Mahar : 2,500,000,- (TERMAHAR) Mr. AY Semarang
- Kode : GKO-113
- Dhapur : Kara Welang
- Pamor : Beras Wutah
- Tangguh : Madura Sepuh Abad XV
- Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 107/MP.TMII/II/2016
- Asal-usul Pusaka : Bantul, Yogyakarta
Ulasan :
Kara Welang, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang dan lebar bilah keris ini sedang, permukaan bilahnya nggigir lembu, karena memakai ada-ada. Keris ber-dhapur Kara Welang ini juga memakai kembang kacang, lambe gajah-nya hanya satu dan ri pandan. Selain itu tidak ada lagi ricikan lainnya pada keris ini. Kawa Welang tergolong dhapur keris yang langka. Jika ada biasanya merupakan keris tangguh tua.
Cerita rakyat tentang dhapur Kara Welang ini terdapat pada kitab Pararaton bersamaan dengan kisah Jalak Sumelang Gandring, Menurut kitab tersebut, Mpu Supo di masa mudanya bernama Supa Mandrangi. Karena ketekunannya, ia menjadi empu yang mahir. Keris-keris buatannya selalu indah dan disukai banyak orang. Karena itu Supa Mandrangi dan adiknya yang bernama Supagati berniat untuk mengabdi pada Keraton Majapahit.
Kebetulan sewaktu ia datang ke keraton, saat itu Majapahit sedang geger. Pusaka kerajaan yang bernama Kanjeng Kyai Sumelang Gandring hilang dari tempat penyimpanannya di Gedong Pusaka. Ki Supa Mandrangi lalu dipanggil menghadap raja. Sang Raja bertitah, jika Empu Supa sanggup menemukan kembali keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring, maka raja akan berkenan menerima pengabdiannya di Keraton Majapahit, dan akan dianugerahi berbagai macam hadiah. Setelah memohon petunjuk Tuhan, empu muda itu bersama adiknya berjalan ke arah timur, sesuai dengan firasat yang diterimanya. Selama dalam perjalanan Ki Supa menggunakan nama Empu Rambang. Nama ‘rambang’ berasal dari kata ‘ngelambrang’ yang artinya berjalan tanpa tujuan yang pasti. Beberapa bulan kemudian sampailai ia di Kadipaten Blambangan. (Sumber lain menyebutkan, sebelum Ki Supa alias Ki Rambang sampai di Blambangan, lebih dulu ia mampir ke Madura untuk menuntut ilmu pada empu Ki Kasa. Tetapi sumber yang lain lagi mengatakan bahwa Ki Kasa juga merupakan nama samaran atau nama alias Ki Supa).
Di Kadipaten Blambangan, lebih dahulu Ki Supa Mandrangi menjumpai Ki Luwuk, empu senior yang menjadi kesayangan Sang Adipati Menak Dadali Putih. Berkat jasa baik Ki Luwuk, akhirnya Ki Supa bisa diterima menghadap adipati itu. Pada saat itu Ki Supa mengaku bernama Pitrang, dan menyatakan ingin mengabdi pada Sang Adipati. Ketika beberapa waktu kemudian Adipati Blambangan tahu hasil kerjanya, ia menyuruh Ki Pitrang membuat putran (duplikat) sebilah keris lurus yang indah. Setelah mengamati keris yang harus dibuatkan duplikatnya itu, Ki Pitrang segera tahu bahwa itulah keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring yang hilang dari Kerajaan Majapahit.
Ki Pitrang alias Ki Supa menyanggupi membuat putran keris itu dalam waktu 40 hari, dengan satu syarat, yaitu agar selama ia membuat keris putran itu, tidak seorang pun boleh memasuki besalen -nya. Adipati Blambangan menyanggupi syarat itu, bahkan ia akan menempatkan beberapa prajurit di sekitar besalen empu Pitrang, agar jangan ada orang yang masuk mengganggu kerjanya. Di besalen-nya, Ki Supa bekerja hanya dibantu oleh adiknya, Ki Supagati, yang bertindak sebagai panjak-nya. Dalam waktu 40 hari itu Ki Supa bukan membuat sebilah, melainkan dua bilah keris putran, yang bentuk dan rupanya sama benar dengan keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring.
Setelah pekerjaan itu selesai, KK Sumelang Gandring yang aseli disembunyikan di balik kain di paha kirinya. Sedangkan kedua keris putran yang dibuatnya dibahwa menghadap Adipati Blambangan, dan diakukan sebagai keris yang putran dan yang aseli. Karena sama bagusnya, sama indahnya, Adipati Blambangan tidak bisa lagi membedakan kedua keris itu. Mana yang aseli, dan mana yang putran. Padahal sebenarnya kedua keris itu merupakan keris putran.
Adipati Dadali Putih amat gembira melihat hasil karya Empu Pitrang. Karenanya, empu muda itu lalu dinikahkan dengan salah seorang adik perempuannya, dan diberi banyak hadiah. Adipati Blambangan tersebut juga menikahkan putrinya dengan Empu Pitrang. Sebenarnya sudah seringkali sang putri Adipati dinikahkan, namun, kesemua suaminya mati secara misterius. Mengetahui adanya peristiwa aneh tersebut, maka dengan segala kesaktiannya Empu Pitrang menyelidiki penyebabnya, akhirnya Empu Pitrang tahu jika dikemaluan sang putri bersembunyi ular “welang”. Maka tidak heran jika setiap menyenggamainya selalu mati digigit ular welang. Kemudian Empu Pitrang mengeluarkan ular welang tersebut dan menanamnya dibawah pohon “koro”, sebangsa sayuran buncis. Akan tetapi malam harinya ular tersebut sudah tidak ada dan berubah menjadi sebilah keris pusaka berluk 13, yang oleh Empu Pitrang diberi nama keris “karawelang”.
Keris Kyai Koro Welang adalah salah satu pusaka piandel KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya) Mangkunegara I, yang dikenal dengan sesebutan Kanjeng Pangeran Samber Nyawa, yang hingga saat ini masih tersimpan di daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Konon lagi Dhapur Koro Welang yang banyak dibabar oleh Mpu Pangeran Welang, anak dari Mpu Cinde Amoh harus dirawat hari Sabtu Wage saja. Dipercaya memiliki tuah untuk menangkal segala macam halangan dan rintangan.
Tangguh Madura Sepuh, ganja sebit lontar pendek, gandik pendek dan miring, bentuk pejetan atau blumbangan yang lebar, dan terutama dari besi yang kesannya kering berwarna hitam pucat serta pamor nggajih bersap-sap, identik dengan keris-keris Madura Sepuh sejaman Majapahit. Yang agak unik adalah untuk keris berluk tangguh sepuh, condong leleh keris ini bisa dikatakan mendekati tegak. Secara keseluruhan masih bisa dianggap utuh dan terjaga untuk keris yang diperkirakan berasal dari abad XV.
Pamor Beras Wutah, Jika dalam motif batik disebutnya Beras Kecer adalah motif bentuknya berupa butiran-butiran menyerupai beras yang tersebar. Maknanya pun sama, Beras Kecer /Wutah bermakna pengharapan untuk kemakmuran dan rejeki yang melimpah. Selain itu motif beras wutah juga mengingatkan akan filosofi beras itu sendiri untuk bagaimana memperlakukan pasangan hidup. Seperti pameo : “Jangan kau genggam beras terlalu keras!”, jika kau lakukan itu ia akan keluar dari selah jemari tanganmu!”. Peganglah beras dengan lembut maka ia tak akan pergi dari genggamanmu. Filosofi beras dapat kita terapkan pada pasangan kita, beras merasa nyaman ditangan ketika ia tak digenggam terlalu keras begitu juga orang atau manusia tak suka dikekang dan digenggam begitu keras. Jika kau lakukan itu ia akan lepas dari genggamanmu mencari celah agar dapat keluar dari kekangannya. Perlakukanlah seseorang dengan tepat, perlakukan orang yang kau sayangi dengan baik, dengan begitu ia akan nyaman di genggamanmu, dalam pelukmu.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : 5C70B435 Email : admin@griyokulo.com
————————————












