Jalak Sangu Tumpeng

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

 Mahar : 5,000,000 (TERMAHAR) Tn AH Yogyakarta


 jst mataram abad 17 jst
  1. Kode : GKO-159
  2. Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng
  3. Pamor : Kulit Semangka
  4. Tangguh :  Mataram (Amangkurat?) Abad XVII
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 278/MP.TMII/V/2016
  6. Asal-usul Pusaka : Bandung
  7. Keterangan Lain :  Ganja Wulung, Kolektor Item

 sertifikasi jst

Ulasan :

JALAK SANGU TUMPENG, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus, ukurannya sedang. Gandik-nya polos, memakai pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lainnya tidak ada.

KKA KOPEK, Beberapa catatan dari keraton menyebutkan bahwa Kangjeng Kiai Ageng Kopek adalah salah satu keris pusaka Keraton Yogyakarta yang oleh kalangan keraton Yogyakarta dan masyarakat Yogyakarta dianggap sebagai pusaka andalan Raja. Keris itu berdhapur Jalak Sangu Tumpeng, pamor keris ini mirip elar gangsir, sayap jangkrik yang sedang memperdengarkan sayap keperwiraannya. Sementara warangkanya terbuat dari kayu cendana wangi dengan seratnya bermotif kepang. Pendoknya terbuat dari suasa (campuran emas atau emas muda), bentuknya blewehan.

Kisah singkat yang tercatat dalam gedhong pusaka adalah bahwa KKA Kopek itu merupakan tanda mata dari Sunan Paku Buwono III. Pusaka itu diterima Pangeran Mangkubumi dengan perantara Gubernur dan Direktur Pesisir Utara Pulau Jawa, Nicolaas Hartingh, sewaktu Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta. Peristiwa itu terjadi pada 13 Februari 1755, beberapa saat setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti, diserahkan di dusun Pandak Karangnangka.

Menurut kisah legenda, sesungguhnya keris KKA Kopek ini merupakan pusaka Mataram yang diperoleh pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Semula keris ini adalah milik Kanjeng Sunan Kalijaga, kemudian diwariskan kepada Sultan Prawoto (Sultan Demak terakhir) dalam perjalanan sejarahnya keris pusaka ini selalu dimiliki para Raja Jawa. Sunan Kalijaga memberi pertanyaan kepada Sultan Agung tentang busana yang dikenakannya, antara lain Jamus Kalimasada, udeng wulung dan samiaji. Sebelum memberi pertanyaan Sunan Kalijaga berjanji apabila Sultan Agung berhasil menjawab pertanyaannya maka keris pusaka yang dimiliki Sunan Kalijaga akan menjadi milik Sultan. Dalam bahasa Jawa “mengko pek’en” (nanti ambillah menajdi milikmu). Dari kata mengko pek’en inilah kemudian menjelma menjadi Kopek.

Lalu mengapa kemudian pusaka ini menjadi pusaka andalan Raja? Dari legenda tadi terungkap bahwa pusaka ini menyimpan misteri kehidupan, yaitu bahwa manusia dalam hidupnya (Jalak) perlu membawa bekal (sangu) tumpeng. Tumpeng bisa berarti makanan untuk kehidupan dunia namun dapat pula berarti yang bersifat rohani (akhirat). Apalagi bila dihubungkan dengan Jamus Kalimasada, yang dikaitkan dengan Kalimat Syahadat dalam Islam, udeng wulung merupakan simbol, yaitu apakah manusia Jawa mampu memahami (mudheng) mengenai agama sebenarnya. Dan Samiaji sebagai pengingat Raja, dimana merupakan simbol bahwa manusia pada dasarnya memiliki nilai yang sama di mata Tuhan YME. Raja tanpa mahkota adalah rakyat, kedaulatan di tangan rakyat. Pusaka tersebut mengandung makna filosofis yang mendalam. Oleh karena itu sangat bisa dipahami mengapa keris pusaka tersebut menjadi pusaka utama di Keraton Kasultanan Yogyakarta, yang berciri utama keseimbangan jasmani-rohani, material-spiritual yang dilambangkan sebagai bangunan Keraton dan Tugu.

Jika diresapi secara maknawi, keris KKA Kopek berdhapur Jalak Sangu Tumpeng ini memang pantas dianggap sebagai keris pendamping seorang pemimipin besar (Raja) karena bersifat penuh simbol putri senantiasa mengiringi simbol kejantanan,  dan belas kasih.

pamor beras tumpah pamor beras wutah

PAMOR KULIT SEMANGKA, secara sepintas gambaran pamornya mirip wos wutah, pamor ngulit semangka tampak lebih kasar karena garis-garisnya yang tebal. Pamor Ngulit Semangka dalam proses pembuatannya sang Empu bekerja sambil berdoa, sabar dan menyerahkan hasil dari kehendak Tuhan dengan ikhlas. Tangan sang Empu hanya dipinjam sebagai “alat” adapun “kodrat” dalam pamor dianggap anugerah dari  Yang Di Atas, itulah kenapa disebut juga “pamor tiban”. Sepintas lalu penampilannya mirip dengan kulit buah semangka, oleh karenanya sebagian orang menyebutnya pamor kulit semangka. Mengenai tuahnya, bagi yang percaya terutama untuk memperluwes pergaulan. Dan biasanya rejeki atau jabatan akan lebih mudah mendekat bilamana dalam pergaulan kita mempunya banyak kawan atau relasi.

sor-soran jst gandik jst

TANGGUH MATARAM ERA AMANGKURAT, pasikutan-nya galak, kesannya birawa (besar), pori-pori besi besar, pada umumnya warna pamornya putih agak keruh dengan pola garap agal. Apabila digambarkan sebagai sosok kesatriya gagah, berwatak keras. Keris-keris tangguh Amangkurat relatif sedikit dan jarang dijumpai. Kondisi keutuhan besi dan pamor pada bilah masih 90% memposisikan kelasnya tersendiri. Pada umumnya masyarakat perkerisan mempercayai keris-keris tangguh Amangkurat memiliki tuah menjadikan pemiliknya lebih berani.

GANJA WULUNG, adalah sebutan bagi ganja yang sama sekali tidak berpamor. Banyak pendapat yang mencoba memberi penjelasan mengapa sebuah keris yang bilahya berpamor bagus, tetapi ganjanya dibuat wulung.

Pertama, ada yang berpendapat bahwa keris itu adalah “keris bagus luar dan dalam” yang kemudian dibuatkan putran. Untuk mendapatkan isoteri yang sama, bagian ganja asli dilepas kemudian ditempa bersama keris putran, sedangkan keris asli yang dibuatkan putran-nya tadi, dibuatkan ganja baru, yakni ganja wulung untuk meningkatkan kembali isoteri.

Kedua, pendapat lain mengatakan pada zaman dahulu banyak orang memahami kawruh keris, terutama isoteri-nya. Dengan hanya melihat bagian wuwungan ganja yang tampak, orang akan dapat menduga dhapur, pamor dan tuahnya. Karena keris adalah sinengker di jamannya, orang yang merasa telah tertebak seakan-akan “ditelanjangi”. Untuk menjauhkan dari hal tersebut, maka ia sengaja memesan ganja wulung.

Ketiga, karena pertimbangan estetika. Bilah yang berpamor ramai byor, memang lebih baik dipasangkan dengan ganja wulung agar keindahan pamor terfokus pada wilah.

Keempat, karena keris itu rusak atau hilang ganjanya, kemudian dibuatkan ganja baru. Jika ganja dibuat berpamor, sulit sekali bagi sang Empu meniru pola pamor yang sama dengan bilah kerisnya. Karenanya, dibuatkan ganja wulung saja.

hulu cecekan wrangka gandar iras

Tampak pusaka sudah nyetel (serasi) dengan perabot yang mengiringinya. Warangka ladrang gandar iras terlihat gagah miyayeni . Warangka ladrang biasanya digunakan untuk acara-acara resmi, seperti misalnya pisowanan (menghadap raja), sedangkan gandar iras adalah sebutan bagi warangka yang bagian gandar-nya menyatu dengan bagian utama warangka itu, jadi seluruh bagian warangka terbuat dari satu bongkah kayu, tanpa sambungan. Karena bongkahan kayu besar dan utuh susah dicari serta banyak bahan yang terbuang otomatis menjadikan warangka gandar iras lebih mahal. Cecekan (ukiran) pada jejeran (hulu) wanda yudhawinatan lamen-pun (Hulu keris yang diciptakan oleh Raden Mas Haryo Yudhawinoto seorang Wirotamtama Keraton Surakarta. Gaya dari bentuk hulu keris ini selanjutnya disebut Tunggak Semi Yudhawinatan. Hampir sama dengan Pakubuwanan tetapi kepalanya agak bulat) terlihat sangat detail tiap sudut-sudutnya menunjukkan kualitas kelas garap sang meranggi dari hati.
 –
Dialih-rawatkan (dimaharkan)  sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
 

Contact Person :
 

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435  Email : admin@griyokulo.com

————————————

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *