Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn. AI, Ternate, Maluku Utara
1. Kode : GKO-308
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Udan Mas
4. Tangguh : Madura (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 919/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka : Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi 7,2 cm, panjang total 40,2 cm
8. Keterangan Lain : warangka kayu gaharu wangi
ULASAN :
“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas adalah pemberi, tangan di bawah adalah peminta.” (HR. Bukhari Muslim)
PAMOR UDAN MAS, adalah gambaran pamor yang memiliki bentuk bulatan-bulatan bersusun dengan pola dua (2) bulatan dalam satu baris, kemudian satu (1) bulatan dalam satu baris, selanjutnya pola ini berulang terus hingga keatas bilah. Bulatan pamor Udan Mas bisa berdiri sendiri tanpa diikuti pamor lain (drip dingin) atau bergabung dengan pamor lain (drip panas), seperti dengan pamor Wos Wutah yang kemudian berkumpul menyerupai tetesan air hujan dalam genangan air. Bulatan-bulatan pada pamor udan mas tersusun oleh tiga (3) atau lebih lingkaran/puseran. Semakin banyak bulatan penyusunnya maka dianggap semakin bagus kualitas pengerjaan Tosan Aji tersebut. Pamor udan mas adalah salah satu pamor yang paling dicari oleh kolektor bahkan para pemula yang baru belajar, karena begitu mendengar Udan Mas konotasinya selalu dikaitkan dengan guyuran rejeki yang deras.
FILOSOFI, Udan = Hujan , Mas = Emas. Dari hujan yang selalu jatuh dari langit kita bisa belajar satu hal yang penting dalam hidup untuk selalu memperjuangkan prinsip “Tangan di Atas”, karna prinsip hidup adalah memberi bukan menerima. Hakikat memberi sama dengan menerima. Pemberi terbaik biasanya juga akan menjadi penerima terbaik. Gampangnya, jika kita memberi, suatu saat kita akan menerima. Sama dengan bunyi pepatah, “Siapa yang menanam, dia yang menuai.” Tentu, maksud memberi di sini dalam arti secara luas. Bukan hanya pemberian materi saja. Misalnya, berbagi ilmu itu juga memberi. Bekerja dengan optimal juga memberi. Belajar dengan sungguh-sungguh itu memberi. Dan seterusnya. Jika kita sudah ‘memberi’, suatu saat kita akan menuai.
Banyak pengalaman nyata dalam hidup, bahwa Tuhan akan selalu membantu hambanya selagi dia membantu saudaranya. Tak heran, kadang kita mendapatkan apa yang kita inginkan setelah kita membantu mewujudkan keinginan orang lain. Setelah membantu, ada saja jalan menuju kesuksesan kita. Meski demikian, ketika memberi kita tidak berharap untuk diberi. Sebab jika mindset kita masih seperti itu maka kita masih memiliki jiwa berharap, masih memiliki mental peminta-minta. Kita memberi karena memang kewajiban kita berjiwa “di atas” untuk selalu memberi. Artinya, apa yang kita ulurkan untuk orang lain itu semata-mata karena rasa syukur dan ibadah kepada Tuhan YME. Kalau pun nanti kita mendapatkan imbalan, itu hanyalah bonus semata. Bukan tujuan kita. Sebab tujuan kita adalah rida dan pahala-Nya. Bukan ‘keindahan’ di dunia.
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com
————————————









