Mahar : Rp. ?,-(TERMAHAR) Tn DS Jakarta Selatan
- Kode : GKO-156
- Dhapur : Nogo Siluman Lurus (Patrem)
- Pamor : Banyu Tetes
- Tangguh : Madura (Sumatera?) Abad XIX
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 266/MP.TMII/V/2016
- Asal-usul Pusaka : Palembang, Sumatera Selatan
- Keterangan Lain : Warangka Sandang Walikat Cendana wangi, Hulu dari kayu kokka, Kolektor Item
Ulasan :
KERIS PATREM, dalam bahasa jawa yang baku dipakai untuk menyebutkan keris dengan bilah versi kecil, dapat berbentuk lurus atau luk (kebanyakan hanya sampai luk 5). Ada yang memakai gandhik naga, singa atau kikik. Untuk mengenalinya secara mudah dapat diukur dengan menggunakan rentangan jari tangan. Bila ada keris ukuran panjangnya selebar rentangan ujung ibu jari dan ujung jari kelingking, maka bisa dipastikan bahwa itu adalah “patrem“. Atau dengan ukuran jaman sekarang, sekitar 20 cm.
Kadang kala disalah-kaprahkan dengan keris cundrik. Adapun cundrik sebenarnya dalah nama dhapur keris. Bentuknya jusru tidak menyerupai keris, tetapi malah lebih dekat ke bentuk pedang pendek. Cundrik memiliki gandhik dengan panjang hampir separuh bilahnya, namun berada di sisi belakang. Buntut cecak ganja pendek terbalik menghadap ke depan, terkadang malah tanpa ganja atau ganja menyatu dengan bilah (iras). Selain itu masih ada pusaka yang disebut dengan cengkrong. Secara garis besar, cengkrong mirip dengan cundrik, namun bilahnya lebih panjang dan melengkung, dengan ganja seukuran keris pada umumnya, namun terbalik.
Silang pendapat seputar bentuk pusaka kecil (patrem) ini seperti tidak ada titik temunya. Ada yang berkeyakinan, bilah pusaka kecil itu sengaja dibuat untuk kebutuhan wanita yang memang posturnya lebih kecil dari laki-laki. Hal ini diperkuat oleh tulisan Thomas Raffles dalam bukunya The History of Java, diceritakan ketika Ia berkunjung ke Keraton Yogyakarta Ia banyak melihat para prajurit wanita menyandang keris kecil di pinggangnya. Selain membawa tombak, pandai berkuda juga mempunyai ketrampilan memanah. Ketika Malam tiba biasanya semua laki-laki diwajibkan keluar dari dalam keraton, prajurit-prajurit wanita inilah yang bertugas menjaga lingkungan dalam keraton. Bahkan saat menonton acara-acara besar seperti rampogan macan (gladiator ala jawa) Raja Jawa selalu dikelilingi prajarit wanita.
Pendapat selanjutnya meyakini keris patrem biasanya merupakan keris pertama anak laki-laki, hal ini diperkuat oleh catatan perjalanan Ma Huan (Ying-Yai Sheng Lan). Ma Huan adalah penerjemah dalam perjalanan ekspedisi laksamana Cheng-Ho. Dia mengikuti 3 dari 7 ekspedisi Cheng Ho, dimana dia mencatat ;” dari anak-anak berumur tiga tahun hingga orang tua berumur seratus tahun, mereka semua, menyelipkan di pinggangnya satu atau dua bilah pisau pendek yang dinamai pu-la-t’ou (belati, mungkin yang dimaksud adalah keris), yang dibuat dari Pin t’ieh (sejenis besi impor dari Persia, atau maksudnya adalah besi berkualitas bagus), dengan pola garis-garis rumit yang sangat indah (mungkin pamor). Gagang (hulu keris) biasanya [dibuat] dari emas atau cula badak atau gading gajah, yang diukir bentuk-bentuk manusia (maksudnya kepala manusia) atau wajah setan (mungkin raksasa). bentuk [senjata] ini sangatlah halus [menunjukkan] karya seni yang tinggi.
Pendapat lain menyebutkan, bahwa bilah tersebut tidak hanya menjadi monopoli kaum hawa dan taruna, akan tetapi bisa saja menjadi senjata fungsional khusus untuk mempersenjatai para Wira Tamtama (prajurit pilihan) untuk menunjang kepraktisan tugas mata-mata, hingga mudah disembunyikan ketika dibawa, dan mudah dicabut ketika hendak dipakai.
Tetapi ada juga pendapat lain lagi mengatakan bahwa kecilnya bilah itu untuk keperluan spiritual, agar pusaka itu mudah disematkan di tubuh sebagai piandel yang bisa dibawa kemana-mana.
FILOSOFI, patrem adalah sesuatu yang dapat membuat tentram hati orang yang membawanya (patrêm: sesuatu yang membuat tentram). Menentramkan jiwa dari kekhawatiran akan ancaman bahaya, baik fisik maupun non fisik. Mereka dapat merasa tentram batinnya, taklala menyanding patrem yang berasal dari orang tua atau leluhurnya sendiri. Mereka merasa yakin, piandelnya ini cukup ampuh, karena dibabar oleh para Empu keris dengan berbagai ritual dan persyaratan ketat.
Sosok Naga atau dragon (Inggris), draken (Skandinavia), di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai tokoh antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Pendek kata, naga adalah ancaman bagi manusia. Namun tidak demikian halnya dengan citra naga di peradaban timur. Di Tiongkok, naga dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan agung layaknya dewa. Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio. Hiasan berbentuk naga juga sangat lekat dengan budaya Jawa, umumnya terdapat di gamelan, pintu candi dan gapura, sebagai “lambang penjaga”. Naga di peradaban timur mendapat tempat terhormat, karena meskipun mempunyai kekuatan dahsyat yang bisa menghancurkan, namun tidak semena-mena dan bahkan bisa mengayomi. Istilah naga sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuno yang bermakna “ular”.
MENDAK KAYU KOKKA, Kaoka/Kokka/Fuqaha/Kuk sangat terkenal dan populer, khususnya di daratan Melayu termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura dan negara Muslim lainya. Para ulama dan sejarawan mengatakan bahwa Kaoka/Kokka adalah jenis nilai kayu yang paling tinggi kwalitasnya. Kayu yang juga tenggelam di dalam air ini dianggap Kayu yang memilik “derajad” paling tinggi diantara kayu-kayu lainnya. Dipercaya membawa “khasiat & manfaat” bagi si pemakai juga disekitarnya, diantara dapat menyerap aura negatif, dijaga atau dihindarkan selalu dari godaan nafsu, menghindari pemilik dari gangguan non fisik dan lain-lain.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————













Pesan patrem naga siluman lurus.yg terjamin keasliannya.sepuh utuh.kyak yg udah laku itu
Siapp…sendiko dhawuh bpk, yang ini sudah termahar. Misal nanti ada lagi yang sae, panjenengan saya info. Matur sembah nuwun