Sengkelat

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7,500,000,-(TERMAHAR) Tn. T Bekasi


 sengkelat-mojopahit sengkelat-joit
  1. Kode : GKO-183
  2. Dhapur : Sengkelat
  3. Pamor : Beras Wutah
  4. Tangguh : Majapahit Abad XIV
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 569/MP.TMII/X/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
  7. Keterangan Lain : kolektor item

 foto-sengkelat img_20161024_092238

Ulasan :

SENGKELAT, membicarakan dhapur keris satu ini seolah tiada kekurangan kata dan selalu menarik untuk ditulis terlebih hari-hari menjelang PILKADA serentak dimana keris ini selalu dihubung-hubungkan dengan sarana piandel berpolitik. Bukan rahasia jika di elite pejabat negeri ini masih mengenal keris sebagai piandel keluhuran baik untuk menggapai kursi kekuasaan, melanggengkan dinasti kekuasaan, kewibawaan, pagar diri, hingga keberuntungan. Konon dalam 32 tahun kepemimpinannya, Pak Harto juga ditemani  Sengkelat sebagai salah satu klangenan-nya. Apapun cerita atau legenda yang menyertainya Keris berluk 13 (tiga belas) ini selalu mempunyai tempat sendiri di hati para pecinta tosan aji.

Makna pusaka keris sebagai piyandel dan diwujudkan dalam sifat kandel. Piyandel artinya bahwa keris merupakan sebuah keyakinan akan sebuah harapan, doa, dan cita-cita yang ditorehkan dan disimpan untuk diteruskan kepada anak cucunya. Merawat keris berarti merawat doa dan harapan.

sengkelat-majapahit sengkelat-tangguh-majapahit

FILOSOFI, Keris Sengkelat merupakan sanepa (perlambang) masuknya Agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa meninggalkan budaya dan kearifan lokal. Dibuat atas pesanan Sunan Kalijaga, namun dianggap kurang bernuansa Islam, Sengkelat akhirnya dikembalikan kepada sang empu Jaka Supa dan selanjutnya diserahkan kepada Prabu Brawijaya yang lebih cocok memilikinya. Keris Sengkelat juga dianggap mewakili kawula alit atau masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sengkel atine (sengkelat) atau jengkel hatinya.

Sengkelat merupakan lambang kepemimpinan di tanah Nusantara, pemimpin yang memihak wong cilik dan menjadikannya sumber inspirasi. Seperti makna kepemimpinan dalam tembang dolanan “Gundul-Gundul Pacul”, yang bisa menjadi pameling akan sesuatu hal, piwulang tentang pengetahuan baru, atau bahkan menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua. Dituturkan lisan bahwa sebenarnya lagu yang diciptakan oleh RC Hardjosubroto ini merupakan ciptaan asli Sunan Kalijaga sekitar tahun 1400-an.
Gundul gundul pacul-cul, gembelengan….. Gundul (bahasa Jawa) yaitu kepala plontos, botak tanpa rambut. Kepala merupakan lambang kehormatan serta kemuliaan seseorang yang selalu dijaga. Memegang kepala orang lain apalagi yang lebih tua merupakan suatu tindakan yang sangat tidak sopan dan dianggap merendahkan/tidak menghormati orang tersebut. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Gundul berarti kehormatan tanpa mahkota. Pacul (bahasa Jawa) yaitu cangkul, salah satu alat pertanian yang digunakan petani untuk mencangkul yang terbuat dari lempeng besi berbentuk segi empat. Pacul melambangkan kawula alit, masyarakat kecil.
Gundul pacul, artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Orang Jawa juga menyebut pacul sebagai sebuah istilah yang merupakan kependekan dari “papat kang ucul” yang dalam bahasa Indonesianya berarti “empat yang lepas”, yang berarti bahwa kemuliaan seseorang bergantung kepada empat hal yang tidak boleh lepas, antara lain :
  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan yang ada di sekitarnya. Untuk seorang pemimpin adalah kepekaan, kemampuan dalam melihat kesulitan yang dialami oleh rakyatnya;
  2. Telinga digunakan untuk mendengarkan nasehat. Bagaimana seorang pemimpin itu menerima segala masukan, dari siapapun, bahkan mungkin dari pihak yang kontra (oposisi) sekalipun, demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya;
  3. Hidung digunakan untuk mencium aroma kebaikan. Bagaimana seorang pemimpin untuk senantiasa berpikir positif, tidak mudah diprovokasi dengan hal yang buruk, demi kedamaian dan terciptanya stabilitas di berbagai bidang kehidupan dalam mendukung terwujudnya kesejahteraan rakyatnya;
  4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil dan baik. Apa yang keluar dari mulut seseorang adalah ekspresi kepribadian seseorang. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang adil dan baik adalah yang senantiasa berkata-kata yang adil dan baik pula. Sebagai salah satu bentuk keteladanan dan pengayoman, karena suatu hal baik disampaikan dengan cara yang tidak baik akan menjadi tidak baik, namun bila suatu hal yang kemungkinan dapat menciptakan sesuatu ketidakbaikan disampaikan dengan cara yang baik akan menjadi baik.
Jika keempat hal di atas lepas, maka hilanglah kehormatan seseorang, termasuk dalam diri seorang pemimpin.
 
Gembelengan, artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sesungguhnya mengemban amanah rakyat. Akan tetapi dia malah melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan sosok seorang pemimpin.
 
Gundul-gundul pacul gembelengan ….. dapat diartikan sebagai pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanah rakyat, amanah tersebut disalahgunakan untuk kepentingan diri pribadi dan kelompoknya. Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan… Wakul (bahasa Jawa) artinya bakul tempat nasi. Wakul merupakan simbol kesejahteraan rakyat. Dimana terdapat devisa negara, sumber daya alam, penerimaan pajak dll sebagai isinya. Nyunggi wakul berarti membawa bakul di atas kepalanya. Namun banyak pemimpin yang lupa bahwa dia mengemban amanah penting yaitu membawa bakul dikepalanya. Artinya bahwa kepala yang merupakan kehormatannya ternyata berada di bawah bakul milik rakyat. Jadi siapakah yang lebih tinggi kedudukannya, pembawa bakul atau pemilik bakul? Tentu saja pemilik bakul. Pembawa bakul merupakan pembantu si pemiliknya (wakil rakyat). Namun kondisi saat ini masih banyak pemimpin yang masih gembelengan dan bermain-main terhadap amanah yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya. Terbukti dengan banyaknya pemimpin daerah dan pejabat negara melakukan korupsi berjamaah dan tertangkap KPK. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar… Akibat dari pemimpin yang membawa amanah dengan sombong dan bermain-main tadi, maka jatuhlah bakul hingga isinya berserakan kemana-mana. Wakul ngglimpang berarti bakul diatas kepala jatuh. Segane dadi sak latar berarti nasi yang menjadi isi di dalam bakul tersebut jatuh dan berantakan kemana-mana. Jika pemimpin gembelengan, maka sumber daya negara akan tumpah ke mana-mana. Dan tidak terdistribusi dengan baik. Menyebabkan kesenjangan sosaial ada dimana-mana. Nasi yang tumpah di tanah tidak akan bisa dimakan lagi karena telah kotor. Sehingga amanahnya akan jatuh dan tidak bisa dipertahankan lagi karena telah mengotori kepercayaan rakyat. Menjadikan kepemimpinannya sia-sia. Maka gagallah tugasnya mengemban amanah rakyat.
Singkatnya, orang yang “kalungguhan”  Sengkelat harus mampu menjaga komitmen dan mengemban amanah di segala bidang.
TENTANG TANGGUH, Oleh sebagian besar pecinta Tosan Aji, tangguh Majapahit dianggap memiliki isoteri (kekuatan supranatural) lebih kuat dibandingkan keris tangguh-tangguh lain. Siapa yang tidak kenal kerajaan Majapahit, salah satu Imperium terbesar dan terkuat sepanjang sejarah Nusantara Indonesia. Menurut Negarakertagama, kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, dan beberapa bagian kecil benua Asia. Sasanti yang tersemat pada Lambang Negara Indonesia pun pada dasarnya berasal dari jaman kerajaan Majapahit yang lengkapnya berbunyi “BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA” yang merupakan kutipan berasal dari pupuh 139 bait ke 5 dari kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular. Masyarakat Majapahit umumnya memiliki jiwa pejuang dan penakluk. Tak cukup hanya bermodal berani atau nekat saja (jawa = kosongan) untuk bisa menaklukan dan menjadikan daerah lain sebagai negara vasal, ada faktor X lain yang lebih diyakini.  Oleh karenanya pusaka-pusaka yang ndayani serta nggegirisi-lah yang akan cocok sebagai piandel sang kesatria-kesatria penakluk di jamannya.

griyokulo-sengkelat ujung-keris

filosofi-sengkelat pucuk-sengkelat

PAMOR BERAS WUTAH, Beras dan biji-bijian merupakan bibit dari tanaman, yakni bibit dari kebaikan. Dalam budaya Jawa, beras dan biji-bijian merupakan simbol dari kemakmuran dan juga kesuburan. Tidak heran jika beras dan biji-bijian kerap ditumpahkan (ditebar) ketika menyambut pengantin atau dalam upacara anak turun tanah (tedak siti), dengan harapan mereka yang ditaburi beras dan biji-bijian ini akan dilimpahi kemakmuran dan juga kesuburan.

warangka-keris

Dipadukan dengan warangka ladrang surakarta terbuat dari kayu timoho dan pendok krawangan lung-lungan menjadikan berkesan gagah, miyayeni.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *