tak kunjung kehilangan pesona. Fungsi dan fitrahnya untuk menjaga diri. Selain kekuatan bendawi dalam keris kecil, ada kekuaan non fisik dari patrem. Bahkan diyakini banyak orang bahwa keris kecil kekuatan “isi”-nya lebih besar.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Patrem Naga Siluman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *