Sengkelat Bungkem

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn. BI Kodamar, Jakarta Utara


1. Kode : GKO-306
2. Dhapur : Sengkelat
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 851/MP.TMII/VIII/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 37 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 44 cm
8. Keterangan Lain : sudah diwarang ulang, sandangan baru semua, kembang kacang bungkem


ULASAN :

SENGKELAT,  adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan.

FILOSOFI, Sengkelat adalah simbol berjuang bersama “wong cilik”. Wong cilik adalah istilah bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara literal berarti orang kecil. Istilah ini tentu bukan secara fisik, tetapi merupakan bahasa kiasan untuk menggambarkan kaum ekonomi lemah, orang-orang yang berpendapatan rendah, bekerja di sektor informal, dan mungkin juga tidak sempat mengenyam pendidikan dengan tingkat yang lebih tinggi. Tetapi mereka harus tetap bekerja untuk mempertahankan hidup mereka, untuk menghidupi keluarga hingga mempertahankan agar dapur tetap berasap. Tuntutan hidup tersebut membuat mereka harus mau bekerja sesuai dengan kemampuan apapun yang mereka miliki.

Dalam masyarakat tradisional Jawa jaman dahulu (feodal) wong cilik digunakan untuk menggambarkan kelas sosial yang sama dengan “rakyat jelata” atau golongan “sudra” dalam masyarakat kasta Hindu. Lawan katanya adalah “priyayi“, yang merupakan kelas elit aristokrat atau bangsawan. Istilah ini masih sering digunakan dalam berbagai media, baik cetak maupun televisi bahkan setelah selesainya masa feodal di Indonesia.

Sengkelat ibarat Semar, sosok Punakawan yang merupakan hasil modifikasi Sunan Kalijaga dan tidak ditemukan dalam cerita Ramayana dan Mahabarata. Sosok yang merangkum seluruhnya. Semar itu  dewa sekaligus wong cilik. Jika ditarik garis, Semar bagaikan garis melingkar. Di atas sebagai dewa, di bawah sebagai wong cilik. Cap sebagai “wong cilik” bukan sebagai alasan ongklak-angklik (bermalas-malasan atau santai). Nasib seseorang ditentukan bukan semata-mata karena nasab (keturunan atau silsilah keluarga), melainkan oleh kasab (usaha dan prestasi kerja). Seperti catur pion walaupun paling kecil langkahnya namun tidak pernah mundur, akan terus maju berjuang. Ini adalah karakter sesungguhnya dari wong cilik. Dan jika “wong cilik” merupakan representatif dari rakyat, maka sebagai pemimpin yang harus diingat adalah suara rakyat adalah juga suara Tuhan.

TANGGUH MATARAM, Dalam pupuh tembang serat Centhini disebutkan Tangguh Mataram sebagai  berikut :  yèn tangguh ing Ngèksiganda | iya ing samangke iki | Iku ana loro rupa | ing Mataram Senapati winarni | sikutan prigêl srêng bagus | wêsi biru sêmunya | garing alus pamor pandhês tancêpipun | angawat kêncêng tur kêras | tan ana kang nguciwani || Karsa dalêm sri narendra | yèn iyasa wangkingan kaya iki | dhuwung wus tinampèn gupuh | kalawan Mas Cêbolang | tiningalan sasikutan dhèmês bagus | amung wêsi radi mêntah | pamor kathah mubyar putih ||

Atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya sebagai berikut: Jika tangguh Ngeksiganda (Mataram) ada dua jenis; pada jaman Senopaten pasikutan prigel (ulet) dan bagus, besi berwarna semu kebiruan, pamornya kering halus, menetapnya pamor kokoh pandes, ngawat, kencang dan keras, tidak ada yang mengecewakan. Sedangkan pada jaman Sultan Agung pasikutan demes (gagah), bagus, besi agak mentah, pamor banyak berwarna putih terang.

 

Dari pengukuran rancang bangun, bilah ini sangat mengikuti pakem petung keris Mataram, semisal apabila kita menarik simpul dengan benang, mulai dari bagian pesi melewati janur dan ujung sogokan (puyuhan/bebel) hingga menuju ke arah panitis (pucuk bilah) didapatkan satu simpul atau garis yang lurus. Juga misal simpul-simpul lain yang ditunjukkan oleh gambar di atas. Kemudian apabila kita hadapkan kembang kacang ke arah kita, pada atas sogokan sedikit lebih cembung daripada area lain.

Sisi paling menarik dari bilah ini adalah bentuk kembang kacang-nya tampak lebih maju dan tegak mirip buatan trah ngentho-entho walau lebih langsing. Semakin nyess dengan ujungnya yang menempel gandik (bungkem). Kembang kacang model bungkem memang lebih disukai atau menjadi favourite diantara bentuk kembang kacang lain, semisal bentuk nguku bimo atau gelung wayang karena dianggap mempunyai taksu tertentu. Kepercayaan yang beredar di antara penggemar tosan aji adalah untuk membungkam lawan bicara/musuh. (wallahu a’lam).

Sandangan pada keris sengkelat ini sudah diganti semuanya menjadi baru mulai dari jejeran, selut, warangka hingga pendok-nya. Bagi mereka yang lebih menyukai tampilan macak baris tentu menjadi sebuah nilai tambah tersendiri karena tidak ada pengeluaran ekstra untuk penggantian sandangan.

PAMOR BERAS WUTAH, adalah gambaran motif pamor yang menyerupai tebaran butiran beras yang tumpah (tercecer). Mengandung sebuah doa; “Mbesuk anak putuku aja sampe nemu sengsara sebagaimana yang kami alami. Hidup bahagialah kalian, dengan beras yang berkecukupan, sehingga diistilahkan ‘mawur-mawur‘ (wutah atau tumpah) menandakan kehidupan yang makmur (penuh berkah)”.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

——————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *