Puthut Kembar/Umyang Jimbe

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.500.000,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Villa Melati Mas, Serpong Utara


  

 

1. Kode : GKO-442
2. Dhapur : Puthut kembar
3. Pamor : Bawang Sebungkul & Nggajih
4. Tangguh : Madura (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1202/MP.TMII/XI/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Banten
7. Dimensi : panjang bilah 29,7 cm, panjang pesi 6,2 cm, panjang total 36 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun, pamor tertutup endapan minyak


ULASAN :

PUTHUT KEMBAR, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Bentuknya bisa dikatakan serupa dengan keris dhapur Puthut. Perbedaannya, pada keris dhapur Puthut Kembar, stilasi atau bentuk puthut diukir tidak hanya pada bagian gandhik di muka, melainkan juga di bagian wadidang belakang, sehingga disebut kembar. Selebihnya, bentuk dari kedua keris tersebut sama. Namun, bagi masyarakat perkerisan di Jawa Timur lebih mengenal keris Puthut Kembar dengan sebutan “Umyang Jimbe”, yang diidentikkan dengan keris pesugihan. Karena kepercayaan yang melekat kuat tersebut, hingga kini pembuatan keris Umyang Jimbe masih tetap dilestarikan di Jawa Timur. Biasanya keris Umyang Jimbe tersebut selain menggunakan figur puthut di kedua sisi, juga diberikan tambahan seperti rajah tulisan Jawa beraksara “Humyang Jimbe, dan tambahan ornamen seperti padi dan kapas, pohon beringin hingga payung tertutup. Sedangkan masyarakat di Jawa Tengah justru mengenal keris Umyang dengan bentuk keris yang memiliki luk terbalik (lekuknya berawal dari wadidang dan bukan dari gandhik), atau dalam bahasa bakulan disebut kerekede.

Cerita mengenai Empu Kodhok/Umyang

Menurut cerita rakyat tersebutlah seorang Empu keris bernama Empu Kodhok. Ia dijuluki pula dengan sebutan Empu Galeng. Sebutan itu mengarah kepada kegemarannya laku tapa dengan membuat liang seperti kodhok (katak). Tak hanya itu, ia membuat keris di dalam parit-parit sawah, yang dalam bahasa Jawa disebut dengan galengan. Namun, adapula yang berpendapat jika nama itu adalah pasemon (lambang yang disandikan) atas kemahirannya dalam membuat kodhokan keris yang istimewa. Sedangkan keahlian tersebut selalu ia sembunyikan, seperti anak-anak zaman dahulu yang bersembunyi di galengan sawah saat bermain.

Keampuhan Empu Kodhok dalam membuat keris akhirnya terdengar pula sampai ke telinga Istana Pajang. Kanjeng Sultan Hadiwijoyo alias Joko Tingkir lalu memanggilnya menghadap, dan menitahkan pembuatan keris pusaka andalan keraton Pajang. Siang dan malam Empu Kodhok menjalani laku tirakat untuk meminta petunjuk kepada Tuhan dalam upayanya memenuhi tugas sekaligus kepercayaan sang Raja. Ketika pusaka yang telah selesai dibabar itu dihaturkan kepada Sultan Pajang, terkejutlah sang raja karena keris yang berada di tangannya mempunyai bentuk yang tidak lumrah. Dalam keheranannya Raja bertanya, “apakah tuah kesaktian yang dikandung keris ini, sehingga Tuhan memberikan petunjuk tidak biasa dalam wujud seperti ini?”

Sambil menghaturkan sembah Empu Kodhok pun berbicara, “Jawaban akan rasa penasaran Kanjeng Sultan akan hadir sebentar lagi wahai Kanjeng Sultan.” Benar saja, tidak lama berselang masuk abdi dalem gandhek kerajaan atau utusan pembawa berita melaporkan suatu perkara yang membutuhkan kebijaksanaan Raja untuk memutuskan kebenarannya. Ada suatu sengketa harta benda, dan kedua belah pihak sama-sama bersikukuh mengaku benar. Oleh Empu Kodhok, sang Raja diminta menghunus pusaka yang baru selesai dibabar tadi di depan pihak yang berselisih. Ajaibnya, tiba-tiba saja salah seorang yang terlibat perkara tadi segera angkat bicara tanpa ditanya, dengan runtut dan fasih membuka semua kesalahannya tanpa ditutup-tutupi. Setelah peristiwa aneh tersebut, pusaka yang mempunyai ciri khas luk terbalik (kerekede) tersebut diberikan nama/gelar Kiyai Umyang, karena mempunyai tuah membuat orang salah lancar bertutur kata tanpa kontrol (dalam bahasa jawa disebut ngumyang). Sejak saat itu pula, Empu Kodhok lalu mendapat julukan Empu Umyang. Namun tidak lama berselang, ada pihak-pihak tertentu yang tidak senang akan kesuksesan Empu Umyang, kemudian menyabar fitnah, hingga membuat Empu Umyang terpaksa menyingkir dari  pusat keraton.

Alkisahnya kemudian, Empu Umyang memilih menjauhi pusat keraton dan berjalan sampai di wilayah Madiun bahkan hingga ke daerah Blitar. Dalam pengembaraannya ia selalu menghindari keramaian dan memilih mendekatkan diri kepada rakyat kecil. Demi dharma-nya kepada sesama yang membutuhkan pertolongan Empu Umyang lalu bertapa memohon petunjuk Tuhan. Dalam tapanya, ia melihat dua pandhita muda sedang mendoakan sepetak sawah, hingga sawah itu menghasilkan hamparan padi menguning yang siap dipanen tanpa gangguan hama maupun penyakit dan masyarakat sangat bersukacita. Petunjuk yang didapatkan itu lalu diwujudkan dalam bentuk keris lurus dengan dua puthut (kembar) di bagian gandhik dan wadidang saling membelakangi. Seperti dua orang pandhita muda yang sedang membaca mantra/doa menolak datangnya hama penyakit dan memohon keberkahan hasil panen. Hampir di semua daerah yang disinggahinya, Empu Umyang selalu membabar pusaka Puthut Kembar yang kemudian diberikan kepada sesepuh desa, untuk keperluan kesuburan sawah dan kesejahteraan rakyat.

   

FILOSOFI, istilah Puthut sebenarnya mengacu pada dunia ‘sanggar‘ yang digunakan Empu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama. Sanggar disini bukan berarti sanggar/kursus yang lazim kita kenal sekarang, semisal sanggar tari, sanggar senam atau sanggar-sanggar yang lain, tetapi ‘sanggar‘ dimaksud adalah tempat atau wadah pendidikan (panggonan ngangsu kawruh/nyantrik, Jw) keagamaan (Budha atau Hindu), atau yang dalam Islam dikenal pondok pesantren.

Puthut atau Putut = abdi (laki-laki) kepercayaan sang pendeta, selaku cantrik kepala yang dipercaya mengatur tugas-tugas para cantrik; bertugas merawat sanggar palanggatan, bertanggung-jawab mengatur, menata, merawat perlengkapan persembahyangan;

Beberapa penjelasan mengenai istilah yang lazim dikenal dalam ‘sanggar’ dapat diketemukan juga di naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesyan. Bila diterjemahkan, berarti “buku peraturan untuk menjadi resi”. Sanghyang Siksakanda ng Karesiyan merupakan “Buku berisi aturan, tuntunan serta ajaran agama dan moralitas, untuk menjadi orang bijaksana atau suci”. Naskah didaktik ini berasal dari Galuh (Ibu kota Kerajaan Sunda, pada titimangsa “nora catur sagara wulan: 1440 Saka atau 1518 M), yang ditulis di atas 30 lembar daun gêbang (nipah) menggunakan mangsi hidêung dan pisau pangot, dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno. Sayang tak ada keterangan siapa penulis naskah ini.

Menurut Sanghyang Siksakanda ng Karesian, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia (yang digambarkan: bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, ber­sih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup, se­lalu sehat, sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan; rumput, pohon-pohonan, rambat, semak, hijau su­bur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak) ada Dasa (sepuluh) Kreta  (jalan/pintu) yang harus dipelihara. Kreta tersebut adalah (nafsu) indra-indra yang ada pada diri manusia yang harus dijaga dalam menggunakan fungsinya agar terhindar dari celaka, yaitu ceuli (telinga), mata, kulit, letah (lidah), irung (hidung), sungut (mulut), suku (kaki dan tangan), payu (dubur), dan baga purusa (kelamin wanita dan kelamin pria).

Makna dhapur “Puthut” dalam sosok manusia yang sedang duduk dengan posisi tangan menengadah ke atas adalah suatu bentuk permohonan kepada yang Maha Kuasa (tirakat, Jw). Dalam ensensinya, tirakat berarti diri kita akan lebih bisa memfokuskan posisi pada tujuan yang hendak dicapai, karna seringkali godaan panca indera membuat kita jatuh dan menyimpang jalur, menjauhkan dari rencana-rencana. Dan “Kembar” ibarat dalam hidup selalu berdampingan antara benar dan salah, baik dan buruk, adanya siang dan malam, serta lelaki dan perempuan yang membuat kehidupan ini berjalan dengan sinergi. Dan pada hakikatnya, dhapur Puthut Kembar adalah simbol dualisme, keselarasan antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhannya, juga dalam memaknai karmapala, antara apa yang ditabur dengan hasil yang dituai.

CATATAN GRIYOKULO, keris Puthut Kembar ini masih dilengkapi dengan Sertifikasi Museum Pusaka TMII yang diterbitkan di tahun 2020 dengan tangguh Madura Abad XVI. Pamornya diklasifikasikan sebagai Bawang Sebungkul berpadu dengan Nggajih. Seperti bawang yang berasal dari satu umbi tetapi tumbuh menjadi banyak siung, pamor ini dipercaya membawa harapan agar kehidupan pemiliknya berkembang, terarah, dan senantiasa berada dalam ketenangan batin. Dalam kepercayaan yang berkembang di msayarakat, tuah pamor bawang sebungkul diyakini membawa keberkahan dalam menjaga keutuhan rumah tangga, memperkuat ketajaman intuisi dalam mengambil keputusan, serta mendukung pengembangan usaha atau pekerjaan. Sifatnya yang tidak pemilih menjadikannya cocok untuk siapa saja, baik yang sudah mapan maupun yang tengah merintis.

Pada kondisi saat ini, tampilan pamor tampak tertutup oleh endapan minyak. Hal tersebut merupakan kesengajaan, karena perawatan keris Puthut Kembar ini menggunakan kebiasaan/gaya merawat tosan aji secara esoteri. Metode perawatan ini memadukan minyak misik hitam dengan asap menyan atau dupa, sehingga pori bilah sengaja ditutup untuk menguatkan esoteri pusaka tayuhan sesuai kepercayaan aliran tersebut, sekaligus menambah nuansa wingit penampilan keris.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!

👉 TEKAN UNTUK MASUK 🗝️


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *