Cundrik Naga

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 2.600,000,- (TERMAHAR) Tn. AP,  Senen – Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-337
2. Dhapur : Cundrik
3. Pamor : Sulangkar
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1632/MP.TMII/XII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Banjarnegara, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 18 cm, panjang pesi  2,2 cm, panjang total 20,2 cm
8. Keterangan Lain : warangka lawasan tunggak jati pasaren


ULASAN :

CUNDRIK, Sebutan patrem dan cundrik agaknya sudah tak asing lagi bagi telinga masyarakat Jawa pada umumnya. Apalagi bagi kelompok penggemar keris. Namun nyatanya, penyebutan untuk pusaka-pusaka berbilah kecil ini seringkali mengalami kerancuan atau salah kaprah. Padahal kedua bentuk tosan aji ini sama sekali berbeda. Cundrik lebih menyerupai pisau pendek, sedangkan patrem adalah keris dalam ukuran mini. Kesamaannya, karena bentuknya relatif kecil seringkali disembunyikan di balik pakaian pemakaianya yang rata-rata kaum Hawa.

Bentuk keris ber-dhapur cundrik pun masih simpang siur. Namun umumnya menyebutkan bahwa  cundrik bentuknya justru tidak menyerupai keris, tetapi malah lebih dekat ke bentuk pisau, belati atau pedang yang bilahnya dari hulu sampai ujung melengkung atau cekung (membungkuk), mengikuti sisi tajamnya. Di bagian lain, punggung bilah (gandik, setengah dari panjang bilah), ada semacam “pematang” (kruwingan) yang bisa terlihat jelas atau hanya tipis. Sekilas bentuknya mirip pedang Turki, Yatagan. Begitu juga persamaan lafal antara cundrik Jawa dengan badik Sulawesi, todik madura dan dengan sundri di Lombok ternyata semuanya menunjuk ke bilah senjata yang hampir mirip bentuknya.

Konon menurut Serat Pustakaraja Purwa dhapur cundrik (diberi nama badhèr) bersama dengan patrem, pasupati, lar ngatap serta senjata lain seperti cakra, kunta, katana, cundha, sarata, kalaka, sakri, nagapasa, sanggali, dibabar oleh Empu Ramadi yang merupakan Bapak Empu di Tanah Jawa pada masa pemerintahan Sri Paduka Raja Maha Dewa Budha, pada tahun Saka 153. Serat-serat lama pun seolah tidak ketinggalan menyebutkan para Raden dan Kêtip (ulama) memakai cundrik sebagai salah satu kelengkapan busana dengan cara nyothe (diselipkan di pinggang atau depan).

memakai keris dengan cara nyonthe

PESONA CUNDRIK, Cundrik dan wanita memang sama-sama menarik. Cundrik terbilang unik. Bukan saja bentuknya yang indah dan menawan, asal usul cundrik juga penuh selimut misteri. Sebagai  senjata sikepan (semacam senjata rahasia), bentuk bilahnya yang terkesan masih sangat sederhana (primitif) justru jauh dari keangkeran. Secara kodrati, berbeda dengan Kaum Adam, kau Hawa memang tidak terlalu akrab dengan keris. Konon pada zaman dahulu, cundrik lebih lazim digunakan oleh para resi perempuan, hingga putri-putri raja (termasuk permaisuri dan selir), sebab umumnya kaum perempuan tidak ingin menonjolkan sisi kekerasan dalam pembelaan dirinya. Cundrik selain sebagai senjata tikam sekaligus pelengkap busana. Para perempuan Jawa tempo dulu sangat menjunjung tinggi kehormatannya. Kehormatan pribadi yang diwarisi dari kemuliaan nama leluluhur dan amanah suami. Pantang bagi seorang wanita bila sampai menanggung wirang (malu). Dalam kondisi terdesak, mereka baru akan menggunakan cundrik sebagai benteng pertahanan terakhir. Namun, saat terdesak dan hampir tidak mungkin untuk bertahan, senjata ini digunakan untuk suduk salira/balapati (menusuk diri sendiri/bunuh diri). Karena baginya lebih baik mengakhiri hidup, daripada harus menanggung malu seumur hidupnya.

