Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. RHK, Sukorambi – Jember
1. Kode : GKO-338
2. Dhapur : Tombak Biring Sumben
3. Pamor : Wengkon Isen
4. Tangguh : Kartosuro (Nom-noman?) (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1633/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Eks Lurah Rembang, Sananwetan Kediri
7. Dimensi : panjang bilah 27 cm, panjang pesi 15 cm, panjang total 42 cm
8. Keterangan Lain : kidang njerum di bungkul, pesi untiran, methuk iras
ULASAN :
“Heh para Prawira ing Tanah Jawa, yen sira pada marsudi kaprawiran sing pada bisa anggegulang olah Curiga, olah Kara, olah Warastra, oleh Buntara, lan olah Sanjata. Dene yen ora bisa iya sak mestine Marsudiya lan mangertenana marga iku wajibing para satria – Sultan Agung Hanyakrakusuma
BIRING SUMBEN, adalah salah satu bentuk dhapur tombak lurus. Bilahnya pipih dan simetris. Mudah dikenali dengan adanya sogokan rangkap di bagian sor-soran. Di tepi bagian pangkal bilah juga ada bagian yang menyudut seperti jalen. Tombak biring sumben memakai odo-odo jelas yang membujur di tengah bilah, dan gusen mulai pangkal hingga ujungnya.
Kata Biring Sumben seperti terdengar kata yang kasar dan sadis. Menurut para ahli esoteri tombak ini juga bersifat panas, keras, tetapi juga dapat berlaku tegas. Tombak ini dapat dipasang pada landheyan panjang atau pendek. Tombak Biring Sumben tergolong tombak yang langka yang tidak banyak dijumpai. Tombak Biring Sumben dahulu kala banyak dipakai untuk prajurit, panglima perang, laksamana atau pasukan berkuda (Cavaleri).
FILOSOFI, Biring sendiri dari kata biri yang artinya kebiri (telah dihilangkan), sedangkan kata Sumben berasal dari Dayang Sumbi (Danghyang). Artinya : Dang = penanda hormat, Yang atau Hyang = gaib. Dan Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar agar tidak tersesat. Maknanya: Fitrah manusia yang bersifat gaibiah yang memberi petunjuk dan kendali dalam menentukan arah kehidupan. Bisa dimaknai pula sebagai membuang ego dengan mengikuti kata hati, atau nurani (kebenaran sejati) yang telah mendapat pencerahan hidayah Allah.
Hei para (orang-orang) perwira di tanah Jawa, apabila kamu semua akan mempelajari keperwiraan hendaklah belajar olah Curiga (keris), olah Kara (pedang), olah Warastra (panah), olah Buntara (Tombak) dan olah Senjata (bedil-senapan-pistol), dan apabila tidak dapat sudah semestinya kamu harus belajar dan mengerti, sebab itu adalah kewajiban para Satriya. Amanat dari Sultan Agung, Raja Mataram yang termasyur ini sampai jaman sekarang masih menjadi pegangan hidup orang Jawa. Walaupun masa kejayaan kerajaan dan sistem feodal sudah berlalu. Pandangan bagi orang Jawa yang Perwira haruslah dapat mengolah keris, pedang, panah, tombak dan senjata. Jaman sekarang sudah bergeser, nilai-nilainya sekarang bukan mengolah, tetapi paling tidak harus mengerti seluk-beluk senjata-senjata itu.
Khusus mengenai Tombak juga merupakan sebuah simbol pada masa lalu. Misalnya pada jaman lampau dalam keraton raja, rumah-rumah bangsawan, priyayi, ataupun orang-orang terkemuka selalu memajang tombak dan payung serta membawa teken. Benda-benda ini bukan hanya sebagai pajangan namun juga memiliki makna dan filosofi mendalam. Bahwa raja, orang ningrat, ksatriya, dan pemimpin lainnya harus berlaku seperti tombak yang dapat mengatasi perkara atau permasalahan dan bahaya secara kasar dan halus (natasi sabarang prakara), mengatasi bahaya (natasi sabarang bebaya). Bersifat lurus dan jujur alam perilaku, seperti wujud tombak yang lurus, pemikiran yang tajam seperti tajamnya tombak, dan kokoh pendiriannya seperti kuatnya tombak. Karena para pemimpin adalah cermin kehidupan masyarakat, harus membela masyarakat dari sembarang perkara dan bahaya.
Bagi beberapa pecinta tosan aji, kualitas mistik tombak justru lebih sakral dari keris. Tombak mempunyai daya singkir (penangkal) yang lebih mumpuni dari tosan aji yang lain. Bukti kecil yang mendukung terlihat jelas dari kebijakan keraton memajang tombak di pojokan-pojokan ruangan. Hal itu menunjukkan betapa pihak keraton menempatkan tombak pada kedudukan yang sangat tinggi ketimbang pusaka lainnya.
TANGGUH KARTASURA, menurut Serat Paniti Kadga nama-nama Empu yang berkarya di Jaman Kartasura adalah: Empu Setranaya III, Empu Sendang Warih (putra Empu Setranaya III), Empu Taruwangsa, Empu Lujuguna III, Empu Japan, Empu Braja Kajoran (Brajaguna), Empu Lujuguna IV, Empu Sendhang Koripan (Putra Empu Sendang Warih) dan Empu Brajaguna II.
Menatap tombak biring sumben ini kita akan terhipnotis dengan kualitas besi yang pulen. Jika di-condro-kan sebagai seorang wanita, mungkin mirip indo/blasteran, seperti menyisakan kisah perkawinan antara estetika tombak pusaka Jawa dan kekuatan besi pabrikan Eropa. Karena pada masa itu, Eropa lewat VOC tengah gencar melakukan penetrasi besar-besaran ke Pulau Jawa. Termasuk dalam hal logam pabrikan asal Benua Biru itu. Sehingga perkawinan budaya tosan aji dan besi eropa tak terhindarkan pada masa kepemimpinan raja Amangkurat II yang lebih populer disebut Sinuhun Amral itu (karena Ia merupakan raja Jawa pertama yang memakai pakaian dinas ala Eopa sehingga rakyat memanggilnya dengan sebutan Sunan Amral, yaitu ejaan Jawa untuk Admiral). Seiring dengan hobi sang Sinuhun membuat tren baru dan pembaharuan di jagad perkerisan klasik. Amangkurat II lebih berselera menggunakan jasa Empu-Empu dari Madura karena memang terpengaruh pembaharuan dari roman Eropa, budaya renaisans, dan budaya barok. Maka dari itu, tosan aji-nya berubah dari zaman Mataram. Keris, dan tombak zaman Amangkurat Amral lebih besar, tebal dan kokoh tampak bisa diandalkan, lebih tegas, bergaya militer, tampak garang dan berwibawa.
Selain besinya yang tampak halus dan pulen, penampakan logam pada bilah tombak ini tampak kering sekaligus basah. Karena disinyalir banyak mengandung baja, maka bilahnya terlihat kering. Sementara dominasi besi Eropa pada bilahnya membuat kesan basah. Pamor yang ada tampak putih keabu-abuan. Pada bagian sogokan rangkapnya dibuat sangat dalam sekali hingga nyaris kandas wojo. Odo-odo yang ada juga sangat kentara sekali, memanjang dari ujung sogokan ke pucuk bilah. Tantingan-nya antep namun tidak terlalu berat, sangat macho (nglanangi). Dengan model pesi yang unik, puntiran. Tombak ini sebelumnya dimiliki oleh eks Lurah di daerah Kediri, Jawa Timur.
KIDANG KENCANA NJERUM, Motif kidang kencana (konon kidang kencana adalah kijang dengan selempang putih dan mempunyai tanduk menyerupai emas) yang terdapat pada bungkulan sor-soran dengan posisi kidang sedang duduk (njerum) ini melambangkan sesuatu yang diburu, sesuatu yang dikejar, karena kijang (kidang, Jw) adalah binatang buruan. Jadi dapat diartikan kidang melambangkan suatu gegayuhan yang ingin dicapai oleh seseorang. Namun adapula yang mengintepretasikan, posisi njerum adalah kidang sedang bertapa. Pengertian ini dapat dimakmai bahwa sifat adigang manusia sudah semestinya diredam dengan cara lelaku. Sikap manembah menyadarkan diri manusia dalam mengandalikan sifat dan watak adigang, adigung, adiguna tersebut.
MBUNTUT TUMO, adalah sebutan bagi ujung bilah keris atau tombak yang bentuknya menyerupai ekor kutu rambut. Tumo yang dalam bahasa Jawa artinya memang kutu (rambut). Sebagian pecinta tosan aji beranggapan bahwa keris atau tombak yang ujungnya ambutut tumo biasanya memiliki tuah yang berkaitan soal kewibawaan, dan kesanggupan untuk bersikap berani dan agresif. Keris dan tombak yang tergolong nom-noman (umurnya kurang dari 150 tahun), pada umumnya mempunyai ujung bilah yang ambutut tumo. Penggemar keris dan tombak dari daerah Surakarta umumnya menyukai bentuk ujung bilah yang mbuntut tumo. Karena itu, sejak tahun 1930-an di daerah Surakarta berkembang budaya atau kebiasaan memperbaiki ujung keris yang telah aus atau merubah pada para empu, sehingga ujung bilah keris atau tombaknya di-besud menjadi mbuntut tumo. Kebetulan pada masa itu banyak Empu pembuat keris yang menganggur karena situasi ekonomi yang sedang malaise (depresi besar di seluruh dunia).
PAMOR WENGKON ISEN, wengkon adalah pamor yang bentuknya menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Pola pamor ini melambangkan perisai, perlindungan, atau penangkal terhadap suatu malapetaka, penyakit, nasib buruk dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya. Tuahnya kira-kira hampir sama.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————