Cerita mengenai cundrik tidak lepas dari nama besar Nyi Ageng Serang dan laskar semut ireng-nya yang sepak terjangnya cukup merepotkan serta menciutkan nyali Kumpeni Belanda, dalam perjuangannya tidak pernah terlepas dari sebuah cundrik dan tombak berlilit sampur warisan dari sang Ibundanya. Menurut orang-orang terdekatnya, dari dalam kamar tidur B.R.A Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (nama asli Nyi Ageng Serang) kerap terlihat pancaran cahaya yang terang benderang. Bukan dari lampu atau alat penerangan, melainkan terpancar dari sebilah cundrik pusaka. Sultan HB II sendiri konon pernah membuktikan hal tersebut dan dengan alasan itu pula merelakan Kembang Serang tersebut untuk berjuang di luar keraton. Selama berperang Nyi Ageng Serang menggunakan teknik penyamaran atau kamuflase daun lumbu (keladi). Daun lumbu wajib dibawa oleh setiap prajurit dan rakyat yang ikut berperang yang nantinya akan digunakan untuk melindungi kepalanya sebagai payung (bersembunyi), sehingga apabila tampak dari kejauhan seperti kebun tumbuhan. Bila sudah dekat atau dalam jangkauan sasaran musuh baru akan diserang.

Namun ternyata pesona tersembunyi di balik sebilah cundrik tidak hanya menjadi monopoli kaum Hawa. Setidaknya itulah yang terpapar dalam Babad Tanah Jawi. Disebutkan Trunojoyo, yang menjatuhkan Amangkurat I dari tahtanya itupun menyengkelit keris dhapur cundrik (tidak ada catatan tentang nama, pamor dan tangguh). Keris kecil ini selalu dibawanya ketika maju dalam peperangan. Hal ini juga tidak lepas dilakukannya, ketika Trunojoyo berkedudukan di Kediri, dimana sekali lagi harus menghadapi prajurit Mataram yang dipimpin sendiri oleh Amangkurat II. Trunojoyo dianggap menghianati perjanjian sebelumnya – memang tidak segera menyadari kesalahannya untuk menyerahan tahtanya kepada Raja Mataram itu. Ia justru menantang-nantang dan menyambutnya dengan diiringi ribuan Prajuritnya. Trunojoyo, dengan cundrik di pinggangnya, menghunus kerisnya menghadang pasukan Mataram. Namun kekuatan orang-orang Madura – yang dibantu orang Bugis – tak kuasa menahan terjangan Prajurit Mataram yang datang seperti air bah. Kediri pun jatuh,  dan Trunojoyo sempat melarikan diri, walau akhirnya tertangkap dan dibunuh. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1679 Masehi.

Ada juga Cerita lisan mengenai Pangeran Diponegoro, yang mengobarkan perang Jawa (1825-1830) dan sempat “memboroskan resources” pihak Belanda (tercatat di pihak Belanda 8000 prajurit Eropa terbunuh dan 7000 prajurit bayaran tewas, serta mengalami kerugian 20 juta gulden) juga memiliki sebuah cundrik pusaka, yang konon merupakan pemberian Ratu Kidul saat sedang menjalani tirakat di watu gilang (tempat Panembahan Senopati memperoleh wahyu kedaton). Cundrik itu bernama Kanjeng Kiai Sarotama. Semenjak memperoleh pusaka itu, tekad Diponegoro untuk memerangi Belanda semakin kuat dan bulat. Dalam setiap peperangan, cundrik KK Sarotama selalu di-sikep dalam busana sang pangeran, menyertai langkahnya bersama keris KK Sapu Jagad dan KK Bondoyudo. Bahkan hingga kinipun sudah menjadi rahasia umum, orang-orang penting zaman sekarang juga banyak memiliki dan menyimpan cundrik atau patrem, terutama karena bentuknya yang kecil dan mudah untuk disimpan dimana saja, termasuk di laci meja kantor. Ini tentu saja ini untuk “kebutuhan lain” lagi.

TANGGUH CIREBON, Daerah Cirebon memang dikenal dengan banyak ditemukannya varian dhapur keris yang unik, seperti cundrik dengan relief naga pada bagian sor-soran. Sekilas bentuknya memang mirip dengan badik, apalagi jika dilihat dari bentuk pesi-nya yang pendek dan pipih. Tetapi jika dilihat secara kesuluruhan mempunyai perbedaan pada sisi kelengkungan dan ricikan tambahan berupa pematang (kruwingan) mengikuti panjang gandik. Pahatan motif naganya sangat sederhana sehingga seringkali juga disebut bentuk “naga primitif”. Dalam budaya Nusantara naga memang dikenal sebagai sosok pelindung dan singha adalah sosok penjaga. Tak heran ragam hias kedua makhluk mitologi inilah yang sering ditemukan pada candi, kuil atau bangunan bangunan religius lainnya.

morfologi daun padi

Apabila kita cermati cundrik naga ini bentuknya tidak jauh dari bentuk morfologi daun padi. Yang bagi masyarakat Sunda bagian Utara menyebutnya sebagai kujang daun. Selain menyebutnya sebagai kujang daun juga biasa disebut kujang wadon. Pantun Sulanjana, misalnya, menyebutkan bahwa padi lahir dari sebuah kesedihan Naga Anta. Makhluk berbadan naga ini menangis karena tak bisa ikut serta membangun Bale Mariuk Pada Gedong Sasaka Domas di negeri Pajajaran yang diperintahkan Dewa Guru. Tiga tetes airmatanya jatuh dan berubah menjadi tiga butir telur. Dari salah satu telur itu lahirlah Nyi Pohaci, yang kelak menjadi padi dan palawija lain. Kesedihan pun membawa berkah. Padi adalah dunia wanita yang penuh kelembutan dan selalu memproduksi kehidupan. Padi adalah sebuah keniscayaan hidup. Dari butir-butirnya sebagian penduduk Bumi menghidupi raga mereka, termasuk penduduk Nusantara. Bagi masyarakat agraris, kehadiran “Ibu Surgawi” begitu dinanti, begitu dipuja, maka lahirlah Dewi Sri, Nyi Pohaci, Dewi Sukraba, Dewi Supraba, serta bidadari-bidadari dengan segala keistimewaannya dalam cerita-cerita lisan di negeri ini.

 

Dalam pengamatan bilah cundrik naga ini tergolong sepuhannya keras dan tajam, sebagai senjata tikam bisa diandalkan. Sangat mungkin berasal dari era yang jauh lebih sepuh dari yang tertera pada Surat Keterangan, terlebih ketika diwarangi besinya susah menghitam mirip besi-besi Pajajaran (warna besi kelam kebiruan). Pamornyapun warnanya cenderung putih dan tidak terlalu terang mencerminkan khas kulonan. Warangka motif wadasan dan mega mendung (trusmian, ada yang menyebutnya dengan motif tunggak jati pasaren) masih menggunakan warangka lawasan sebelumnya menambah ke-ontentikan-nya. Sederhana namun penuh arti.

sarangka dan garan motif trusmian atau tunggak jati pasaren

PAMOR SULANGKAR, seperti halnya kujang-kujang buhun (sepuh) buatan masa lampau, yang dibuat pada masa Kaprabuan Pajajaran, pada dasarnya tidak memiliki pamor tertentu, kecuali pola sulangkar atau berupa garis-garis (adeg/mrambut, Jw) dan tutul, berupa bintik-bintik yang tidak beraturan, yang terbentuk secara tidak langsung dalam proses paneupaan (tiban).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *